
Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan proses perceraian ini. Aku pun dapat pulang ke Rumah dan dapat beraktivitas kembali, hingga saat aku selesai meeting bersama klien. Tiba-tiba Mas Tio datang dan meminta berbicara dengan ku, aku pun menyetujui nya dan kami berbicara di Cafe terdekat.
"Dek. . . Mas kangen banget sama kamu, kenapa nomor Mas kamu blokir? Setiap Mas ke kantor, kamu selalu tidak ada. Kenapa kamu semakin menghindar dari Mas?" Tanya Mas Tio kepada ku.
"Tentu Mas tau jawabannya bukan? Apa sebabnya aku menjadi seperti ini?" Ucap ku datar.
"Dek, Mas mohon kamu mau iya kembali dengan Mas! Ayo kita mulai dari awal lagi. Mas janji akan berubah Dek." Ucap Mas Tio memelas.
"Lalu bagaimana dengan anak kamu dari wanita itu? Apa kamu tega membiarkan dia lahir tanpa ayah? Cukup kamu membuatnya hadir tanpa ikatan pernikahan!" Ucap ku.
"Mas tidak peduli dengan mereka lagi Dek, Mas mohon kita kembali seperti dulu iya! Anggep semua tidak pernah terjadi, kita mulai dari awal semuanya Dek. Mas janji ngga akan berhubungan apa-apa lagi dengan Sifa, tapi Mas mohon kembalilah dengan Mas. Mas sangat mencintai kamu, Mas ngga mau kehilangan kamu." Ucap Mas Tio dengan mata berkaca-kaca dan menggenggam erat tangan ku.
"Lalu apa dengan Mas meninggalkan mereka, semua akan selesai begitu saja? Ngga Mas, semua tidak segampang yang Mas pikir." Ucap ku menggelengkan kepala.
"Apa yang harus Mas lakukan? Biar kamu mau kembali sama Mas? Ayo jawab Dek!" Tanya Mas Tio.
"Ngga Mas, hubungan kita sudah berakhir. Cukup sampai di sini Mas, jangan temui aku lagi dan tunggulah surat dari Pengadilan." Ucap ku, sambil melepaskan tangan dari genggaman Mas Tio.
"Kamu bercanda kan Dek?" Ucap Mas Tio tidak percaya.
"Ngga. . . Mas tau! Kamu sangat mencintai Mas! Kamu. . . Kamu ngga mungkin lakuin itu kan Dek?" Tanya Mas Tio sambil menggelengkan kepala.
"Kamu tau aku sangat mencintaimu dulu Mas! Terus kenapa kamu khianati aku?" Ucap ku.
"Mas. . . Mas khilaf Dek!" Ucap Mas Tio yang tampak terkejut.
"Maka ini adalah balasan dari khilaf yang Mas lakukan!" Ucap ku.
"Ngga Dek! Mas mohon jangan Dek! Mas ngga mau bercerai dengan kamu! Mas mencintai kamu Dek!" Ucap Mas Tio keras, hingga banyak pengunjung yang memperhatikan kami.
"Tapi keputusan aku sudah bulat Mas! Kita akan bertemu kembali saat persidangan." Ucap ku yang bersiap akan berdiri, namun di cekal Mas Tio.
"Tunggu Dek! Jangan. . . Jangan lakuin itu Dek! Mas mohon!" Ucap Mas Tio memohon.
"Maaf Mas, aku harus pergi." Ucap ku yang berusaha melepaskan cekalan tangannya.
"Ngga Dek! Mas ngga mau kehilangan kamu, Mas mohon Dek! Apa perlu Mas berlutut di kaki kamu? Mas akan lakuin itu!" Ucap Mas Tio yang kemudian akan berlutut. Namun tidak jadi, karena mendengar suara seorang wanita.
"Ternyata Mas disini? Buat apa Mas ketemu lagi sama wanita ini! Jelas-jelas aku ini lagi hamil anak Mas! Tapi Mas masih aja ketemu dengan wanita ini! Jangan-jangan wanita ini yang ngajak Mas ketemu? Iya kan? Dasar wanita murahan! Berani-beraninya kamu menggoda ayah dari anak ku!" Ucap nya keras, hingga menarik perhatian pengunjung lain dan menunjuk-nunjuk ku dengan jarinya.
Namun aku tetap bersikap santai, dan melipat kedua tangan ku di dada.
"Jangan berani-berani nya kamu godain Mas Tio lagi! Inget itu! Mas Tio hanya milik aku! Harusnya kamu sadar diri! Jangan sekali-kali lagi kamu ketemu dengan Mas Tio!" Ucap Marah Sifa.
"Cukup Sifa!" Bentak Mas Tio.
"Mas bentak aku? Cuman demi wanita ini? Inget Mas aku ini lagi hamil anak Mas Tio! Tega-teganya kamu bentak aku cuman gara-gara wanita murahan ini!" Ucap Sifa dengan mata berkaca-kaca.
"Bu-bukan begitu. ." Ucap Mas Tio terbata-bata.
"Sudah bicaranya?" Ucap ku santai.
"Coba kamu tanya sendiri, dengan AYAH DARI ANAK KAMU! Siapa yang maksa aku ke sini untuk bicara dengannya! Dan siapa yang mohon-mohon ke aku buat balikan sama dia! Tanya sendiri!" Ucap ku penuh penekanan dan dia hanya menggelengkan kepala.
"Ngga-ngga mungkin Mas Tio begitu! Dia itu cuman cinta sama aku! Dia ngga mungkin ngajak kamu balikan! Bohong! Kamu pasti bohong! Dasar wanita murahan! Kamu coba tipu aku kan? Biar aku dan Mas Tio berantem! Iya kan!" Marah Sifa.
"Aku? Wanita murahan?" Ucap ku sambil menunjuk diri ku sendiri dan berdiri.
"Hahaha. . . Sadar dong! Sadar!" Ucap ku terkekeh.
"Kamu lupa iya? Laki-laki yang kamu sebut AYAH DARI ANAK KAMU itu! Dia itu SUAMI SAH AKU! Jadi di sini yang murahan itu siapa? Kamu atau aku? Jelas-jelas sampai detik ini aku masih ISTRI SAH Mas Tio! Sedangkan kamu siapa? Cuman WANITA YANG MENGANDUNG ANAK MAS TIO! Iya kan? Jadi di sini siapa yang MURAHAN?" Ucap ku penuh penekanan, dan aku tidak perduli menjadi tontonan banyak orang.
"Dek, sudah. Malu banyak yang lihat." Ucap Mas Tio.
"Kenapa Mas? Mas malu? Harusnya kamu berpikir dulu, sebelum bertindak. Lagi pula wanita itu yang mulai duluan, bukan aku. Denger iya Mas! Jangan harap aku bakalan mau balikan lagi sama kamu!" Ucap ku marah, dan langsung berjalan keluar dari Cafe.
"Dek. . . Tunggu Dek. . ." Teriak Mas Tio.
Aku terus berjalan, tanpa perduli kan panggilan nya lagi. Dan aku pun pulang menggunakan taksi, sepanjang perjalanan aku terdiam. Meratapi nasib pernikahan ku yang berakhir seperti ini, di saat aku mengandung buah hati kami.
'Sayang, maafkan Mama iya! Mama dan Papa sudah tidak bisa bersama lagi, tapi kamu jangan khawatir. Banyak yang akan menyayangi kamu, kita berjuang bersama iya sayang.' Ucap ku dalam hati sambil mengelus perut rata ku dengan sayang.