Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 47


Pagi ini aku terbangun dengan perut yang tidak enak, mungkin karena semalam aku terlalu banyak makan. Sehingga pagi ini, perutku seperti di aduk-aduk.


Huek


Huek


Huek


Aku pun memuntahkan cairan bening di kamar mandi, dan badan ku tiba-tiba terasa lemas. Aku mencoba bangun, namun kepala ku terasa berputar-putar. Dengan berpegangan di dinding, aku berusaha keluar dari kamar mandi sebisa ku. Baru menginjak kan kaki keluar, badan ku limbung dan aku pun tak sadarkan diri.


Tak tau apa yang terjadi kepada ku, saat aku membuka mata semua nya tampak putih dan bau obat yang menyengat. Kemudian aku tersadar, ternyata aku berada di Rumah Sakit. Aku pun menoleh dan melihat Mama yang tampak ke tiduran di samping ku sambil menggenggam tangan ku.


"Ma . . ." Ucap ku pelan.


"Ma. . ." Ucap ku.


"Ehmm. . . Sa-yang kamu sudah sadar? Alhamdulillah, sebentar Mama panggil Dokter." Ucap Mama bahagia, kemudian memencet tombol di atas ranjang ku.


"Apa yang kamu rasain sekarang? Pusing, mual atau apa? Ayo bilang ke Mama! Atau kamu mau makan sesuatu? Mi Aceh lagi? Atau Dimsum, baso, mie ayam atau apa sayang? Ayo dong jawab! Biar Mama beliin, kamu mau apa juga Mama beliin. Jangan diem aja dong sayang." Ucap Mama mencecar ku berbagai pertanyaan, yang membuat ku bertambah pusing.


"Ma tanya nya pelan-pelan boleh?" Ucap ku pelan.


"Maaf iya sayang Mama terlalu bersemangat." Ucap Mama cengegesan.


Ceklek. . .


Dokter pun datang dan tak lama Papa dan Kakak ku pun datang, namun ekspresi mereka tampak berbeda dari semalam. Hingga kata-kata Dokter yang membuat ku sangat terkejut.


". . . Mohon di jaga iya Bu kehamilan nya, saya permisi." Ucap Dokter, setelah selesai memeriksa Ku.


Hamil?


Aku hamil


Akhirnya aku hamil. . .


Tak terasa air mata ku mengalir, sungguh aku sangat bahagia mengetahui kabar kehamilan ini. Perjuangan ku selama ini akhirnya berbayar kan juga, anak yang aku tunggu-tunggu kini hadir di rahim ku.


"Selamat iya sayang, kamu ngga boleh nangis. Kamu harus happy, pokoknya kamu mau apa bilang ke Mama iya! Alhamdulillah Mama senang sekali sayang, sebentar lagi kamu menjadi seorang ibu." Ucap Mama terharu, hingga meneteskan air mata dan memeluk ku.


"Iya Ma, Alhamdulillah Allah kasih kepercayaan ini ke Ade Ma." Ucap ku yang tak bisa banyak berkata-kata.


"Pa, Kak! Ade hamil! Akhirnya Ade hamil." Ucap ku dengan mata berkaca-kaca menatap mereka dan mereka menghampiri ku dengan senyuman.


"Selamat iya Nak! Jaga kandungan kamu baik-baik." Ucap Papa singkat dan terlihat berbeda.


"Selamat Dek! Apa yang kamu ingin kan sudah terpenuhi sekarang, jangan berpikir yang berat-berat. Ada kami yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu." Ucap Bang Naufal haru.


"Wah akhirnya Ade kita tercinta bakalan jadi seorang Ibu, berarti ngga boleh manja lagi dong sekarang." Sindir Kak Niko sambil cengengesan.


"KAKAK!" Ucap ku kesal.


"Hahaha. . ." Semua orang pun tertawa.


Tapi seketika aku ingat sesuatu, bahwa rumah tangga ku sudah berakhir. Senyum ku pun perlahan pudar, bagaimana nasib anak ku nantinya? Jika memiliki ayah seperti Mas Tio.


"Kamu kenapa Dek?" Tanya Mama yang melihat ekspresi ku berubah.


"Bagaimana perceraian ku dengan Mas Tio? Jika aku hamil Ma!" Ucap ku sendu dan semua orang terdiam.


"Astaghfirullah kirain hantu dari mana? Tiba-tiba ada suara, ucap salam dulu Pak!" Ucap Kak Niko sembarangan.


"Enak aja kamu! Saya sudah ucap salam dan ketuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada yang jawab! Iya sudah saya masuk saja, ternyata sedang membahas hal penting! Pantas saja tidak ada yang mempersilakan saya masuk! Jadi sebagai tamu yang baik, saya masuk saja sendiri." Ucap Pak Aziz yang sekarang sudah berada di tengah-tengah kami dan menepuk bahu Kak Niko.


"Hahaha. . . Biasa aja kali Pak! Saya kan cuman bercanda, tapi ini sakit tau!" Ucap Kak Niko kesal.


"Niko!" Tegur Papa.


"Ampun Pa, kan aku cuman bercanda! Maaf iya Pak Aziz." Ucap Kak Niko cengegesan dan yg lain hanya menggelengkan kepala melihat hal itu.


"Santai saja, kaya yang baru kenal! Kita ini sobat, iya ngga Ko? Jadi kapan nih kamu mau traktir saya?" Ucap Pak Aziz menggoda Kak Niko.


"Mau sekarang juga boleh aja ko Pak! Saya free hari ini, buat adik tercinta saya." Ucap Kak Niko.


"Hahaha. . . Tapi saya yang tidak bisa hari ini." Ucap Pak Aziz sambil tertawa dan Kak Niko mendengus kesal.


"Ayo Zis! Slahkan duduk dulu, tidak enak bicara sambil berdiri." Ucap Papa sambil mengajak Pak Aziz menuju sofa.


"Jadi bagaimana kelanjutan proses perceraian anak saya?" Tanya Papa.


"Kamu tenang saja Rey, semua sudah beres. Dan siang ini saya akan langsung mengajukan ke Pengadilan Agama, namun saya membutuhkan tanda tangan dari Nadira terlebih dahulu sebagai penggugat. Tadi saya ke Rumah, tapi kata orang rumah Nadira di larikan ke Rumah Sakit, jadi saya memutuskan langsung ke sini." Ucap Pak Aziz menjelaskan.


"Benar, Zis. Tadi pagi kami menemukan Nadira tergeletak di lantai depan kamar mandi, beruntung tidak ada benturan keras." Ucap Papa menghela nafas.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Dan tadi katanya Nadira hamil? Apa itu benar?" Tanya Pak Aziz.


"Betul, Nadira ternyata sedang mengandung 10 Minggu." Ucap Papa tersenyum.


"Wah! Hebat! Nambah aja cucu mu, lah aku? Punya cucu 1 nyatanya anak orang." Keluh Pak Aziz.


"Hahaha. . . Nasib mu Zis, makanya suruh Reza cepetan cari istri lagi." Ucap Papa sambil tertawa.


"Udah bosen nyuruh dia nyari istri, nah gimana kalau Nadira aja jadi menantu Om?" Tanya Pak Aziz bercanda.


"Tuh Dek! Kamu udah di lamar tuh, jawab gih. Hahaha. . ." Ucap Kak Niko menggoda ku.


"Yang sekarang aja belum cerai Kak, masa udah mau nikah lagi. Ngaco deh!" Ucap ku kesal.


"Hahaha. . ." Semua orang pun tertawa.


"Pak Aziz, lantas sekarang bagaimana? Nadira hamil, apakah proses perceraian nya bisa di lanjutkan atau tidak?" Tanya Bang Naufal.


"Tentu bisa, namun sekarang ada 1 hal yang menjadi pertanyaan saya kepada Nadira!" Ucap Pak Aziz menatap ku.


"Silahkan Pak, apa yang ingin Bapak tanyakan kepada saya?" Tanya ku .


"Setelah mengetahui kehamilan ini, apakah kamu masih ingin melanjutkan perceraian atau tidak?" Tanya Pak Aziz yang membuat semua orang diam dan menatap ku, seketika aku pun diam.


'Bagaimana nanti anak ku lahir tanpa ayah? Apa aku akan sanggup? Tapi aku selalu mengingat pengkhianatan itu, belum lagi mertua ku. Apa yang harus aku lakukan?' Ucap ku dalam hati bingung.


"Dek. . ." Panggil Bang Naufal, menghampiri ku dan aku pun mengangkat wajah ku untuk melihat Bang Naufal.


"Abang tau kamu saat ini bingung, bagaimana nanti anak kamu lahir tanpa ayah? Betul kan?" Tanya Bang Naufal lembut dan aku pun menganggukkan kepala.


"Kamu tidak usah khawatir tentang itu, ada kami yang akan siap menjadi ayah nya. Kami akan selalu menjaga, dan melindungi nya, memberikan dia kasih sayang seperti anak kami sendiri. Kamu percaya bukan kepada kami?" Tanya Bang Naufal dan aku pun menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Bagi kami, kebahagiaan kamu adalah yang utama. Kamu adalah sumber kebahagiaan di keluarga ini, apa pun akan kami lakukan untuk kebahagiaan kamu. Jangan pernah mengorbankan diri kamu, hanya karena takut anak kamu lahir tanpa ayah. Cukup kamu menderita selama ini, jangan biarkan anak kamu juga merasakan penderitaan yang sama dengan kamu." Ucap Papa sambil memeluk ku, yang langsung terisak menangis.