
Hari ini kami benar-benar menikmati hari dengan mengobrol, bermain bersama dan makan bersama keluarga. Dan saat malam hari saatnya kami BBQ, Bang Naufal dan Kak Niko yang bertugas memanggang, sedangkan para istri menyiapkan semua nya.
Para keponakan ku yang matre aman bersama kedua orang tua ku, sedangkan aku sedang duduk di pinggir kolam, sambil melihat mereka.
Bukan ingin menghindar, namun memang hanya ingin menyendiri. Tidak semudah itu melupakan semua hal yang terjadi, namun tiba-tiba ku rasakan hangat di pipi ku dan saat aku menoleh ternyata Bang Reza menempelkan segelas cokelat hangat di pipi ku.
"Ikh! Bikin kaget aja!" Ucap ku kesal sambil mengambil Cokelat hangat yang di berikan Bang Reza.
"Abang udah panggil dari tadi, kamu nya aja yang ngga denger. Sepertinya kamu harus ke THT." Ucap ketus Bang Reza.
"Enak aja kalau ngomong." Ucap ku sinis, kemudian meminum cokelat hangat itu.
"Btw makasih cokelat hangat nya, tau aja lagi pengen yang hangat-hangat gini." Ucap ku dengan senyum senang.
"Kalau pengen hangat sama Deket panggangan!" Ucap ketus Bang Reza.
"Abang itu nyebelin tau, udah sana gih! Jangan deket-deket aku, rese banget tau Abang." Ucap ku kesal.
"Hahahaha. . . Lucu banget kamu kalau lagi ngambek, bibirnya udah kaya bebek." Ucap Bang Reza tertawa puas.
"Diem deh! Sana pergi, ngapain sih di sini mulu." Ucap ku sinis.
"Suka-suka Abang lah, Papa sama Mama aja ngga ngelarang. Emang situ siapa?" Ucap Bang Reza tengil sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
"Hello, aku itu anak kandung Mama dan Papa tau! Anak kesayangan mereka! Jadi Abang jangan macem-macem, kalau ngga aku balikin Abang ke istrinya sana pergi." Ucap ku kesal, namun seketika aku bingung melihat ekspresi Bang Reza yang tiba-tiba berubah.
"Abang udah lama pisah." Ucap Bang Reza sendu dengan pandangan ke atas.
"What!" Pekik ku terkejut.
"Berisik!" Ucap Bang Reza kesal.
"Bukannya Kak Wina sayang banget sama Abang? Apa jangan-jangan Abang ini macem-macem iya kan? Abang selingkuh iya? Atau punya istri lain? Ayo jawab!" Ucap ku memulai mengintrogasi Bang Reza.
"Dia selingkuh." Ucap singkat Bang Reza.
Aku pun menutup mulut ku terkejut dengan apa yang aku dengar, karena setahu ku Kak Wina istrinya Bang Reza cinta banget sama Bang Reza. Bahkan dia yang meminta di jodohkan dengan Bang Reza, hingga akhirnya mereka menikah dan memiliki anak.
"Ko bisa? Abang salah paham kali! Kak Wina kan cinta mati sama Abang! Ngga mungkin ah dia sampai selingkuh! Emang ada buktinya? Terus Wildan gimana? Dia sama siapa? Kasian dong dia masih kecil!" Ucap ku mencecar berbagai pertanyaan.
"Wildan anak Wina dengan selingkuhannya." Ucap Bang Reza sendu.
"WHAT." Pekik ku terkejut.
"Abang jangan ngaco! Mana mungkin Kak Wina selingkuh, sampai menghasilkan Wildan!" Ucap ku tak percaya sambil menggelengkan kepala.
"Abang mau cerita? Aku siap jadi pendengar yang baik dan akan berusaha memberikan solusi yang terbaik pula." Tanya ku hati-hati.
"Alah belagu kamu! Masalah kamu aja belum selesai, sok-sokan pengen bantuin Abang." Ledek Bang Reza.
"Hahaha. . . Masalah aku itu udah clear kali, tinggal ketok palu. Beres deh!" Ucap ku.
"Yakin beres? Abang yakin besok juga laki kamu pasti datang ke sini minta balikan." Ucap Bang Reza meledek ku.
"Sok tau banget! Ngga punya muka banget dia kalau dia ke sini." Ucap ku ketus.
"Gimana kalau kita taruhan?" Ucap Bang Reza sambil menaik turunkan sebelah alis nya.
"Taruhan apa?" Tanya ku bingung.
"Iya kita taruhan! Kalau besok dia ke sini, kamu harus mau dinner sama Abang. Tapi kalau besok dia ngga ke sini, Abang akan penuhin semua permintaan kamu. Gimana?" Ucap Bang Reza tersenyum penuh arti dan aku pun terdiam sesaat.
"Deal?" Ucap Bang Reza mengulurkan tangan.
"Deal! Jangan lupa siapkan saldo yang banyak oke! Abang pasti kalah." Ucap ku sombong dan menjabat tangan Bang Reza.
"Hahaha. . . Kamu kayanya yakin banget dia ngga akan ke sini?" Ucap Bang Reza heran.
"Iya yakin lah, emangnya dia mau bonyok lagi di gebukin Papa dan kedua Kakak ku." Ucap ku yakin.
"Kalau dia memang benar ke sini ngajak kamu balikan, tanpa peduli di hajar lagi gimana?" Tanya Bang Reza serius dan aku pun jadi terdiam.
"Kamu mau balikan lagi sama dia?" Tanya Bang Reza lagi, sedangkan aku hanya menghembuskan nafas kasar.
"Bohong kalau aku ngga mau balikan lagi, setelah perjalanan panjang hubungan kami. Tapi aku juga bukan orang bodoh yang mau terjerumus lagi, dengan seorang penghianat." Ucap ku sambil menerawang ke masa lalu.
"Jujur, aku masih belum bisa menerima keadaan ini Bang. Semua terasa seperti mimpi, Rumah Tangga yang aku impikan akan menjadi sumber kebahagiaan ku, ternyata hanya membawa derita untuk ku. Dan suami yang ku harapkan menjadi cinta terakhir ku, ternyata mengkhianati ku. Kadang aku menyalakan diri ku sendiri yang tidak bisa menjaga suami ku dengan baik, hingga dia bisa mengkhianati ku. Namun di satu sisi aku juga bersyukur, karena aku terbebas dari mertua yang selalu menyakiti ku." Ucap ku sambil tersenyum getir, dengan air mata yang mengalir.
Kurasakan elusan lembut di pundak ku, aku pun menyandarkan kepala ku di pundak Bang Reza.
"Salah aku apa iya Bang? Apa karena aku belum hamil? Aku juga pengen hamil, melahirkan dan punya anak. Ke Dokter Kandungan, Alternatif dan bahkan di Pijat pun semua sudah aku lakukan. Tapi belum ada hasil sampai sekarang, terus apa semua itu salah aku Bang? Sedangkan dia, tidak pernah mau ikut aku Bang. Setiap kali aku pengobatan ke sana ke sini, alasannya selalu sama sibuk. Padahal ini semua demi cita-cita kami yang ingin memiliki anak, tapi dia seperti tidak peduli. Dan sekarang dia memiliki anak dari perempuan lain Bang." Ucap ku dengan isakan kecil dan Bang Reza yang mengelus lembut rambut ku.
"Dulu dia bilang ngga akan pernah khianati aku, akan selalu setia ke aku. Dan aku selalu berharap dia bisa seperti Papa, yang sangat mencintai keluarganya. Namun keinginan ku bertolak belakang dengan kenyataan."Ucap ku.
"Maaf iya Bang aku cengeng banget, padahal aku udah janji ngga akan nangis lagi cuman buat laki-laki itu. Tapi rasanya sulit banget, air mata selalu tiba-tiba keluar tanpa aku mau. Aku lemah banget iya Bang." Ucap ku sambil menghapus air mata ku.
"Tak apa, wajar kamu menangis. Menangis lah sepuasnya sekarang, tapi nanti kamu harus terus tersenyum bahagia. Demi orang-orang yang kamu sayangi, lihatlah senyum mereka di sana." Ucap Bang Reza sambil menunjuk keluarga ku yang sedang menyiapkan makan malam.
"WOOOYYYY. . . Sini kalian, jangan mojok terus!" Teriak Kak Niko dan membuat kami tertawa dan akhirnya kami pun bergabung dengan mereka semua.