
"Jadi gara-gara laki-laki itu kamu tidak mau rujuk dengan Mas?" Ucap Mas Tio tiba-tiba muncul, mengagetkan ku yang sedang berjalan menuju lobby kantor.
"Ada perlu apa lagi Mas datang ke sini? Bukankah urusan kita sudah selesai?" Tanya ku baik-baik.
"Ngga Dek! Urusan kita belum selesai, kamu jangan lupa! Kalau anak yang ada di kandungan kamu itu anak Mas!" Ucap Mas Tio cukup keras dan membuat kami jadi bahan tontonan karyawan ku.
"Jangan lupa juga! Bahwa anak yang di kandung Sifa adalah anak kandung anda Bapak Tio! Dan satu hal lagi! Jangan sampai anda lupa! Bahwa kita sudah bercerai! Tolong jangan terus menerus mengganggu hidup saya!" Ucap ku, bergegas aku pun berjalan menuju lift.
"Dek. . . Dek. . . Dek. . . Tunggu. . ." Teriak Mas Tio, namun di tahan oleh satpam perusahaan.
"Benar-benar merusak mood." Gumam ku kesal di dalam lift.
Ting.
Saat pintu lift terbuka, Sekretaris Dian sudah menunggu dan saat dia akan berbicara segera aku mengangkat tangan tanda dia jangan bicara.
"Jangan ngomong apa-apa dulu! Mba lagi kesel! Dan batalin semua meeting hari ini! Mba bener-bener ngga mood." Ucap ku kemudian masuk ke dalam Ruangan ku, tanpa mendengar jawaban Sekretaris Dian.
Huft. . .
'Kenapa mereka selalu saja mengganggu ku?' Ucap ku lirih dalam hati.
"Kerja. . . Kerja. . . Kerja . . . Ayo semangat kerja!" Ucap ku menyemangati diri sendiri.
Kemudian aku pun fokus dengan pekerjaan ku, hingga tak terasa waktu makan siang pun tiba.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Masuk." Ucap ku tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang ku kerjakan.
Ceklek. . .
"Selamat siang Bu, mohon maaf sudah waktu nya makan siang. Ibu ingin makan siang di luar atau saya pesankan makanan?" Tanya Sekretaris Dian ramah.
"Iya ampun! Tau-tau udah jam makan siang aja, pesankan mie ramen iya di tempat biasa. Saya makan di ruangan, kalau kamu mau makan di luar silahkan." Ucap ku.
"Baik Bu, sebentar saya pesankan terlebih dahulu." Ucap Sekretaris Dian kemudian kembali keluar dan aku kembali mengerjakan berkas yang ada.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Masuk." Ucap ku, sambil meregangkan otot tangan ku yang terasa pegal.
Ceklek. . .
Dan aku bengong melihat Dian, Selva dan 1 orang OB membawa nampan yang berisi makanan dan minuman yang cukup banyak jika hanya kami bertiga yang makan.
"Mbaaaaa. . . Ngapain bengong?" Tegur Selva yang membuat kesadaran ku kembali.
"Ini kalian yang ngapain bawa banyak banget makanan kaya gitu?" Tanya ku heran.
"Udah sini deh!" Ucap Selva dan aku pun menghampiri mereka yang sedang menyusun makanan di meja.
"Iya ampun banyak banget ini! Siapa yang mau ngabisin?" Tanya ku terkejut.
"Iya kita lah." Ucap santai Selva.
"Mood mba kan lagi berantakan, lebih baik banyak makan. Dari pada banyak marah, hehehe. . . " Ucap Dian sambil terkekeh.
"Iya tapi ngga sebanyak ini juga dong." Keluh ku.
Kami makan siang dengan suka cita di iringi canda tawa yang membuat jam makan siang kami lebih lama dari waktu nya dan benar saja, semua makanan yang ada habis tak tersisa kami makan bersama.
"Iya ampun perut Mba kenyang banget ini." Ucap ku sambil mengelus perut ku yang kekenyangan.
"Sama Mba aku juga kenyang banget." Ucap Dian.
"Payah kalian ini! Segini doang sampai kaya gitu." Ledek Selva.
"Iya iya kamu kan tukang makan! Jadi makanan segitu ngga ada apa-apa nya buat kamu." Ucap ku, sambil memejamkan mata.
"Gimana mau lanjut kerja ini? Perut nya kenyang banget, bikin ngantuk." Ucap Dian yang menguap.
"Iya udah kita tidur aja yuk!" Ajak Selva dengan semangat.
"Berhubung yang kekenyangan cuman Mba dan Dian, jadi kamu balik kerja gih sana! Kerja yang baik iya! Kerjain semua kerjaan kita sekalian, sudah sana balik ke ruangan kamu. Nanti berkas kita OB anterin ke ruangan kamu, kita mau tidur." Ucap ku sambil menguap dan membuat Selva terbengong, sedangkan Dian terkekeh mendengar ucapan ku.
"Lah. . . Lah. . . Ini gimana sih? Kita kan makannya bertiga! Masa kalian doang yang tidur?" Protes Selva.
"Udah sana pergi." Ucap ku mengusir Selva.
"Aduh. . . Mba! Perut ku kekenyangan, ngga sanggup jalan lagi. Ngantuk banget ini, hoammm. . . " Ucap Selva sambil pura-pura menguap.
"Ngga ada alasan! Cepat kembali ke ruangan kamu! Kalau ngga bonus bulan ini ngga cair." Ancam ku.
"Ikh! Mba pilih kasih deh!" Ucap Selva sambil menghentakkan kaki kesal, namun tetap menuruti perintah ku dan kembali ke ruangannya.
Tak terasa hari semakin sore dan tiba waktunya kami pulang, kami bertiga pun turun bersama menuju parkiran mobil sambil bercanda dan tertawa.
"Tunggu Dek!" Panggil seseorang sambil menarik tangan ku dan membuat aku terkejut, lagi dan lagi Mas Tio datang menemui ku.
"Bisa tolong lepaskan tangan anda Bapak Tio?" Ucap ku sambil berusaha melepaskan tangan ku yang di cengkraman nya dan perlahan dia melepaskannya.
"Bisa kita bicara berdua?" Ucap Mas Tio sambil melirik ke arah Dian dan Selva.
"Jika ingin bicara, silahkan bicara di sini!" Ucap ku sambil melipat tangan di dada.
"Dek! Kenapa kamu bicara formal begitu?" Tanya Mas Tio.
"Cepat, apa yang ingin anda katakan!" Tanya ku lagi.
"Dek. . ." Panggil Mas Tio.
"Udah deh! Kalau mau ngomong cepetan! Kita ngga punya banyak waktu ngomong sama orang yang ga penting." Ucap Selva ketus.
"Kenapa kamu ngga pernah jujur ke Mas? Kalau kamu pemilik perusahaan ini? Kenapa kamu bohongi Mas?" Tanya Mas Tio.
"Apa hubungannya anda tau ini Perusahaan milik saya atau bukan?" Tanya ku bingung.
"Iya kalau dari dulu Mas tau kamu yang punya Perusahaan ini, Mas kan bisa bekerja di sini dengan jabatan tinggi. Dan Mas pasti ngga akan menduakan kamu! Kita juga pasti masih bersama dan mengurus anak kita bersama." Ucap Mas Tio tidak tahu malu dan membuat aku syok, ternyata itu yang di inginkannya.
"Terus salah saya? Jika saya tidak memberitahu anda? Lantas, apa salah saya juga jika anda tidak pernah jujur tentang gajih yang anda dapatkan dulu semasa menikah dengan saya? Apa anda tidak pernah berpikir! Uang yang anda berikan bisa cukup untuk bayar rumah, makan dan untuk ibu anda? . . .
. . . Tidak! Uang yang anda berikan tidak cukup, dan selama ini untuk menutupinya saya menggunakan uang pribadi saya. Apa pernah saya mengeluh? Apa pernah saya meminta lebih? Tidak bukaan?. . .
. . . Jadi jangan seenaknya menyalahkan orang! Tanpa berpikir kesalahan anda sendiri! Tolong, jika tidak ada yang penting! Jangan temui saya. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum." Ucap ku pamit.