Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 92


Menjadi ibu baru merupakan sebuah peran yang sangat berbeda, yang mengubah segalanya. Dari mulai jam tidur dan waktu makan pun berubah, bahkan mood ku pun benar-benar tidak stabil.


Beruntung aku memiliki keluarga dan anak yang sangat pengertian, di saat aku lelah dan ingin istirahat mereka dengan suka rela menggantikan ku menjaga Baby El. Arjun pun sudah bisa menjaga adiknya, di saat aku sibuk bekerja atau aku kelelahan.


Baby El sangat suka minum ASI, tak jarang aku sampai kewalahan. Setiap ada waktu senggang, aku pun memompa ASI dan menyimpannya di freezer khusus yang aku siapkan jika sewaktu-waktu aku harus pergi tanpa membawa Baby El.


Semenjak usia kandungan ku besar aku tidak berangkat ke Perusahaan, bukan berarti aku lepas tangan. Aku tetap mengontrol semuanya dari rumah dan melakukan meeting online, selebihnya aku menyerahkan kepada Selva dan Dian untuk mengurusnya.


Orang yang sempat aku curigai keluarga nya Arjun pun hingga kini tidak pernah datang lagi, meski begitu rasa khawatir tetap ada di hatiku. Jika sewaktu-waktu Arjun di bawa pergi oleh keluarga kandungnya.


"Ayo Abang sarapan dulu, jangan lupa susunya di habiskan. Sudah biarkan adik nya, lagi anteng di stroller." Ucap ku, sedangkan Arjun asyik mengajak Baby El bercanda.


"Hehe. . . Habis Abang gemes banget sama pipi adik Ma! Tembem banget, pengen Abang cubitin deh! Hehe. . ." Ucap Arjun sambil cekikikan.


"Ayo cepat makan dulu Abang! Nanti Abang terlambat berangkat sekolahnya." Ucap ku.


"Baik Mama sayang." Ucap nya sangat manis dan aku pun menggelengkan kepala ku.


Setiap hari aku selalu menyempatkan diri untuk memasakkan sarapan dan makan malam untuk anak ku, sebisa mungkin aku membagi waktu dan kasih sayang ku untuk kedua anak ku.


"Ma Abang berangkat dulu iya, Assalamualaikum." Ucap Arjun, kemudian mencium tangan dan pipi ku. Tak lupa dia pun berpamitan dengan adik kecil nya yang tampak senang sekali jika bersama Abang nya.


Selepas Arjun berangkat sekolah, aku pun menjemur Baby El di taman kecil di rumah ku. Setelah selesai membersihkan Baby El dan minum ASI, Baby El pun tertidur. Barulah aku bisa mengerjakan pekerjaan ku yang selalu tertunda, aku pun membawa pekerjaan ku ke kamar.


Agar lebih nyaman dan juga bisa menjaga Baby El yang setiap 2 jam sekali harus di bangunkan jika dia tertidur, karena harus minum ASI. Melelahkan pastinya, namun aku sangat menikmati setiap momen yang memang sudah lama aku nantikan ini.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


Ceklek. . .


"Abang udah pulang?" Tanya ku saat membuka pintu kamar ku.


"Sudah Ma, Abang juga sudah bersih-bersih dulu tadi sebelum ke sini." Ucap nya kemudian mencium tangan ku.


"Pinternya anak Mama, sudah makan siang belum Abang?" Tanya ku, sambil merangkulnya menuju sofa di samping tempat tidur bayi.


"Sudah Ma! Adik tidur nya udah lama belum Ma?" Tanya Arjun pelan.


"Baru aja tidur, makanya Mama agak lama buka pintunya." Ucap ku sambil tersenyum.


"Yah. . ." Desah Arjun sedih.


"Nanti iya kalau adik bangun, Mama kasih tau Abang. Gimana tadi Abang di sekolah? Ada PR ngga?" Tanya ku.


"Iya Ma, ngga apa-apa biar adik tidur aja Ma. Ada Ma, PR matematika. Tapi Abang sudah kerjakan saat istirahat tadi Ma, di sekolah sama seperti biasanya Ma. Cuman. . ." Ucap Arjun ragu, yang membuat aku mengernyit bingung.


"Ngga deh Ma." Ucap nya.


"Ayo dong cerita ke Mama, ada apa di sekolah? Atau perlu Mama ke sekolah Abang?" Tanya ku.


"Ngga Ma! Ngga perlu." Jawab Arjun cepat, membuat aku semakin curiga terjadi sesuatu.


"Ayo, Abang jujur sama Mama. Ada apa sebenarnya? Ada yang jahat ke Abang?" Tanya ku dan dia menggelengkan kepalanya.


"Atau Abang ngga nyaman sekolah di situ? Mau pindah sekolah?" Tanya ku lagi dan dia pun menggelengkan kepala.


"Lalu ada apa Bang? Kenapa Abang ngga mau cerita ke Mama?" Tanya ku dan membuatnya bungkam.


"Abang udah ngga sayang lagi iya ke Mama? Sampai Abang ngga mau cerita, ada masalah apa di sekolah Abang?" Ucap ku sedih.


"Abang sayang sama Mama." Ucap nya cepat.


"Ta-pi. . ." Ucap Arjun ragu.


"Tapi apa Bang? Ayo jujur sama Mama! Jangan ada yang di tutup-tutupi, ada apa Abang di sekolah? Mama ngga akan marah kok!" Ucap ku berusaha menyakinkan Arjun dan dia pun menatap ku dalam.


"Sebenarnya sudah beberapa hari ini, Abang merasa ada yang memperhatikan Abang di sekolah. Tapi setiap Abang mencoba mencarinya, orangnya bersembunyi Ma. Abang takut, makanya Abang diam di Ruang Guru kalau Pak Maman belum menjemput Abang." Ucap Arjun menjelaskan.


Deg.


"Maaf Abang ngga jujur ke Mama, Abang takut Mama khawatir." Ucap Arjun merasa bersalah dan menyadarkan ku dari keterkejutan yang aku rasakan.


"Tapi orang itu ngga ngapa-ngapain kamu kan? Kamu tau ciri-ciri orang nya kaya gimana? Atau kamu pernah liat wajah orangnya?" Tanya ku panik.


"Mama tenang dulu! Ini yang Abang takutkan kalau Abang cerita ke Mama, pasti Mama khawatir." Ucap Arjun sesal, bergegas aku angkat wajah nya dengan kedua tangan ku memegang pipinya dan mata ku berkaca-kaca.


"Abang." Panggil ku dan Arjun pun melihat ke arah mataku.


"Dengarkan Mama, mulai sekarang jangan tutupi apa pun dari Mama. Apa pun itu Abang harus jujur! Apalagi masalah ini, gimana kalau orang itu orang jahat? Mama ngga mau Abang kenapa-kenapa! Wajar Mama khawatir, karena Abang anak Mama! Ingat iya!


. . . Jangan nutupin apa pun dari Mama lagi, Mama takut kehilangan Abang, Mama sayang sama Abang." Ucap ku kemudian memeluk nya erat.


"Iya Ma! Maafin Abang iya! Abang janji, kalau ada apa-apa Abang pasti bilang ke Mama. Maafin Abang iya Ma." Ucap Arjun merasa bersalah.


"Sudah tidak apa-apa Nak! Asal jangan di ulangi iya, dan mulai besok Mama yang akan antar jemput Abang ke sekolah. Sekalian Mama mau meminta ke pihak sekolah, agar keamanan di sekolah di perketat. Abang jangan khawatir, Mama akan jagain Abang sama adik sekuat dan semampu Mama." Ucap ku.


Oek. . . Oek. . . Oek. . .


"Wah adik kesayangan Abang bangun tuh, kayanya dia tau deh! Abangnya lagi sedih, ayo kita ajak adik bermain." Ucap ku yang sudah menggendong Baby El.