
"Mas memang tidak pernah memberikan apa pun selama kamu hamil, karena kan kamu orang kaya! Kamu punya Perusahaan besar, orang tua kaya raya, Kakak kamu pun semua pengusaha. Tidak seperti Mas ini! Kerja Mas aja masih menjadi anak buah, bukan menjadi Bos!
. . . Coba aja kamu angkat Mas jadi Direktur di Perusahaan kamu, pasti Mas akan membiayai kamu dan anak kita sepenuhnya. Jadi kamu jangan menyalahkan Mas yang tidak bisa memberikan apa pun untuk kamu sama anak kita." Ucap Mas Tio dengan tidak tahu malunya dan membuat kami semua melotot mendengar nya.
"Tapi kamu tenang saja, sekarang Mas punya pekerjaan sambilan yang menghasilkan uang banyak. Jadi Mas bisa biayain kamu dan anak kita, Mas akan belikan apa pun yang kamu mau. Bahkan biaya Rumah Sakit ini aja Mas sanggup bayar ko! Kamu tenang aja iya." Ucap nya dengan percaya diri.
"Tidak perlu, saya masih sanggup membayar biaya Rumah Sakit. Sepertinya anda sangat sibuk, lebih baik segera pergi. Dari pada nanti ada yang ke sini untuk marah-marah." Sindir ku.
Kring. . . Kring. . . Kring. . .
"Mmm. . . Iya sudah kalau begitu Mas pergi dulu, besok Mas pasti ke sini. Tolong jaga anak kita baik-baik iya! Jangan kamu fokus urus anak orang lain! Inget harus fokus urus anak sendiri!" Ucap Mas Tio dan kemudian pergi tanpa mengucapkan salam.
"Itu orang bener-bener ngga ada kapoknya iya! Bisa-bisanya ngomong kaya gitu! Bener-bener deh!" Ucap Kak Niko tidak habis pikir.
"Mama geram banget sama tingkah nya! Pengen rasanya Mama tabok itu mukanya! Tau anak Mama baru lahiran! Malah membuat masalah di sini! Mana besok mau ke sini lagi." Ucap Mama kesal, dan Papa mengelus punggung Mama berusaha menenangkan Mama.
"Sudah. . . Sudah. . . Orang nya sudah pergi, yang jelas kita harus berhati-hati dengan orang seperti itu. Jangan sampai kita kecolongan, nanti dia bisa berbuat yang macam-macam." Ucap Bang Naufal yang lain menganggukkan kepala setuju dengan ucapan Bang Naufal.
"Bang Arjun. . ." Panggil ku, yang melihat Arjun tampak menundukkan kepalanya.
"Sini Bang, deket Mama sama adik." Ucap ku, kemudian perlahan Arjun pun mendekat ke ranjang rawat ku.
"Ayo naik sini." Pinta ku, sambil menepuk sebelah ranjang ku yang masih kosong dan Arjun menggelengkan kepala.
"Kenapa? Abang ngga mau deket-deket Mama?" Tanya ku.
"Nanti Mama dan adik terganggu dengan Abang." Ucap Arjun.
"Ngga dong! Ini ranjang nya masih cukup kalau Abang tidur di sini, ayo dong Bang sini." Rengek ku mencairkan suasana, membuat yang lain terkekeh.
"Ayo Bang, kasihan itu Mama kamu sudah merengek kaya anak bayi. Padahal adik bayi Abang aja anteng gitu, malah Mama Abang yang merengek." Ucap Mama terkekeh.
"Ayo sini Ayah bantu." Ucap Kak Niko dengan mengangkat Arjun dan mendudukkannya di ranjang pasien ku.
Beruntung memiliki keluarga yang sangat peka terhadap keadaan ku, melihat Arjun yang murung karena ucapan Mas Tio tadi. Tanpa di komando, semua tampak bekerjasama membuat Arjun tersenyum kembali dan melupakan yang di ucapkan Mas Tio.
"Abang kenapa? Cerita dong ke Mama, kenapa Abang sedih gini?" Tanya ku hati-hati dan Arjun hanya menggelengkan kepala nya.
"Abang ngga perlu dengerin ucapan orang tadi iya! Apa pun yang terjadi, Abang adalah anak pertama Mama dan adik bayi adalah adik Abang. Jangan pedulikan ucapan orang lain, intinya kami semua sayang Abang dan Abang adalah anggota keluarga Hutama.
. . .Mau orang bicara apa pun, ngga akan merubah rasa sayang kami ke Abang. Jadi Abang jangan sedih lagi iya? Masa udah punya adik cemberut gitu? Ayo dong senyum!" Ucap ku sambil tersenyum.
"Nah gitu dong! Itu baru anak Mama yang ganteng, sekarang Abang lihat deh! Ini adik nya ko tidur terus iya Bang? Ngga mau Abang gangguin gitu? Biar bangun? Hehe. . ." Ucap ku iseng.
"Jangan Mama! Kasian adik! Biarin adik tidur Ma, lebih baik Mama juga tidur. Pasti Mama lelah, sudah berjuang melahirkan adik." Ucap Arjun penuh perhatian.
"Terimakasih banyak sayangnya Mama! Ngomong-ngomong Abang sudah makan belum? Pasti belum iya?" Tanya ku dan Arjun pun menunduk.
"Jangankan makan! Duduk aja dia ngga mau! Saking khawatir nya sama kamu tau!" Celetuk Kak Niko dan aku langsung menatap Arjun.
"Benar begitu Bang?" Tanya ku dan Arjun pun menganggukan kepala nya.
Kemudian aku pun menyerahkan anak ku ke Mama, agar bisa di tidurkan di ranjang nya lagi.
"Kita makan yuk! Mama juga laper banget deh! Abang mau ngga temenin Mama makan? Eh! Kita makan bareng-bareng aja iya? Itu di meja banyak banget makanannya! Bawa sini dong! Laper nih!" Ucap ku antusias.
"Mama mau yang mana? Sebentar Abang ambil makanan kesukaan Mama dulu iya!" Ucap Arjun dengan segera mengambilkan aku makanan dan kami pun makan bersama dalam senyap, karena bayi ku sedang tertidur pulas.
Keesokan harinya, aku dan bayi ku sudah di izinkan pulang. Kami pun bersiap untuk pulang dan Kak Niko pun sedang mengurus administrasi nya terlebih dahulu, tak lama Kak Niko muncul dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"Kakak kenapa sih?" Tanya ku ku heran.
"Kelihatan nya kamu kesal sekali? Ada apa Kak?" Tanya Mama.
"Mantan suami kamu itu iya! Bener-bener cuman buat emosi aja!" Ucap Kak Niko menahan amarah.
"Orang nya aja ngga ada! Gimana bikin emosinya Kak?" Tanya ku heran.
"Dia lagi ngurus administrasi kamu!" Ucap Kak Niko sebal.
"APAAA?" Teriak aku dan Mama berbarengan, beruntung anak ku di bawa ke oleh suster untuk di jemur.
"Kamu ini kalau becanda ngga tau tempat banget deh!" Keluh Mama kesal.
"Siapa yang bercanda Ma! Aku itu kesel! Dengan sombongnya itu manusia bilang dia yang berhak bayarin biaya Rumah Sakit Nadira, mana sombong dan tengil banget ngomongnya! Serasa dia punya harta melimpah banget gitu! Pengen rasanya nampol lagi itu muka nya." Ucap kesal Kak Niko.
"Pasti nanti akan ada masalah baru lagi deh!" Keluh ku, sambil memejamkan mata membayangkan akan ada drama yang akan di mainkan oleh pasangan suami istri gila.
Ceklek. . .