Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 52


POV Tio


Hancur sudah segalanya. . .


Setelah kejadian itu, tidak ada lagi komunikasi antara aku dan istriku. Berbagai cara aku lakukan, agar bisa menemui dan meminta maaf kepadanya. Namun semua itu sia-sia, luka yang aku torehkan sangat dalam dan tak termaafkan.


Keegoisan ku, membawa aku dalam malapetaka ini. Kehilangan istri yang sangat aku cintai, dan menghancurkan hidup seorang perempuan Sholehah.


Menyesal. . .


Sangat menyesal. . .


Kini aku sendiri yang menanggung luka dan kekecewaan dari istri ku, belum lagi semua kebohongan ku kepada Ibu lambat laun akan terbongkar pula. Kini Nadira istri ku tinggal di rumah orang tuanya dan Sifa tinggal di sebuah kontrakan dekat kantor, karena tak mungkin aku membawanya tinggal di rumah ku.


"Tio ayo makan." Panggil Ibu.


"Iya Bu." Jawab ku, kemudian aku menghampiri Ibu di meja makan.


"Tio kapan kamu mau jemput istri kamu? Masa sudah berhari-hari istri kamu nginep di Rumah Orang Tua nya, mau sampai kapan dia nginep di sana? Ngga inget apa dia ada suami yang harus dia urus?" Ucap ketus Ibu.


"Iya Bu." Ucap ku singkat.


"Kamu ini iya iya terus! Tapi istri kamu ngga pulang-pulang! Malu sama tetangga, kamu itu punya istri ko serasa duda!" Ucap Ibu ketus.


Tanpa menjawab pertanyaan Ibu, aku melanjutkan makan dan tidak menanggapi apa pun perkataan Ibu lagi. Setelah selesai aku pun masuk ke dalam kamar, dan termenung menatap foto pernikahan ku dengan istri tercinta ku.


Setiap hari selalu pertanyaan itu dan itu yang Ibu tanyakan, sedangkan aku sendiri tidak tau apakah Nadira akan kembali lagi ke Rumah ini atau tidak. Luka yang aku torehkan teramat dalam untuk nya, dan tak tau apa aku bisa mengobati nya atau tidak.


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


Sifa (call)


[Ada apa?] Tanya ku singkat.


[Assalamualaikum dulu dong Mas!] Tegur Sifa.


[Ada apa?] Tanya ku lagi, tanpa menjawab pertanyaan dia.


[Ikh! Kenapa sih Mas, kamu itu semakin ke sini malah semakin ketus sama aku? Kamu kan tau aku itu ngga boleh banyak pikiran, ngga baik buat anak kita.] Ucap Sifa marah.


[Bisa tidak! Ngga usah di ulang terus kata-kata itu! Tinggal bilang ada perlu apa? Udah beres kan!] Ucap ku ketus.


[Ikh! Mas! Bukannya minta minta maaf atau bujuk aku! Malah ngomong nya gitu!] Ucap Sifa kesal.


[Jadi mau apa? Kalau ngga ada yang penting Mas matiin.] Ucap ku.


[Eh! Jangan dulu dong Mas! Kamu itu! Aku lagi pengen banget makan martabak yang pake keju mozzarella nya itu loh Mas! Kaya yang di Yo****e, pas di makan itu. . .] Belum selesai Sifa bicara aku memotong ucapannya.


[Iya tunggu aja.] Ucap ku langsung matikan panggilan telpon dan membuka aplikasi makanan online, setelah memesankan apa yang di mau Sifa aku pun berbaring di ranjang sambil termenung.


Semakin hari Sifa semakin berubah, tidak lagi seperti awal aku mengenalnya. Apa pun yang dia inginkan harus terpenuhi, untuk makan saja dia tidak mau memasak sendiri. Bahkan uang yang aku berikan untuk pegangan dia, habis tak tersisa dalam 1 hari dan selalu mengeluh bahwa uang yang aku berikan sedikit.


Kini aku tersadar, bahwa memang istri ku yang paling baik. Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun dengan apa yang aku berikan, bahkan saat aku meminta nya menyerahkan uang bulanannya untuk di atur Ibu. Dia pun tidak mengeluh, dan menerima semuanya.


Benar-benar salah


Apa pun yang terjadi, aku harus berusaha merebut hati Nadira lagi. Aku yakin dia masih mencintai ku dan mau kembali lagi bersama ku. Dia tidak pernah marah, meski pun aku berbuat salah dan selalu memaafkan ku. Jadi dia pasti akan memaafkan kesalahan ku saat ini dan kami akan kembali bersama.


Keesokan hari nya. . .


Hari ini aku sangat bersemangat, karena hari ini akan ada meeting di Perusahaan NH grup tempat Nadira bekerja. Semoga dia juga terlibat dalam meeting hari ini dan aku bisa bertemu dengannya, dengan semangat aku masuk ke dalam Ruang Meeting. Ternyata sudah banyak yang hadir, namun Nadira tidak ada di Ruangan ini.


'Mungkin dia tidak terlibat dalam proyek ini, lebih baik aku menemuinya setelah meeting selesai.' Ucap ku dalam hati.


Ceklek. . .


Betapa bahagianya aku melihat Nadira masuk ke dalam Ruang Meeting, saking bahagianya aku terus tersenyum dan mengikuti ke mana arah dia akan duduk.


Deg. . .


'Itu kan Kursi CEO Perusahaan ini.' Ucap ku dalam hati.


"Selamat Pagi semua, mari silahkan duduk." Ucap Nadira, yang kemudian memberikan pembukaan untuk Proyek ini. Yang membuat aku terkejut adalah dia pemilik Perusahaan ini, jadi selama ini dia orang yang sangat kaya raya dan aku tidak tau sama sekali.


Dan betapa kecewanya aku, saat dia memilih Perusahaan lain untuk memegang Proyek Mega Hotel A ini dan bukan Perusahaan aku. Aku pun memutuskan untuk menemuinya dan meminta dia untuk membatalkan keputusan nya itu.


Namun lagi dan lagi aku kecewa, karena sekretaris nya terus menghadang dan kami pun berdebat. Tanpa tau semua peserta meeting telah keluar dari Ruangan dan melihat aku yang berdebat dengan pemilih Perusahaan ini, malu sekali rasanya.


Tapi aku bertekad, akan mendapatkan Proyek ini. Dan akan membujuk Nadira, dia pasti akan luluh. Saat ini dia hanya sedang marah kepada ku.


"Kamu ini apa-apaan sih Mas? Bikin malu aja." Marah Sifa yang memang ikut aku meeting.


"Kamu masih berharap Mba Nadira mau balik lagi sama kamu? Jangan harap iya! Ingat aku lagi hamil anak kamu! Jangan macam-macam kamu!" Ancam Sifa dan dia pun menarik tangan ku menuju lift.


Setelah kami sampai palkiran, aku pun berbohong kepada Sifa. Karena aku harus menunggu Nadira, agar bisa membujuknya.


"Kamu ke kantor duluan aja, pake taksi online. Mas mau ambil handphone ketinggalan di kursi meeting tadi." Ucap ku bohong.


"Iya udah kita ambil aja Mas." Ucap Sifa yang menarik tangan ku.


'Sial' Rutuk ku.


"Biar Mas aja sendiri, kamu pulang aja duluan. Kasian kamu pasti cape, kalau harus bolak balik ke atas lagi. Kamu kan lagi hamil, jadi ngga boleh capek-capek." Ucap ku membujuk Sifa agar tidak ikut.


"Iya udah Mas ke atas dulu." Tanpa menunggu jawaban Sifa, aku pun berjalan masuk Perusahaan itu dan duduk di Ruang Tunggu, sambil terus berusaha menelpon Nadira.


Setelah cukup lama aku menunggu, Nadira pun keluar dan aku pun mengejarnya dan mencekal tangannya agar tidak jadi masuk ke dalam mobil.


"Mohon maaf Pak! Tolong yang sopan!" Tegur sopir nya, dan aku pun terdorong menjauh dari mobil.


"Dek. . . Dek. . . Ini Mas! Lepas, saya suami Nadira! Jangan macam-macam kamu! Cepat lepaskan saya!" Ancam ku kepada Supir, namun tidak dia perduli kan dan Satpam Perusahaan ini pun menghampiri ku. Namun aku tidak peduli dan terus memanggil Nadira, istri ku.


"Dek. . . Dek. . . Keluar Dek. . . Mas mau bicara." Teriak ku, tetapi aku di hadang oleh 2 orang Satpam berbadan kekar dan aku pun di usir dari Perusahaan ini.