
"Sampai kapan pun, Abang akan tetap jadi anak Mama. Bukannya Mama yang bilang, kalau Abang ini anak Mama. Jadi Mama ngga perlu khawatir, Abang akan selalu jadi anak Mama. Kecuali Mama yang buang Abang, maka Abang akan pergi jauh." Ucap nya dan aku langsung menggelengkan kepala.
"Ngga! Itu ngga akan terjadi! Abang dan Baby El anak Mama! Ngga ada 1 orang pun yang bisa memisahkan kita! Abang jangan pernah tinggalin Mama iya? Mama sayang banget sama Abang!" Ucap ku sendu.
"Ngga Ma! Abang ngga akan pernah tinggalin Mama! Mama tenang aja iya!" Ucap Arjun berusaha menenangkan ku.
"Ta-pi gi-gimana kalau keluarga kandung kamu mencari dan membawa kamu pergi dari Mama? Hiks. . . Hiks. . . Mama ngga rela kehilangan kamu, Mama sayang sama kamu Nak!" Ucap ku sambil menangis.
Deg.
Seketika Arjun pun terdiam, itu membuat ku sedih. Aku tau Arjun pasti ingin kembali kepada keluarga kandungnya, namun aku juga tidak bisa kehilangan anak ku.
"Jujur, Abang pengen banget ketemu mereka Ma! Dan Abang juga kecewa sama mereka! Abang pengen tau, kenapa Abang bisa sampai berpisah dengan mereka? Dan kemana aja mereka? Apa mereka tidak pernah berniat mencari Abang selama ini?" Ucap Arjun berkaca-kaca.
"Dari kecil Abang tidak tau siapa orang tua Abang! Yang Abang tau, Abang harus bekerja keras jika ingin makan. Kadang Abang ngamen, ngemis, jualan koran buat bisa makan. Bahkan Abang sudah beberapa kali di culik, kemudian di jual. Syukur Abang selalu bisa melarikan diri dan selamat.
. . .Abang bisa sekolah karena ada yang bantu Abang, tapi orangnya sudah meninggal. Jadi Abang berusaha keras biar Abang bisa terus sekolah dan Abang bersyukur di saat Abang sudah putus asa mencari uang, Mama datang membantu Abang. Dan saat Abang tertabrak, tidak ada satu orang pun yang mau menolong Abang.
. . . Tapi Mama datang menolong Abang, Mama itu malaikat penolong Abang. Sampai kapan pun Abang ngga akan pernah ninggalin Mama, Abang sayang sama Mama. Terimakasih sudah datang di hidup Abang, terimakasih sudah menyayangi Abang, terimakasih sudah memberikan Abang banyak hal.
. . . Maaf Abang belum bisa bales semua kebaikan Mama, tapi Abang janji akan menjaga dan melindungi Mama dan adik bayi! Ucap nya tegas dan aku pun langsung memeluknya.
"Abang tidak perlu membalas apa pun, cukup Abang jadi anak Mama! Itu sudah cukup bagi Mama." Ucap ku, kemudian menghapus air mata di pipi Arjun dan tersenyum manis.
"Sudah sekarang kita ke dalam lagi yuk! Takut Baby El nangis." Ucap ku sambil tersenyum dan kami pun masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.
Semenjak kejadian itu, terkadang aku selalu merasa was-was. Namun setiap hari aku selalu berusaha menguatkan diri ku, bahwa memang Arjun bukan anak kandung ku. Ntah besok, lusa atau kapan pun keluarga kandungnya pasti akan datang menjemputnya.
Dan aku harus ikhlas melepasnya!
Tapi sebelum itu terjadi aku ingin selalu memberikan yang terbaik untuknya, sama seperti sayang ku kepada Baby El.
Hari-hari ku kini semakin penuh warna semenjak lahirnya Baby El, membuat Rumah lebih ramai dengan tangis nya dan ada Abang yang selalu standby menjaganya jika sudah pulang sekolah dan les.
Ada hal yang tak pernah ku duga, Arjun mau membantuku menyelesaikan pekerjaan kantor yang sudah menggunung di ruang kerja. Awalnya aku memintanya menjaga Baby El, karena banyak nya pekerjaan kantor ku dan saat baby El tertidur di ranjang nya yang ada di ruang kerja ku.
Dia sangat tertarik dengan pekerjaan ku dan meminta ku mengajarinya, dengan senang hati aku mengajarinya. Semenjak itu, jika dia ada waktu senggang. Pasti selalu membantu ku mengerjakan pekerjaan kantor, meski pun tidak banyak yang dia bantu.
Namun aku sangat senang, dia mau belajar sejak dini. Karena kelak perusahaan ini pun akan menjadi milik kedua anak ku, dan aku ingin mereka bisa bekerja sama dalam memajukan Perusahaan ini kelak.
"Sudah, ayo Abang istirahat. Biar Mama yang lanjutkan, ini sudah malam." Ucap ku membujuk Arjun yang sedang membaca buku manajemen keuangan, karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam waktunya Arjun tidur.
"Sebentar Ma, sedikit lagi aja." Ucap nya tanpa mengalihkan pandangan dari buku itu dan aku pun menggelengkan kepala ku bingung dengan nya.
"Abang ayo Nak! Sudah dulu! Waktunya istirahat! Besok kamu baca lagi." Ucap ku dan akhirnya dia pun mau menuruti ucapan ku.
"Baik Ma! Tapi besok boleh kan Abang baca buku-buku Mama lagi?" Pintanya antusias.
"Boleh!" Ucap ku dan dia pun sangat gembira.
"Semua buku di sini boleh Abang baca, tapi memang Abang mengerti sama buku yang Abang baca?" Tanya ku heran, karena buku-buku yang di bacanya bukan buku anak kecil.
"Ngerti ko Ma, kalau Mama mau tanya jawab sama Abang juga boleh Ma. Tapi cuman buku yang Abang sudah baca doang iya, hehe. . ." Ucap nya cengegesan.
"Iya nanti deh! Kapan-kapan Mama akan tanya Abang tentang isi buku yang Abang baca itu, cuman sekarang Abang tidur dulu iya Nak! Ini sudah malam." Ucap ku.
"Baik Ma, selamat malam. Jangan terlalu lelah Ma, Abang masuk kamar dulu." Ucap nya kemudian mencium pipi ku dan segera masuk ke dalam kamar.
Oek. . . Oek. . . Oek. . .
"Adududuh. . . Anak ganteng Mama bangun, haus iya sayang? Ayo kita minum susu di kamar." Ucap ku, kemudian menggendong Baby El menuju kamar ku.
Setelah beberapa saat menyusu, Baby El yang biasanya akan tidur kembali. Sekarang terlihat matanya terlihat segar sekali, tidak ada tanda-tanda untuk tidur kembali. Itu pertanda akan menjadi malam yang panjang untuk kami berdua.
"Anak ganteng sudah minum susu, popok sudah di ganti. Kenapa belum tidur sayang? Kok malam terlihat segar gini sih? Ini kan sudah malam Nak! Kamu ingin ngajak Mama begadang iya Nak?" Tanya ku, Baby El pun sesekali tersenyum mendengar celotehan ku.
Meski mata sudah mengantuk, namun Baby El masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin tidur kembali. Dan momen ini adalah momen yang tiada duanya bagi ku, bisa bergadang menemani buah hati ku. Lelah memang, namun aku bersyukur dapat merasakan menjadi wanita seutuhnya.