
Makan malam yang sangat ku rindukan, dipenuhi canda tawa dan sungguh ramai. Padahal hanya ada kami bertiga, namun benar-benar makan malam yang mengesankan untuk ku.
Rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan suasana seperti ini, sangat menyenangkan sekali.
Selesai makan malam, kami berkumpul di Ruang TV. Dan kami pun membahas hal-hal yang random, walaupun sebenernya membahas yang tidak penting. Hehe. . .
Namun sangat menghibur ku dan aku pun dapat melupakan sejenak masalah yang menimpa ku.
"Aku punya ide cemerlang nih!" Ucap Selva pada kami yang sedang fokus menonton televisi sambil mengambil cemilan.
"Ide apa?" Tanya Dian penasaran.
"Pasti idenya aneh-aneh." Ucap ku tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
"Ikh! Kesel deh! Makanya sini dulu deh!" Ucap Selva kesal.
"Udah ngomong aja! Lagi seru tau!" Ucap ku.
"Memangnya apa ide kamu?" Tanya Dian, sambil berbalik arah menghadap Selva.
"Woy. . . Mba! Aku mau ngomong nih!" Ucap Selva kesal pada ku.
"Iya ampun sensitif banget kamu! Iya nih Mba liatin kamu." Ucap ku cekikikan sambil melihat ke arah Selva.
"Aduh aku jadi malu deh di liatin kalian begitu." Ucap Selva bercanda sambil menutup muka nya pura-pura malu.
Kami yang kesal hanya memutar bola mata malas, dan melempari Selva dengan cemilan.
"Jadi mau ngomong apa? Kalau ngga penting Mba mau nonton TV aja!" Ucap ku kesal dengan tingkahnya Selva.
"Hahaha. . . Habis nya kalian itu serius banget deh!" Ucap Selva cekikikan.
"Tau akh!" Ucap ku kesal.
"Cieh. . . Ada yang marah." Ucap Selva menggoda ku.
"Mau ngomong apa sih? Ngomong tinggal ngomong! Drama mulu!" Ucap ku kesal.
"Hahaha. . . Iya deh maaf! Aku punya ide, gimana kalau kita tidur bertiga? Udah lama tuh kita ngga tidur bertiga!" Ucap Selva memberikan ide sambil menaik turunkan alisnya.
"Ngga ah, sempit." Ucap ku pada Selva.
"Iya bener kata Mba, apalagi Selva tidurnya ngga bisa diem." Keluh Dian yang ikutan menolak permintaan Selva.
"Enak aja! Kata siapa aku tidurnya ngga bisa diem." Ucap Selva kesal sambil melemparkan bantal ke arah Dian.
"Waktu ada proyek di Malang, kita tidur 1 kamar hotel dan cuman ada 1 kasur. Kamu tidurnya muter, sampe aku ngga bisa tidur. Akhirnya aku tidur di sofa, untung ada sofa besar di kamar hotel nya." Keluh Dian dengan muka sendu.
Aku bisa membayangkan bagaimana kesal nya Dian saat itu, sudah jauh-jauh ke Malang untuk memantau proyek. Belum lagi lelah di perjalanan dan ternyata di hotel tidak bisa istirahat karena Selva yang tidurnya muter.
"Masa sih? Ko kamu ngga bilang?" Ucap Selva polos tanpa dosa.
"Andai ada kamar kosong lagi, aku juga udah pasti pesan 1 kamar lagi. Sayangnya kamar yang tersisa cuman 1, malangnya nasib ku saat itu." Ucap Dian mendramatisir dan aku pun memutar bola mata jengah.
Tidak hanya Selva yang selalu mendramatisir keadaan, terkadang Dian yang pendiam pun. Suka mendramatisir keadaan, namun hanya didepan kami saja.
"Udah deh! Jadi ngga nih tidur bareng?" Tanya Selva penuh harap.
"NGGA." Ucap kami tegas.
"Ayo lah. . . Kita nostalgia kaya waktu kita kecil loch!" Ucap Selva menggoyangkan tangan ku dan menatap kami penuh harap. Namun kami memalingkan pandangan kembali ke arah tv.
"Janji deh, aku tidurnya ngga akan aneh-aneh. Beneran deh! Ayo dong, nanti kita foto sambil tidur bertiga kaya dulu, ayo lah. . ." Ucap Selva yang terus memaksa kami untuk tidur bertiga, lama-lama kami pun jengan mendengar permintaan Selva.
"Memang kamu yakin ngga ngga masalah tidurnya sempit?" Tanya ku sekali lagi.
"Beneran ngga apa-apa kita berbagi kasur." Ucap Selva serius.
"Tapi aku ngga mau tidur di samping Selva Mba!" Ucap Dian memelas.
"Iya udah oke! Kita tidur bertiga, kalian di pinggir dan Mba di tengah. Gimana setuju ngga?" Tanya ku pada mereka.
"Setuju." Ucap Selva semangat.
"Iya udah deh." Ucap Dian dengan terpaksa.
"Cuman untuk hari ini aja Dian." Ucap ku dengan senyum senang.
"Iya Mba." Ucap Dian.
"Iya udah kita ke kamar aja iya." Ajak ku pada mereka.
"Geser dong, sempit nih!" Keluh Selva yang berada di samping ku, posisi kami tidur adalah Selva, Aku dan Dian.
"Bukannya tadi yang punya ide tidur barengan kamu? Sekarang kamu yang protes!" Ucap ku kesal, apalagi aku yang berada di tengah.
"Dulu aja tidur bertiga muat ko, sekarang malah sempit begini!" Keluh Selva dengan terus menggeser kan badannya
"Ikh! Jangan geser-geser terus dong! Kasian Dian itu, nanti dia jatoh!" Ucap ku kesal.
"Ini sempit tau Mba!" Ucap Selva kesal.
"Kan Mba udah bilang! Kamu nya aja yang ngeyel! Maksa kita buat tidur bareng!" Ucap ku kesal.
"Iya ampun pada bisa diem ngga sih!" Ucap Dian kesal, karena aku dan Selva berdebat terus. Sampai Dian pun terduduk di kasur dengan wajah kesel.
"Aku punya ide!" Ucap ku pada mereka.
"Ide apa? Jangan bilang idenya lebih buruk dari ini?" Cibir Selva kesal.
"Enak aja! Kamu bilang pengen tidur bertiga kan? Tapi ngga mau sempit kaya gini?" Tanya ku pada mereka dan mereka pun mengangguk bersamaan.
"Kita keluarin aja kasur nya, terus kita tidur di depan TV dan kita ambil kasur di ruang tamu. Jadi kasur nya lebih luas dan kita bisa sambil nonton TV sepuasnya. Gimana menurut kalian?" Tanya ku dengan menaik turunkan alis dan mereka pun saling pandang.
"SETUJU" Jawab mereka serempak.
"Let's go." Ucap ku pada mereka dan kami pun turun dari kasur bersamaan.
Dengan bergotong royong kami mengeluarkan 2 buah kasur dan membereskan kursi meja yang ada di ruang TV, kemudian kami menaruh 2 buah kasur tepat di depan TV.
"Aduh cape juga iya!" Keluh Selva.
"Iya ampun kamu itu iya! Udah di penuhi keinginan nya, pengen tidur bertiga dan pengen tempat yang luas. Sekarang udah terpenuhi semua, masih ngeluh juga?" Ucap ku kesal.
"Aduh kalian ini berantem terus! Ngga capek apa? Mending kita tidur sekarang!" Ucap Dian kesal pada kami dan kami pun berbaring dengan posisi seperti tadi.
"Tapi aku ngga ngantuk!" Keluh Selva.
"Sama." Ucap ku dan Dian berbarengan dan kami pun saling pandang, sepertinya pemikiran kami sama.
"Gimana kalau kita nonton film horor?" Ucap ku memberikan ide, dari pada bengong lebih baik menonton film. Pasti nanti lama-lama akan mengantuk juga.
"SETUJU/TIDAK" Ucap Dian dan Selva berbarengan dengan jawaban berbeda, karena Selva sangat penakut. Apalagi harus menonton film horor, di rumah sendirian pun dia tidak akan berani.
"Ah kamu ngga seru deh!" Ucap ku dengan tatapan meremehkan Selva.
"Nanti kalau aku mimpi buruk mba mau tanggung jawab?" Tanya Selva dengan kesal.
"Kita vote aja gimana?" Ucap ku memberika ide.
"Pasti aku kalah kalau vote! Ah kalian ini sekongkol pasti!" Ucap Selva kesal dan kami hanya cekikikan, karena bisa di pastikan kami yang menang.
Dan pada akhirnya kami menonton film horor, walaupun dengan beberapa kali perdebatan kecil. Saat kami takut, kami akan berteriak dan menutup mata kami dengan bantal.
Pada akhirnya kami pun tertidur dengan posisi yang kurang estetik untuk di lihat. Aku yang memeluk kaki Seva, kepala Selva di pinggir kasur dan Dian yang berpindah posisi kaki nya berada di bantal. Sungguh tidak enak untuk di pandang, jika ada orang yang melihat.
Beruntung hari ini weekend, jadi kami bisa tidur sepuas kami. Tanpa terganggu suara handphone, ngomong-ngomong dari kemaren aku bahkan tidak ingat di mana handphone ku berada.
Ting Tong. . .
Ting Tong. . .
"Siapa sih yang datang? Ganggu aja!" Gumam ku sambil berusaha bangun dan aku pun mengucek mata ku.
"Loh di mana ini?" Seketika aku bingung melihat sekitar dan aku pun baru ingat, jika semalam aku dan Selva menginap di rumah Dian.
Ting Tong. .
Ting Tong. . .
Ting Tong. . .
"Iya ampun lupa! Ada tamu." Aku pun bergegas bangun dan menuju pintu depan. Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang ada didepan pintu.
Ceklek. . .
Karena terlalu terkejut aku reflek menutup kembali pintu, tak lama pintu pun d ketuk.
Tok . . . Tok . . Tok . .
"BUKA PINTU!" Teriak seseorang di balik pintu.