Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 83


"Dek. . ." Panggil Kak Mely.


"Eh Kakak." Ucap ku yang tersadar dari lamunanku, kemudian memeluk Kakak Ipar ku ini.


"Kakak apa kabar? Kangen ikh! Jarang banget ke sini deh! Sok sibuk banget." Ucap ku merajuk.


"Lebay. . . Baru 2 Minggu ngga ke sini! Lebay banget kamu." Ucap Kak Niko yang tiba-tiba muncul dan melemparkan aku dengan keripik kentang.


"Ikh! Diem deh! Ngapain Kakak ke sini! Aku cuman mau ketemu sama Kakak ku yang cantik ini! Bukan ketemu makhluk aneh kaya Kakak, bleee. . . " Ucap ku sambil menjulurkan lidah meledek Kak Niko.


"Ini anak iya! Ngajak ribut! Untung hamil! Kalau ngga udah gue pites itu kepala!" Ucap kesal Kak Niko, sedangkan Kak Mely hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kami.


"Kalian itu bener-bener Tom& Jerry, berantem terus kalau ketemu! Tapi kalau jauh aja telponan terus, bisa kaya minum obat sehari 3 kali telponan dan video call." Ucap Kak Mely yang memang benar, selama Kak Niko sekeluarga berlibur di kampung halaman Kak Mely kami bisa telponan atau video call sampai sehari 3 kali untuk melepas rindu.


"Tau tuh! Kak Niko nya nyebelin terus kalau ketemu!" Ucap ku merengek.


"Kayanya gue di suruh balik! Tau gitu kita sekalian bulan madu Bun, 1 atau 2 bulan cukup kaya nya Bun!" Ucap Kak Niko sambil merangkul Kak Mely yang sedang memeluk ku.


"Ngga boleh! Enak aja! Kakak aku mau di bawa lama-lama! Ngga iya! Pokoknya Kak Mely ngga boleh pergi lama-lama lagi!" Ucap ku kesal, kemudian menimpuk Kak Niko dengan bantal kursi.


"Ampun. . . Ampun. . . Udah dong Dek!" Ucap Kak Niko.


"Hahaha. . . Rasain! Enak aja mau bawa Kakak aku jauh-jauh!" Ucap ku sambil tertawa dan akhirnya kami pun berpelukan.


"Hahaha. . . Gimana hari-hari kamu? Ada yang menyulitkan kamu ngga? Keponakan Kakak gimana? Baik-baik aja kan?" Tanya Kak Niko dan mengelus sayang perut ku.


"Biasa aja ko Kak! Bisa teratasi dengan baik! Keponakan Kakak sangat pintar, dia aktif sekali. Tapi ngga nyusahin kok!" Ucap ku.


"Keponakan Om yang baik, jangan nyusahin Mama kamu iya! Kasian Mama kamu berat bawa-bawa kamu ke mana-mana, nanti kalau kamu sudah besar Om culik kamu iya! Nanti kita pergi main sama Kakak-kakak kamu yang lainnya." Ucap Kak Niko, yang aku hadiahi geweran di telinga nya.


"Aduuuuhhhh. . . Sakit Dek! Bunda tolong! Ayah di siksa sama ibu-ibu hamil! Bundaaaaa. . . " Ucap Kak Niko mendramatisir.


"Biarin! Enak aja anak aku mau di culik segala! Biar tau rasa nih penculik!" Ucap ku, kemudian melepaskan tangan ku dari telinga Kak Niko.


"Kalian ini bener-bener deh! Pusing deh liat kalian! Sebentar-sebentar berantem, sebentar-sebentar pelukan!" Ucap Kak Mely sambil menggelengkan kepalanya dan kami pun cengegesan.


"Oh! Iya! Gimana ketemu lagi ngga sama anak itu?" Tanya Kak Niko.


Sebelum nya aku menceritakan kepada keluarga ku, mengenai pertemuan ku dengan Arjun. Dan dari cerita ku, mereka menyimpulkan Arjun itu korban penculikan yang berhasil kabur. Namun aku sendiri tidak tau apakah dia itu sudah bertemu kembali dengan keluarganya atau belum.


"Aku cuman liat dia sebentar-sebentar aja Kak! Kadang aku liat dia lagi ngamen di lampu merah, cuman pas mau turun tau-tau lampu udah hijau. Ngga jadi deh aku temuin dia nya, aku juga pernah liat dia lagi jualan koran Kak!" Ucap ku sendu.


"Wah hebat juga anak itu! Bener-bener pekerja keras dia!" Ucap Kak Niko.


"Kakak ku yang baik hati, mau kan membantu adik nya yang cantik ini." Ucap ku dengan mata berbinar.


"Itu muka biasa aja deh!" Ucap Kak Niko, dan aku terus menatap Kak Niko.


"Tolong cari informasi Tentang Arjun iya Kak! " Ucap ku penuh harap.


"Iya nanti kapan-kapan Kakak cari informasi nya." Ucap Kak Niko santai.


"Pokoknya sebelum acara 7 bulanan aku! Informasi nya harus sudah lengkap dan aku mau Arjun juga hadir di acara aku nanti!" Ucap ku tegas, kemudian aku pun bangkit dari duduk ku menuju kamar dengan kesal.


"Dih! Marah dia nya!" Ucap Kak Niko yang bisa aku dengar.


"Sudah! Sudah! Lebih baik ayah cari sekarang! Ingat katanya sebelum acara 7 bulanan, acaranya kan 3 hari lagi." Ucap Kak Mely yang membuat Kak Niko terkejut.


"ADEEEEEKKKKKKK. . . " Teriak Kak Niko kesal.


Malam hari yang penuh canda tawa, tiba-tiba berubah. Saat kami kedatangan tamu yang tidak di undang, yaitu mantan Ibu Mertua ku.


"Maaf Ibu ke sini malam-malam dan menggangu kamu, Nak!" Ucap Ibu Mas Tio.


"Tidak ada apa-apa Bu, memangnya ada perlu apa? Ibu sampai datang malam-malam begini?" Tanya ku heran, karena memang saat ini sudah menunjukkan jam 9 malam.


"Nak! Kamu mau iya! Rujuk dengan Tio, Ibu mohon sekali Nak! Kamu mau iya." Ucap Ibu.


Deg. . .


"Kamu tau Nak! Semenjak bercerai dengan kamu, hidupnya benar-benar kacau. Sekarang Tio tinggal di kontrakan kecil dan jabatannya juga di turunkan, Sifa sekarang hamil besar. Rumah Ibu juga sudah Ibu jual untuk menutupi kekacauan yang mereka buat, Ibu mohon mau iya!


. . .Kamu kembali rujuk dengan Tio! Ibu janji, akan menjadi Mertua yang lebih baik lagi dan tidak akan menyusahkan kamu di Rumah ini. Ibu ngga masalah kalau harus tidur di kamar tamu, ngga perlu di kamar utama.


. . . Yang penting kasurnya besar, ada AC, ada TV dan kamar mandi di dalamnya itu saja sudah cukup untuk Ibu. Barang-barang Ibu juga sudah ada di depan, kamu suruh pelayan untuk mengantarnya iya ke kamar Ibu. Ibu capek sekali pengen tiduran, di mana iya! Kamar untuk Ibu?


. . . Kamu suruh pelayan sekalian bersihin kamar untuk Ibu pakai iya Nak! Dan tolong sediakan makanan yang enak-enak untuk Ibu, ibu lapar sekali. Maklum lah Tio ngga bisa ngasih Ibu makanan enak! Uang mereka aja menipis." Ucap Ibu Mas Tio yang membuat kepala ku seketika berdenyut.


Rujuk?


Kamar tamu?


Tinggal di Rumah ini?


Gila!


Benar-benar gila, sudah 1 bulan ini Mas Tio dan Sifa tidak pernah membuat ulah. Tapi sekarang Ibu nya meminta ku untuk rujuk dan mengizinkannya tinggal di Rumah ini.


Oh. . . Tidak. . .


Tidak akan mungkin terjadi. . .