
Deg. . .
Hamil. . .
Anak Mas Tio. . .
Semua orang terkejut, mendengar ucapan Sifa. Tidak hanya keluarga kami dan keluarga Sifa yang mendengar hal itu, tetapi para tetangga pun ikut mendengarkan. Karena saat ini kami berada di depan Rumah Sifa dan masih banyak tamu di Rumah nya.
"A-pa? Ka-mu ha-mil?" Tanya Bapak Sifa sangat terkejut.
"Iya Pak! Sifa hamil anak Mas Tio, Sifa harus nikah dengan Mas Tio!" Rengek Sifa yang belum sadar dengan sekeliling nya.
Plakk. . .
"ANAK KURANG AJAR KAMU! TEGA-TEGANYA KAMU MEMPERMALUKAN KAMI! KURANG APA BAPAK SAMA KAMU!" Teriak marah Bapak Sifa setelah menampar Sifa.
"Kenapa Bapak tampar Sifa? Harusnya Bapak tampar wanita itu! Dia mau merebut Mas Tio dari aku!" Ucap Marah Sifa yang menunjuk ke arah ku.
"Iya kamu benar! Bapak salah karena menampar kamu! Harusnya Bapak mengusir kamu! Mulai saat ini kamu bukan lagi anak Bapak! Pergi kamu dari sini!" Usir Marah Bapak Sifa.
"Sudah Pak! Sudah! Malu Pak, ayo kita masuk saja." Ucap Ibu Sifa dengan berlinangan air mata.
"LIHAT HASIL DIDIKAN KAMU! HAMIL DI LUAR NIKAH DENGAN SUAMI ORANG! APA KAMU SUDAH TAU SEBELUM NYA? JAWAB!" Teriak Bapak Sifa kepada Ibu nya dengan mata yang memerah dan di jawab anggukan kepala oleh ibu nya Sifa.
"KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN!" Teriak Bapak Sifa marah.
"Ngga Pak! Ngga Sifa mohon! Jangan usir Sifa! Sifa harus menikah dengan Mas Tio! Anak Sifa butuh ayah nya Pak!" Rengek Sifa dengan menarik-narik tangan Bapaknya.
"LIHAT LAKI-LAKI YANG SELALU KAMU BELA, DIA SUDAH BERISTRI! SUDAH BAPAK KATAKAN TINGGALKAN LAKI-LAKI ITU! TAPI KAMU TIDAK MAU MENURUT! PERGI KAMU DARI SINI! JANGAN MUNCUL DI HADAPAN KAMI!" Usir Bapak Sifa sambil berjalan masuk ke arah Rumah dan menutupnya dengan kencang.
BRAKK. . .
"PAK. . . BAPAK! BUKA PAK! IBU BUKA BU!" Teriak Sifa yang mengetuk pintu Rumahnya.
Setelah melihat drama yang terjadi, kami pun meneruskan langkah kami untuk pergi. Namun lagi dan lagi jalan kami di halangi oleh Mas Tio.
"Dek! Kamu ikut Mas pulang iya! Ayo Dek!" Ucap Mas Tio dengan wajah tak berdosa sambil menarik tangan ku.
"BRENGSEK!" Teriak Bang Naufal, kemudian memberikan pukulan di wajah Mas Tio.
Bugh. . .
Bugh. . .
Bugh. . .
"LAKI-LAKI BERENGSEK KAYA LO! NGGA PANTES BUAT ADIK GUE! CAMKAN INI BAIK-BAIK! MULAI DETIK INI TIDAK AKAN GUE BIARIN LO MENDEKATI ADIK GUE! KALAU LO BERANI! HABIS LO DI TANGAN GUE!" Ucap Marah Bang Naufal kemudian mendorong keras Mas Tio, hingga terjatuh.
"MAS TIOO. . ." Teriak Sifa yang kemudian berlari mendekati Mas Tio yang terkapar di jalan.
"APA-APAAN KALIAN! Mas. . . Mas baik-baik aja kan?" Ucap Sifa penuh khawatir, namun di tepis Mas Tio.
"DIAM! Ini semua salah kamu!" Ucap Mas Tio lalu mendorong Sifa hingga terduduk, sedangkan Mas Tio berusaha bangun.
Aku, Mama dan Bang Naufal sudah masuk ke dalam mobil, kami akan pulang menggunakan 1 mobil dan mobil ku akan di bawa oleh supir.
Saat Mas Tio akan mendekati mobil, di hadang oleh Papa dan Kak Niko yang memang sangat marah kepadanya.
Bugh. . .
"Ini untuk penghianatan!" Ucap Kak Niko.
Bugh. . .
"Ini untuk air mata adik gue yang jatoh!" Ucap Kak Niko marah.
Bugh. . .
Bugh. . .
"Dan itu salam perpisahan dari Nadira!" Ucap Papa yang ikut memberikan pukulan untuk Mas Tio.
"Ingat! Jangan berani-berani temui putri saya lagi! Jika saya tau kamu berani mendekatinya lagi! Saya akan menghancurkan kamu!" Ancam Papa marah sambil mencengkram kerah baju Mas Tio, kemudian menghempaskan nya.
Mas Tio pun terkapar di jalan dengan Sifa yang berteriak meminta tolong, sedangkan mobil kami sudah melaju.
Tak ada yang memulai pembicaraan sama sekali, semua diam menahan amarah. Aku tau mereka belum puas memberikan pelajaran kepada Mas Tio, sehingga mereka lebih memilih memendam amarah itu.
Rasa haru menjalar di hati ku, menyaksikan orang-orang tersayang ku membela aku. Tak ingin membuat aku bersedih lagi, mereka memilih diam dengan tangan Papa yang selalu menggenggam tangan ku dan Mama yang selalu merangkul ku dengan sayang.
Ada keluarga ku yang selalu menyayangi, melindungi dan selalu ada untukku. Tak ingin membuat mereka semua semakin sedih, aku harus bisa bangkit lagi.
Hingga tibalah kami di Rumah Mama dan Papa, Rumah yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman dan penuh kehangatan. Kami pun semua duduk di Ruang Keluarga, mengistirahatkan badan kami.
"Kalian menginap lah di sini, hubungi istri kalian." Ucap Papa kepada kedua Kakak ku.
"Iya Pa." Ucap mereka serentak.
"Kalau Ade tidur di mana?" Celetuk ku tiba-tiba dan mereka semua memandang ku.
"Tidur di kuburan sana! Biar sepi!" Ucap Kak Niko kesal.
"Ngga mau takut!" Ucap ku ngeri.
"Iya udah tidur di kandang Blacky sana." Ucap Bang Naufal ikutan meledek ku.
"Sekalian aja nyuruh aku tidur di kandang buaya!" Ucap ku sinis.
"Boleh juga idenya." Ucap Papa.
"Papa!" Rengek ku dan semua orang pun tertawa dan memeluk ku bersamaan.
"Kami akan selalu ada untuk kamu sayang! Jangan pernah merasa sendiri!" Ucap Mama dengan sendu.
"Jangan segan menceritakan segala sesuatu dengan kami, apa pun masalahnya. Kita cari jalan keluar bersama, kamu paham Nak?" Ucap Papa dan aku hanya mengangguk kan kepala.
"Udah. . . Udah jangan sedih-sedih lagi calon janda!" Celetuk Kak Niko, seketika kami pun melepaskan pelukan kami dan menatap tajam Kak Niko.
"Niko!" Ucap Papa dengan menatap tajam.
"Lah emang Ade bakalan jadi janda kan? Kalau udah cerai? Ngga mungkin dong dia jadi perawan desa?" Celetuk Kak Niko.
"Kakak ini kalau ngomong suka bener!" Ucap ku sinis.
"Nah calon janda nya aja ngga masalah tuh! Ngapain kalian yang marah?" Ucap Kak Niko dengan songong dan mengedipkan mata sebelah.
"Apa perlu kita cari jodoh dari sekarang? Untuk calon janda ini, Ko?" Tanya Bang Naufal sambil merangkul pundak ku, yang kemudian aku cubit perutnya.
"Aduh . . . Sakit Dek!" Keluh Bang Naufal.
"Kalian ini ada-ada saja!" Ucap Mama sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu biar Papa yang cari kandidat yang tepat untuk calon janda kembang ini! Relasi Papa banyak, kalian tidak usah khawatir!" Ucap Papa sambil terkekeh.
"Lah Papa juga ikutan!" Ucap ku sambil menepuk kening pusing dengan kelakuan keluarga ku.
Kemudian kami semua tertawa, suasana pun berubah menjadi lebih hangat. Kami pun bersenda gurau, berusaha melupakan sejenak apa yang terjadi hari ini.