Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 57


Keesokan hari. . .


"Pagi Ma, Pa." Ucap ku sambil mencium pipi Mama dan Papa.


"Pagi sayang." Ucap mereka.


"Kamu kemaren ngga di apa-apain kan sama mereka?" Tanya Mama.


"Ngga ko Ma, malah Mas Tio yang di usir dari lingkungan situ." Ucap ku santai.


"Ko bisa?" Tanya Mama.


Kemudian aku pun menceritakan semua yang terjadi, dan membuat Mama dan Papa tersenyum puas.


"Kamu yang sabar iya sayang, semoga kelak kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi dari dia." Ucap Mama.


"Aduh Mama! Cerai aja belum, udah di do'ain dapet laki-laki baru." Ucap ku cekikikan.


"Tapi inget! Cari suami itu jangan yang hanya baik keliatan nya aja! Cari tau dulu segala sesuatu nya!" Ucap Papa mengingatkan.


"Siap komandan." Ucap ku sambil hormat dan kami pun tertawa bersama.


Sesampainya di kantor, aku sudah di suguhkan dengan berkas yang menumpuk di meja.


"Jadwal Ibu hari ini, pukul 9 meeting dengan PT. Perdana Mandiri di Ruang Meeting. Jam 11 penanda tanganan kontrak dengan PT. APL di Hotel Pelangi, dilanjutkan dengan makan siang bersama. Pukul 2 siang meeting dengan perwakilan dari Jepang." Ucap Sekretaris Dian.


"Oke! 15 menit sebelum meeting di mulai, kamu ke Ruangan saya." Ucap ku, yang masih fokus dengan berkas yang ada di hadapanku.


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi." Ucap Sekretaris Dian.


Saat aku sedang membaca laporan keuangan, ada sesuatu yang ganjil dan meminta Sekretaris Dian ke Ruangan ku.


"Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Masuk." Ucap ku.


Ceklek.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Ucap Sekretaris Dian.


"Coba kamu perhatikan ini!" Ucap ku sambil menunjukkan sesuatu yang sedikit ganjil di situ.


"Bagaimana pendapat kamu?" Tanya ku kepada Sekretaris Dian.


"Mohon maaf sebentar Bu." Ucap Sekretaris Dian, yang sedang berusaha mencocokkan dokumen yang sudah di cetak dengan aslinya di tablet nya.


"Maaf kan saya yang kurang teliti Bu." Ucap Sekretaris Dian menunduk merasa bersalah.


"Tidak apa-apa! Ini bukan sepenuhnya salah kamu, sekarang kamu minta bagian keuangan menemui ku dan perintahkan bagian IT untuk mengembalikan file-file penting yang sudah mereka ubah." Ucap ku kesal.


"Baik Bu, ada lagi?" Tanya sekertaris Dian.


"1 lagi, tolong kamu panggil Selva sekarang." Ucap ku.


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi." Ucap Sekretaris Dian pamit.


Tak lama setelah Dian pergi, Selva pun datang ke Ruangan ku.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Ucap Selva sopan.


BRAKK. . .


Aku pun melempar dokumen keuangan di depan nya dan dia terkejut.


"Baca!" Ucap ku tegas.


Dengan ragu, Selva membuka dokumen keuangan itu dan tak lama kemudian dia membelalakkan matanya terkejut.


"Atau kamu sendiri ikut terlibat?" Ucap ku, sambil berjalan mendekati nya.


"Ti-dak Bu! Saya tidak terlibat sama sekali, saya berani bersumpah! Saya tidak terlibat sama sekali! Dan saya mohon maaf atas keteledoran saya ini." Ucap Selva sambil menunduk.


"Apa buktinya kamu tidak terlibat? Sedangkan ini laporan 6 bulan yang lalu, itu berarti saat kamu yang bertanggung jawab di Perusahaan ini dan ada tanda tangan kamu di sini!" Ucap ku menyudutkan.


"Apa kamu masih akan mengelak? Apa kurang gaji yang saya berikan? Jika tidak mampu memimpin Perusahaan, mengapa dulu tidak menolak? Jika tidak serius bekerja, lebih baik serahkan surat pengunduran diri saat ini juga! Dan jangan pernah muncul di hadapan saya lagi!" Ucap ku tegas.


"Sekali lagi saya memohon maaf atas keteledoran saya, yang menyebabkan kerugian Perusahaan yang cukup banyak. Namun saya berani menjamin, bahwa saya tidak pernah terlibat sama sekali dengan penggelapan dana tersebut! Dan saya berani menerima konsekuensi atas keteledoran saya ini! Tapi saya mohon, ijinkan saya untuk membuktikan bahwa saya tidak terlibat!." Ucap Selva tegas, diam-diam aku tersenyum puas dengan jawabannya.


"Saya akan memberikan 1 kali kesempatan untuk kamu! Buktikan jika kamu memang tidak terlibat! Saya ingin kamu bertanggung jawab dalam masalah ini! Laporkan semua yang terlibat! Kumpulkan semua bukti yang ada! Jika sampai kamu gagal! Silahkan angkat kaki dari Perusahaan ini!" Ucap ku tegas.


"Baik Bu! Terimakasih atas kesempatan ini! Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Selva.


Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang benar-benar menguras emosi hari ini, dan aku pun memutuskan untuk pulang. Saat di lampu merah, aku melihat seorang Ibu yang sedang hamil besar di gandeng suaminya.


Pemandangan yang cukup menarik perhatian ku, dan aku pun mengelus perutku yang mulai membesar. Seketika aku baru teringat, bahwa aku belum melakukan pemeriksaan kehamilan ku.


"Pak! Kita ke Klinik Dr. Natali dulu iya, yang di jalan anggrek." Ucap ku kepada Pak supir.


"Baik Bu, tapi sepertinya kita akan terjebak macet Bu. Soalnya kita harus puter balik." Ucap Pak Supir.


"Iya ngga apa-apa ko Pak, santai aja bawa mobilnya." Ucap ku, kemudian aku pun mengeluarkan handphone untuk menghubungi Dr. Natali.


[. . .]


[Wa'alaikum salam.] Ucap ku.


[. . .]


[Maaf mengganggu Dok, apa Dokter masih di klinik? Soalnya saya lagi di perjalanan menuju klinik Dokter.] Ucap ku.


[. . .]


[Benar tidak apa-apa?] Tanya ku, yang ternyata waktu praktek Dr. Natali sudah hampir habis.


[. . .]


[Baik Dok, terimakasih banyak iya sudah mau menunggu saya. Paling 10 menit lagi saya sampai ke klinik Dokter.] Ucap ku.


[. . .]


[Iya Dok] Ucap ku.


Beruntung Dr. Natali mau menunggu ku datang, dan tak lama aku pun sampai. Bergegas aku masuk ke dalam klinik, dan bertemu dengan Asisten Dr. Natali yang mengantarkan ku ke Ruang Pemeriksaan. Namun langkah ku terhenti seketika, saat mendengar suara yang sangat ku kenali memanggil ku.


"Dek. . ." Panggil seorang laki-laki, yang ternyata adalah Mas Tio. Aku pun menghentikan langkah ku, dan menatapnya heran.


"Ada apa?" Ucap ku datar.


"Kamu ngapain ke sini Dek?" Tanya Mas Tio.


"Bukan urusan anda." Ucap ku datar dan membuat Mas Tio terkejut.


"Kamu ngga sopan banget! Bicara sama suami! Aku masih tetap suami kamu! Ingat itu!" Ucap Mas Tio marah dan aku pun menghembuskan nafas kasar.


"Ada perlu apa Mas Tio memanggil saya?" Ucap ku.


"Kamu ini masih marah soal yang kemarin? Bukannya Mas sudah mengalah, dengan meninggalkan Rumah hasil jerih payah Mas?" Ucap Mas Tio cukup keras, yang membuat kami jadi pusat perhatian.


"Lantas apa mau Mas apa?" Tanya ku.


"Mas hanya ingin kita kembali seperti dulu, lupakan semua permasalahan kita. Kita mulai semua dari awal, maafkan semua kesalahan Mas." Ucap Mas Tio sambil mengambil tangan ku dan memaksa menggenggam nya, meski aku berusaha menariknya.