
"Kamu ini bercanda terus, sudah Ibu sudah kecapean. Ibu mau istirahat, besok lagi aja kalau mau bercanda dengan Ibu. Kamu kan anak yang baik! Ngga mungkin kamu ngusir Ibu mertua kamu sendiri! Ayo cepat panggil pelayan kamu." Perintah Ibu Mas Tio.
"PELAYAAAANNN. . . Mana sih? PELAYAAAANNN. . . Ini Rumah gede ngga ada pelayannya apa? Nak cepat panggil pelayan kamu! Jangan buat Ibu menunggu lama." Ucap Ibu Mas Tio yang mulai kesal.
"Bi Darmi! Mang Ngkus!" Panggil ku.
"Nah gitu dong! Coba dari tadi! Kan Ibu ngga akan kesel, kamu memang anak yang baik Nak!" Ucap Ibu Mas Tio dengan senyum bahagia, tak lama datanglah Bi Darmi dan Mang Ngkus satpam Rumah ku.
"Ada yang bisa di bantu Non?" Tanya mereka berbarengan.
"Cepat kalian angkat barang-barang saya ke kamar tamu! Saya ingin istirahat, tapi jangan lupa di bersihkan dulu kamarnya dan siapkan makanan yang enak-enak untuk saya! Mengerti kalian!" Ucap Ibu Mas Tio sok memerintah, namun tidak ada yang melakukan perintahnya.
"Kalian kenapa diem aja! Cepat! Angkat barang-barang saya! Mau di pecat kalian hah?" Ucap marah Ibu Mas Tio, sedangkan BI Darmi dan Mang Ngkus masih setia menunggu jawabanku.
"Mohon maaf Bu, kami hanya menjalankan perintah dari majikan kami." Ucap Bi Darmi sopan.
"Asal kalian tau! Saya ini majikan kalian juga! Kalian harus hormat dan patuh sama saya! Kalau ngga kalian akan saya pecat! Denger ngga? Cepat angkat barang-barang saya!" Perintah Ibu Mas Tio dengan angkuh.
"Benar! Angkat barang-barang itu." Ucap ku datar dan Ibu Mas Tio langsung tersenyum bahagia.
"Denger kan apa yang menantu saya bilang! Cepat kalian angkat barang-barang saya." Perintah lagi dengan semangat.
"Kalian angkat barang-barang nya dan antarkan ke Rumah Ibu ini! Jangan sampai ada 1 barang pun yang tertinggal di sin, mengerti!" Ucap ku tega, yang membuat Ibu Mas Tio terbengong.
"Apa Ibu sudah selesai bicara? Mohon maaf jika saya tidak sopan, tapi ini sudah malam dan bukan waktu yang tepat untuk bertamu. Silahkan Ibu keluar dari Rumah saya! Sebelum saya bertindak kasar! Lebih baik Ibu segera angkat kaki dari Rumah ini dan bawa barang-barang ibu." Ucap ku datar, sambil menunjuk arah pintu.
"Kalian urus Ibu ini!" Ucap ku, kemudian melangkah menuju ke dalam Rumah
Tak lama aku pun mendengar teriakan dan umpatan dari Ibu Mas Tio, namun aku tidak peduli. Apalagi niatnya datang ke Rumah ini ingin tinggal di sini! Kenapa tidak tinggal di Rumah anaknya saja! Benar-benar merusak mood ku.
"Ngga anak, ngga Ibu sama aja! Semuanya kurang waras, bener-bener deh! Mereka semua itu." Gumam ku kesal.
"Semoga besok tidak ada kekacauan lagi." Harapan ku, kemudian aku pun beristirahat.
Seperti biasa aku berangkat kerja di antar Pak Supir yang setia menemani ku ke mana pun, meski dengan perut buncit aku tetap beraktivitas seperti biasa.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
"Masuk." Ucap ku sambil meregangkan otot tangan ku yang mudah sekali pegal.
Ceklek. . .
"Selamat pagi Bu, pukul 10 kita meeting dengan PT. *** di Hotel Seruni, di lanjutkan sehabis makan siang pukul 1 kita meeting dengan PT. ABC di Restoran." Ucap Sekretaris Dian.
"PT. ABC itu tempat Mas Tio kerja kan?" Tanya ku.
"Betul Bu." Ucap Sekretaris Dian.
"Bisa tidak Selva saja yang menggantikan?" Tanya ku memelas.
"Hebat juga iya! Pemilik PT. ABC yang baru itu, dalam waktu beberapa bulan bisa membuat PT. ABC semakin maju." Ucap ku kagum.
"Dari kabar yang saya dapatkan, Pemilik baru PT. ABC memiliki beberapa perusahaan yang tersebar di berbagai Negara. Beliau adalah pembisnis yang sukses dan kabarnya beliau masih lajang Bu." Ucap Sekretaris Dian.
"Waw. . . Hebat banget! Pasti itu karena dia terlalu berambisi, sampai-sampai masih lajang. Upss. . . Hehe. . ." Ucap ku keceplosan dan Sekretaris Dian hanya menggelengkan kepala.
"Ini sudah jam 9 lewat Bu, kalau begitu saya permisi untuk bersiap." Ucap Sekretaris Dian yang tidak memperdulikan ucapan ku.
"Oke! 15 menit lagi kita berangkat." Ucap ku, kemudian aku pun bersiap dan membereskan berkas yang aku kerjakan tadi.
Kami pun pergi uni meeting dengan PT.*** , Meeting berjalan lancar dan sudah mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku bersyukur dengan beberapa klien besar yang saat ini kami dapatkan, semoga kelak Perusahaan ku ini dapat lebih maju lagi.
"Sudah hampir jam makan siang, Ibu mau makan siang di sini atau di Restoran tempat meeting berikut nya?" Tanya Sekretaris Dian.
"Kita makan siang di Restoran aja deh! Biar tidak terburu-buru nanti nya, gimana?" Ucap ku sambil menoleh ke arah Sekretaris Dian.
"Baik Bu, mari kalau begitu kita kembali ke mobil. Saya sudah menghubungi Supir." Ucap Sekretaris Dian dan kami pun berangkat menuju Restoran, namun sepertinya terjadi kecelakaan di depan sana. Membuat perjalanan kami terganggu, sehingga kemacetan pun tidak terhindari.
"Berhenti Pak!" Teriak ku yang terkejut dengan apa yang aku lihat, begitu pun Pak supir dan Dian yang terkejut karena teriakan ku.
"Ada apa sih Mba? Itu di depan udah mulai jalan!" Tanya Dian heran.
"Berhenti pokoknya berhenti, awas geser." Ucap ku kepada Dian, dan aku pun turun dari mobil di tengah jalan.
"Mbaaaa awasssas!" Teriak Dian mengagetkan ku dan seketika aku tersadar ada mobil yang melaju tanpa aku sadari.
Ciiitttt. . .
Huft. . .
"Anda baik-baik saja?" Tanya sang Supir yang hampir menabrak ku.
"Mbaaaa! Mba baik-baik saja? Ada yang luka ngga? Kita ke Rumah Sakit iya." Ucap Dian khawatir, aku yang tidak fokus pun tidak menanggapi hal itu.
"Maaf saya kurang berhati-hati, permisi." Ucap ku, kemudian aku pun melanjutkan langkah ku.
"Ar-arjun." Ucap ku tak kuasa menahan air mata melihat anak sekecil ini bersimbah darah di pinggir jalan, aku pun berjongkok.
"Nak! Kamu bisa dengar Ibu Nak?" Tanya ku sambil mengelus pipi nya dan matanya pun terbuka.
"I-b-u." Panggilnya lirih dengan senyum.
"Sa-bar iya sayang, kita ke Rumah Sakit." Ucap ku berusaha tersenyum.
"Bawa ke mobil saya." Suara bariton mengagetkan kami, bergegas aku mengangguk dan kami pun membawa Arjun ke Rumah Sakit.