
"Lepas!" Ucap ku datar, sambil berusaha melepaskan tangan ku yang di pegang Mas Tio.
"Mas! Lepasin tangan dia! Kamu apa-apa sih! Pegang-pegang tangan dia? Kamu mau balikan lagi sama dia? Inget aku itu lagi hamil anak kamu! Aku ngga akan biarin kamu balikan sama dia! Cepet lepasin!" Ucap marah Sifa sambil menarik Mas Tio, namun tidak juga Mas Tio lepaskan.
"Siapa pun anak gembel ini! Tetap yang harus menjadi pewaris tunggal kekayaan kamu, tetap anak kita! Ingat itu baik-baik! Tidak peduli apa pun, anak kita harus jadi pewaris kamu!" Ucap lantang Mas Tio yang mengejutkan kami.
Benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Mas Tio itu, bisa-bisa nya dia memikirkan hal itu. Sungguh dia bukan Mas Tio yang aku kenal beberapa tahun yang lalu, kini semakin jelas bahwa Mas Tio mengincar harta ku. Setelah tau siapa aku yang sesungguhnya, mereka benar-benar keterlaluan.
"Bukan urusan anda! Apa pun yang saya lakukan dengar harta saya, itu hak saya! Bukan hak anda! Sekarang lepaskan atau saya akan melaporkan anda dengan tuduhan, tindakan tidak menyenangkan. Di sini banyak saksi mata yang melihatnya!" Ucap ku sambil menatap nya tajam, dan dia pun melihat sekitar.
Beberapa pengunjung memang memperhatikan kami, bahkan pelayan pun mulai berdatangan. Sehingga Mas Tio pun melepaskan tangan ku, dengan wajah gugup.
"Mohon maaf ada apa ini Bu?" Tanya Manajer Restoran.
"Ti-dak ada apa-apa! Iya benar tidak ada apa-apa, kalian bisa bubar." Ucap Mas Tio gugup sambil mengibaskan tangannya, untuk mengusir mereka.
"Apa benar begitu Bu? Karena tadi Ibu yang datang terlebih dahulu, maka dari itu saya ingin tau. Apa sebenarnya yang terjadi, apa Bapak dan Ibu ini mengganggu kenyamanan Ibu?" Tanya Manajer Restoran ramah.
"Heh! Emang kamu ngga denger! Apa kata suami saya! Dia bilang ngga ada apa-apa! Itu artinya ngga ada apa-apa! Sudah sana bereskan meja ini! Dan siapkan makanan yang paling mahal di sini!" Ucap Sifa sombong dan aku terkekeh mendengarnya.
"Apa kamu ketawa! Jangan-jangan kamu emang sudah gila? Sana pergi ke Rumah Sakit Jiwa! Bikin ngga nyaman aja! Harusnya kalian usir mereka dari sini! Liat itu ada gembel di samping nya, ngga level banget gembel di bawa ke Restoran mewah." Ucap nya sombong dengan mengusir kami.
"Bapak bisa tanyakan kepada pengunjung yang lain! Apa yang sudah mereka lakukan! Dan tanya apakah mereka sanggup membayar makanan di sini! Takutnya nanti mereka yang sombong itu, ngga sanggup membayar makanan di sini." Ucap ku sinis.
"Enak aja kamu ngomong! Aku sanggup bayar semua makanan di sini! Jangankan makanan kamu, bahkan aku juga sanggup untuk bayar semua makanan yang mereka pesan!" Ucap sombong Sifa.
"Wah. . . Wah. . . Wah. . . Dengar itu semua! Ada yang mau traktir, gimana? Mau ngga?" Ucap ku memanas-manasi.
"Bener iya! Awas kalau anda hanya membual." Ucap salah 1 pengunjung.
"Kalian ini jangan mau terpengaruhi sama wanita murahan ini! Camkan ini! Saya sanggup membayar semuanya! Silahkan kalian pesan! Saya yang akan membayar!" Ucap Sifa sombong, sedangkan Mas Tio terus menarik-narik nya dengan wajah pucat.
"Apa sih Mas! Diem dulu dong! Aku lagi ngasih pelajaran sama mantan kamu ini loh! Udah lepasin!" Ucap Sifa.
"Udah denger kan semuanya! Kalian semua akan di traktir oleh pasangan suami istri ini! Banyak saksi yang mendengar iya! Jadi jangan ingkar dari perkataannya, Bill saya di bayar mereka juga iya Pak. Kalau begitu saya permisi." Ucap ku, kemudian berlalu meninggalkan mereka dengan menjinjing bungkusan makanan di tangan ku.
"Dek. . . Tunggu Dek!" Panggil Mas Tio, sedangkan aku terus berjalan sambil menggenggam tangan Arjun.
"Maaf iya Nak! Kamu jadi harus melihat kejadian barusan." Ucap ku menyesal, kini kami sudah berada di dekat mobil ku.
"Tidak apa-apa Bu! Tapi bagaimana kalau mereka tidak bisa membayarnya Bu? Nanti Restoran akan rugi besar, harga makanan di Restoran itu mahal. Apa tidak apa-apa?" Ucap Arjun.
"Ikh! Kamu pinter banget! Gemes Ibu sama kamu! Udah kamu ngga usah pikirin mereka! Biar mereka menuai apa yang mereka tanam! Jadi kamu ngga usah pikirin oke! Ayo Ibu antar kamu pulang." Ucap ku, menggandeng tangannya dan membuka pintu mobil.
"Loh! Kenapa lagi?" Tanya ku bingung, saat Arjun tiba-tiba berhenti dan diam.
"Kata Ibu supir Ibu jauh, tapi mobil ini dari tadi juga ada di sini. Ibu bohong?" Ucap Arjun dengan datar dan aku yang ketahuan jadi salah tingkah.
"Hehehe. . . Maaf iya Nak! Habisnya Ibu pengen banget makan sama kamu, tapi kamu ngga mau aja! Iya udah terpaksa Ibu bohong, maaf iya! Jangan marah iya!" Ucap ku sendu, sambil menangkupkan kedua tangan ku di depan.
"Berbohong itu dosa Bu! Apa Ibu juga berbohong kalau Ibu mau mengantar aku pulang? Padahal sebenarnya Ibu mau menjual aku?" Tuduh Arjun.
"Ya Allah Nak! Apa Ibu ada tampang penculik? Atau orang jahat? Sampai kamu berpikir begitu." Ucap ku tak habis pikir dengan tingkat waspada anak sekecil ini dan Pak Supir yang mendengar nya malah cekikikan.
"Ikh! Bapak malah ketawa!" Ucap ku kesal.
"Ma-af Bu, habis nya anak itu lucu! Nyangka Ibu penculik, hahaha. . ." Ucap Pak supir di sela tawa nya.
"Tau ah! Sebel! Masa udah cantik gini! Masih di sangka penculik! Ibu culik beneran kamu! Mau?" Ancam ku dan dia malah mundur.
"Ampun deh! Bener-bener ini anak iya!" Ucap ku sambil menggelengkan kepala, melihat anak itu semakin mundur dan aku pun keluar dari mobil.
"Iya sudah kalau kamu tidak percaya dengan Ibu! Ini makanan untuk kamu bawa pulang! Dan ini uang kembalian yang kamu kasih ke Ibu! Anggap ini ibu beli jualan kamu lagi dan jualan kamu itu bisa kamu bagikan ke teman-teman kamu, sekarang Ibu pamit pulang. Kamu hati-hati di jalannya, kalau ada apa-apa atau perlu sesuatu kamu hubungi ibu di nomor ini iya!" Ucap ku kemudian menarik pelan tangannya sambil memberikan bungkusan makanan, keresek uang dan kartu nama ku.
"Ibu pulang iya! Assalamualaikum." Ucap ku, kemudian aku pun masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan dari kaca mobil.