
Beberapa hari kemudian. . .
"Selamat Pagi Bu." Ucap Sekretaris Dian, saat aku keluar dari lift.
"Pagi juga, jadwal saya hari ini!" Ucap ku sambil berjalan.
"Jam 9 meeting untuk Proyek Mega Hotel A, di lanjutkan meeting dengan. . . " Ucap Sekretaris Dian menjelaskan jadwal, hingga tiba kami d Ruangan Kerja ku.
Ceklek.
"Semua berkas sudah siap?" Tanya ku.
"Ini Bu, semua sudah siap." Ucap Sekretaris Dian sambil menyerahkan berkas Perusahaan yang akan hadir.
"Terimakasih, Kamu bisa kembali ke Ruangan mu." Ucap ku, yang kemudian mulai membuka berkas yang ada.
"Baik Bu, permisi." Ucap Sekretaris Dian.
Tok. . .
Tok. . .
Tok. . .
"Masuk." Ucap ku.
"Permisi Bu." Ucap Selva.
"Ada apa?" Tanya ku tanpa menoleh.
"Apakah saya perlu ikut untuk meeting Proyek Mega Hotel A" Tanya Selva hati-hati.
"Tentu kamu ikut! Karena ini Proyek kamu." Ucap ku santai.
"A-ku? Mba jangan bercanda deh! Eh. . . Maaf Bu!" Ucap Selva yang keceplosan dan menutup mulut nya.
"Kenapa? Tidak sanggup? Kalau begitu bereskan barang-barang anda, dan silahkan keluar dari Perusahaan saya!" Ucap ku tegas.
"Ba-baik Bu, kalau begitu saya permisi." Ucap Selva pamit.
"Huft. . . Selva. . . Selva. . ." Gumam ku sambil menggelengkan kepala.
Tok. . .
Tok. . .
Tok. . .
"Masuk." Ucap ku.
"Mohon maaf mengganggu Bu, 15 menit lagi meeting di mulai. Semua perwakilan perusahaan sudah hadir." Ucap Sekretaris Dian.
"Oke! Ayo kita ke Ruang Meeting." Ucap ku, kemudian bangkit dan berjalan, diikuti Sekretaris Dian.
"Baik Bu." Ucap Sekretaris Dian.
"Selva?" Tanya ku.
"Ibu Selva sudah hadir di Ruang Meeting Bu." Ucap Sekretaris Dian, dan tak lama kami sampai di Ruang Meeting.
Ceklek. . .
Ruangan seketika sepi, saat aku datang. Dan mereka pun berdiri menyambut kedatangan ku.
"Baik sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak kepada semua perwakilan Perusahaan yang sudah berkenan hadir pada hari ini! . . .
. . .
Untuk mempersingkat waktu, maka kami persilahkan kepada masing-masing Perusahaan untuk menyampaikan Presentasi nya." Ucap ku yang memberikan sambutan pembuka dalam meeting hari ini.
2 Perusahaan telah memaparkan presentasi mereka untuk Proyek Mega Hotel A, selanjutnya adalah PT. ABC yang ternyata di wakili oleh Mas Tio dan juga Sifa.
Tak pernah terbayangkan aku akan melihat mereka berdua bersama-sama seperti ini di Perusahaan ku, dan lagi, lagi Mas Tio membohongi ku. Lantas apa yang harus di pertahankan dari laki-laki seperti itu, yang tidak bisa memegang kata-katanya.
Mas Tio dan Sifa tampak terkejut melihat aku duduk di kursi Pemimpin Perusahaan, namun mereka berusaha bersikap profesional. Meski saat presentasi Mas Tio sangat gugup, namun semua berjalan lancar.
Prok. . .
Prok. . .
Prok. . .
"Oke! Saya sudah mendengar dan melihat presentasi dari perwakilan Perusahaan masing-masing, dari sini kita bisa lihat dengan jelas berbagai perbedaan yang ada di setiap Perusahaan. Untuk itu kami akan memberikan Proyek Mega Hotel A kepada. . ." Ucap ku sengaja menjeda dan ku tatap satu persatu wajah mereka, terutama Mas Tio yang nampak sangat percaya diri aku akan memilih Perusahaannya.
"Selamat kepada PT. Perdana Mandiri." Ucap ku sambil berdiri dan mengulurkan tangan kepada perwakilan Perusahaan tersebut.
Prok. . .
Prok. . .
Prok. . .
"Terimakasih banyak Bu! Kami tidak akan mengecewakan kepercayaan yang Ibu berikan, sekali lagi terimakasih banyak." Ucap Perwakilan PT. Perdana Mandiri dan kami pun berjabat tangan.
"Saya tunggu hasilnya." Ucap ku sambil tersenyum.
Kemudian selanjutnya di serahkan kepada Selva selaku penanggung jawab Proyek tersebut dan aku pun pamit undur diri meninggalkan Ruang Meeting. Tanpa di duga Mas Tio ternyata mengikuti ku dan Sekretaris Dian.
"Dek. . . Tunggu Dek. . ." Panggil Mas Tio yang berlari ke arah ku yang sudah hampir sampai lift.
"Mohon maaf Pak Tio, bisa anda bersikap profesional. Saat ini Bapak sedang berada d Perusahaan kami, mohon jaga sikap Bapak." Ucap Sekretaris Dian ketus, namun tak di gubris oleh Mas Tio.
"Mohon maaf Bu, saya hanya ingin berbicara dengan istri saya. Tolong pengertian nya!" Ucap Mas Tio yang tampak kesal.
"Dan mohon Bapak jangan mengganggu! Kami masih banyak pekerjaan, permisi!" Ucap Sekretaris Dian, menghalangi Mas Tio bertemu dengan ku.
"Dek. . . Tunggu. . . Mas ingin bicara! Kamu juga harusnya profesional dong Dek! Jangan melibatkan masalah pribadi dalam proyek ini!" Ucap Mas Tio lantang dan membuat aku mengernyit bingung, kemudian aku berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Apa maksud anda? Saya tidak profesional? Coba jelaskan di bagian mana saya tidak profesional dan melibatkan masalah pribadi?" Ucap ku datar sambil melipat tangan ku di dada.
"Ka-mu kan tau harga yang kami berikan lebih rendah dari mereka! Harusnya kami yang memenangkan proyek ini, bukan mereka! Pasti kamu masih marah sama Mas, jadi kamu kasih proyek itu ke mereka! Iya kan? Harusnya kamu jangan melibatkan masalah pribadi dengan proyek ini! Ayo cepat kamu bilang ke mereka, kalau kamu salah ambil keputusan!" Ucap Mas Tio dengan percaya diri.
Membayangkan betapa bodohnya aku selama ini, bisa bertahan dengan laki-laki seperti Mas Tio ini. Yang tidak tahu malu, dan tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi.
"Jadi menurut anda, saya salah mengambil keputusan?" Tanya ku.
"Pasti! Kamu pasti salah mengambil keputusan, karena kamu masih marah sama Mas! Sebelum meeting nya selesai lebih baik kamu cepat katakan kepada mereka, ayo sebelum terlambat dan Mas akan maafin kamu, karena kamu sudah buat keputusan yang salah!" Ucap Mas Tio penuh percaya diri dan aku pun mengernyitkan kening ku.
"Sayangnya meeting telah selesai, coba anda lihat ke belakang!" Ucap ku.
Mas Tio pun membalikkan badannya dan terkejut, semua peserta meeting melihat tingkah nya dan seketika mukanya pun memerah malu.
"Ke-ke-napa ka-mu ng-ga bilang Dek." Ucap nya gugup.
"Kenapa? Malu? Saya yang akan lebih malu, jika harus memilih Perusahaan anda untuk Proyek ini. Karena apa? Kualitas yang ada tawarkan sangat jauh di bawah rata-rata kami, dan saya tidak ingin mengambil resiko besar dengan memilih Perusahaan anda." Ucap ku tegas dan berlalu meninggalkan Mas Tio yang terkejut dengan ucapan ku.