Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 23


Meeting berjalan selama 2 jam, kami membahas sedetail mungkin. Untuk mengurangi resiko-resiko yang mungkin terjadi nantinya.


"Kerja bagus semuanya, saya bangga! Semoga tidak hanya presentasi kalian yang bagus, namun saya ingin hasil kerja yang nyata. Mari kita bekerja secara maksimal untuk setiap proyek yang ada, Semangat semuanya!" Ucap ku pada peserta meeting yang ada, memberikan mereka semangat adalah salah satu cara untuk membangun kerja sama yang baik.


"Baik Bu." Ucap mereka serentak.


Aku pun melihat jam tangan, ternyata sudah masuk jam makan siang. Aku pun berencana untuk mentraktir mereka semua makan, di Restoran dekat kantor kami.


"Baiklah saya akhiri meeting hari ini, semoga proyek kita berjalan segimana mestinya. Ingat harus selalu teliti dan fokus. Untuk merayakan kemenangan tender ini, saya akan mentraktir kalian makan siang di Restoran sebelah kantor." Ucap ku dengan senyum tulus.


"Terimakasih banyak Bu." Ucap mereka, mereka pun bergegas membereskan berkas meeting.


"Oke! Saya tunggu 15 menit lagi di lobby, kita jalan kaki bersama. Restoran nya cukup dekat, dan mengurangi macet di depan kantor." Ucap ku memberikan ide kepada mereka.


Karena Perusahaan kami berada di pusat kota, sehingga saat makan siang tiba akan sangat macet. Bahkan terkadang di depan Perusahaan kami pun macet tak akan terhindari.


Jalan kaki adalah solusi yang paling baik, dilakukan saat macet. Apalagi tempat yang akan kami datangi cukup dekat dengan kantor.


"Iya bener Bu, pasti sudah macet jam segini Bu kalau mau makan keluar." Keluh salah satu karyawan.


"Tidak apa-apa kan kalau kita jalan kaki?" Tanya ku pada mereka.


Karena jujur, aku sudah lelah segalanya. Dan jika harus macet-macetan pula, rasanya lebih baik delivery makanan saja.


"Tidak apa-apa Bu." Ucap mereka serentak.


"Segera bersiap iya! Saya kembali ke ruangan dulu, selamat siang semuanya." Ucap ku pamit kepada mereka dan aku pun beranjak dari duduk ku menuju pintu keluar.


"Selamat siang juga Bu." Jawab mereka serentak.


Aku dan Sekretaris Dian pun berjalan meninggalkan ruangan meeting.


"Dian tolong kamu telpon Restoran sebelah, minta mereka menyiapkan ruangan untuk kita dan siapkan makanan terbaik yang mereka punya. Masukan tagihannya ke saya, jangan ke bagian keuangan." Perintah ku kepada Sekretaris Dian.


Karena biasanya setiap pengeluaran yang ada akan di tagihkan ke bagian keuangan, namun kali ini aku ingin mentraktir mereka dengan uang ku sendiri.


"Baik Bu, akan saya lakukan." Ucap Sekretaris Dian.


Kami pun berjalan menuju ruangan kami berada, saat sampai di ruangan Sekretaris Dian, aku memintanya untuk bersiap.


"Sudah kamu bersiap saja, tidak perlu ikut ke Ruangan saya. Berkas yang tadi kamu bisa berikan setelah makan siang." Ucap ku.


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi." Ucap Sekretaris Dian yang masuk ke dalam ruangannya dan aku berjalan ke Ruang Direktur.


Ceklek. . .


Pertama kali masuk, aku sudah di suguhkan dengan banyak nya sampah bekas makanan dan juga Selva yang tidur dengan posisi yang kurang enak di pandang.


"Astaghfirullah ini anak." Ucap ku sambil menggelengkan kepala.


Sambil berjalan menghampiri Selva yang sedang tidur dengan nyenyak, tanpa terganggu kehadiranku.


"Selva bangun! Udah jam makan siang, kamu mau ikut ngga? Mba mau ke Restoran sebelah." Ucap ku sambil menggoyangkan badan Selva, namun hanya di jawab gumaman tak jelas.


Aku pun berjalan menuju meja kerja dan mengambil tas dan handphone, kemudian aku coba membangunkan Selva lagi.


"Selva kalau kamu ngga bangun, mba tinggal kamu iya! Cepetan bangun!" Ucap ku sambil menggoyangkan badan nya lebih keras.


"Aduh. . . Sakit. . . Siapa sih! Ganggu orang tidur aja!" Ucap Selva marah dengan mata yang masih tertutup.


"BANJIR. . . TOLONG BANJIR. . ." Ucap Selva langsung membuka mata nya, dan langsung melotot kesal pada ku.


"Drama terus sama kamu itu, udah ah! Mba mau makan siang di Restoran sebelah, kalau kamu mau ikut! Cepetan cuci muka bersiap, Mba tunggu 5 menit lagi d Lobby." Ucap ku kesal dan keluar dari ruangan ku, meniggalkan Selva yang masih mengucek matanya.


"Iya ampun mba ngebangunin nya kaya gitu banget! Ngga bisa apa lembut sedikit?" Keluh Selva, sambil mengucek mata dan merenggangkan badan.


"Apa katanya tadi? 5 menit? Gila apa!" Ucap Selva kesal, namun segera bergegas menuju kamar mandi.


Aku dan Sekretaris Dian sudah sampai di lobby, ternyata sudah banyak yang menunggu.


"Sudah kumpul semua? Ayo kita jalan sekarang!" Ucap ku pada mereka.


"Maaf Bu! Ibu Selva belum datang." Ucap Sekretaris Dian hati-hati.


"Udah biarin aja, nanti juga dia nyusul. Ayo kita pergi."


Kami pun berjalan kaki bersama menuju Restoran yang tak jauh dari Perusahaan, sepanjang jalan kami melemparkan candaan.


Suasana Restoran yang ramai tak membuat kami kesulitan mencari tempat duduk, karena sebelumnya Sekretaris Dian sudah memesankan kami Ruangan untuk kami makan.


Setelah tiba di ruangan yang di pesan, ternyata makanan yang di pesan sudah tersedia di meja.


"Wah. . . Banyak sekali Bu makanannya!" Ucap salah satu karyawan dengan riang.


"Pasti dong. . . Kalian aja banyak, masa saya pesan sedikit." Ucap ku bercanda.


"Haha. . Ibu bisa aja." Ucap Pak Bayu pemimpin Tim A.


"Ayo dong jangan cuman di lihat! Cepetan di makan, nanti ke buru dingin." Ucap ku mengajak mereka untuk langsung makan, karena mereka seperti malu-malu.


"Bener Bu, ini semua boleh kita makan?" Ucap salah satu karyawan memastikan.


"Iya ampun! Iya dong ini semua untuk kalian, sebagai perayaan karena keberhasilan kita memenangkan Proyek PT. Jaya Wijaya." Ucap ku pada mereka.


"Wah terimakasih banyak, Bu!" Seru mereka serentak.


"Kalau kurang atau kalian pengen sesuatu, tinggal pesan iya! Tidak usah malu-malu." Ucap ku, kemudian aku pun mulai mengambil makanan yang ada.


"Ini juga banyak banget Bu, mungkin ngga akan habis sama kita." Ucap salah satu karyawan.


"Iya kalau ngga habis, kalian bungkus aja." Ucapku enteng.


Setelah aku mengambil makanan, barulah mereka mulai mengambil makanan yang mereka inginkan. Kami pun memulai makan siang kami, dengan di barengi canda tawa.


"Wah enak sekali Bu makanannya." Ucap Salah satu Karyawan dengan mata berbinar dan mulut penuh makanan.


"Kalau lagi makan jangan ngomong dulu! Telen dulu itu makanan!" Tegur Pak Bayu.


"Iya maaf pak." Ucap Karyawan itu sambil cekikikan.


"Sudah ayo makan yang banyak iya!" Ucap ku kepada mereka.


BRAKK. . .


Saat kami sedang makan, tiba-tiba pintu terbuka dengan kencang. Membuat kami terkejut dan menghentikan makan.