Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 51


"Kita sudah sampai Bu." Ucap Supir sambil memarkirkan mobil.


"Terimakasih Pak! Ini buat Bapak beli makan siang, maaf makan siang nya terlambat karena mengantar saya." Ucap ku yang merasa tidak enak dan memberikan uang untuk makan siangnya.


"Tidak perlu Bu, saya sudah dapat uang makan siang Bu." Ucap nya menolak.


"Tak apa, ambil saja. Ini rezeki untuk Bapak!" Ucap ku sambil menyimpan uang itu di tangan supir ku.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak Bu." Ucap nya.


"Sama-sama Pak, kalau Bapak mau ke mana dulu silahkan! Mungkin saya agak lama di sini." Ucap ku sambil keluar dari mobil.


"Baik! Ibu bisa hubungi saya jika perlu sesuatu, saya paling di warung situ Bu." Ucap nya sambil menunjuk sebuah warung yang tak jauh dari mobil.


"Oke!" Ucap ku kemudian aku berjalan menuju danau.


Akhirnya sampailah aku di danau, di mana ini adalah tempat favorit masa kecil ku bermain bersama keluarga ku. Meski perjalanan yang sangat lama, namun terbayarkan saat melihat pemandangan di depan mata ku.


Aku pun duduk tak jauh dari danau, dan melihat sekitar. Meski hari kerja, danau ini cukup ramai. Dan juga banyak sekali yang berjualan di sekitar danau.


"Akhirnya aku bisa ke sini juga!" Ucap ku sambil tersenyum.


"Sayang kamu tau tidak? Dulu uni tempat favorit Mama kalau liburan, Mama selalu mengajak Opa dan Oma ke sini kalau Mama liburan sekolah. Kami selalu piknik di sini dan menggelar tikar besar, lalu menata banyak makanan di tikar. Sangat menyenangkan sekali momen itu, dan sudah lama Mama tidak merasakan nya." Ucap ku sambil mengelus perutku.


"Nanti kalau kamu sudah lahir, Mama akan sering mengajak kamu bermain di sini. Kamu pasti suka, di sini banyak sekali wahana yang bisa kamu mainkan nantinya. Ah. . . Mama jadi tidak sabar, ingin cepat bertemu dengan kamu. Kamu harus sehat-sehat terus iya Nak." Ucap ku bahagia dan aku pun mengambil gambar danau, kemudian mengirim nya di Grup keluarga kami.


Tak lama banyak notifikasi yang masuk dan aku pun hanya tertawa kecil, melihat komen yang masuk.


Woy! Kerja, jangan kelayapan. (Kak Niko)


Sama siapa kamu Dek? (Bang Naufal)


Ade di danau sama siapa? (Mama)


Ngga ajak-ajak, ikut dong! (Kak Gina)


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


Mama


[Assalamualaikum Ma] Ucap ku.


[Wa'alaikum salam, kamu sama siapa di situ?] Tanya Mama


[Sendiri Ma] Ucap ku.


[Mama ke situ iya, nemenin kamu.] Ucap Mama lembut.


[Ngga perlu Ma, aku juga ngga akan lama ko. Cuman pengen nenangin diri aja, Mama ngga perlu khawatir iya.] Ucap ku berusaha menenangkan Mama.


[Tapi kamu lagi hamil, gimana nanti kalau ada apa-apa. Tunggu iya, Mama siap-siap dulu.] Ucap Mama.


[Ade baik-baik saja ko! Mama ngga perlu ke sini, nanti Mama nyampe Ade udah pulang gimana? Kan jauh ke sini, mending Mama di Rumah aja iya! Ade baik-baik aja ko.] Ucap ku.


[Bener Mama ngga perlu ke sana?] Tanya Mama memastikan.


[Beneran Ma, iya udah dulu iya Ma. Ade mau kuliner dulu, hehe. . . Banyak banget yang menggoda makanannya.] Ucap ku mengalihkan pembicaraan.


[Iya udah kalau begitu kamu hati-hati iya, jangan makan-makan yang jorok atau pedas! Ingat kamu lagi hamil] Ucap Mama memperingati ku.


[Mama tenang aja oke! Iya udah Assalamualaikum Ma.] Ucap ku.


[Wa'alaikum salam ingat hati-hati iya sayang.] Ucap Mama.


[Iya Mama sayang.] Ucap ku dan kemudian Mama mematikan telepon.


"Mana yang sakit?" Tanya ku saat aku menghampiri anak tersebut.


"I-ni sa-kit." Ucap nya sambil sesegukan menangis dan menunjuk lututnya yang terluka.


"Sebentar iya! Tante bersihkan." Ucap ku sambil mengambil tisu basah di tas ku dan membersihkan lutut nya perlahan.


"Sa-kit tan-te." Ucap nya saat aku membersihkan lukanya.


"Ini harus di bersihkan dulu sayang, biar luka nya tidak infeksi. Tahan sebentar iya, ini Tante pakaikan plester gambar beruang lucu banget loh!" Ucap ku sambil memasangkan plester gambar beruang yang tak sengaja aku beli dan masih tersimpan di tas ku.


"Ta-pi sa-kit." Ucap nya.


"Selesai deh! Coba masih sakit ngga?" Tanya aku sambil tersenyum.


"Ma-sih sedikit sakit Tante." Ucap nya yang sudah tidak menangis seperti tadi.


"Ayo Tante bantu berdiri, kita duduk di kursi itu iya!" Ucap ku sambil membantunya berdiri dan membersihkan pakaiannya.


"Iya Tante." Ucap nya, kemudian kami pun duduk di kursi dekat danau.


"Kamu tunggu sebentar iya! Tante mau ke situ dulu." Ucap ku sambil menunjuk penjual es krim.


"Iya Tante." Ucap nya dan aku pun berjalan menuju penjual es krim, kemudian kembali menghampiri anak kecil tadi.


"Lama iya nunggu Tante?" Tanya ku.


"Ngga ko Tante." Ucap nya.


"Ini kamu pilih mau rasa apa? Ada vanila, cokelat dan strawberry." Ucap ku sambil menyerahkan 3 es krim beda rasa.


"Aku mau rasa cokelat Tante, tapi aku ngga bawa uang." Ucap nya dan aku pun tertawa.


"Memangnya Tante lagi berjualan?" Ucap ku sambil terkekeh.


"Kan kalau mau sesuatu harus bayar Tante." Ucap nya polos dan membuat aku gemas sekali.


"Anak pintar, tapi sekarang Tante traktir kamu es krim ini. Jadi kamu tidak perlu membayar, kamu bisa ambil es krim yang kamu mau." Ucap ku sambil mengelus rambutnya.


"Beneran Tante?" Tanya nya.


"Bener dong! Nih Tante makan 1 iya, ayo kita makan bersama." Ucap ku sambil membuka es krim cokelat untuk nya dan vanila untuk ku.


"Ayo kamu makan." Ucap ku dan kami pun makan es krim bersama.


"Ko Tante baik sekali sama aku?" Tanya nya.


"Memang ngga boleh Tante baik sama kamu?" Tanya aku balik.


"Ibu aku aja ngga baik sama aku! Aku mau es krim aja harus minta uang ke Ayah." Ucap nya sendu.


1@1


"Sudah lebih baik makan dulu es krimnya nanti meleleh, itu masih ada 1 es krim yang menunggu untuk di makan." Ucap ku sambil bercanda.


Kami pun memakan es krim sambil becanda dan tertawa bersama.


"Oh iya! Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Kalau nama Tante Nadira, nama kamu siapa?" Tanya ku sambil mengulurkan tangan.


"Nama aku Anisa Tante." Ucap nya sambil mencium tangan ku dan aku mengusap lembut rambutnya.


"Nama yang cantik, secantik orang nya. Kamu ke sini sama siapa yang?" Ucap ku.


"Aku ke sini sama Nenek, tapi Nenek lagi beli makan di sana. Itu Nenek, Nenek. . ." Ucap nya yang kemudian memanggil seorang wanita paruh baya yang sedang kebingungan, dan dengan tergesa-gesa menghampiri kami.