
Prok. . . Prok. . . Prok. . .
Suara tepuk tangan kedua Kakak laki-laki ku dengan wajah yang memerah, menahan amarah.
Seketika semua orang menatap kami, dengan berbagai pandangan. Terutama Suami ku, yang langsung terkejut melihat keberadaan ku dan keluarga ku.
Yang aku heran, mengapa di acara lamaran ini. Tidak ada 1 pun anggota keluarga dari suami ku?
Kami semua menatap tajam ke arah Mas Tio.
"Wah, selamat Tio. SELAMAT!" Ucap Kak Niko penuh penekanan dan tatapan tajam.
"Tidak menyangka, ternyata kamu BERANI melamar kekasih mu! HEBAT TIO? HEBAT!" Teriak Kak Niko dengan marah dan membuat semua orang yang awal nya tersenyum, berubah menjadi bingung.
Dan tak sengaja aku memandang ke arah Ibu Sifa yang ternyata juga melihat ku dan saat ini beliau memegang dadanya, mungkin karena terkejut.
"Mohon maaf anda sekalian siapa iya? Apa keluarga dari Calon menantu saya Tio?" Ucap Ramah dari keluarga Sifa.
"Betul, kami keluarga dari Calon Menantu anda. . .!" Ucap Kak Niko terjeda.
"Yang tak lain dan tak bukan, juga menantu di keluarga kami." Ucap tegas Kak Niko dengan mengepalkan tangannya.
Dan seketika ruangan menjadi sepi, karna banyak orang yang terkejut.
"Tunggu! Kalian ini siapa? Beraninya mengganggu acara kami!" Ucap marah seorang laki-laki muda.
"Silahkan tanyakan kepada Calon Menantu kalian, kami ini siapa?" Ucap Bang Naufal datar dan bisa kami lihat Mas Tio sudah sangat gugup dan pucat.
"Tio, siapa mereka? Jelaskan kepada kami, apa maksud perkataan mereka?" Tanya seorang Bapak, namun tidak di jawab oleh Mas Tio.
"Saya adalah Nadira Hutama, ISTRI SAH dari Tio Prasetya." Ucap ku lantang dan seketika ruangan ricuh.
"Tidak! Tidak mungkin! Mba Nadira anda jangan bicara sembarangan! Mas Tio ini calon suami saya! Jaga mulut anda!" Ucap marah Sifa.
"Kamu tanyakan langsung dengan calon suami mu itu! Siapa aku?" Ucap ku lantang sambil menatap tajam Mas Tio.
"Mas apa yang dia ucapkan tidak benar bukan? Jawab Mas! Jawab!" Ucap Sifa sambil menggoyangkan tangannya.
"Jawab TIO!" Ucap tegas Bapak Sifa.
"Ja-ngan dengarkan mereka, pasti mereka bohong! Iya mereka pasti bohong!" Ucap Ibu Sifa gugup.
"Oh. . . Ternyata ada Ibu Sifa di sini? Hallo Ibu, senang bertemu kembali dengan calon mertua dari suami ku." Ucap ku dengan senyum smirk.
"Diam kamu! Jangan bicara sembarangan! Ini acara anak ku! Pergi kalian dari sini!" Ucap Ibu Sifa gugup sambil memegang dadanya.
"Kenapa Bu? Apa anda takut aku mempermalukan keluarga anda? Seperti anda yang sudah mempermalukan aku di depan umum? Dengan mengatakan aku WANITA MURAHAN? Padahal anak ANDA SELINGKUHAN suami ku! Jadi di sini siapa yang MURAHAN!" Ucap ku penuh penekanan.
"CUKUP." Ucap Mas Tio yang sedari tadi diam.
"Sifa bukan wanita murahan!" Ucap Mas Tio tegas.
"Wah hebat sekali kamu Mas! Membela wanita lain di depan ISTRI SAH kamu!" Ucap ku dengan senyum paksa.
"Bu-kan begitu Dek! Maksud Mas. . .!" Ucap Mas Tio sambil berjalan mendekati ku.
"Berhenti di situ! Jangan berani mendekati Nadira!" Ucap Kak Niko tegas.
"Dek dengarkan Mas dulu! Ini ngga seperti yang kamu pikirkan Dek." Ucap Mas Tio memohon sambil menatap sendu ke arah ku.
"Hahaha. . . Kamu lucu Mas! Kamu yang selingkuh! Kamu yang memohon ingin kembali dengan ku! Tapi kamu membela wanita itu, dan sekarang kamu melamar wanita lain." Ucap ku sambil menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca.
"Mas. . . Usir mereka! Mereka menghancurkan acara kita, Mas ayo Mas katakan sesuatu! Bilang ke aku, dia bukan istri kamu kan Mas! Jawab Mas!" Ucap Sifa sambil memukul-mukul tangan Mas Tio dengan air mata yang mengalir.
"Pergi kalian! Pergi dari sini! Jangan hancurkan acara anak ku! Pergi kalian!" Usir Ibu Sifa.
"Mas ayo usir mereka Mas! Cepat Mas! Kamu ngga mungkin ninggalin aku kan? Mas jawab Mas!" Rengek Sifa sambil menggoyangkan badan Mas Tio yang hanya diam dengan pandangan ke arah ku.
"Tentu saja! Kami akan pergi! Namun sebelum itu, aku hanya ingin mengingatkan. Walaupun kamu memilih wanita itu! Tanpa izin dari ku, kamu tetap tidak akan bisa menikahi nya secara sah di mata Negara!" Ucap ku lantang.
"Tunggulah panggilan dari pengadilan agama!" Ucap Kak Niko.
Deg. . .
"Ti-dak! Mas ngga akan mau bercerai dengan kamu Dek! Mas akan pastikan semua itu tidak akan terjadi!" Ucap Mas Tio lantang.
"Tentu kamu tidak lupa dengan surat kesepakatan yang sudah kita buat bukan?" Ucap Bang Naufal datar.
"Jika kamu berusaha menggagalkan atau pun mempersulit semua nya, siap-siap berada di jeruji besi!" Ancam Kak Niko, dan semua orang pun syok mendengar ancaman Kak Niko.
Kami pun melangkah keluar Rumah itu dengan amarah yang kami pendam, namun tiba-tiba.
"Dek. . . Jangan tinggalin Mas, Dek." Ucap Mas Tio yang ternyata mengejar ku dan memegang tangan ku.
"Mas minta maaf! Mas janji bakalan tinggalin Sifa, Mas mohon! Jangan tinggalkan Mas!" Ucap Mas Tio memohon sampai berlutut dan aku tak mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan tak melirik sama sekali.
"Mas kamu apa-apaan? Udah biarin dia pergi! Ayo kita masuk." Ucap Sifa sambil menarik tangan Mas Tio yang sedang berlutut di hadapan ku.
"Diam kamu! Ini semua salah kamu! Aku sudah bilang! Aku tidak akan menikahi kamu! Tapi kamu memaksa aku terus!" Marah Mas Tio dan menghempas tangan Sifa yang langsung terdiam kaget.
"Dek Mas mohon, maafkan Mas! Mas khilaf Dek! Mas sayang sama kamu Dek! Jangan tinggalin Mas!" Ucap Mas Tio memelas.
"Kamu yakin? Apa kamu sanggup meninggalkan Sifa demi aku Mas?" Tanya aku dan tanpa menunggu lama Mas Tio menganggukkan kepala, sedangkan keluarga ku terkejut dengan pertanyaan ku.
"Tentu! Mas akan tinggalkan dia demi kamu! Hanya kamu istri Mas satu-satunya yang Mas cintai, kamu mau kan maafin Mas?" Ucap Mas Tio dengan berbinar.
"MASSS. . ." Teriak Sifa kencang, setelah mendengar ucapan Mas Tio.
"DIAM KAMU!" Teriak Mas Tio.
"Kamu ngga bisa kaya gini Mas, kamu ngga boleh tinggalin aku! Kamu harus nikahin aku Mas!" Ucap Sifa yang menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan Mas Tio.
"Lepas Sifa! Kamu apa-apaan! Bikin malu aja! Cepat lepaskan! Banyak laki-laki yang lebih baik dari dia!" Ucap tegas Bapak Sifa sambil berusaha melepaskan tangan Sifa dari Mas Tio.
"Ngga Pak! Mas Tio harus nikahin aku! Aku harus nikah sama Mas Tio Pak! Sifa mohon bantu Sifa!" Ucap Sifa histeris.
"Tidak akan! Sampai mati pun Bapak tidak akan merestui kamu merebut suami orang!" Ucap Bapak Sifa dan berusaha menarik Sifa.
"Sifa harus nikah dengan Mas Tio Pak! Sifa hamil anak Mas Tio!" Ucap Sifa histeris.
Deg. . .