
Setelah jam pulang kerja, kami semua bersiap. Sesuai rencana kami akan pergi ke Mall dan Salon, namun rencana hanya tinggal rencana. Ternyata saat kami sampai di lobby, Mas Tio sudah ada Ruang Tunggu.
"Dek." Ucap Mas Tio sambil tersenyum.
"Mas ngapain di sini?" Tanya ku heran.
"Tentu Mas datang untuk menjemput kamu, Dek." Ucap Mas Tio dan tanpa menunggu jawabanku, Mas Tio langsung menggandeng tangan ku.
"Ayo kita pulang." Ucap Mas Tio sambil kami berjalan menuju tempat Parkir motor.
"Kita langsung pulang atau pergi ke mana dulu, Dek?" Tanya Mas Tio sambil melajukan sepedah motor nya.
"Terserah Mas saja." Ucap ku.
"Gimana kalau kita jalan-jalan di Mall dulu? Sudah lama bukan kita tidak ke Mall?" Ajak Mas Tio.
"Boleh Mas." Ucap ku dan kami pun menuju Mall terdekat.
Setelah sampai di Mall, Mas Tio terus menggandeng tanganku.
"Kamu mau makan dulu atau belanja, Dek?" Tanya Mas Tio.
"Aku ikut mau Mas aja." Ucap ku.
"Kita belanja dulu iya, Dek. Beli baju untuk kamu kerja, gimana?" Tanya Mas Tio.
"Iya Mas." Ucap ku dan Ki pun berjalan menuju Butik yang menjual pakaian formal. Butik Flower adalah Butik yang bagus, dan harganya cocok untuk segala kalangan.
"Selamat datang di Butik Flower, silahkan di lihat-lihat dulu." Ucap ramah Karyawan Butik.
"Bisa tolong di tunjukkan pakaian kerja wanita, untuk istri saya." Ucap Mas Tio meminta tolong.
"Mari saya antarkan Pak, Bu." Ucap Karyawan Butik, sambil membimbing kami menuju tempat yang di maksud.
"Ini semua pakaian formal untuk wanita Pak, Bu. Silakan dilihat-lihat dulu dan untuk Ruang Ganti ada di Pojok sebelah sana." Ucap Karyawan Butik sambil menunjukkan dengan jarinya.
"Terimakasih Mba, biar kami pilih dulu." Ucap ku sambil tersenyum.
"Sama-sama." Kemudian Karyawan Butik itu meninggalkan kami, untuk melayani pelanggan yang lain.
Aku dan Mas Tio pun memilih pakaian kerja yang cocok untuk ku, masing-masing kami mendapatkan 1 yang menurut kami cocok dan Mas Tio meminta ku untuk mencobanya.
Ternyata salah satu pakaian itu kekecilan dan aku meminta tolong di carikan ukuran yang lebih besar.
"Mas yang ini terlalu kecil." Ucap ku ambil menunjukkan sepasang pakaian kerja yang kekecilan.
"Coba kamu tanya, siapa tau ada yang ukuran lebih besar." Ucap Mas Tio.
"Iya udah aku tinggal dulu iya Mas, mau tanya ke Mba yang tadi." Ucap ku.
"Iya Dek." Ucap Mas Tio lembut.
Aku pun melangkah menghampiri karyawan butik yang tadi.
"Mba, kalau yang ini ada ukuran lebih besar tidak?" Tanya ku.
"Ada Bu, sebentar saya ambilkan. Mohon di tunggu." Ucap Karyawan Butik ramah.
"Iya Mba." Ucap ku, saat aku berbalik untuk menghampiri Mas Tio.
Kulihat Mas Tio sedang mengobrol dengan seorang wanita paruh baya yang berhijab, mereka terlihat akrab dan aku pun menghampiri Mas Tio.
"I-ya ngga apa-apa." Ucap Mas Tio gugup.
"Siapa wanita ini Tio? Seenak nya aja memegang tangan kamu." Tanya wanita paruh baya ketus dengan suara yang keras dan membuat beberapa orang melirik kami.
"Saya Nadira Bu, mohon maaf Ibu ini siapa?" Tanya ku ramah, meski bingung kenapa Ibu ini berbicara ketus kepada ku.
"Saya ini Anita, calon mertua Tio. Kamu itu sebagai perempuan jangan murahan, seenaknya memegang tangan calon suami orang." Ucap nya nyaring dan kami pun menjadi pusat perhatian.
Seketika aku pun melepas tangan Mas Tio dan menatap nya tajam.
"Apa maksud nya Mas?" Tanya ku menahan amarah.
"Denger Mas dulu Dek!" Ucap Mas Tio serba salah.
"Pasti perempuan ini yang menggoda kamu kan? Biar Ibu yang kasih pelajaran ke perempuan ini!" Ucap Ibu Sifa marah dan akan melayangkan tangannya ke pipi ku.
"Tunggu Bu, ini ngga seperti yang ibu lihat." Ucap Mas Tio gugup dan tiba-tiba karyawan butik yang tadi menghampiri kami.
"Mohon maaf lama menunggu Pak, Bu. Ini baju yang tadi istrinya pilih Pak, silahkan di coba terlebih dahulu." Ucap Karyawan Butik ramah.
"A-pa i-stri?" Ucap terkejut Ibu Sifa.
"Iya betul, saya adalah istri dari laki-laki yang anda sebut calon menantu anda!" Ucap ku lantang.
"Ng-ga! Ka-mu pasti bohong, iya kan Tio? Dia bohong kan?" Tanya Ibu Sifa sambil menggelengkan kepala.
"Untuk apa saya berbohong, saya memang istrinya dan kami sudah menikah lebih dari 3 tahun. Ini cincin pernikahan kami." Ucap ku sambil mengambil tangan suami ku dan menunjukkan jari kami yang sama-sama memakai cincin pernikahan.
"Anda pasti Ibu dari Sifa bukan? Kekasih suami saya?" Ucapan ku yang membuat Mas Tio memegang.
"Dek. . " Ucap Mas Tio yang ingin aku menghentikan pembicaraan.
"Kenapa Mas? Benar bukan ucapan ku? Bahwa orang yang tadi menyebut ku wanita murahan adalah Ibu Sifa, kekasih kamu itu kan?" Tanya ku marah.
"Udah Dek, malu dilihat orang." Ucap Mas Tio menghentikan ku.
"Malu? Apa sebelum nya Ibu ini juga berpikir seperti itu? Sebelum menyebutku sebagai wanita murahan? Sedangkan anak nya sendiri adalah orang ketiga di Rumah Tangga kita? Jadi siapa yang murahan di sini?" Ucap ku marah dengan mata yang memerah menahan sesak.
"CUKUP!" Bentak Mas Tio.
"Lihat, bahkan sekarang kamu berani membentak ku Mas!" Ucap ku kemudian bertepuk tangan.
"Hebat kamu Mas, demi orang lain. Kamu membentak istri kamu, di depan umum. Hebat kamu!" Ucap ku sambil menggelengkan kepala.
"De-k Mas ngga bermaksud membentak kamu, Mas. . ." Ucap Mas Tio membela diri, namun aku memotong pembicaraan nya.
"Cukup Mas! Silahkan kamu urus dulu wanita itu dan ibu nya ini! Jangan temui aku, jika kamu belum bisa memilih!" Ucap ku marah, kemudian pergi meninggalkan Butik.
Aku pun berlari tanpa melihat-lihat, hingga tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
DUAKK. . .
Aku pun jatuh terduduk di lantai dan seketika tangis ku pecah, bukan tangis karena sakit terjatuh. Namun sakit hati dengan perbuatan Mas Tio kepada ku, dan seketika aku berhenti menangis.
Saat mendengar seseorang berbicara dengan suara yang familiar di telinga ku, kemudian aku pun melihat ke arah nya.
"Apa sesakit itu menabrak badan Abang? Sampai menangis tersedu-sedu." Tanya seorang laki-laki, seraya mengulurkan tangan.