
"Ikh! Mama gemes banget sama mereka itu! Bukannya bilang terimakasih! Malah seenaknya nuduh-nuduh kamu kaya gitu! Iya ampun ada iya orang yang ngga tau malu kaya gitu!" Ucap Mama kesal, namun aku malah tersenyum. Karena jarang sekali melihat Mama sampai seperti itu marahnya, dan juga terharu melihat Mama yang menjadi pelindung ku saat ini. Aku pun memeluk Mama, berusaha menenangkan Mama.
"Udah iya Ma, jangan marah-marah terus. Aku laper nih! Makan yuk!" Ajak aku, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Iya ampun kasian anak Mama laper iya! Cucu Grandma juga laper iya, ayo kita makan dulu. Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Mama sambil mengelus perut ku.
"Kaya nya makan pecel ayam enak deh Ma, yang di Deket kampus aku dulu itu loh Ma! Sambel nya mantep banget di sana, nasi uduk nya juga pulen banget." Ucap ku sambil membayangkan rasa pecel ayam langganan aku semasa kuliah.
"Boleh juga itu, ayo kita ke sana! Pak kita ke pecel ayam yang Deket kampus Nadira iya, Bapak masih inget ngga?" Tanya Mama.
"Inget Bu, dulu hampir setiap hari jemput Neng Dira di situ." Ucap Supir Mama sambil terkekeh.
"Iya bener Pak! Anak ini tiap malem ngga pernah mau makan di Rumah, bisa di hitung jari kalau makan malam di Rumah. Tau-tau minta di jemput di tempat pecel ayam, iya ngga Pak?" Ucap Mama sambil melirik ke arah ku dan aku cekikikan.
"Maaf deh! Kan abis lulus kuliah aku lebih sering makan malam di Rumah loh! Ma!" Ucap ku.
"Iya deh! Iya! . . . Eh bentar ini HP Mama bunyi." Ucap Mama.
Kring. . . Kring. . . Kring. . .
"Tuh liat ini yg VC sampai di grup segala! Pasti mereka pada khawatir sama kita!" Ucap Mama.
[Assalamualaikum.] Ucap kami saat mengangkat VC dan muncullah personil lengkap keluarga Hutama.
[Mama di mana? Papa baru sampai Rumah ini! Kenapa ngga telpon Papa?] Tanya Papa khawatir.
[Maaf Pa! Mama lupa, tadi saking khawatir nya langsung pergi deh! Maaf iya Pa] Ucap Mama.
[Terus gimana Tio sekarang?] Tanya Papa.
[Ngapain sih! Papa nanyain Tio segala?] Ucap Kak Niko kesal dan tampak Papa menghembuskan napas kasar sambil menggelengkan kepala.
[Udah deh! Jangan mulai kamu!] Tegur Bang Naufal.
[Ampun kamu ini Niko! Udah iya! Pokoknya kalian jangan khawatir sama kita! Kita berdua mau Dinner berdua, jadi jangan ganggu kita para cewe. Oke!] Ucap Mama sambil tersenyum.
[Ma ko aku ngga di ajak sih? Ikutan dong!] Ucap Kak Mely.
[Iya Ma ikutan dong! Aku juga kan cewe!] Ucap Kak Gina.
[Enak aja! Udah malem! Ngga ada keluar-keluar sendiri!] Ucap Kak Niko.
[Udah ah kalian berisik! Kita udah mau nyampe nih! Kita tutup iya! Assalamualaikum.] Ucap ku sambil cekikikan dan aku pun mematikan VC.
"Hahaha. . . Mereka pasti kesel tuh!" Ucap ku sambil tertawa.
"Biarin lah! Kapan lagi kita makan malam berdua, iya ngga sayang?" Ucap Mama sambil merangkul ku.
"Iya dong Ma." Ucap ku sambil memeluk Mama.
Kami pun tiba di tempat "Pecel Lele dan Ayam Pak Selamet", kemudian kami memesan makanan dan sambil menunggu kami pun bernostalgia. Hingga tiba-tiba ada seorang yang menyapa ku.
"Tante." Panggil seseorang anak perempuan yang menghampiri ku.
"Loh! Anisa ko ada di sini? Sama siapa?" Tanya ku sambil melirik ke kanan dan kiri mencari Nenek nya.
"Aku sama Papa ke sini nya! Itu Papa! PAPAAA." Teriak Anisa saat melihat Papa nya.
Deg. .
Pandangan kami pun bertemu, ternyata Papa nya Anisa adalah Kak Aldi. Mantan pacar ku saat kuliah dulu, sekaligus senior ku di kampus.
Kemudian Kak Aldy pun menghampiri kami, dan tersenyum ramah.
"Pa! Kenalin ini Tante baik yang tolongin aku waktu jatuh di taman, baik banget loh tantenya Pa!" Puji Anisa kepada ku dan aku tersenyum sambil mengelus rambut nya.
"Anisa juga anak yg baik." Ucap ku.
"Iya dong! Ica harus jadi anak yang baik, supaya Mama mau sayang ke Ica." Ucap Anisa sendu dan kami pun semua menatap Anisa bingung dengan perkataan nya.
"Anak Papa memang yang paling baik di dunia ini, tidak perlu sedih oke!" Ucap Kak Aldi.
"Oh iya! Papa belum kenalan sama Tante baik, ayo dong Pa! Kenalan dulu." Rengek Anisa.
"Apa kabar Nad?" Tanya Kak Aldi sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.
"Alhamdulillah baik Kak, kabar Kakak sendiri gimana?" Tanya ku balik.
"Kakak juga baik ko, ngga nyangka iya! Ternyata yang selama ini di ceritain Ica itu kamu." Ucap Kak Aldi terkekeh.
"Aku yang lebih ngga nyangka, anak cantik ini anak Kak Aldi." Ucap ku sambil mengelus pipi Anisa.
"Wah Tante sama Papa udah kenal iya? Ko Ica ngga tau sih?" Ucap Anisa merajuk.
"Dulu Tante Nadira ini junior Papa di kampus sayang! Dan kita baru ketemu lagi sekarang." Ucap Kak Aldi.
"Oh gitu! Tante aku duduk sama Tante iya!" Ucap Anisa.
"Boleh aja sayang, ayo sini duduk di samping Tante." Ucap ku sambil membantu Anisa duduk.
"Makasih Tante." Ucap Anisa.
"Anisa, Kak Aldi! Kenalin ini Mama aku." Ucap ku sambil memperkenalkan Mama.
"Hallo Nenek! Nama aku Anisa." Ucap Anisa sambil mencium tangan Mama.
"Hallo juga anak cantik! Kamu panggil Grandma saja iya sayang, kamu pinter banget!" Ucap Mama.
"Malam Tante, saya Aldi Papa Anisa sekaligus senior Nadira di kampus." Ucap Kak Aldi memperkenalkan diri.
"Malam juga Nak Aldi! Senang bisa bertemu kalian di sini, kalian sudah pesan makanan? Kalau belum ayo pesan dulu." Ucap Mama.
"Maaf iya Tante, kita jadi ganggu makan malam Tante." Ucap Kak Aldi merasa tidak enak.
"Ngga ko! Tante malah seneng, bisa ketemu sama anak cantik ini." Ucap Mama sambil mengelus rambut Anisa.
Kemudian Kak Aldi pun memesan makanan untuk mereka dan makanan kami pun tiba, karena makanan Anisa belum datang aku pun menyuapi Anisa makan. Dan dia makan dengan lahap, membuat aku sangat bahagia.
Mungkin nanti pun aku akan merasa lebih bahagia, saat menyuapi anak ku. Tanpa sadar aku melamun, membayangkan jika anak aku sudah lahir.
Makan malam hari ini sangat menyenangkan dan berkesan untuk ku, aku benar-benar menikmati makan malam hari ini. Kami pun pamit pulang lebih dulu.
Saat sampai di Rumah, suaranya berubah mencekam. Ternyata Papa sudah menunggu di Ruang tamu dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Jam berapa ini?" Tanya Papa.
"Malem Pa, Ade ke kamar dulu iya! Udah ngantuk nih! Hoam. . ." Ucap ku pura-pura menguap, namun tangan ku di pegang erat oleh Mama.
"Jangan main kabur kamu! Nanti Mama di marahin gimana?" Bisik Mama.
"Mama rayu aja di dalam kamar, pasti ngga akan marah lagi. Udah iya! Ade ke kamar duluan, selamat malam Ma." Ucap ku kemudian mencium pipi Mama dan Papa, bergegas aku menuju kamar ku.