
Kring. . . Kring. . . Kring. . .
Handphone ku terus berbunyi, saat aku melihat ternyata Mas Tio yang menelepon ku berkali-kali. Ku tarik napas panjang, lalu ku hembuskan. Mencoba menenangkan diri sebelum mengangkat telpon nya.
[Assalamualaikum.] Ucap ku datar.
[Wa'alaikum salam, Dek. Kamu di mana? Kenapa kamu ngga ada di Rumah? Kamu bilang aja kamu di mana? Mas akan menjemput kamu sekarang!" Cecar Mas Tio dengan berbagai pertanyaan.
[Dek. . . Dek. . . Ayo jawab! Kamu di mana? Apa harus setiap ada masalah kamu pergi dari Rumah? Kekanak-kanakan sekali kamu! Cepat katakan kamu di mana!" Ucap Mas Tio marah.
Sedangkan aku hanya diam dan sambil merekam pembicaraan kami di telpon.
"Apa Mas sudah memutuskan untuk memilih siapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Mas Tio, aku bertanya hal yang lebih penting.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Dek. Mas sama Sifa sudah berakhir, Mas khilaf Dek! Mas janji akan berubah, Mas mohon kamu pulang iya Dek! Kita bicarakan semua dengan kepala dingin." Ucap Mas Tio membujuk.
"Berakhir? Haha. . . Lucu sekali ucapan kamu itu Mas!" Aku pun tertawa miris.
"Dek jangan begitu, cepat katakan kamu di mana? Mas jemput sekarang juga!" Ucap Mas Tio.
"Tidak perlu Mas, aku sudah bilang jangan temui aku jika Mas belum bisa memilih." Ucap ku datar.
"Tentu Mas akan memilih kamu! Kamu istri Mas dan akan tetap menjadi istri Mas selamanya. Sifa hanya pelarian Mas saja, Mas cinta sama kamu Dek! Mas sayang sama kamu! Mas mohon kamu pulang iya, Mas janji akan berubah! Mas khilaf." Ucap Mas Tio memohon.
"Berjanji? Berubah? Kamu ke mana Mas saat aku tadi di hina? Apa kamu membela ku saat aku di sebut MURAHAN? TIDAK bukan? Kamu sama sekali tidak membela ku! Jangankan membela! Mengakui aku sebagai istri mu pun TIDAK! Bahkan kamu membentak ku di depan semua orang! Apa itu yang kamu maksud kamu CINTA DAN SAYANG SAMA AKU?" Ucap ku penuh dengan amarah.
"Mas bukanya ngga mau bela kamu, tadi Mas terkejut dengan kedatangan Ibu nya Sifa. Dan . . . "Ucap Mas Tio yang aku potong.
"CUKUP! Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, Mas tunggu surat dari pengadilan. Assalamualaikum!" Ucap ku langsung mematikan telpon.
Aku pun terduduk di lantai dengan mata yang mengalir tanpa ku perintah, sakit sekali di perlakukan seperti ini. Di khianati, di bohongi, bahkan di permalukan di depan umum.
Apa aku tidak pantas bahagia?
Kenapa Rumah Tangga ku harus berakhir begini?
Dulu aku berkata pernikahan hanya satu kali seumur hidup ku, namun jika harus mempertahankan pernikahan ini. Rasanya aku tak akan sanggup, lebih baik sendiri dan menjalani karir ku kembali.
Ayo semangat! Jangan menangis lagi untuk laki-laki pengkhianat itu! Ucap ku menyemangati diri sendiri.
Ku hapus air mata dan aku pun bersiap-siap, merias wajah ku seperti dulu. Saat aku belum menikah, aku selalu merias wajahku. Dan ku pakai, pakaian mahal milik ku.
Setelah itu, aku mengeluarkan Dokumen Pernikahan ku. Yang memang semua Dokumen penting itu ada di brankas Apartemen ku ini, sehingga tidak sulit untuk ku menyiapkan semua ini.
Ting . . . Tong. . .
Ting. . . Tong. . .
Bergegas ku buka pintu dan ternyata itu adalah orang yang di perintahkan Pak Aziz untuk mengambil dokumen untuk perceraian ku, namun sebelum itu aku pun mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada Pak Aziz.
Setelah orang itu pergi, aku pun bersiap-siap untuk pergi menuju Rumah Mama. Sepanjang jalan menuju basemen, aku memesan berbagai jenis makanan. Untuk di kirim ke Rumah Mama dan mengirim pesan kepada kedua kakak ku untuk datang ke Rumah Mama.
Aku pun berangkat menggunakan mobil berwarna biru muda, kesukaan ku. Sepanjang perjalanan ku hidupkan musik dan bernyanyi, menghilangkan jenuh.
Saat lampu merah, aku pun melihat begitu ramai nya jalan raya dan tanpa sengaja aku melihat seorang yang sangat aku kenal sedang berboncengan dengan seorang wanita, sambil becanda tawa.
Segera ku ambil handphone dan ku rekam semua nya itu dan saat lampu sudah hijau, aku pun mengikuti motor tersebut dengan hati-hati. Kemudian aku pun membagikan lokasi berjalan kepada Bang Naufal.
Hingga tibalah di sebuah Rumah yang sudah cukup ramai orang, seperti akan ada acara. Kemudian ku buka kaca mobil dan ku panggilan orang yang sedang berjalan di dekat mobil ku.
"Pak maaf numpang tanya." Ucap ku
"Iya ada apa neng?" Ucap nya
"Iya neng, itu anak nya Pak Oman mau di lamar sama pacarnya. Tapi lagi nunggu dulu keluarganya Pak Oman yang masih di jalan, jadi acara nya belum di mulai." Ucap Bapak itu menjelaskan.
Deg. . .
"Lamaran?" Ucap ku lirih
"Neng. . . Neng. . ." Panggil Bapak itu.
"Eh . . . Iya Pak?" Ucap ku terbata-bata.
"Ada lagi yang ingin di tanyakan?" Ucap Bapak itu.
"Apa wanitanya bernama Sifa?" Tanya ku.
"Betul Neng, yang di lamar itu namanya Sifa. Neng temennya Neng Sifa iya?" Tanya Bapak itu.
"Eh. . . Iya Pak, saya temannya. Terimakasih banyak iya Pak." Ucap ku bohong.
"Sama-sama neng, kalau begitu Bapak permisi iya neng." Ucap Bapak itu pamit.
"Iya Pak." Ucap ku dengan mata yang berkaca-kaca
"Apa Mas Tio akan melamar Sifa?" Ucap ku lirih
"Baru tadi kamu telpon dan berkata cinta dan sayang, namun sekarang kamu melamar wanita lain?" Ucap ku lirih dengan air mata yang keluar.
Berusaha kuat, namun ternyata aku tak sekuat itu. Air mata yang terus mengalir, hingga ada yang mengetuk pintu jendela mobil ku. Ku hapus kasar air mata ku dan rapihkan pakaianku, setelah itu ku puka pintu mobil.
Di bukalah pintu mobil, ku sambut kedatang keluarga ku dengan senyum paksa. Kemudian Mama memeluk ku erat, air mata yang sudah ku tahan pun kini keluar kembali.
"Mama sudah dengar semua dari Pak Aziz, kami akan mendukung semua keputusan kamu Nak." Ucap Mama sambil mengelus sayang rambut ku.
"Lagi apa kamu di sini, Dek?" Tanya Kak Niko heran dan aku pun menghapus air mata ku.
"Di sana." Tunjuk ku ke arah Rumah Sifa.
"Sedang ada acara lamaran." Ucap ku dengan pandangan kosong.
"Lamaran siapa, Dek?" Tanya Mama.
"Apa kita akan menghadiri acara lamaran teman kamu?" Tanya Kak Niko.
"Tidak biasanya kamu mengajak kami semua ikut, hanya untuk acara lamaran? Pasti ada sesuatu?" Tebak Bang Naufal, sedangkan aku terus menatap ke arah Rumah yang ramai itu.
"Tebakan Abang benar! Di sana Rumah selingkuhan Mas Tio dan sekarang acara lamarannya." Ucap ku lirih.
"Jadi maksud kamu! Tio melamar selingkuhan nya malam ini? Di rumah itu?" Ucap bang Naufal.
"Belum pasti siapa yang melamarnya Bang, makanya Ade ingin memastikan sendiri. Jika memang benar apa yang Ade bayangkan, Ade ngga akan sanggup sendirian ke sana." Ucap ku.
"Ayo kita masuk." Ucap Papa yang merangkul tubuh ku dan Mama, sambil berjalan masuk.
Saat kami menginjakkan kaki di teras Rumah yang ramai ini, kaki ku terasa lemas saat mendengar apa yang di ucapkan orang di dalam sana.
"Kami selaku keluarga, menyerahkan segala keputusan kepada anak kami Sifa. Karena anak kami yang kelak akan menjalaninya, bagaimana Sifa? Apakah kamu menerima lamaran dari Tio? Untuk menjadi calon istri nya? Yang kelak akan menjadi istri nya." Tanya seorang laki-laki dari speaker yang terdengar hingga ke luar.
Kami pun berjalan terus hingga sampailah kami di depan pintu dan dapat kami lihat dengan jelas, bahwa laki-laki yang sedang melamar itu adalah suami sah ku Mas Tio.
"Iya Sifa bersedia." Ucap Sifa malu-malu.
Semua orang bersuka cita dan mengucapkan "Alhamdulillah".