Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 56


"Mas Tio bener-bener tega! Apa belum cukup selama ini Mas selingkuh dengan wanita itu." Ucap ku sambil menunjuk Sifa.


"Bahkan Mas sudah melamarnya dan sekarang Mas membawanya ke Rumah ini! Rumah kita! Yang kamu bangun untuk aku!" Ucap ku, yang membuat Ibu dan semua orang terkejut dengan ucapan ku.


"Selama ini aku diam! Setiap kali Mas selalu membela Ibu, aku terima semua perlakuan kalian! Karena aku menghormati Mas dan Ibu, mungkin baru-baru ini aku berubah. Itu karena aku capek dengan sikap kalian, tapi aku tidak terima saat Mas dengan tega memperlakukan Ibu Kandung Mas sendiri seperti itu!" Ucap ku mengeluarkan unek-unek ku.


"Asal Mas tau! Aku bisa saja melaporkan kalian ke polisi! Atas tuduhan perselingkuhan dan kekerasan! Bahkan mungkin kamu akan melahirkan di penjara, apa itu yang kalian inginkan?" Ancam ku dan membuat mereka terdiam.


"Banyak saksi yang melihat kejadian dan tentunya akan memberatkan Bapak! Apalagi dengan perselingkuhan saja sudah di pastikan Bapak dan selingkuh Bapak tidur di jeruji besi." Ucap Pak RW dan seketika wajah Mas Tio dan Sifa tampak pias.


"Dek! Kamu ngga mungkin tega kan melaporkan Mas! Kamu hanya menggertak saja kan? Iya kan?" Ucap Mas Tio dengan percaya diri.


"Menggertak? Untuk apa aku menggertak Mas? Ngga ada untungnya buat aku! Untuk apa mempertahankan laki-laki yang tidak tau di untung seperti kamu!" Ucap ku marah.


"Jaga bicara kamu! Berani-beraninya kamu menghina Mas! Kamu harusnya sadar diri! Kamu itu mandul! Ngga bisa kasih Mas anak! 3 tahun kita menikah, kamu ngga hamil-hamil! Sedangkan Sifa, belum 1 tahun kami pacaran dia sudah hamil! Itu artinya kamu itu mandul!" Ucap Mas Tio keras dan membuat tetangga semakin banyak berdatangan, melihat pertengkaran yang terjadi.


"Hahaha. . . Terus kamu bangga Mas? Kamu bangga sudah berbuat zina sampai hamil? Bagaimana nasab nya nanti Mas? Saat anak itu tau, dia anak yang lahir dari hubungan yang tidak halal? Apa pernah kalian berpikir seperti itu?" Ucap ku yang membuat mereka terdiam.


"Aku mandul? Coba kamu tanyakan kepada Ibu mu, apa yang sebenarnya terjadi? Hingga aku tidak bisa hamil selama 3 tahun kita menikah!" Ucap ku marah dan semua mata tertuju kepada Ibu Mertua.


"Asal Mas tau! Selama ini vitamin penyubur kandungan ku, semuanya sudah di ganti dengan Pil KB oleh Ibu kamu! Jadi apa bisa aku hamil? Saat aku tanpa sadar meminum Pil KB setiap hari!" Ucap ku.


"Selama ini Ibu kamu selalu menuntut aku hamil dan hamil, hanya sebagai tameng! Agar Mas ikut memojokkan aku dan lebih menurut kepada Ibu, betul kan Bu?" Tanya ku kepada Ibu Mertua yang sudah tampak pucat.


"Ibu tenang aja! Aku ngga marah ko! Harusnya aku berterimakasih ke Ibu, dengan begini! Aku tidak akan merasa berat untuk meninggalkan anak Ibu." Ucap ku dengan senyum.


"Ja-di itu ulah Ibu? Kenapa kamu ngga pernah bilang?" Tanya Mas Tio.


"Untuk apa aku bilang? Yang ada kamu hanya akan marah sama aku! Lagi pula aku baru tau beberapa bulan ini dan semua itu juga tidak ada artinya lagi sekarang." Ucap ku mulai santai.


"Bu, apa benar yang di katakan Nadira?" Tanya Mas Tio.


"Ma-af-kan Ibu." Ucap Ibu yang kemudian menangis kembali.


"I-bu hanya tidak ingin kasih sayang kamu semakin terbagi, semenjak kamu menikah. Kamu tidak seperti dulu lagi, kasih sayang dan perhatian kamu ke Ibu semakin berkurang. Oleh karena itu, ibu mengganti vitamin penyubur kandungan dengan Pil KB dan Ibu juga berbuat semena-mena dengan Nadira. Ibu tidak mau kamu lebih peduli dengan istri kamu, dari pada dengan ibu." Ucap ibu terisak dan aku pun memeluk nya.


"Maaf. . . Maafkan ibu." Ucap Ibu di sela tangis nya.


"Semua sekarang sudah jelas kan? Dan intinya aku tidak mau wanita itu tinggal di Rumah ku! Lebih baik Mas bawa dia pergi dari sini." Ucap ku.


"Betul! Kita ngga sudi ada pelakor di lingkungan kita! Pergi sana pelakor! Jangan kotori lingkungan kami!" Teriak salah satu Ibu-ibu yang melihat pertengkaran kami.


"Usir mereka! Usir mereka!" Teriak serentak Ibu-ibu.


"Sabar Ibu-Ibu! Sabar dulu!" Ucap Pak RW dan Pak RT yang menghadang mereka masuk lebih dalam.


"Ngga Pak RT! Mereka harus pergi dari sini! Jangan sampe kita yang kena azab dari perbuatan mereka!" Ucap seorang Ibu.


"Iya iya! Tenang dulu semuanya, lebih baik Ibu-Ibu semua pulang dulu. Biar semua kami yang urus!" Ucap Pak RW.


"Awas kalau Pak RW tidak mengusir mereka! Kami akan arak mereka keliling komplek!" Ancam salah seorang Ibu.


"Udah udah bubar semua nya bubar!" Teriak Pak RT, dan akhirnya warga pun bubar.


"Lihat kan! Kalian sudah tidak di terima di lingkungan ini! Kalau kalian tetap memaksa, iya siap-siap aja kalian di adili mereka!" Ucap ku sinis.


"Betul itu Pak Tio, lebih baik Bapak bawa wanita ini pergi. Kalau lebih lama lagi, takutnya nanti mereka malah berbuat anarkis Pak!" Ucap Pak RW.


"Ngga! Ini Rumah saya! Ngga ada yang berhak ngusir saya dari sini! Kalian yang harus pergi dari Rumah ini!" Ucap Mas Tio kekeuh.


"Iya silahkan kalau kalian memaksa tinggal di sini! Tapi kalau ada apa-apa dengan kalian, tanggung sendiri resikonya." Ucap ku.


"Kenapa sekarang kamu tega banget sama Mas? Lihat karena ulah kamu mereka membenci Mas!" Ucap Mas Tio menyalahkan ku.


"Tega? Siapa yang lebih tega di sini? Aku atau Mas? Dan Mas nyalahin aku? Hello! Sadar dong Mas! Di sini itu Mas yang salah! Ko malah nyalahin orang!" Ucap ku marah.


"Sudah! Sudah! Lebih baik sekarang Pak Tio pergi dulu, karena khawatir warga akan kembali lagi. Dan untuk Ibu Nadira, mohon lebih bersabar dan dampingi Ibu mertua nya." Ucap Pak RW.


"Mas ayo kita pergi." Ucap Sifa yang baru angkat bicara.


"Tapi. . ." Ucap Mas Tio ragu.


"Itu Ibu dari anak kamu udah ngajak kamu pergi Mas! Silahkan kamu pergi! Hati-hati di jalannya, semoga nanti sehat terus iya Ibu dan bayi nya. Lancar lahirannya nanti, jangan lupa kabarin kalau mau nikah iya Mas." Ucap ku dengan senyuman manis dan melambaikan tangan.


Kemudian Mas Tio dan Sifa pun pergi, meninggalkan Rumah ini dan tak lama kemudian Pak RW dan Pak RT pun pamit pulang. Kini tersisa aku dan Ibu Mertua ku, yang terus termenung dan menunduk.


"Ayo Bu masuk." Ajak ku, kemudian menuntun Ibu masuk.


"Ibu maaf aku ngga bisa nginep di sini, aku telpon Mba Erna iya! Buat nemenin Ibu di sini." Ucap Ku dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Ibu.


Tak lama setelah aku menelpon Mba Erna, kakak perempuan Mas Tio pun datang dan aku pun berpamitan untuk pulang ke Rumah.