
Ceklek. . .
"Ada apa Bu?" Tanya Mas Tio.
"Kamu itu gimana sih? Ini udah jam berapa? Kenapa ngga ada makanan di meja? Ibu udah laper!" Ucap Ibu Mertua marah.
"Bukannya Ibu yang mau masak? Tadi pagi Tio sudah kasih Ibu uang buat masak, katanya Ibu yang mau masak? Kenapa sekarang ibu jadi marah-marah?" Tanya Mas Tio bingung, sedangkan aku sedang di kamar mandi mencuci muka agar lebih fresh.
"I-ya Ibu lupa masak." Ucap Ibu lirih.
"Iya sudah Ibu besok aja masaknya, biar aku pesan makanan online saja. Ibu mau makan apa?" Tanya Mas Tio.
"Ibu mau makanan yang kaya di TV itu, nasinya ada ikan mentah yang mahal itu." Ucap Ibu antusias.
"Apa namanya Bu? Tio tidak tau." Tanya Mas Tio bingung.
"Kamu ini gimana sih! Ngga gaul banget!" Ucap Ibu kesal.
"Iya apa namanya Bu? Biar Tio pesan kan, kalau nasi ikan mentah ngga akan ada Bu." Ucap Mas Tio.
"Mungkin yang ibu maksud Sushi." Ucap ku yang mendengar pembicaraan itu.
"Nah itu, benar Sushi. Ibu pengen makan Sushi yang pake ikan mahal itu." Ucap Ibu antusias.
"Oh. . Sushi? Iya udah Tio pesankan, kalau kamu mau apa, Dek?" Tanya Mas Tio.
"Aku sashimi aja Mas, biar sekalian pesannya." Ucap ku.
"Ibu juga mau itu." Ucap Ibu antusias, tanpa tau apa itu makanan yang Ibu mau.
Aku sangat yakin, jika nanti Ibu tidak akan menyukai makanan yang di pesan nya barusan. Pasti akan ada drama yang akan terjadi selanjutnya.
"Oke! Sudah Mas pesankan, paling 15 menit lagi sampai." Ucap Mas Tio.
"Terimakasih iya Tio, biar Ibu yang tunggu di luar." Ucap Ibu sambil berjalan menuju pintu depan.
"Mau ke mana kamu Dek?" Tanya Mas Tio yang melihat aku keluar kamar.
"Mau ambil minum, Mas." Ucap ku, lalu ku lanjutkan langkah kaki ku, dan ternyata Mas Tio mengikuti ku.
Betapa aku terkejut melihat Rumah yang baru ku tinggal kan 1 hari, sudah tampak berantakan. Meja makan penuh bekas bungkusan makanan dan minuman, piring kotor berserakan di dapur, cucian baju pun berserakan.
Aku hanya bisa menghela nafas, tanpa banyak bicara aku pun mulai membereskan satu persatu kekacauan yang ada.
"Ibu kemarin katanya ngga enak badan, jadi ngga ada yang beresin Rumah." Ucap Mas Tio tiba-tiba menghampiri ku dan ikut membantu membereskan bungkusan makanan di meja makan.
Aku pun berjalan menuju dapur dan mengumpulkan semua piring kotor, dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci yang besok pagi akan aku cuci.
Jika dulu aku akan menegur Mas Tio yang berperilaku jorok, namun sekarang aku tidak akan banyak bicara. Namun aku terus melakukan kegiatan bersih-bersih ku, tanpa memperdulikan keberadaan Mas Tio.
"Tio. . . Tio. . . Ini makanannya sudah datang, ayo kita makan!" Teriak Ibu dari luar Rumah.
"Sudah dulu, Dek. Ayo kita makan dulu." Ucap Mas Tio.
"Mas duluan saja, ini sedikit lagi selesai." Ucap ku, yang sedang mencuci piring.
"Tio kamu di mana?" Teriak Ibu.
"Tio di dapur Bu, Ibu duluan saja makannya." Ucap Mas Tio yang masih menunggu ku.
"Ayo cepetan ke sini! Kita makan." Perintah Ibu Mertua.
"Kamu udah selesai, Dek?" Tanya Mas Tio dan aku jawab dengan menganggukkan kepala.
Ternyata di meja makan Ibu sedang menata bungkusan makanan yang tadi di pesan Mas Tio, kemudian memfoto dan melakukan siaran langsung.
"Hallo, semuanya! Sekarang Mommy akan makan malam, dengan menu Sushi dan Sha-simi." Ucap Ibu Mertua dengan melihat tulisan yang ada di struk pembelanjaan.
Ingin rasanya aku tertawa melihat kelakuan Ibu Mertua yang semakin aneh, ntah sejak kapan Ibu Mertua ku menjadi seperti ini.
"Selamat makan semuanya." Ucap Ibu Mertua yang mulai memakan makanannya, namun saat mulai mengunyah ekspresi mukanya seketika berubah.
"Ini enak sekali, kalian harus mencoba nya. Mommy mau makan dulu iya! Bye bye semua." Ucap Ibu Mertua dengan senyuman manis yang kemudian mematikan Siaran langsung nya dan langsung membuang makanan yang ada di mulut nya, dengan ekspresi yang langsung berubah.
"Huek. . . Huek. . .
Makanan apa ini yang kamu beli Tio?" Ucap Ibu kesal, setelah memuntahkan Sushi yang di makannya dan langsung meminum air yang banyak.
"Kan tadi Ibu yang bilang pengen Sushi dan Sashimi, iya Tio pesan kan sesuai yang Ibu minta." Ucap Mas Tio santai.
"Tapi kenapa rasanya aneh banget! Ibu ngga mau, cepat pesan kan Ibu makanan yang lain." Ucap Ibu kesal, kemudian Ibu melirik ke arah aku yang sedang memakan Sushi dan Sashimi.
"Jangan-jangan kamu belinya beda iya?" Tanya Ibu Mertua.
"Maksud Ibu apa?" Tanya Mas Tio bingung.
"Kenapa yang Nadira terlihat enak, sedangkan yang Ibu tidak enak sama sekali?" Tanya Ibu curiga, padahal Mas Tio memesankan menu yang sama untuk ku dan Ibu.
"Sama aja Bu! Tio pesan masing-masing 2, untuk Ibu dan Nadira. Jadi ngga mungkin beda." Ucap Mas Tio kesal.
"Sini biar Ibu coba yang kamu!" Ucap Ibu merebut makanan milik ku yang tinggal sedikit, tanpa melawan ku relakan makanan ku.
"Huek. . .
Kenapa rasanya sama aja?" Marah Ibu dan membuang makanan itu, aku pun terbengong melihat makanan yang sedang aku makan di buang begitu saja.
"Kenapa makanan Nadira di buang Bu? Kan lagi di makan sama Nadira, bagaimana rasanya? Sama saja kan Bu?" Tanya Mas Tio kesal.
"Makanan ngga enak, iya di buang! Iya sama! Sama-sama ngga enak! Pokoknya Ibu mau makanan yang enak! Sekarang juga! " Ucap Ibu marah.
"Aku udah kenyang, aku ke kamar dulu." Ucap ku pamit.
Aku yang memang tidak berselera makan, di tambah dengan kelakuan Ibu. Membuat aku benar-benar tidak lapar, lebih baik aku istirahat di dalam kamar.
"Tapi kamu baru makan sedikit, Dek! Tunggu sebentar, Mas pesan kan makanan yang lain iya!" Ucap Mas Tio menahan aku.
"Aku udah kenyang Mas." Ucap ku tersenyum paksa.
"Udah biarin aja, sana kamu pergi!" Usir Ibu.
"Bu." Tegur Mas Tio, namun Ibu acuh.
Tak ingin membuat keributan, aku pun melangkah menuju kamar. Seketika aku teringat dengan handphone ku yang tak tahu ada di mana, aku pun mencari di dalam tas. Ternyata handphone ku dalam keadaan mati, aku pun mengisi daya handphone ku dan menyalakannya.
Panggilan Tak Terjawab 93
Pesan Baru 34
Kebanyakan adalah pesan dari Mas Tio, yang meminta maaf dan mencari keberadaan ku. Seketika aku baru ingat, setelah kejadian itu aku sama sekali tidak membuka handphone sama sekali.
Aku pun hanya menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri dan memikirkan langkah apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
Hingga tak terasa aku pun tertidur, badan ku terasa lelah sekali. Aku berharap esok hari akan menjadi lebih baik lagi dari sekarang.