
"Ayo sayang, kita tidur." Ajak ku kepada Anisa yang sedang bermain bersama kedua orang tua ku.
"Oke! Bunda." Ucap Anisa semangat.
Awalnya Anisa ragu, saat aku mengizinkannya memanggil ku Bunda. Karena dia ingin sekali merasakan kasih sayang dari seorang Ibu, yang belum pernah dia dapatkan.
Apalagi mendengar cerita Kak Aldi, bahwa Mama Anisa sibuk dengan dunia nya. Bahkan saat Anisa lahir, enggan menyusuinya. Dan Anisa pun dari bayi hingga sekarang di asuh oleh Baby Sister, terkadang Ibu Kak Aldi ikut membantu.
Miris sekali hidup Anisa, masih kecil. Namun tidak pernah merasakan kasih sayang dari Ibu kandung nya. Membuat aku iba dan mengizinkannya memanggil ku dengan sebutan Bunda.
"Opa, Oma. . . Ica tidur dulu iya! Selamat malam Oma, Opa." Ucap Anisa kemudian mencium pipi kedua orang tua ku.
"Selamat tidur juga anak cantik, mimpi indah." Ucap Mama.
"Ayo kita cuci tangan dan kaki dulu sayang." Ajak ku, dan kami pun segera membersihkan diri bersama.
"Lihat ini, ada beberapa buku cerita anak punya keponakan Bunda. Ica pengen di bacain dongeng yang mana sebelum tidur?" Tanya ku, sambil menunjukkan beberapa buku cerita.
"Yang ini. . . Yang ini Bunda." Ucap nya antusias, sambil menunjuk salah satu buku.
"Oke kita mulai iya. Pada suatu hari di sebuah istana. . . " Aku pun mulai bercerita sambil sesekali menirukan suara hewan yang aku bisa.
. . . Akhirnya sang putri dan pangeran hidup bahagia, tamat deh!" Ucap ku sambil menutup buku cerita.
"Gimana seru kan?" Tanya ku dan ternyata Anisa sudah tertidur lelap sekali di pelukanku.
"Iya ampun udah tidur aja, ngegemisin banget deh!" Ucap ku, kemudian perlahan memindahkan nya ke bantal dan menyelimutinya.
"Selamat tidur anak cantik." Ucap ku sambil mencium kening Anisa dan kami pun tidur bersama makan ini.
Pagi hari nya, aku sudah bersiap dengan pakaian kerja ku. Namun ku lihat Anisa masih tertidur lelap sekali di ranjang, bahkan sinar matahari tidak mengganggu nya sama sekali.
"Sayang. . . Sayang. . . Ayo bangun. . . Sebentar lagi Ica harus sekolah, ayo bangun dulu Nak." Ucap ku, sambil mencium wajah Anisa bertubi-tubi.
"Geli. . . Hahaha . . . Geli. . ." Ucap Anisa yang kegelian, karena aku mencium dan menggelitiknya.
"Makanya ayo bangun! Udah siang sayang ku." Ucap ku.
"Iya . . . Iya ampun Bunda. . . Hahaha. . . Ini Ica bangun Bunda. . ." Ucap Anisa tertawa.
"Ayo Bunda mandikan." Ucap ku.
"Beneran Bunda?" Tanya Anisa dengan mata Bersinar.
"Bener dong! Masa Bunda bohong, ayo cepat bangun. Nanti kamu terlambat." Ucap ku, kemudian aku pun memandikan Anisa dan setelah itu aku pun memakaikan seragam sekolah nya.
"Jadi rambutnya pengen di ikat kaya gimana? Di kepang? Di kuncir kuda? Atau kaya gimana?" Tanya ku bingung.
"Di iket 2 bunda, terus di kepang." Ucap Anisa antusias.
"Siap laksanakan Tuan Putri." Ucap ku sambil tertawa.
"Selesai Tuan Putri, adalagi yang bisa Bunda bantu?" Tanya ku.
"Hahahaha. . . Bunda lucu deh! Sudah cukup, terimakasih Bunda." Ucap Anisa senang, kemudian mencium pipi ku.
"Sama-sama sayang nya Bunda, ayo kita sarapan." Ucap ku, kemudian kami keluar dari kamar dengan tertawa bersama.
"Wah asik sekali seperti nya?" Ucap seseorang tiba-tiba.
"Papaaa. . . " Teriak Anisa dan berlari ke arah Kak Aldi.
"Selamat pagi anak cantiknya Papa, sepertinya kamu senang sekali sayang?" Ucap Kak Aldi tersenyum melihat wajah Anisa yang bahagia.
"Tadi malem Ica di bacain dongeng sambil di peluk, terus Ica di bangunin tidur sambil di cium-cium. Hahaha. . . Geli banget Pa, habis itu Ica di mandiin sama Bunda dan di iket rambutnya deh. Ica cantik ngga yah?" Tanya Anisa antusias sekali.
"Tentu, Ica Anak ayah yang paling cantik." Ucap Kak Aldi dengan mata berkaca-kaca dan kemudian menatapku.
"Terimakasih banyak." Ucap kak Aldi tulus.
"Sama-sama Kak! Ayo kita sarapan bersama, nanti Ica terlambat sekolah." Ucap ku dan kami pun berjalan menuju meja makan bersama, ternyata sudah ada kedua orang tua ku.
"Om, Tante terimakasih banyak iya, mohon maaf kami merepotkan Om dan Tante." Ucap Kak Aldi merasa tidak enak.
"Sama-sama, kami tidak merasa di repotkan. Kami senang Ica mau menginap, lain kali menginap lagi iya sayang." Ucap Mama sambil mengelus pipi Anisa.
"Memang nya boleh Oma?" Tanya Anisa dan Mama pun menganggukkan kepala.
"Tentu boleh, kapan pun Ica ingin menginap datang saja iya sayang." Ucap Mama.
"Asiikk makasih banyak Oma." Ucap Anisa riang kemudian mencium pipi Mama dan Papa.
"Kalau begitu kami permisi dulu Om, Tante." Pamit kak Aldi.
"Iya Nak Aldi, hati-hati di jalan." Ucap Mama dan kami pun berjalan bersama menuju depan rumah.
"NADIRAAAA. . . MAS DATANG. . . BUKAIN GERBANHNYA. . . NADIRA SAYANG. . . NADIRAAAAAA. . ." Teriak seorang di balik pagar.
"Ya ampun pagi-pagi ada aja yang bikin ribut." Keluh ku kesal.
"Seperti nya kita pindah rumah untuk sementara waktu." Ucap Papa tiba-tiba, yang sepertinya sudah jengah dengan tingkah mantan suami ku Mas Tio, yang saat ini sedang berteriak di depan pagar.
"Mama setuju, benar-benar mengganggu sekali." Ucap Mama kesal.
"Biar Papa yang urus, kalian berangkat saja." Ucap Papa.
"Nak Aldi, Tante titip Nadira iya. Tolong antarkan dia ke kantornya dengan selamat, biar orang itu kami yang urus." Pinta Mama.
"Baik Tante, ayo masuk." Ucap Kak Aldi, sambil membukakan pintu mobil.
"Kalau gitu Ade berangkat dulu iya Ma, Pa. Assalamualaikum." Ucap ku pamit sambil mencium tangan Papa dan Mama, kemudian masuk ke dalam mobil.
"Om, Tante kami berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucap Kak Aldi yang juga mencium tangan kedua orang tua ku.
"Wa'alaikum salam, hati-hati iya." Ucap Mama dan Papa.
Setelah itu, kami pun berangkat menuju sekolah Anisa. Meski saat mobil yang aku tumpangi sempat di gedor oleh Mas Tio, namun kami tetap melanjutkan perjalanan.
"Makasih iya Bunda! Udah mau nganterin Ica ke sekolah, Ica sayang banget sama Bunda." Ucap Anisa sambil memeluk ku.
"Sama-sama sayang, kalau begitu Ica harus sekolah yang rajin iya. Nanti kapan-kapan Bunda jemput Ica, kalau hari ini Bunda banyak kerjaan di kantor. Maaf iya sayang!" Ucap ku menyesal.
"Beneran Bunda? Bunda mau jemput Ica?" Tanya Ica memastikan.
"Iya sayang, tapi nanti iya lain kali. Bunda ada meeting hari ini, maafkan iya Nak." Ucap ku menyesal.
"Ngga apa-apa kok! Ica udah seneng, janji iya! Kapan-kapan harus jemput Ica." Ucap Anisa sambil mengangkat jari kelingking nya.
"Bunda janji." Ucap ku dan kami pun menautkan jari kelingking kami bersama, kemudian berpelukan.
"Sudah! Sudah! Ayo masuk dulu! Nanti telat." Ucap Kak Aldi.
"Kalau gitu Ica masuk dulu, dadah Bunda. . . Dadah Papa. . ." Ucap Anisa setelah mencium tangan kami dan melambaikan tangan.