Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 42


Keesokan hari nya. . .


Aku terlambat bangun, karena semalam aku menangis seorang diri di kamar. Tak ingin keluarga ku tau, aku benar-benar merasa terpukul dengan semua yang terjadi. Sehingga aku berusaha untuk tegar di hadapan mereka dan menangis saat sendiri, menangis untuk terakhir kalinya demi laki-laki itu.


Tidak dapat di pungkiri, bahwa aku benar-benar sedih dengan keadaan ini. 4 lebih tahun bersama, dari mulai kami berkenalan hingga menikah. Pasti memiliki kenangan terindah yang tidak bisa ku lupakan, namun aku akan berusaha melupakan semua kenangan antara aku dan Mas Tio.


Aku akan memulai kehidupan yang baru, tanpa Mas Tio dan dengan status yang baru nantinya. Semoga aku dapat melewati semuanya.


Setelah bangun dan mandi, agar lebih fresh. Aku pun memutuskan untuk keluar, saat akan turun. Aku mendengar canda tawa dari Ruang Keluarga, tidak tau apa yang mereka bicarakan. Tetapi pasti sangat seru, hingga membuat tawa semua orang.


"Nah ini dia calon janda kita sudah bangun dari hibernasi." Ucap Kak Niko menyindir aku yang bangun terlambat dan aku dengan santai berjalan menghampiri Mama dan Papa, lalu duduk di tengah mereka.


"Maklum calon janda ini perlu istirahat yang cukup, untuk memulihkan kewarasan dulu." Celetuk ku dan mereka pun tertawa.


"Berarti semalem kamu ngga waras dong, Dek?" Tanya Mama menahan tawa.


"Ikh Mama ko bilang gitu!" Rengek aku pura-pura merajuk.


"Hahaha. . . Kamu yang ngomong! Ko nyalahin Mama!" Ucap Bang Naufal dengan tawa.


"Tau akh! Aku marah!" Ucap ku pura-pura merajuk.


"Calon janda ngga boleh marah-marah, nanti calon suaminya kabur tau rasa!" Ledek Kak Niko.


"Biar aja pada kabur, berarti ngga serius! Gitu aja repot, iya ngga Ma?" Ucap ku mencari pembelaan dan di jawab anggukan kepala oleh Mama.


"Tenang aja, kalau calon suaminya kabur semua! Abang siap daftar!" Ucap Bang Reza yang ntah sejak kapan ada di situ, seketika aku pun merasa malu.


Aku pikir di ruangan ini hanya ada keluarga ku saja, namun ternyata ada Bang Reza yang sedang berkunjung.


"Kalau calon nya Reza, Papa langsung setuju! Hahaha. . . Gimana Reza? Kamu mau jadi calon menantu Papa?" Tanya Papa terkekeh.


"Boleh itu Pa, Reza daftar nomor 1 iya Pa." Ucap Bang Reza dan kami semua pun tertawa, sedangkan aku memijit pelipis ku.


"Cerai aja belum, udah ada yang daftar! Hebat banget kamu Dek! Pake susuk iya kamu?" Celetuk Kak Niko.


"Iya aku pake susuk, kenapa? Mau pake susuk juga? Ayo Ade anter! Biar sekalian di susuk-susuk itu mulut lemes Kak Niko." Ucap ku sinis, dengan menatap tajam Kak Niko.


"Tusuk kali! Bukan susuk itu! Kamu kira ini mulut sate apa? Pake di tusuk-tusuk segala, dasar calon janda!" Ucap Kak Niko kesal.


"Udah. . . Udah kalian ini! Ngga akan ada habisnya, emang ngga malu di liat Reza?" Ucap Mama berusaha melerai kami.


"Ngga." Ucap kami berbarengan.


Krubukkkkk. . .


"Hahahaha. . ." Semua orang tertawa saat mendengar suara perut ku yang sudah berdemo ingin di isi, sedangkan aku malu dan menyembunyikan wajah ku di pelukan Mama.


"Kasian calon janda, ngga di kasih makan iya?" Ucap Kak Niko, sambil tertawa.


"Udah deh! Diem! Ade marah, jangan ngomong sama Ade lagi." Ucap ku pura-pura merajuk dan berjalan menghentak kan kaki keras menuju dapur.


"Lah calon janda marah, hahaha. . . Jangan marah Dek! Nanti 1 meja makan abis kamu makan semua kalau marah!" Teriak Kak Niko meledek ku, namun tidak aku gubris dan kemudian aku pun makan dengan lahap.


Agar kuat menjalani kehidupan yang kejam, yang ada di depan nanti. Harus kuat dan tegar, dan buktikan kalau tanpa dia aku bisa bahagia.


Setelah makan aku pun berniat untuk kembali ke kamar, namun tidak jadi. Karena Kak Niko menyeret ku ke taman, ternyata semua orang sedang berkumpul. Bahkan Kakak Ipar dan keponakan ku sudah berkumpul.


"Ikh! Lepas deh! Ade mau tidur lagi tau!" Ucap ku yang kesal karena di tarik paksa kerah baju ku, mau tidak mau aku pun mengikuti Kak Niko.


"Udah diem aja deh! Bawel banget kamu dek!" Keluh Kak Niko.


"Biarin! Lagian ini mau ngapain ke taman belakang segala?" Ucap ku kesal dan saat sampai d taman, betapa bahagianya aku melihat semua orang kumpul.


"Aaaahhhh. . . Kak Inaaaaa. . . Kak Mellllyyyyy. . . I Miss u!" Teriak ku sambil berlari menuju Kakak Ipar ku dan memeluk mereka berdua.


"Kamu ini lari-lari terus! Kaya anak kecil aja." Kesal Kak Gina istri Bang Naufal.


"Iya nih Mba, dia kan emang anak kecil kita." Ucap Kak Mely istri Kak Niko sambil terkekeh.


"Abis nya kangen banget tau! Emang Mba ngga kangen gitu sama aku yang cantik dan baik hati ini?" Ucap ku sambil bermanja di lengan Kak Gina, sedangkan Kak Mely mengelus lembut tangan ku.


"Ngga ko, kita ngga kangen sama kamu! Iya ngga Mel?" Ucap Kak Gina menggoda ku.


"Ikh! Ko gitu sih! Kenapa ngga ada yang kangen sama aku? MAMAAAAA. . . mereka jahat." Ucap ku merajuk dan menghampiri Mama yang sedang duduk memangku anak bungsu Kak Niko yang bernama Nissa, kemudian aku memeluk tangan Mama.


"Kamu ini sudah besar, kelakuan kaya anak kecil aja!" Ucap Mama sambil terkekeh.


"Biarin!" Ucap ku sambil tersenyum.


Hari ini kami habiskan untuk bercanda, bermain, makan dan masih banyak hal menyenangkan yang kami lakukan bersama. Karena jarang sekali kami semua bisa kumpul, Selva dan Dian tentu saja hadir.


Keponakan yang lucu-lucu dan sangat matre itu, membuat aku sangat bahagia dan juga kesal. Hahaha. . . Bagaimana tidak kesal?


Mau menggendong harus bayar. . .


Mau peluk harus bayar. . .


Mau cium harus bayar. . .


Matre sekali mereka itu, aku sampai geleng-geleng kepala.


"Fan sini, Tante yang gendong." Ucap ku kepada anak Kak Niko yang pertama, yaitu Fandy.


"NO!" Jawab Fandy.


"Ayolah! Udah lama tau, Tante ngga gendong kamu!" Ucap ku memelas.


"Tidak Tante, aku tidak mau!" Ucap Fandy yang sedang asik duduk di pangkuan Papa dan tak lama Kak Niko menghampiri Fandy dan membisikkan sesuatu.


"Kamu ko gitu sama Tante, nanti Tante sedih nih! Tante nangis Loch!" Ucap ku mengancam.


"Oke! Aku mau di gendong, tapi 1 menit 1.000.000 gimana Tan? Mau ngga?" Ucap Fandy yang membuat aku dan Papa terkejut, pasti Kal Niko yang meracuni pikiran anak kecil polos ini.


Hingga sore hari uang ku habis hampir 10 juta, hanya untuk peluk, cium dan gendong. Benar-benar mata duitan anak-anak Kakak ku semuanya, namun aku cukup terhibur dengan semua yang kami lewati bersama.