Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 36


Seperti biasa, aku terbangun sebelum subuh untuk membersihkan Rumah dan menyiapkan sarapan. Setelah itu aku melaksanakan shalat dan bersiap untuk berangkat kerja.


"Mas bangun, sudah siang." Ucap ku sambil menggoyangkan badan Mas Tio.


"Iya Dek." Ucap serak Mas Tio yang mulai bangun dari tidurnya.


Tanpa menunggu Mas Tio, aku pun berjalan keluar kamar. Menyiapkan sarapan yang sudah aku buat dan mencuci peralatan dapur yang kotor.


Sekarang aku kembali mengerjakan rutinitas yang kulakukan dahulu, mulai saat ini aku akan melakukan kewajiban ku sebagai istri lagi, tanpa memperdulikan apa pun yang Ibu Mertua ku katakan lagi.


"Dek." Panggil Mas Tio kepada ku yang sedang ada di dapur membuat minuman hangat.


"Iya Mas, ini kopi nya." Ucap ku seraya memberikan kopi yang biasa di minum Mas Tio setiap Pagi.


"Makasih, Dek. Tolong bangunkan Ibu, Dek. Ajak sarapan." Ucap Mas Tio.


"Iya Mas." Ucap ku, kemudian melangkah menuju kamar Ibu.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Ibu ayo sarapan." Ucap ku, namun tidak ada jawaban.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Bu. . . Ini sudah pagi, ayo sarapan." Panggil ku sekali lagi.


"Iya." Ucap Ibu pelan.


Ceklek. . .


"Ada apa sih! Pagi-pagi ribut banget!" Ucap Ibu kesal sambil menguap.


"Maaf Bu, Nadira mau ngajak Ibu sarapan bersama." Ucap ku.


"Ibu masih ngantuk." Ucap Ibu, kemudian menutup kembali pintu kamar dan aku pun berjalan kembali ke meja makan.


"Mana Ibu dek?" Tanya Mas Tio.


"Ibu masih ngantuk katanya Mas." Ucap ku.


"Iya sudah! Ayo kita sarapan bersama, nanti Mas antar ke kantor." Ucap Mas Tio dengan senyum.


"Iya Mas." Aku pun mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Mas Tio, barulah aku mengambil untuk ku.


Kami pun sarapan bersama dengan hening, hanya denting sendok yang terdengar. Setelah selesai, aku pun merapikan semuanya dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Sudah siap, Dek?" Tanya Mas Tio.


"Sudah Mas." Jawab ku.


"Sebentar Mas pamit dulu ke Ibu." Ucap Mas Tio.


"Iya sudah, aku ke depan dulu Mas." Ucap ku kepada Mas Tio yang sudah berjalan ke arah kamar Ibu.


Sambil menunggu Mas Tio, aku pun membuka Grup Keluarga Rempong. Grup khusus untuk keluarga inti kami saja, kami sering membahas masalah yang random, tetapi cukup menggelitik perut.


Aku membaca setiap pesan masuk yang ada, seketika aku tersenyum dan tertawa sendiri membaca nya. Hingga aku tak sadar, Mas Tio sudah berada di sampingku.


"Chat sama siapa Dek?" Tanya Mas Tio curiga.


"Lagi baca percakapan di grup." Ucap ku sambil menunjukkan apa yang aku lihat.


"Oh. . . Iya sudah, ayo kita berangkat." Ucap Mas Tio menggandeng tangan ku.


Kami pun berangkat menuju Perusahaan tempat aku bekerja, setelah sampai aku pun berpamitan untuk masuk ke dalam.


"Kita sudah sampai, Dek." Ucap Mas Tio.


"Iya Dek, kamu semangat kerjanya iya!" Ucap Mas Tio dengan senyuman manis.


"Iya Mas, aku masuk dulu. Assalamualaikum." Ucap ku pamit untuk segera masuk ke dalam.


"Wa'alaikum salam." Jawab Mas Tio yang melihat punggung ku semakin menjauh.


Aku pun berjalan masuk ke dalam Perusahaan dan sesekali menyapa karyawan yang melintas. Hingga tibalah di lantai tertinggi Perusahaan ini, tempat aku bekerja.


"Selamat Pagi Bu." Sapa Sekretaris Dian, yang menyambut ku datang.


"Selamat Pagi juga." Ucap ku kemudian berjalan menuju Ruang Direktur di ikuti Sekretaris Dian di belakang ku, membawa beberapa berkas.


Ceklek. . .


Pemandangan yang pertama kulihat saat membuka pintu adalah Selva yang sedang serius mengerjakan dokumen. Sungguh pemandangan yang langka bagiku, melihat dia tampak fokus dengan dokumen di depan nya hingga tidak sadar ke hadiran ku.


"Ekhmm. . . Serius sekali Ibu Direktur ini!" Sindir ku.


"Mba kapan datang?" Ucap Selva terkejut, karena aku sudah berada di sana.


"Barusan." Ucap ku langsung mendudukan badan ku di sofa.


"Mba baik-baik aja?" Tanya Dian, yang melihatku sedang memejamkan mata.


"Iya begitulah." Ucap ku tersenyum getir, mereka pun menghampiri ku dan memeluk ku.


"Mba yang sabar iya! Papa minta Mba kembali ke sana, pasti ada tujuannya. Mba jangan menyerah, ada kami yang akan selalu mendukung Mba." Ucap Dian bijak.


"Mba sendiri ngga tau mau di bawa ke mana pernikahan ini? Jika memang akan berlanjut, Mba akan menjalani nya sebaik mungkin. Namun jika memang pernikahan Mba akan berakhir, anggap saja sekarang adalah pengabdian terakhir Mba kepada mereka." Ucap ku sendu.


"Udah ngga perlu sedih, mending sekarang kita shopping yuk! Kemaren kan ngga jadi jalan-jalannya, seenggaknya shopping sebentar boleh lah." Ucap Selva cengegesan.


"Maaf iya! Gara-gara Mba kalian ngga jadi berangkat." Ucap ku sendu.


"Niat kita jalan-jalan juga demi Mba, biar Mba melupakan sejenak masalah Mba. Ngga mungkin orang-orang sibuk seperti Papa, Bang Naufal dan Kak Niko bisa ngambil cuti di hari kerja cuman untuk jalan-jalan." Ucap Dian menenangkan aku.


"Kata siapa? Aku juga kan perlu refreshing tau!" Ucap ketus Selva.


"Asal kalian tau iya! Aku itu sudah capek-capek mempersiapkan semuanya, dari mulai baju tidur, baju santai, baju jalan-jalan, jaket, sepatu, dll yang cocok di pake ke Gunung. Berhubung ngga jadi! Mba harus traktir aku Shopping dan ke Salon biar badan aku Fresh lagi." Ucap Selva menggebu-gebu.


"Bukannya tadi kamu lagi fokus mempelajari berkas? Sampai Mba datang juga kamu ngga sadar, kenapa sekarang malah pengen shopping? Mending kamu kerjain berkas-berkas itu dulu, baru kita shopping dan ke salon." Ucap ku dengan tersenyum geli.


"Mba tenang aja, berkas-berkas itu ngga perlu hari ini banget ko! Bisa di kerjain besok, ayo sekarang aja kita perginya." Ucap Selva antusias.


"Ekhmmm. . . " Dian pun berdehem.


"Mohon maaf Ibu Selva yang terhormat, akan tetapi berkas yang ada di meja Ibu semuanya DEADLINE HARI INI!" Ucap Sekretaris Dian tegas.


"Ikh! Kamu itu ngga asik banget deh! Mending shopping dulu, ini bisa di kerjain besok lagi. Ayolah." Selva pun merengek sambil menggoyangkan tangan Dian.


"TIDAK BISA!" Ucap Sekretaris Dian penuh penekanan.


"Ibu sudah menunda pekerjaan ini berhari-hari! Jadi saya mohon kembali ke meja Ibu dan kerjakan semua berkas yang ada!" Ucap Sekretaris Dian formal.


"Nyebelin banget kamu!" Ucap Selva kesal, namun menurut dengan perkataan Dian dan kembali mengerjakan berkas, walaupun masih mengomel.


"Udah jangan mengomel terus, kerjain yang bener. Nanti Mba bantu, kalau selesai cepat kita k Mall." Ucap ku menyemangati Selva.


"Beneran Mba?" Tanya Selva yang semula ekspresi kesal seketika berubah menjadi bersemangat.


"Tentu saja! Kalau pekerjaan kalian selesai cepat, kita semua ke Mall. Mba yang traktir." Ucap ku sambil tersenyum.


Dan tanpa banyak bicara Selva pun mengerjakan berkas yang ada, dengan sangat serius dan saat aku berbalik untuk mencari Dian. Ternyata Dian sudah keluar, untuk segera menyelesaikan tugas nya.