
Keesokan harinya. . .
Hari ini hari yang sibuk untuk ku, karena kemarin menunda meeting. Jadi hari ini harus meeting di luar kantor dengan beberapa kolega, lelah rasanya. Namun, cukup puas dengan hasil meeting yang di dapatkan dan kami pun kembali ke Perusahaan.
Namun, saat mobil berhenti di lobby depan Perusahaan. Nampak terjadi keributan di dalam, tak tahu apa yang terjadi. Membuat kami buru-buru keluar dari mobil, untuk melihat apa yang terjadi dan dari jauh aku mendengar suara wanita yang tak asing lagi sedang berteriak-teriak.
"KALIAN JANGAN SEENAK NYA MENGUSIR SAYA! SAYA BERHAK ATAS PERUSAHAAN INI! ASAL KALIAN TAU! PERUSAHAAN INI JUGA MILIK SUAMI SAYA! ITU ARTINYA SAYA BERHAK ATAS PERUSAHAAN INI! SAYA BISA MEMECAT KALIAN SEMUA DARI SINI! AWAS! JANGAN HALANGI SAYA! MINGGIR!" Teriak Sifa dengan keras, membuat aku bingung dengan kata-katanya.
"Kamu denger dia bilang apa?" Tanya ku kepada Dian dan langsung menganggukan kepalanya.
"Denger Mba! Dia bilang dia berhak atas perusahaan ini? Kan lucu iya Mba, dasar perempuan gila!" Ucap Dian sambil menggelengkan kepala, kami saat ini masih berada di depan sambil melihat keributan dari jauh.
"MINGGIR KALIAN! LIAT SAJA KALIAN AKAN SAYA PECAT!" Teriak Sifa lagi, sambil mengamuk.
"Wah! Mba liat! Dia ngamuk." Ucap Dian sambil menunjuk ke arah Sifa.
"Ampun deh! Kemarin suami nya yang ke sini! Sekarang istrinya! Besok siapa nya yang ke sini? Ketua RT nya?" Ucap ku kesal, sedangkan Dian hanya terkekeh lucu mendengar ucapan ku.
"Mba inget ngga?" Tanya Dian.
"Inget apa?" Ucap ku penasaran.
"Dih! Sabar dong! Ini baru mau ngomong, udah di potong aja!" Ucap Dian kesal.
"Hehehe. . . Iya maaf deh! Ayo lanjut ngomong nya." Ucap ku sambil duduk di kursi yang tersedia menonton pertunjukan yang ada di depan sana.
"Kemarin kan Pak Tio ke sini, nanyain kenapa Mba ngga bilang kalau Mba pemilik Perusahaan ini dan sekarang istrinya ke sini bilang dia berhak atas perusahaan ini. Apa jangan-jangan mereka berpikir, perusahaan ini di bangun saat Mba dan Pak Tio menikah? Dan bermaksud menggugat Mba? Dengan harta Gono gini?" Ucap Dian menjelaskan.
"Bisa jadi, apa yang kamu bilang benar. Soalnya yang aku dengar Sifa di pecat oleh Perusahaannya dan Mas Tio di turunkan jabatannya, berarti mereka ngga punya penghasilan yang cukup dong. Dan setelah mereka tau Mba pemilik Perusahaan ini, mereka bermaksud meminta bagian dari Perusahaan ini.
. . .Mereka kira Mba bodoh kali iya? Yang ada mereka bisa mendekam di penjara atas tuduhan palsu, bener-bener ngga tau malu iya mereka itu." Ucap ku sambil menggelengkan kepala tidak mengerti jalan pikiran mereka.
"Eh. . . Itu Mba perempuan itu ke sini, ayo kita sembunyi." Ucap Dian, menarik ku. Namun aku menahannya dan menggelengkan kepala, lalu aku melipat tangan ku di dada.
"CEPAT PERGI DARI SINI! SEBELUM KAMI BERBUAT KASAR!" Teriak Satpam Perusahaan, yang menyeret tangan Sifa menuju luar.
"Wah. . . Wah. . . Wah. . . Siapa gerangan yang membuat keributan di Perusahaan ku ini?" Ucap ku santai, sambil berjalan perlahan mendekati Sifa yang masih di cekal tangannya oleh Satpam Perusahaan dan dia pun memelototi ku.
"Ada perlu apa iya? Perempuan perebut suami orang, ada di Perusahaan kami ini? Mohon maaf, Perusahaan kami tidak menerima pelakor seperti anda. Jadi silahkan anda keluar baik-baik dari Perusahaan ini dan jangan pernah kembali lagi." Ucap ku, kemudian berjalan melewatinya dan terhenti sejenak mendengar ucapan nya yang tidak masuk akal.
"Baik! Silahkan anda buktikan, Pak Satpam tolong antar perempuan itu keluar dari sini. Terimakasih banyak sebelumnya." Ucap ku ramah, sambil tersenyum.
"Baik Bu, mohon maaf atas keributan ini." Ucap Satpam Perusahaan dan aku hanya menganggukan kepala, kembali berjalan.
"NADIRAAAA! AWAS KAMU! SAYA AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGAN KAMU!" Teriak Sifa yang di tarik oleh Satpam Perusahaan.
Ting. . .
"Huft. . ." Helaan nafas ku.
"Yang sabar iya Mba." Ucap Dian sambil memeluk ku, saat kami keluar dari lift dan aku hanya menganggukan kepala.
"Meeting selanjutnya di lanjutkan besok iya! Seperti nya Mba ngga akan konsen." Ucap ku.
"Baik Mba, biar Dian atur semua. Lebih baik Mba istirahat dulu saja, yang lain biar Dian yang kerjakan iya Mba." Ucap Dian yang memapah ku menuju Ruangan.
"Sudah! Mba baik-baik saja, kamu jangan khawatir. Malah kalau Mba diem aja, nanti Mba mumet sendiri. Mending menyibukkan diri sendiri, iya ngga?" Ucap ku sambil bercanda.
"Baiklah kalau begitu, gimana Mba saja. Yang penting jangan memaksakan diri iya, biar Dian pesan makanan buat Mba iya. Atau mba pengen sesuatu?" Tanya Dian.
"Ide bagus! Mba perlu banyak makan dan minuman segar, kamu pesankan apa saja deh! Nanti Mba makan ko!" Ucap ku sambil tersenyum.
"Iya sudah kalau begitu, Dian keluar dulu iya Mba. Nanti kalau makanan sudah datang Dian bawa ke sini." Ucap Dian.
"Oke! Makasih banyak iya." Ucap ku sambil tersenyum.
"Sama-sama Mba." Ucap Dian kemudian keluar dari Ruangan ku, setelah di rasa Dian pergi.
Tanpa terasa air mata ku mengalir, mungkin bawaan hamil. Aku menjadi lebih sensitif, meski berusaha kuat. Namun aku tetap seorang wanita yang butuh sandaran, hamil tanpa suami mendampingi.
Apalagi setiap hari ada saja yang terjadi, membuat aku benar-benar rapuh. Ingin sekali aku berteriak dan memaki mereka, namun semua tidak akan kembali seperti semula. Kini hidup ku hanya untuk buah hati ku, dan aku akan berusaha terus kuah untuk nya.
'Semoga esok lebih baik lagi.' Ucap ku lirih dalam hati.
Selalu berharap esok hari tidak ada kejadian yang akan terus membuat aku semakin rapuh, dan selalu berharap buah hati ku tumbuh sehat. Meski banyak masalah dan cobaan yang datang menerpa, saat dia dalam kandungan.