Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 21


Di Kamar. . .


Aku pun masuk kedalam kamar ku, dan duduk di tepi ranjang. Rasa lapar yang kurasakan, sudah hilang dengan semua yang terjadi hari ini.


Duduk termenung, mengingat kembali memori kebersamaan aku dan Mas Tio dulu. Dari awal pernikahan yang sangat bahagia, Mas Tio yang selalu memberikan perhatian nya padaku. Hingga Ibu datang merubah segalanya dan kini, Mas Tio menduakan ku.


Tanpa sadar air mata ku mengalir, sesakit ini kah di khianati?


Ingin rasanya aku marah, dan melabrak mereka. Tapi apa yang akan aku dapatkan?


Aku tak akan mendapatkan apa pun.


Mulai detik ini, aku akan membentengi diriku. Agar kuat menerima kenyataan pahit, yang akan aku terima ntah esok atau nanti.


Kuat. . . Aku harus kuat. . .


Ku rebahkan badan ku di ranjang, tanpa terasa aku pun tertidur nyenyak sekali. Hingga aku terbangun esok hari nya, yang seperti biasa. Aku bangun sebelum subuh, namun kali ini aku membersihkan rumah seperti dulu.


Karna sudah tak sanggup melihat keadaan rumah yang baru beberapa hari ini tidak ku bersihkan. Aku pun memasak sarapan dan bergegas kembali ke kamar.


Ternyata Mas Tio sudah terbangun.


"Dari mana kamu, Dek? Sepagi ini udah keluar?" Tanya Mas Tio serak karena baru bangun tidur.


"Loh Mas udah bangun? Maaf iya jadi ke bangun gara-gara aku." Ucap ku merasa bersalah.


"Ngga ko, tadi Mas ke bangun sendiri. Pas Mas lihat, kamu keluar kamar. Kamu abis ngapain jam segini?" Tanya Mas Tio penasaran.


"Tadi aku beres-beres rumah sama masak dulu, Mas." Ucap ku jujur.


"Kamu bangun sepagi ini buat bersihin rumah?" Tanya Mas Tio tak percaya.


"Iya kalau ngga jam segini, nanti Mas ke buru bangun tidur. Terus aku ngga bisa melayani Mas sarapan." Ucap ku santai.


"Tunggu! Jadi selama ini kamu yang bersihin rumah dan juga masak? Bukan ibu?" Tanya Mas Tio penasaran.


"Menurut Mas sendiri gimana? Udah iya Mas aku mau mandi dulu." Ucap ku sambil melangkah menuju kamar mandi.


Ku coba terus bersabar, menghadapi semua ini. Perlahan-lahan semuanya akan terbongkar dengan sendirinya. Semoga saat semuanya terbongkar, rumah tangga kita masih bisa di perbaiki.


Mungkin semuanya terlihat seperti biasanya, namun ada sesuatu hal yang kurasakan hilang. Kehangatan rumah tangga yang dulu ku rasakan, kini sudah benar-benar hilang.


Tidak ada lagi suami yang pengertian, yang selalu mengutamakan istrinya, dan tidak ada lagi suami yang memberikan kecupan di kening lagi.


Kebiasaan kecil pun lambat laun hilang, yang ada hanya menjalankan formalitas sebagai suami dan istri. Bahkan untuk berhubungan badan pun, sudah beberapa bulan ini tidak pernah terjadi.


Semakin sakit saat setiap hal rutin yang biasa dilakukan perlahan hilang. Mungkin Mas Tio tidak menyadari, namun kini rumah tangga ku terasa semakin dingin.


Sabar . . . Dan terus sabar. . .


Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku pun keluar kamar mandi untuk bersiap. Namun ku lihat, Mas Tio tidak ada di dalam kamar dan aku tak tau ke mana perginya.


Ceklek. . .


"Dek, kamu sudah selesai iya? Iya udah Mas mandi dulu." Ucap Mas Tio berjalan menuju kamar mandi.


"Iya Mas." Jawab ku singkat dan terus berdandan, kemudian aku membuka laci makeup ku. Di sana aku simpan uang darurat, yang selalu aku sisihkan dari uang gajih yang Mas Tio berikan.


Aku pun menghitung nya, ternyata ada 4.600.000. Aku pun mengambilnya dan akan aku berikan kepada Ibu Mertua ku di depan suami ku nanti.


Kemudian aku keluar kamar, menuju dapur untuk menyiapkan sarapan yang sudah aku buat. Bergegas aku merapikan semua nya di meja, sebelum ibu keluar kamar.


"Iya Mas, sebentar." Ucap ku yang sedang mengaduk kopi dan teh manis, setelah selesai aku pun membawa nya ke meja makan. Tak lama ibu pun datang menghampiri kami.


"Wah kamu pesen di mana ini Tio? Lengkap gini sarapannya!" Ucap Ibu Mertua ku, sambil melihat menu makanan yang tersedia.


"Nah, tiap hari aja kamu pesen kaya gini. Jadi ibu ngga perlu repot-repot masak." Ucap Ibu Mertua ku lagi.


"Ayo makan." Ucap Mas Tio kesal dengan ucapan ibu.


Kami pun makan dengan tenang, hanya ada denting sendok yang terdengar. Hingga kami menyelesaikan sarapan kami.


"Ibu." Panggil Ku.


"Apa?" Jawab ibu ketus.


"Maaf Bu, uang yang ibu minta ngga ada. Uang simpanan aku cuman ada 4.600.000." Ucap ku sambil menyimpan uang itu di meja makan dan ku lihat Ibu serta Mas Tio menghentikan aktivitas mereka.


Ku lihat mata ibu bersinar dan segera mengambil uang itu di meja.


"Iya udah ngga apa-apa, berarti kamu masih utang 400.000 ke ibu iya." Ucap ibu sambil menghitung jumlah uang yang aku berikan.


"Uang buat apa itu Bu?" Tanya Mas Tio penasaran dan ibu pun tersentak kaget.


"M-m a-nu T-io. . ." Ibu menjawab dengan gelagapan.


"Itu loh Mas, kemaren ibu minta uang ke aku. Kan Mas sendiri yang bilang kalau uang bulanan yang aku kasih ke ibu kecopetan, dan aku juga lupa ngga ngasih uang ke ibu buat gantiinnya. Katanya kemaren keperluan rumah habis semua Mas, dan ibu minta uang 5 juta. Cuman uang aku ada 4.600.000 doang Mas, itu juga uang emergency yang dulu aku ceritain ke Mas." Ucap ku sambil tersenyum, sedangkan Ibu Mertua ku tampak memberikan ku tatapan tajam.


"Udah kamu simpan aja uang nya, Dek! Udah Mas ganti ko waktu itu uang nya, iya kan bu? Tio kan udah kasih ibu uang, kenapa minta uang lagi ke Nadira?" Ucap Mas Tio heran.


"M-m ngga ko, ibu ngga minta. Mungkin Nadira salah denger." Elak Ibu Mertua.


"Masa sih Bu? Bukannya ibu semalem juga bahas tentang pembantu juga! Aku yakin ngga salah denger ko Bu." Ucap ku pura-pura polos.


"Pembantu buat apa dek?" Tanya Mas Tio heran.


"It-. ." Ucapan ku di potong oleh Ibu Mertua.


"Udah ngga usah di bahas, mending sekarang kalian berangkat kerja. Udah siang ini." Ucap Ibu Mertua mengalihkan pembicaraan.


"Iya Bu." Ucap ku dengan senyum mengejek.


"Terus uang itu gimana Mas? Mau tetep jadi uang emergency atau biar buat ibu aja?" Tanya ku dan ku lihat ibu melotot kepada ku.


"Udah kamu simpan aja, Dek! Lagi pula itu udah Mas kasih ke kamu kan." Ucap Mas Tio.


"Iya udah deh, Mas transfer ke rekening aku aja iya. Aku ngga mau pegang uang cash, paling nanti aku pakai buat isi saldo go**y aja Mas. Saldo aku abis soalnya." Ucap ku.


"Oke, Mas transfer sekarang iya." Ucap Mas Tio.


Dan tak lama ada notifikasi masuk ke rekening ku dan go**y ku.


"Udah masuk Mas, makasih banyak iya." Ucap ku dengan senyuman manis.


"Sama-sama, Dek. Bu uang nya ibu pegang aja, buat bulan depan. Jadi bulan depan aku ngga ngasih uang bulanan lagi iya Bu." Ucap Mas Tio dan di jawab anggukan kepala oleh Ibu Mertua yang masih syok dan kesal.


Ingin rasanya aku tertawa melihat ekspresi wajah Ibu Mertua ku yang menahan kesal, aku pun memberikan senyuman mengejek.


"Iya udah Bu, kita berangkat iya. Assalamualaikum." Ucap kami pamit kepada Ibu.