Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 74


Pagi hari. . .


Saat ini aku sedang berjalan-jalan santai di taman dekat Rumah ku, bersama beberapa orang pekerja di Rumah. Berusaha agar tidak stress, serta mempermudah saat proses melahirkan ku nantinya.


Kini kami pun duduk di kursi taman yang di sediakan dan memberikan aku minum, agar aku tidak dehidrasi. Saat sedang asik menikmati pemandangan dan menghirup udara segar, tiba-tiba handphone ku berdering.


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


Kak Aldi Memanggil. . .


Segera aku mengangkatnya dan tanpa di duga, suara merdu seorang anak perempuan menyapaku dengan riang gembira. Membuat aku ikut tersenyum dari sini, meski dia tidak melihatnya.


[Assalamualaikum Bunda! Bunda ke mana aja sih? Ica kangen banget sama Bunda! Bunda sibuk ngga? Ica pengen ketemu bunda, boleh kan? Ica main iya ke Rumah bunda! Nanti kita main bareng, Ica juga pengen di suapi Bunda lagi.] Ucap nya panjang lebar, membuat aku terkekeh.


[Sayang pelan-pelan bicaranya, kasihan tantenya pusing denger kamu bicara.] Tegur Kak Aldi.


[Maaf Pa.] Ucap Anisa menyesal.


[Wa'alaikum salam sayang nya bunda, maafin iya sayang. Bunda lagi banyak kerjaan banget kemarin-kemarin, jadi ngga sempet hubungi kamu Nak! Maafkan bunda iya?" Ucap ku menyesal.


[Iya Bunda, Ica maafin deh! Ica hari ini libur sekolah Bunda, ini ayah lagi ajak Ica jalan-jalan di taman loh! Bunda mau ikut ngga? Kita piknik Bunda.] Ajak Anisa penuh semangat.


[Wah kebetulan dong! Bunda juga habis jalan-jalan pagi di taman dekat Rumah bunda, ini lagi duduk di kursi taman. Kalau Ica ada di taman di mana?] Tanya ku.


[Papa Bunda ada di taman juga, ayo cari Papa cepetan] Rengek Anisa.


[Iya iya! Kita cari, tanyain ke Bunda nya ada di sebelah mana? Nanti kita ke sana] Ucap Kak Aldi yang terdengar.


[Bunda. . . Bunda. . . Bunda di sebelah mana? Ayo cepetan Bunda di mana? Ica kangen.] Rengek Anisa.


[Kamu nya diam dulu dong Nak! Gimana Bunda nya mau jawab? Kalau Ica ngomong terus.] Ucap Kak Aldi, dan aku tersenyum mendengar perdebatan mereka.


[Iya deh! Pa, Bunda sayang. Bunda di sebelah mana? Ica ke situ iya Bunda.] Ucap Anisa.


[Hahaha iya ampun anak nya Bunda, kayanya udah ngga sabar banget ketemu Bunda. Ica ke sini aja, Bunda lagi duduk di bangku taman yang dekat air mancur.] Ucap ku.


[Cepetan Papa gendong, itu Bunda nungguin. Ayo jalan yang cepet.] Ucap Anisa kepada Kak Aldi yang ku dengar dari sambungan telpon.


[Itu itu di sana Papa, cepetan jalannya.] Ucap Anisa dan aku pun melirik ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan mereka, kemudian aku pun melambaikan tangan.


"Turun Papa. . . Turun. . ." Rengek Anisa yang ada di gendongan Papa nya.


"Sabar sayang." Ucap Kak Aldi, kemudian menurunkan Anisa dan Anisa pun langsung berlari ke arah ku yang sedang duduk.


"Bundaaaaa. . . " Teriak Anisa, kemudian memeluk ku.


"Bunda Ica kangen banget sama Bunda." Ucap Anisa dalam pelukan ku.


"Ayo Nak duduk, kasian Bunda nya." Pinta Kak Aldi dan Anisa pun pindah, duduk di kursi sebelah ku.


"Maaf iya Dira, jadi mengganggu kamu. Anisa pengen beli bubur ayam di sini, sekalian jalan-jalan. Tau nya kamu ada di sini juga." Terang Kak Aldi.


"Iya ngga apa-apa Kak, lagian aku juga cuman jalan-jalan santai aja kok! Malah seneng banget di temenin Ica gini." Ucap ku sambil merangkul Anisa.


"Bunda sama siapa ke sini?" Tanya Anisa.


"Itu sama Om dan Tante yang kerja di Rumah Bunda, soalnya kalau sendirian Bunda takut. Hehehe. . ." Ucap ku sambil tertawa.


"Kasian Bunda, coba Bunda telpon Ica. Kan Ica temenin Bunda dari tadi, Bunda udah makan belum?" Tanya Anisa perhatian.


"Kebetulan Bunda belum makan, gimana kalau kita cari makanan di sini?" Ajak ku.


"Asiiikkkk. . . Ayo Bunda, bubur ayam nya enak loh! Bunda, Ica pernah nyobain. Ayam nya banyak menggunung Bunda, pasti bunda suka deh!" Ucap Anisa antusias.


"Oh! Iya? Seperti nya enak sekali, ayo kita ke sana." Ucap ku, kemudian kami pun berjalan bersama menuju penjual bubur ayam.


"Penuh banget Bunda, kita duduk di mana?" Tanya Anisa sedih, karena memang penuh sekali yang membeli bubur ayam ini.


"Sebentar, biar Mamang carikan kursi dulu." Ucap Mang Eman, tukang kebun ku.


"Makasih iya Mang." Ucap ku, sambil menunggu kursi. Kami pun memesan bubur ayam.


"Pak bubur ayam nya 5 iya, makan di sini." Ucap ku kepada penjual bubur ayam.


"Campur semua Neng?" Tanya penjual bubur ayam, sambil tetap fokus membuat pesanan yang lain.


"Yang 3 campur, yang 1 jangan pakai daun seledri atau yang hijau-hijau. Kalau yang 1 lagi, sebentar Pak! Anisa suka pake apa aja?" Tanya ku.


"Pake ayam doang bunda, yang banyak ayam nya." Ucap Anisa antusias, aku pun melirik ke arah Kak Aldi sambil mengangkat alis ku bingung.


"Jangan pakai daun seledri, sama kacang." Ucap Kak Aldi yang mengerti maksud ku.


"Yang 1 lagi jangan pakai daun seledri dan kacang iya Pak." Ucap ku.


"Baik Neng! Di tungg-u. . . Eh Neng Dira! Mamang kira siapa! Sebentar atuh iya, habis ini mamang buatkan. Aduh kursinya penuh semua Neng! Di tikar mau ngga neng? Biar mamang pinjam ke penjual sebelah." Ucap Penjual bubur ayam.


"Ngga perlu Mang, udah bikinin aja dulu itu pesenan yang lain. Tadi Mang Eman lagi nyari kursi dulu, kalau begitu kita nunggu di situ iya Mang." Ucap ku sambil menunjuk arah kami menunggu.


"Syukur atuh kalau begitu, sebentar iya Neng! Mamang bikin yang spesial untuk Neng Dira, anu bageur tea." Ucap Penjual bubur ayam dan aku hanya tersenyum, kemudian kami pun menuju tempat yang aku tunjuk tadi.


Dan tak lama Mang Eman datang membawa 5 buah kursi, ternyata meminjam dari penjual yang ada di sana. Kami pun sarapan bersama, dan menikmati pemandangan di taman. Dengan Anisa yang bermain bersama Mang Eman dan Bi Surti, sungguh pemandangan yang menyenangkan.


"JADI KAMU DI SINI!" Marah seorang perempuan ke arah kami, dan membuat Kak Aldi terkejut.