Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Extra Part


“Hati-hati Humaira, nanti jatuh. Kupu-kupunya tidak akan berhenti meskipun kau teriaki sampai habis suaramu” Teriak laki-laki kecil yang sedang mengawasi adiknya.


“Hati-hati sayang, jangan lari-larian” Ucap Stella ketika melihat anak keduanya sedang berlarian di halaman belakang rumah mereka.


Melihat putra dan putrinya tertawa bersama membuat hati Stella menghangat. Keluarga kecilnya ada dalam suatu kesederhanaan yang begitu indah menurutnya.


Bug


“Awww” Rintih gadis kecil itu setelah lututnya menerima hadiah dari tanah yang dijatuhi.


Dengan begitu, Stella langsung berlari menuju putrinya.


“Adek, lihat keluar darahnya. Apa itu sakit? Biar kakak tiup, jangan menangis yaaa” Ucap anak lelaki berusia sekitar 5 tahun itu, meniup bagian yang terluka dari adiknya, sesekali mengelus kepala adiknya agar tenang.


“Dalahnya cidak mau belhencii, kaak. Huaaa, apa nanci dalahnya akan beku dicana?” Sahut anak perempuan itu dengan tangisnya, meskipun masih belum bisa mengatakan “R” dan “T” juga “S” yang benar, dia cukup banyak berceloteh dalam tangisannya.


“Tidak, itu bunda sudah kesini. Bunda kan dokter kita yang paling hebat, pasti akan sembuh” Ucap sang kakak.


“Nak, Humaira kenapa sayang?” Tanya Stella setelah tiba dihadapannya anaknya.


“Cadi Humaila cidak melihat ada bacu dicana”, gadis itu menunjuk batu yang tida jauh dari tempatnya tersandung, “Dia jahac bunda, ayo malahi bacunya”.


Sekuat tenaga Stella mencoba menahan senyumnya yang mungkin bisa saja akan meledakkan tawa, “Sayang, batunya tida bersalah. Kan tadi bunda sudah bilang untuk tidak berlari-larian, kak Arsyad juga sudah memperingatkan bukan?” Ucap Stella.


Gadis kecil yang dinggil Humaira itu mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk, “Maafin Humaila bunda, kak Al” sahutnya lagi.


“ARRRRRRR, buka Alllll, adek” Protes Arsyad ketika adiknya yang belum bisa mengatakan “R” itu terus memanggilnya dengan sebutan yang salah.


“Allllll” Gadis kecil berusia 2,5 tahun itu mencoba menirukan kakaknya tapi, nihil. “Memang cidak bica kaaak” Protesnya pada sang kakak.


“Kalau tidak mau belajar, nanti jadi cadel loh” Sahut Arsyad, menjahili adiknya.


“Cidak, kakak dulu pacci gini juga kan? Iya kan buda?” Humaira tidak mau kalah, bahkan meminta pembelaan dari sang ibunda.


Stella yang diam sejenak, memperhatikan perdebatan kecil anak-anaknya hingga Humaira mengajaknya berbicara, Stella menganggguk, menyeujui bahwa Arsyad pun dulu juga sama seperti Humaira ketika kecil “Sudah, ayo biar bunda obati dulu ini. Kakak, waktunya mandi sore. Mandi sendiri, ya?”


“Siap ibu negara” Jawab Arsyad sembari mengangkat tangannya sebagai tanda hormat atas perintah sang ibunda, lalu masuk ke kamarnya untuk mandi.


...***...


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Stella.


Wanita itu berdiri untuk menyambut kepulangan suaminya, membawakan tas kantor Azam lalu mencium punggung tangan sang suami.


“Anak-anak dimana, sayang?” Tanya Azam ketika tidak melihat ke-dua anaknya di ruang keluarga.


“Arsyad sedang mengerjakan tugas sekolahnya, ditemani dengan Humaira yang selalu ingin tau” Ucap Stella.


Stella menemani Arsyad dan Humaira dari kejauhan sejak tadi. Bukan karena tidak ingin mengajari Arsyad atau apa, hanya saja lelaki kecil itu selalu mengatakan, “Biar Arsyad sendiri dulu, bunda. Nanti kalau sudah selesai, baru laporan ke bunda” ucapnya.


Azam mengangguk, mumpung anak-anaknya sedang tidak melihat, lelaki itu malah mencium kening Stella cukup lama lalu, mengecup bibir istrinya singkat, “Aku mau melihat anak-anak dulu” ucapnya.


Stella tentu hanya mengikuti suaminya dari belakang.


“Ini apa kak?”


“Ini bebek”


“Wek wek wek” Sahut Arsyad, dengan sabar dia menjawab setiap perkataan yang dilontarkan oleh sang adik, meskipun dirinya sendiri sedang ingin fokus mengerjakan tugas sekolahnya di taman kanak-kanak.


“Kalau ini?” Tanya Humaira lagi, menunjuk salah satu gambar yang memang sudah di tempel pada suatu papan besar. Memang itu disediakan oleh Azam agar putranya bisa belajar tanpa membuka buku.


“Itu namanya ayam, dek. Bunyinya begini kukuruyuk” Jawab Arsyad.


“Kukukukuk” Sahut gadis kecil itu, menirukan kakaknya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.


“Hahahaha” Tidak tahan dengan tingkah Humaira yang lucu itu, Arsyad tertawa juga Stella dan Azam yang melihatnya dari daun pintu.


Seketika itu, Arsyad juga Humaira menoleh pada ayah dan bunda mereka yang entah sejak kepan keduanya berada disana.


“Ayah pulang” Ucap Azam, berjongkok sambil melebarkan tangannya.


“Ayaaaah” Humaira paling bersemangat, dia beserta kakaknya berlari menuju Azam dan masuk ke dalam pelukan sang ayah.


Arsyad mencium punggung tangan ayahnya, diikuti dengan Humaira.


“Anak ayah sudah ganteng dan cantik, sudah wangi juga” Ucap Azam.


“Iya dong, ayah juga campan cekali meckipun beyum mandi” Sahut Humaira lalu pura-pura menutup hidungnya.


Stella hanya terkekeh melihat hal itu, “Kalau begitu ayah bau acem ya?” Sahut Azam.


Humaira mengangguk sebagai jawaban.


“Tida boleh peluk kalau ayah bau acem” Ucap Azam lalu pura-pura akan melepaskan pelukannya.


Sedangkan Humaira yang masih polos, langsung mengeratkan pelukannya pada sang ayah, “Cidak cidak, ayah wangi kok cepelci Humaila” Sahut Humaira.


“Kak Arsyad, sudah selesai tugasnya, sayang?” Tanya Azam pada anak pertamanya.


“Sudah, yah” Jawab Arsyad dengan senyuman, “Ayah ayah, lihat kaki adek. Dia tadi jatuh gara-gara tersandung batu, masa batunya yang disalahin?” Lanjut Arsyad, cepu dengan kelakuan adiknya sore tadi.


“Kakaaak, kok bilang bilang ciiih. Nanci ayah malah cama Humaila” Rengek Humaira.


Ternyata gadis kecil itu sengaja tidak mengatakan perihal insidennya sore tadi kepada sang ayah karena takut dimarahi.


Azam langsung sedikit membuka rok panjang putrinya sampai lutut, melihat luka yang disebutkan oleh Arsyad.


“Hmm, Humaira anak yang aktif yaa. Ayah tidak akan marah tapi, ingat ya sayang, kalau main harus hati-hati. Kalau terluka begini siapa yang rugi? Humaira sendiri kan? Bunda juga pasti khawatir, kakak Arsyad juga khawatir, apalagi ayah. Kalau terjadi apa-apa dengan Humaira, kita semua khawatir” Azam mengelus puncak kepala Humaira dengan lembut.


“Kak Arsyad juga, kalau main hati-hati ya, nak. Jangan sampai melukai diri sendiri” Ucap Azam pada Arsyad.


Humaira dan Arsyad mengangguk, sebagai tanda mereka mengerti dengan ucapan sang ayah.


“Ayah mau mandi dulu, ya. Kalian lanjutkan belajarnya” Pamit Azam pada kedua anaknya.


Diikuti Stella yang membawa tas milik sang suami, mereka beralih ke kamar pribadi yang letaknya tidak jauh dari kamar Arsyad.


Ceklek


Pintu ditutup perlahan, Azam memeluk Stella dengan erat, “Terimakasih ya, sayang. Terimakasih sudah menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita, terimakasih sudah mau bersabar menghadapi segala ujian dalam rumah tangga kita selama ini, terimakasih sudah hadir dan menerima aku yang masih belum bisa menjadi yang terbaik untuk kalian” Gumam Azam.


“Seharusnya aku yang berterimakasih, karena mas Azam sudah menerima aku yang penuh kekurangan juga bersedia membimbing aku menuju jalan yang di ridhoi Allah SWT”


Azam hanya tersenyum lalu menci*m kening Stella lama.