
Siang hari menyapa, terlihat Maryam, Erlangga, ibu serta saudara Erlangga baru saja tiba di bandara. Azam menjemput mereka disana, melambaikan tangan saat sudah melihat wanita bercadar yang ia yakini sebagai kakaknya.
“Assalamu’alaikum” Ucap Maryam saat tiba di hadapan sang adik.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Azam sembari menyalami seluruh keluarga Maryam.
“Adek aku semakin segar saja” Ucap Maryam, meledek adiknya yang terlihat lebih berisi dari sebelum-sebelumnya.
“Aku tau aku tampan, kalau begitu ayo segera pulang, umi sudah menunggu” Ucap Azam, membawakan koper mertua kakaknya.
“Tidak usah, Azam. Biar aku saja” Sahut Erlangga, tidak enak dengan adik iparnya yang mau membawakan koper milik orang tuanya.
“Tidak apa-apa mas, lagipula mas Erlangga kan sedang membawa koper juga, tidak perlu sungkan-sungkan” Ucap Azam, masih terus menyeret koper orang tua Erlangga.
Lalu bagaimana dengan saudara laki-laki dari Erlangga. Dia terlihat cuek saja, dia sendiri sedang menenteng koper miliknya.
Mereka menghabiskan waktu di jalan dengan sedikit bercengkrama.
“Nak Azam, terimakasih ya” Ucap ibu Delia, mama Erlangga.
“Terimakasih untuk apa, bu?” Tanya Azam, bingung dengan ucapan ibu mertua kakaknya.
“Terimakasih sudah mempercayakan Maryam kepada Erlangga, Maryam ini benar-benar wanita yang cantik rupa juga akhlaknya, alhamdulillah Erlangga bisa menjadi pribadi yang luar biasa lebih baik dari sebelumnya” Ucap bu Delia.
Azam pun hanya tersenyum tipis, “Abi dan umi yang memasrahkan kak Maryam kepada mas Erlangga, bu. Saya hanya menggantikan abi ketika melakukan ijab” jawab Azam.
“Lebay sekali” Gumam Tama, saudara laki-laki dari Erlangga.
Tentu saja itu bisa di dengar jelas oleh Azam juga yang lainnya tapi, Azam hanya memilih diam dan menyunggingkan senyum tipisnya.
“Jaga mulutmu, Tama” Sahut ibu Delia, memperingatkan anaknya agar berbicara lebih sopan.
Sedangkan seseorang yang dipanggil Tama itu hanya melengos, memandang ke luar jendela.
...***...
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Salam itu terucap dari rombongan Maryam yang baru saja tiba di rumah utama.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Zaidan, Stella juga umi Fatimah.
“Umi” Maryam berjalan cepat menghampiri ibunya, sungkem mencium tangan sang ibu sambil mengucap, “Umi, maafkan Maryam ya, selamat hari raya idul fitri, semoga bisa bertemu di lebaran tahun depan” ucapnya.
“Iya nak, maafkan umi juga ya, maaf jika umi ada salah-salah kata atau perbuatan yang mungkin membuatmu sakit hati” Jawab umi Fatimah.
Saat itu Maryam dan Erlangga sama-sama sungkem kepada umi Fatimah, doa-doa baik terucap dari bibir wanita paruh baya itu.
Sedangkan Stella segera mempersilahkan mertua kakak iparnya untuk duduk, membukakan makanan ringan juga menyuguhkan air yang memang sudah disediakan sebelumnya.
“Loh, ini istrinya Azam?” Tanya ibu Delia.
“Iya, itu istri Azam” Jawab Azam ramah.
Maklum jika ibu Delia juga Tama tidak mengenali satu per satu anggota keluarga Maryam, memngingat pernikahan yang dilaksanakan Erlangga juga Maryam terkesan mendadak, bahkan tidak menghadirkan keluarga Erlangga saat ijab kabul diadakan waktu itu.
“Cantik ya, sudah hamil? Kapan perkiraan lahirannya?” Tanya ibu Delia ramah.
“Masih beberapa minggu lagi, bu” Jawab Stella.
“Ooh, semoga dikasih kelancaran ya sampai melahirkan nanti, jangan lupa kabari ibu juga Maryam kalau sudah lahir” Sahut ibu Delia lagi.
Mengingat dulunya ibu Delia adalah seorang sosialita, tidak heran jika caranya bersosialisasi sangat mudah.
Umi Ftimah pun juga merasa langsung cocok dengan besannya itu.
“Erlangga ini, ayahnya sudah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu ketika dia duduk di bangku SMA. Sejak Sekolah Mengah Pertama, dia lah yang dicecar ayahnya agar bisa berbisnis, tidak heran jika ketika ayahnya tida ada, dia langsung menggantikan sang ayah agar tidak terjadi kemerosotan perusahaan. Dulu, banyak sekali yang meragukan kemampuannya, apalagi saat itu Erlangga masih sangat muda.
Saya pikir Erlangga akan sulit untuk menikah, karena dia selalu berkutat dengan kertas juga laptop setiap hari, belum lagi selalu memberikan pengertian kepada adiknya, Tama agar juga bisa berbisnis.
Saya cukup khawatir, dia juga tidak mau dikenalkan dengan banyak wanita. Usia saya sudah cukup tua, saya juga sudah cukup bersenang-senang. Suatu hari, ketika saya sedang ada pertemuan dengan teman-teman saya, tidak sengaja saya mendengar seorang ustadzah sedang berbicara dengan rekannya perihal ilmu, dunia, juga kematian, sejak saat itu saya mulai ingin belajar agama.
Saya meminta Erlangga untuk mencarikan saya guru mengaji yang memang benar-benar mengerti perihal Al-Qur’an beserta isinya. Tapi, Tuhan maha baik. Beliau mempertemukan Maryam yang baik agama serta budi pekertinya dengan Erlangga, bukan hanya sebagai guru mengaji untuk saya, tetapi juga menjadi istri untuk anak saya, menuntun Erlangga menjadi pribadi yang lebih baik dari Erlangga yang sebelumnya” Ucap ibu Delia, menceritakan keluh kesahnya kepada sang besan, umi Fatimah.
Umi Fatimah mendengar hal itu langsung tersenyum, “Alhamdulillah, ibu Delia masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali mendekat kepada-Nya. Allah SWT memang maha baik, bu. Kita juga tidak tau bagaimana jodoh itu bisa bertemu. Seperti Azam juga Stella misalnya, siapa yang menyangka, jika ketika berangkat ke luar kota Azam berpamitan untuk bekerja tapi, ketika pulang langsung membawa calon istri pilihannya padahal waktu itu Azam sudah hampir saja melakukan ta’aruf dengan pilihan abinya”
“Jodoh memang tidak ada yang tau ya, bu. Saya jadi sungkan sendiri, Maryam itu baik sekali tapi, malah mendapatkan Erlangga yang sebelumnya jauh sekali dengan Tuhan” Ucap ibu Delia, merasa rendah diri, karena meskipun anak sulungnya adalah pengusaha terkenal tapi, urusannya dengan Tuhan dulu begitu jauh.
“Sudahlah, bu. Hal seperti itu sudah tidak perlu lagi dipermasalahkan, saya percaya Allah SWT pasti akan memberikan yang terbaik untuk seseorang yang baik. Nak Erlangga ini anaknya alhamdulillah baik, kalau di tuturi almarhum abinya Maryam selalu manut” Sahut umi Fatimah, yang dibalas hanya dengan senyuman ramah dari ibu Delia.
“Omong-omong, perihal pondok pesantren. Nak,…” Umi Fatimah melihat Maryam juga Erlangga, “sebelum tiada, abi sudah mengurus surat-suratnya atas nama kalian. Jadi, umi harap kalian sudah bisa mengelola pondok. Umi sudah tua, sudah lelah jika harus mengurus pondok lagi, bagaimana?” Tanya umi Fatimah.
“Maryam manut mas Erlangga, umi” Sahut Maryam, melirik kepada suaminya.
“InsyaAllah, setelah liburan idul fitri ini Erlangga akan menetap disini dengan Maryam, umi. Bismillah, ridhoi Erlangga mengurus pondok pesantren ini ya, umi. Bimbing Erlangga untuk menjadi pemimpin yang baik juga adil untuk seluruh warga yang ada di pondok pesantren ini” Jawab Erlangga tegas.
“Alhamdulillah, terimakasih ya nak. Jika ingin, ibu Delia juga adikmu boleh tinggal disini juga, barangkali nak Erlangga masih tidak ingin jauh dari keluarganya, begitu juga sebaliknya” Sahut umi Fatimah, lega.
“Nanti Erlangga bicarakan dengan mama juga Tama ya, umi” Jawab Erlangga.
“Nanti ketika adikmu Stella kembali ke kota, umi akan ikut mereka ya. Tanggal persalinan Stella sudah semakin dekat, kasian jika dia harus mengurus bayi juga mengurus rumahnya sendirian” Ucap umi Fatimah.
Maryam yang mendengar hal itu langsung mendekatkan diri kepada sang umi, menggenggam tangan umi Fatimah dengan hangat, “Dimanapun itu, asal umi nyaman dan bahagia, Maryam tidak akan melarang. Maryam juga mengerti dengan keputusan umi” ucapnya.
Siang itu mereka berbincang-bincang dengan hangat, setelah Stella selesai menyiapkan makan siang, mereka makan siang bersama, tidak lupa Stella juga mengirimkannya untuk satiwan dan santriwati, lalu beristirahat, sambil menunggu sore untuk datang ke makam abi Daud.