
Seperti biasa, Stella dan Azam melaksanakan sholat subuh berjamaah, dilanjut dengan Stella yang turun untuk memasak setelah menyiapkan baju kerja untuk Azam.
“Stella” Ucap seseorang dari dapur.
Rupanya Viona sedang beres-beres rumah di waktu sepagi itu.
“Loh, Viona. Sudah bangun?” Tanya Stella.
Dia kira Viona tidak akan bangun sepagi itu, mengingat gaya hidup yang jelas berbeda dari sebelumnya, atau rupanya wanita itu sudah belajar banyak sebelum berangkat?
“Iya, cepat selesai akan lebih baik” Jawab Viona, sembari tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Stella pun hanya mengangguk. Dia mengeluarkan bahan-bahan makanan dari lemari es. Hari ini rencananya diam akan memasak nasi goreng saja sebagai sarapan.
“Sayang, aku sudah siap” Ucap Azam dari anak tangga, sembari menenteng dasi yang belum digunakan.
Stella yang saat itu sedang menata meja makan, langsung mengalihkan atensinya menuju sang suami.
“Itu dasinya?” Ucap Stella.
Azam memberikan dasi itu pada Stella, “Tolong pakaikan”. Lelaki itu memang sedang sibuk dengan ponselnya, seperti menghubungi seseorang?
Dengan cepat, Stella mengalungkan dan menyimpul dasi berwarna biru navy itu di leher sang suami.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
“Iya, besok akan ke Surabaya sepertinya”
“Aku tidak bisa meninggalkan istriku terlalu lama”
“Pokoknya jangan sampai beberapa hari, satu hari saja sudah cukup”
“Assalamu’alaikum warahmatullah”
Begitu kira-kira obrolan yang terjadi antara Azam dan lawan bicaranya di seberang sana.
“Ada apa mas?” Tanya Stella. Sebelumnya dia tidak akan menanyakan perihal pekerjaan kepada sang suami tapi, karena tadi dia mendengar seperti roman-roman dirinya akan ditinggal pergi?
“Besok aku harus ke Surabaya, sayang. Aku usahakan semuanya cepat selesai ya” Ucap Azam sembari mengelus kepala Stella yang tertutup hijab panjang itu.
“Aku mau ikut” Ucap Stella dengan semangat.
“Nanti lelah, sayang. Aku disana akan ada banyak meeting selama satu hari penuh. Lalu kau mau apa disana?” Tanya Azam.
“Aku mau jalan-jalan. Mas Azam tidak perlu mengkhawatirkan aku ya, mas bisa bekerja dengan tenang, aku pun akan bersenang-senang dengan tenang, okey?” Ucap Stella. Wanita itu sudah mengeluarkan jurus andalannya, merayu Azam dengan puppy eyes yang dia miliki. Sepertinya lupa jika ada Viona disana.
“Pergi ke kantor seorang diri saja aku tidak mengizinkan, apalagi jalan-jalan sendirian dengan kondisi yang sedang hamil? Kalau memang mau ikut, kita disana beberapa hari, aku tidak mengizinkanmu bermain-main seorang diri” Ucap Azam tegas.
Tentu saja dia akan sangat was-was jika membiarkan Stella pergi seorang diri. Tidak ada dirinya yang menjaga, malah akan membuat Azam khawatir.
Stella terdiam sejenak, dia menatap suaminya yang sepertinya sangat lelah tapi, selalu menuruti semua permintaannya.
“Tidak jadi deh, aku di rumah saja. Mas Azam tidak perlu mengkhawatirkan aku, insyaallah aku bisa menjaga diri di rumah. Lagipula ada Viona, aku pasti baik-baik saja. Tidak perlu begitu terburu-buru” Jawab Stella.
Akhirnya wanita itu memutuskan untuk tidak merengek ikut, dia mencoba untuk pengertian dengan pekerjaan sang suami.
“Katanya mau jalan-jalan hm?” Tanya Azam.
“Nanti saja, kalau memang pekerjaanmu sudah tidak menumpuk. Mas Azam pasti butuh istirahat ekstra, maafkan aku tidak banyak mengerti keadaanmu” Sahut Stella.
Azam hanya tersenyum, menuntun Stella untuk duduk dan sarapan bersama.
“Viona, sini duduk dan sarapan bersama” Panggil Stella, dia mengundang teman baiknya itu untuk duduk bersama di antara mereka.
“Kau duluan saja, aku bisa melakukannya nanti” Ucap Viona.
“Tidak usah sungkan-sungkan, kemari dan duduk bersamaku” Ucap Stella, dia membawa Viona duduk di samping kursinya.
“Makanlah” Ucap Stella sembari meletakkan satu porsi nasi goreng di hadapan Viona.
“Terimakasih” Gumam Viona. Dia tidak hanya menatap Stella tapi, juga menatap paras tampan Azam.
“Tidak baik menatap seseorang yang bukan mahrammu dengan tatapan memuja seperti itu, Viona” Ucap Azam, dia tau jika teman dari istrinya itu memandangnya dengan intens sejak tadi, tentu saja hal itu membuat Azam tidak nyaman sendiri.
“Maafkan aku” Gumam Viona lalu fokus dengan makanannya.
Stella pun saat itu hanya diam, mencerna dan mencoba untuk mengerti apa yang sedang terjadi di meja makan pagi itu. Ya, mungkin Viona hanya ingin tau wajah Azam mengingat mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
“Sayang, aku berangkat ya” Pamit Azam setelah selesai dengan sarapannya.
“Iya mas” Jawab Stella, mengantar suaminya ke depan. Seperti biasa, setelah sampai di depan Stella akan mencium tangan sang suami lalu Azam mengecup kening Stella pelan, “hati-hati” ucap Stella.
“Baik-baik di rumah, jika ada sesuatu hubungi aku” Ucap Azam sebelum akhirnya pergi, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” pamitnya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Stella.
Tanpa disadari, Viona melihat hal itu dari kejauhan. Dia menatap keharmonisan keluarga kecil itu dengan seksama. Entah apa yang ada dipikirannya tapi, setelah itu dia tersenyum simpul.
“Sudah selesai?” Tanya Stella saat melihat Viona sedang membereskan meja makan.
“Sudah, Stella” Sahut Viona, ramah.
Itu sama sekali bukan Viona yang dulu ia kenal dulu. Dulu, Viona adalah wanita yang sama sekali tidak tau apa itu sopan santun ketika berada di luar rumah, sama seperti dirinya.
“Bagaimana keadaan ibumu?” Tanya Stella, wanita itu turut membantu Viona membereskan bekas makan mereka.
“Ibuku masih harus melakukan operasi, aku jelas masih menabung untuk itu, biayanya tidak sedikit. Tuhan sangat tidak adil bukan?” Jawab Viona, wajahnya seketika berubah menjadi sendu.
Ia teringat dengan sang ibu yang berada di luar kota, terpaksa ia harus meninggalkannya sendirian disana karena kabur dari madam El.
“Sabar ya, Viona. Ibumu pasti akan sembuh, kau sudah berusaha keras untuk itu. Setiap sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita, itu adalah ketetapan dari Allah SWT.
Allah SWT memberikan rasa sakit pada hamba-Nya, bukan semata-mata ingin menghukum hamba-Nya, jelas tidak seperti itu. Justru rasa sakit itu adalah salah satu wujud rasa kasih sayang-Nya. Maka dari itu, baik itu dirimu atau ibumu jangan pernah putus asa saat Allah SWT memberikan rasa sakit, mendekatlah dan pasrahkan semua pada-Nya, disamping dari pengobatan yang rutin dilakukan.
Apa kau tau, ketika kita sakit ada tiga perkara yang diambil oleh Allah SWT. Yang pertama, Allah tarik keceriaan di wajah kita, Allah tarik nafsu makan kita, bahkan Beliau juga menarik dosa-dosa kita.
Dan apabila kita sudah sembuh, Allah SWT hanya mengembalikan dua hal pada kita. Yang pertama Allah kembalikan keceriaan di wajah kita dan yang kedua Allah kembalikan nafsu makan kita. Tapi, Allah SWT tidak mengembalikan dosa-dosa kita. Sesayang itu Allah SWT pada umat-Nya.” Ucap Stella sembari mencuci piring-piring kotor di wastafel.
Memang melakukan sesuatu sambil mengobrol akan terasa tidak begitu melelahkan, bukan?
“Apa benar begitu? Bukankah orang bilang bahwa ujian yang kita dapat dari Tuhan tidak akan melebihi batas kemampuan kita? Apa kau percaya itu? Buktinya ini apa? Aku hampir gila rasanya setiap hari memikirkan kesembuhan untuk ibuku” Ucap Viona, dia mengeluh pada Stella dan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi padanya.
“Itu adalah salah satu cara Allah SWT menyayangimu, Beliau ingin kau mendekat padanya. Allah SWT selalu suka dengan orang-orang yang berserah diri sambil menangis dan menceritakan keluh kesah di hadapan sajadah yang digelar untuk-Nya.
Jika kau menyadarinya, coba kita renungkan, ketika kita mengeluh dan merasa lelah Allah SWT menjawab pada surat An-Naba ayat 9, ‘Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat’.
Jika kita mengeluh ‘Aduh beratnya cobaan ini, rasanya aku tidak akan sanggup’, saat itu Allah SWT menjawab pada surat Al-Baqarah ayat 286, ‘Aku tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya’.
Atau jika kau merasa apa yang kau lakukan selama ini adalah sia-sia, Allah SWT pun memiliki jawabannya pada Al-Qu’an surat Al Zalzalah ayat 7, ‘Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya’. Itu lah kenapa kita harus berbuat baik kepada sesama. Orang-orang beriman akan selalu berlomba-lomba berbuat kebaikan di jalan Allah SWT”
“Itu hampir membuatku gila, Stella. Aku merasa sangat sedih dan merasa sendirian tanpa ada yang mau menolongku. Beruntung aku bertemu denganmu yang bersedia menampungku disini” Jawab Viona. Mereka akhirnya duduk di pantry dapur untuk sekedar mengobrol ringan sebelum melanjutkan tugas masing-masing nanti.
“Allah SWT selalu punya jawaban atas apa yang kau rasakan, Viona. Pada Qur’an surat At-Taubah ayat 40, Allah berfirman, ‘Janganlah kamu bersuka cita karena sesungguhnya Allah SWT bersama kita’.Bukankah sudah jelas bahwa kau tidaklah sendirian.
Lalu bagaimana jika kau merasa tidak ada yang menolongmu? Allah SWt juga telah menuliskannya pada surat Al Ghafir ayat 60, ‘Berdoa dan memintalah kepada-Ku, niscaya aku akan mengabulkannya’.
Setiap masalah yang kau hadapi pasti ada jalan keluarnya. Jangan banyak mengeluh ya, bersabarlah” Ucap Stella.
Akhirnya pagi itu mereka menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang ringan.