
“Umi, tadi mas Azam bilang katanya hari ini umi waktunya tes kesehatan ya? Ayo biar Stella antar” Ucap Stella.
Stella bersama dengan umi Fatimah sedang bersantai di ruang keluarga.
“Ah iya, kalau begitu biar umi siap-siap dulu ya. Kau tidak sekalian periksa kandungan?” Tanya umi Fatimah.
Stella tersenyum, “Seharusnya dua hari lagi, umi” jawabnya.
Umi Fatimah hanya mengangguk dengan senyum khasnya lalu berlalu untuk bersiap.
Umi Fatimah rupanya memang sering melakukan tes kesehatan secara rutin, itu karena usianya yang mungkin sudah tidak muda lagi, tentu harus stabil menjaga kesehatannya, baik itu kadar gula, kolesterol, tekanan darah, dll.
“Umi sudah siap, ayo” Ajak umi Fatimah.
Mereka pun berangkat dengan supir yang memang selalu disediakan oleh Azam.
“Umi, kenapa rasanya perut Stella sedikit nyeri ya?” Keluh Stella setelah melewati setengah perjalanan menuju rumah sakit.
“Apa sudah kontraksi?” Gumam umi Fatimah.
“Ah tapi, pelan-pelan sudah mereda. Tidak apa-apa, umi. Lagipula seharusnya masih beberapa hari lagi dedek keluar” Jawab Stella.
Ya, menurut perkiraan dokter kandungan Stella saat kontrol beberapa hari lalu, jadwal persalinan Stella diperkirakan akan jatuh beberapa hari lagi.
“Ah jangan salah, nak. Biasanya, perkiraan dokter pun bisa jadi kurang tepat” Jawab umi Fatimah.
Stella hanya mengangguk sebagai jawaban, ia pun sudah diberitahu oleh dokternya bahwa itu bisa lebih cepat atau lebih lambat dari HPL yang sudah ditetapkan. Itu semua karena HPHT yang kurang tepat, posisi janin yang berubah atau bisa jadi karena ukuran rahim juga berubah.
“Umi jadi teringat kisah Siti Maryam yang mengandung tanpa seorang suami” Gumam umi Fatimah.
Stella menoleh pada sang umi, “Siti Maryam? Ibunda nabi Isa?” tanyanya,
Umi Fatimah mengangguk, “Kau sudah pernah mendengar kisahnya?”
Stella mengangguk, “Beliau adalah wanita yang begitu mulia, terdidik, melakukan kewajiban, menghindari semua yang haram juga banyak melakukan amalan-amalan sunnah. Pada suatu ketika, Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk menemui Siti Maryam sebagai seorang pemuda yang putih wajahnya.
Ketika itu, malaikat Jibril berkata bahwa ia diutus Allah SWT untuk datang dan memberikan Siti Maryam seorang anak yang sholeh juga bersih dari segala dosa. Sesaat setelahnya, Siti Maryam menjawab, ‘Bagaimana mungkin aku memiliki seorang anak sedang tidak ada suami yang mendekatiku. Aku pun bukan seorang pendosa yang suka berbuat zina’. Dengan tersenyum malaikat Jibril menjawab, ‘Tidaklah sulit bagi Allah SWT menciptakan seorang anak tanpa bapak, layaknya Beliau menciotakan nabi Adam AS tanpa bapak dan ibu’.
Kemudian Siti Maryam hamil setelah malaikat Jibril meniupkan ruh ke dalam baju kurung yang digunakan oleh Maryam dan beliau akhirnya mengasingkan diri agar tidak menjadi bahan gunjingan oleh masyarakat sekitar. Rasa sakit menjelang kelahiran begitu ia rasakan, dia seorang diri menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon kurma dan melahirkan disana, dimana saat itu Maryam sempat menginginkan sebuah kematian untuk dirinya.
Kemudian, malaikat Jibril memanggilnya dan berkata untuk menggoyangkan pohon kurma tersebut agar kurma-kurma yang sudah matang jatuh, juga mengatakan bahwa ada sebuah sungai kecil yang mengalir di bawah kaki Siti Maryam. Malaikat Jibril juga mengatakan jika Siti Maryam bertemu dengan orang, ‘Katakanlah bahwa sesungguhnya aku rela bernadzar akan berpuasa karena Allah SWT dan tidak akan berbicara dengan satu orang manusia-pun’”
“Benar sekali, lalu apa hikmah yang bisa kau ambil dari kisah itu, nak?” Tanya umi Fatimah.
“Seorang wanita suci yang taat kepada Allah SWT, ikhlas serta sabar menerima segala cobaan yang diberikan untuknya, tentu saja juga ketaatannya meminta pertolongan Allah SWT dalam keadaan apapun” Jawab Stella.
“Cepat sekali menantuku ini belajar, alhamdulillah” Ucap umi Fatimah, merasa kagum dengan kisah yang disampaikan oleh Stella.
“Ini juga berkat mas Azam, umi. Jika tidak dengan ajaran yang diberikan oleh mas Azam, mungkin Stella tidak akan pernah tau” Sahut Stella.
Setelah tiba di rumah sakit, Stella segera mengurus pendaftaran dan beberapa hal terkait administrasi, setelah itu antri dan berakhir di kantin untuk membeli makan siang sembari menunggu nomor urut umi Fatimah dipanggil.
Namun, saat kembali untuk menunggu antrian, Stella merasakan banyak air yang rembes di antara kakinya, “Astaghfirullah, umi Stella kenapa?” ucapnya panik.
Seketika umi Fatimah langsung melihat ke arah Stella, “Apa air ketubannya sudah pecah?”, wanita paruh baya itu akhirnya segera pekrgi menemui suster untuk meminta pertolongan.
Dengan cepat, akhirnya beberapa perawat membawa Stella menuju ruang bersalin, sementara itu umi Fatimah segera menghubungi Azam yang sedang bekerja.
Selama 24 jam kedepan, kami akan terus memantau kondisi ibu dan bayi termasuk pemeriksaan suhu tubuh, tekanan darah juga denyut nadi. Pastikan ada anggota keluarga yang selalu menemani” Ucap dokter itu.
Beruntung karena rumah sakit tempat umi Fatimah adalah rumah sakit yang sama dengan tempat dimana Stella biasa pergi kontrol jadi, tidak perlu khawatir karena yang akan menangani Stella nantinya adalah bidan yang sama.
“Baiklah, terimakasih dok” Ucap umi Fatimah.
Tidak lama setelah itu, Azam datang dengan terburu-buru menuju ruangan yang telah ditunjukkan oleh uminya ketika ditelfon tadi.
“Umi, bagaimana dengan Stella?” Tanya Azam setelah bertemu dengan uminya.
“Alhamdulillah, masih pembukaan empat nak. Tadi dokter mengatakan persalinan akan dilakukan setelah pembukaan lengkap, kalau nanti air ketubannya telanjur habis, bisa melakukan induksi” Ucap umi Fatimah, menjelaskan kembali apa yang disampaikan dokter kepada dirinya.
Azam mengangguk lalu mengajak uminya masuk ke dalam ruangan tersebut, dimana Stella berada disana sedang menahan sakit di bagian perutnya, rupanya sudah mulai kontraksi.
“Sayang” Sapa Azam, menghampiri istrinya dengan sedikit terburu-buru.
Stella menyambut kedatangan suaminya dengan senyum manis, mencoba terlihat biasa saja agar Azam tidak khawatir.
“Maaf aku terlambat” Ucap Azam lalu mencium kening Stella beberapa kali.
“Tidak apa-apa, mas” Jawab Stella mengelus lengan suaminya.
Umi Fatimah hanya melihat itu dari kejauhan, merasa tenang dengan keharmonisan yang tercipta di hadapannya.
“Mas, umi belum kontrol. Tolong antar umi kembali, aku bisa disini sendirian” Bisik Stella ketika teringat ibu mertuanya belum melakukan tes kesehatan.
Azam menatap umi dan istrinya bergantian, “Umi belum kontrol?” tanyanya.
Umi Fatimah tersenyum tenang, “Tidak apa-apa, nak. Kita temani saja Stella ya” jawabnya.
Azam lagi-lagi menatap istrinya, lelaki itu jelas tidak mau meninggalkan kedua wanita hebatnya. Akhirnya Azam menelfon supir yang tadi mengantar umi juga Stella ke rumah sakit, “Minta tolong datang ya” ucapnya dari telfon.
Sekitar 30 menit, Mbak Deden datang dengan membawa tas yang memang sudah disiapkan untuk persalinan Stella.
“Assalamu’alaikum warahmatullah” Ucap mbak Deden.
Masih ingat mbak Deden? Ya, asisten rumah tangga yang dibawa Azam dari pondok pesantren untuk membantu pekerjaan Stella.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Stella, Azam juga umi Fatimah bersamaan.
“Ini gus tasnya” Ucap mbak Deden ramah pada Azam, wanita itu juga terlihat menghampiri umi Fatimah serta mencium punggung tangan wanita itu.
“Terimakasih, mbak. Apa saya boleh minta tolong lagi?” Tanya Azam.
“Tentu saja boleh, dengan senang hati gus Azam” Sahut mbak Deden.
“Umi belum sempat tes kesehatan tadi, bisa minta tolong untuk mengantar umi periksa? Tadi administrasinya sudah diurus, hanya menunggu nomor antrian, saya mau menemani istri saya disini”
“Azam” Gumam umi Fatimah, menatap putranya haru.
“Umi tetap harus tetap menjaga kesehatan ya, nanti langsung pulang ya untuk istirahat, Azam akan menjaga Stella sendiri, nanti kalau sudah mau melahirkan biar Azam kabari” Ucap Azam.
“Setelah tes kesehatan, umi akan kembali kesini, juga akan menghubungi kakak dan adikmu” Jawab umi Fatimah lalu mengajak mbak Deden keluar.