Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Arsyad Ali Ihsan


“Arsyad Ali Ihsan, agar dia menjadi lelaki yang cerdas, pemberani juga memiliki kemurahan hati yang luas” Ucap Azam ketika dia ditanya perihal nama yang akan disematkan untuk putra pertamanya.


“Aamiin, semoga kelak dia menjadi anak soleh, berbakti dengan keluarga, bermanfaat bagi sesama” Ucap umi Fatimah, menimang-nimang cucu pertamanya dengan penuh cinta.


Sementara itu, Azam malah sibuk menunggui Stella yang tida kunjung bangun. Lelaki itu terus menatap istrinya yang terlihat lelah, sesekali diusapnya puncak kepala Stella dengan sayang, berulang kali di dalam hatinya terus mengatakan, “Terimakasih”.


Tidak lama, mata Stella terlihat bergerak-gerak, menandakan bahwa Stella ingin membuka matanya.


“Sayang, sudah bangun?” Ucap Azam dengan segera.


Stella tersenyum dengan kepanikan suaminya, “Apa mas Azam takut aku tidak kunjung membuka mata?” Tanyanya.


“Jangan mengatakan hal yang tidak baik begitu. Aku tentu tidak ingin terjadi apa-apa dengan istriku. Kau mau minum?” Tanya Azam, lelaki itu berdiri lalu mengambil gelas di nakas samping tempat tidur untuk diberikan kepada istrinya.


Ah iya, dia lupa.


Azam meletakkan kembali gelasnya, membantu Stella untuk duduk, baru memberikan gelas tadi kepada sang istri.


“Terimakasih mas” Ucap Stella.


Stella juga sesekali memperhatikan bayi dalam gendongan umi Fatimah, dimana ia tau bahwa itu adalah anaknya.


“Mas, kenapa tidak bermain dengan anak kita hm? Malah diam dan menunggui aku disini” Ucap Stella.


Kali ini Azam tersenyum, “Setelah seorang wanita melahirkan, terkadang orang-orang hanya fokus dengan bayi yang dilahirkan tapi, tidak memperhatikan wanita yang baru saja melahirkan bayi tersebut. Padahal, yang benar-benar harus diperhatikan adalah wanita itu sebenarnya.


Melahirkan adalah suatu proses yang panjang, dimana semua tubuh wanita pasti merasakan sakit yang teramat, juga merasakan lelah yang tidak ada duanya. Ketika dia tersadar dari tidurnya, bukankah dia harus diperhatikan? Apakah dia ingin sesuatu? Apakah dia butuh sesuatu? Atau apakah dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman?


Sayang, mungkin orang-orang akan berpikir bahwa melahirkan ‘ah hanya begitu saja’ tapi, kita tidak pernah tau bagaimana perasaan seseorang, setiap orang memiliki keluhannya sendiri-sendiri pasca melahirkan” Ucap Azam sambil mengelus puncak kepala Stella.


Stella tersenyum dengan jawaban suaminya.


“Sudah lebih baik, nak?” Tanya umi Fatimah pada Stella.


Stella mengangguk, “Alhamdulillah, sudah umi” jawabnya.


“Apa boleh Stella menggendongnya?” Tanya Stella setelah beberapa saat terdiam menatap putranya yang masih merah.


“Tentu saja boleh, ini anakmu” Ucap umi Fatimah lalu memberikan bayi mungil itu pada Stella degan hati-hati agar tidak terbangun.


Matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan bisa dikatakan semuanya benar-benar mirip dengan Azam.


“Apa ini? Kenapa semuanya mirip ayahmu, nak? Bunda tidak diberi sedikitpun?” Ucap Stella setelah mengamati dengan jelas wajah sang putra, gemas sekali Stella dibuatnya.


“Ya karena memang aku yang mendominasi” Ucap Azam setengah berbisik, dimana hanya Stella yang bisa mendengarnya.


Seketika Stella langsung menatap Azam cepat, lalu kembali menatap putranya.


“Hahaha, gemas sekali. Pasti ada sesuatu yang nantinya mirip denganmu, sayang. Tenang saja, aku tidak membuatnya seorang diri” Ucap Azam lagi.


Benar-benar diluar prediksi bahwa Azam bisa mengatakan hal yang menurut Stella terdengar sedikit kotor.


“Iya umi” Jawab Azam.


...***...


Sekitar dua hari pasca melahirkan, Stella sudah diizinkan untuk pulang dengan kontrol dua minggu sekali sampai jahitan pada lukanya dinyatakan sembuh total.


Kediaman Azam terlihat masih sama seperti sebelumnya, para tetangga belum tau bahwa Azam dan Stella sudah kembali dari rumah sakit.


“Bagaimana Azam?” Tanya umi Fatimah, ketika mereka sedang berada di ruang keluarga.


“Kita lakukan sesuai sunnahnya, umi” Jawab Azam, seolah tau kemana arah pembicaraan ibundanya itu.


Sementara Stella masih bingung, “Apanya, mas?” Tanyanya.


“Aqiqah sayang” Jawab Azam.


Stella menganggukkan kepala.


“Aqiqah memang tidak wajib tetapi, hendaklah dilakukan jika mampu. Ini adalah salah satu tradisi dalam ajaran Islam untuk bayi yang baru lahir. Aqiqah sendiri berasal dari kata Al qat’u yang berarti ‘memotong’, dimana itu berarti menyembelih hewan ternak pada hari ke-tujuh setelah sang bayi dilahirkan, bukan apa-apa ini hanya sebagai bentu rasa syukur kita kepada Allah SWT.


Yang berbeda dari anak laki-laki dan perempuan adalah jumlah hewan ternak yang disembelih. Jika laki-laki adalah dua ekor, sementara jika perempuan adalah satu ekor”


Azam tiba-tiba saja membuka sesi dakwah pada malam hari itu, sekalian memberi pengertian kepada istrinya.


“Tapi, mas apa boleh jika anak laki-laki di-aqiqahi hanya dengan satu ekor kambing? Atau bagaimana jika aqiqahnya dicicil?” Tanya Stella.


“Pertanyaan yang bagus, lalu bagaimana jika dana yang ada hanya cukup untuk satu ekor kambing sementara yang di-aqiqahi adalah anak laki-laki? Jawabannya boleh, sayang.


Aqiqah itu sendiri tidak boleh dicicil ya, jadi kalau misalkan kita memiliki uang untuk membeli satu kambing bagi anak laki-laki kita melakukan aqiqah, lalu menabung lagi untuk melakukan aqiqah lagi sebagai penyempurna dengan satu ekor kambing lagi, itu yang tidak boleh.


Jika sebelumnya aqiqah ini sudah dinilai sah maka, tidak boleh diulang lagi. Imam Al-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawa sudah dijelaskan, ‘Dan aqiqah tidak boleh diulang sampai dua kali’.


Pada suatu kisah dalam hadist riwayat Imam Abu Daud dari Ibnu Abbas beliau berkata, ‘Sesungguhnya nabi SAW pernah melakukan aqiqah untuk Hasan dan Husein masing-masing satu ekor gibas atau kambing’. Begitu sayang, ada lagi yang ditanyakan?” Ucap Azam.


Stella mengangguk mengerti lalu tampak berpikir sejenak, “Bagaimana dengan hukum yang sah perihal aqiqah? Aku pernah mendengar bahwa aqiqah adalah wajib tapi, tadi mas Azam mengatakan bahwa aqiqah boleh tidak dilaksanakan” ucapnya.


Azam tersenyum, “Aqiqah ini hukumnya sunnah tapi, aqiqah sendiri termasuk kedalam sunnah muakad dimana ini adalah sunnah yang perlu untuk diutamakan. Artinya, ya jika kita mampu maa, kita dianjurkan untuk melaksanakannya sedangkan jika tidak mampu, aqiqah tidak apa-apa ditiadakan.


Sementara, bagaimana aqiqah bisa bersikap wajib menurut orang-orang? Karena ada suatu hadist riwayat Ahmad yang berbunyi, ‘anak-anak itu tergadai atau tertahan dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya, dicukur kepalanya dan juga diberi nama’. Ada lagi?” Tanya Azam lagi.


Stella lalu menggelengkan kepalanya.


Umi Fatimah hanya bisa diam dan tersenyum, diam-diam mendoakan keluarga kecil anak keduanya itu berjalan dengan lancar sampai mereka menyapa masa tua juga menyambut ajal kelak.


Azam sudah cukup dewasa, rasanya umi Fatimah baru kemarin merengek kepada putranya itu untuk segera menikah tapi, sekarang dia bahkan menyaksikan sendiri bagaimana lelaki itu mampu memimpin keluarga kecilnya dengan baik.


“Kalau begitu, biarkan aku pergi ke masjid untuk sholat isya' ya” Ucap Azam lalu berdiri, mencium putranya sebentar, “Cepat besar ya, biar bisa ke masjid bersama” ucapnya lalu masuk ke kamarnya dan bersiap-siap pergi ke masjid.


Umi Fatimah juga Stella hanya bisa tersenyum dengan tingkah Azam.