
Foto kebersamaa Stella dan juga Azam sudah tersebar luas di media sosial. Baik Azam maupun Stella belum ada yang mengetahui hal tersebut, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahkan siang itu, bersama dengan Maryam dan juga Zaidan, Azam mengajak sang istri bertemu dengan pak Erlangga.
Ingat bukan? Rekan bisnis Azam di kota itu.
“Selamat siang, pak Erlangga. Apa kabar?” Tanya Azam, kebetulan sata itu Azam dan rombongan tiba lebih dulu.
Stella dan Maryam menundukkan pandangan mereka.
“Ini kakak dan juga istriku” Ucap Azam, menunjuk Maryam dan Stella bergantian.
“Istri? Kau sudah memiliki istri? Kapan menikahnya, dude?” Ucap Erlangga.
Lelaki itu menggoda Azam, karena beberapa waktu lalu ketika Azam tiba di kota itu kan statusnya masih lajang.
“Masih beberapa hari lalu. Anda sendiri kapan menyusul, pak Erlangga?” Tanya Azam.
Erlangga terkekeh, “Kau tau aku sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan” jawabnya.
“Semoga Allah SWT memberimu hidayah dan jodoh secepat mungkin, pak” Sahut Azam.
Mereka banyak berbincang perihal bisnis, Azam juga membahas tentang perusahaan milik keluarga Stella yang akan di urus.
“By the way, aku mau minta tolong padamu, apa boleh?” Ucap pak Erlangga pada Azam setelah makan malam selesai.
“Tentu saja, pak. Selama aku bisa membantu, insyaallah aku akan membantumu” Sahut Azam.
“Mamaku ingin belajar mengaji, sedangkan kau tau sendiri bukan disini sama sulit sekali mencari guru mengaji, apalagi yang mau menemani mama di rumah, padahal aku sudah menyiapkan gaji dan kamar khusus, hanya untuk mengajari mama mengaji, tidak lebih.
Kau kan salah satu pengurus pondok pesantren, barangkali santriwatimu ada yang berminat, kabari aku ya” Ucap pak Erlangga.
“Oh iya, insyaallah nanti aku akan bicarakan hal ini dengan abi. Apa anda tidak mau datang sendiri saja ke pondok pesantren kami? Bicaralah dengan abi, siapa tau anda menemukan jodoh disana” Ucap Azam di akhiri dengan kekehan.
“Boleh, aku akan kesana lain kali. Sepertinya menyenangkan juga, beberapa hari liburan di kotamu, aku akan menyempatkan diri kesana nanti” Jawab pak Erlangga.
Saat itu, kadang lirikan mata Erlangga menuju pada Maryam yang duduk anggun sambil menundukkan kepala.
“Jangan menatap kakakku seperti itu, pak Erlangga. Jika ingin melihatnya dengan sepuas hati, nikahi dia” Ucap Azam, dia sejak tadi memang memperhatikan gerak gerik rekan bisnisnya itu.
“Azaaam” Ucap Maryam, memperingatkan adiknya.
Itu adalah akhir dari pertemuan mereka malam itu, selanjutnya Azam dan yang lainnya pulang, begitu pula pak Erlangga yang turut beranjak dari tempat duduknya.
“Mas, kita ke supermarket dulu ya. Aku mau beli sesuatu” Ucap Stella pada Azam.
Azam pun mengangguk, dia segera memarkirkan mobil di pelataran parkir supermarket.
Stella segera turun, diikuti dengan Azam.
Asik memilih beberapa bahan makanan untuk stok di rumah, tiba-tiba Stella seperti mengenali sosok yang juga sedang berada di sekitarnya.
“Viona?” Gumam Stella.
Wanita itu mendekati seseorang yang menurutnya adalah Viona, teman Stella ketika masih di dunia malam.
“Hey, Viona” Sapa Stella.
Tapi, wanita itu hanya melihat Stella dengan tatapan bingung. Seseorang dengan gamis dan jilbab yang menutup tubuhnya, juga wajah polosan tanpa makeup, membuat Viona tidak mengenali Stella.
“Sorry, siapa ya?” Ucap Viona.
Dengan raut wajah terkejut, Viona melihat sekali lagi penampilan Stella.
“Stella, it’s you? Really?” Ucapnya sambil membolak-balikkan tubuh Stella, masih tidak percaya wanita muslimah di depannya ini benar-benar Stella.
“Iya. Aku kira kau benar-benar tidak akan mengenaliku”
Mereka mengobrol basa-basi sebentar sampai akhirnya, “Ada mami El disini, pergilah cepat. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa” Ucap Viona. Wanita itu mengusir Stella karena ternyata mami El juga ada disana.
Mereka bertukar nomor ponsel, lalu Stella segera pergi bersama Azam.
Saat berada di kasir, Stella benar-benar dibuat hampir jantungan. Dia bertatap muka dengan mami El, wajahnya sudah tegang maksimal, takut jika Mami El mengenalinya.
“Sayang, ayo. Kasian kak Maryam dan Zaidan menunggu terlalu lama” Ajak Azam, mungkin hal itu membuat mami El merasa bahwa itu bukanlah Stella, seseorang yang ia cari-cari selama ini karena telah merugikannya atas kejadian beberapa waktu lalu, dimana Stella tidak bisa memuaskan customer, Mr Demian dan malah berakhir di kantor polisi.
“Siapa?” Tanya Azam, lelaki itu menyadari gelagat aneh istrinya setelah bertemu dengan wanita seksi dan menor di supermarket tadi.
“Viona dan yang barusan adalah mami El” Jawab Stella.
“Mas, aku takut. Bagaimana jika mami El masih mencariku? Bagaimana jika mami El kembali dan mengancamku seperti dulu?” Ucap Stella.
Dalam perjalanan menuju mobil, Stella mengungkapkan ketakutannya dan kegelisahannya.
“Tidak akan, sayang. Aku berjanji akan melindungimu apapun yang terjadi, aku akan mengurus hal ini secepatnya, jangan khawatir ya” Ucap Azam, menenangkan istrinya.
Stella pun mengangguk, mereka kembali bersikap seperti biasa ketika memasuki mobil, seperti tidak ada apapun yang terjadi.
“Beli apa?” Tanya Maryam.
“Hanya beberapa bahan makanan, mbak. Stok di rumah sepertinya habis” Sahut Stella, menjawab pertanyaan kakak iparnya.
Sejujurnya, saat itu jantung Stella sedang berdebar tidak menentu. Apalagi ketika melihat mami El berada di depan pintu supermarket sambil melihat ke arah mobilnya.
Selama perjalanan, Stella hanya diam. Tidak seperti tadi yang banyak omong, sekarang pikirannya sedang berkecamuk tidak karuan.
“Stella, tidak apa-apa?” Tanya Maryam, khawatir menyadari perubahan sikap Stella yang tiba-tiba.
Stella mengangguk, “Iya kak, tidak apa-apa” jawabnya.
“Stella hanya sedikit pusing, dia mungkin kelelahan karena sejak pagi tadi kan kita sibuk” Ucap Azam, mencoba menenangkan hati sang kakak.
Maryam pun hanya mengangguk mengerti.
“Oh iya kak, bagaimana menurut kakak tentang pak Erlangga?” Tanya Azam pada Maryam, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Maryam melihat Azam malas, “Kau sedang menjodohkanku dengan lelaki itu hm? Jangan harap!” sahutnya.
Azam dan Zaidan terkekeh bersamaan, sebenarnya bertemu dengan pak Erlangga tadi sudah menjadi rencana mereka untuk mengenalkan Maryam dengan Erlangga.
Mereka merasa sudah waktunya Maryam kembali membuka lembaran baru.
“Kalian ini dasar anak-anak nakal. Awas ya nanti kalau sudah sampai, aku akan menjewer kalian” Sahut Maryam.
“Uhh, takuuut” Ucap Zaidan.
Mobil itu menjadi saksi bagaimana perasaan gundah Stella tertutupi dengan kehangatan yang tercipta antara sang suami dan saudara-saudaranya.