
Stella, Azam dan jamaah yang lainnya diberi kebebasan hingga hari ke-10. Stella dan Azam selama itu mengelilingi kota Mekkah berdua.
Pertama mereka pergi ke gurun hudaibiyah. Stella dan Azam pergi secara pribadi, meskipun sudah disediakan fasilitas bus gratis tapi, tentu saja Azam ingin menikmati masa-masa berdua bersama dengan istrinya.
Saat itu cuaca sedang terik-teriknya, untuk memasuki kawasan peternakan Stella dan Azam harus berjalan dulu, melewati lembutnya pasir di gurun tersebut. Sebagai suami siaga, Azam sudah menyediakan payung dan tidk lupa air putih untuk sang istri.
Pertama kali memasuki kawasan peternakan, Stella langsung disuguhi dengan susu-susu unta yang masih di peras, selanjutnya susu-susu tersebut dipindahkan pada botol-botol kecil. Nah susu itulah yang nantinya akan dijual pada wisatawan.
Stella minta untuk dibelikan susu itu kepada Azam. Tentu saja lelaki itu tidak menolak tapi, dia terus mengigatkan, “Jangan langsung diminum, sayang” ucapnya.
“Tapi, kan ini susu segar mas. Masa tidak boleh?” Sahut Stella.
Azam pun hanya menatap istrinya lembut, tidak ingin merusak mood wanita itu yang suka naik turun.
“Kau tau Al-Qashwa, unta kesayangan Rasulullah SAW?” Tanya Azam sembari mengajak Stella mengelilingi peternakan tersebut.
Stella menggeleng, memang dirinya tidak tau.
“Al-Qashwa ini adalah saksi perjuangan Rasulullah SAW, sebagai tunggangan untuk menjelajahi banyak wilayah dalam menyebarkan agama Islam. Dikutip dari sebuah buku, dikisahkan kalau unta tersebut-lah yang juga menentukan tempat singgah saat tiba di Madinah.
Ceritanya, saat itu matahari bersinar sangat terik di kota Madinah. Itu disebut kaum Anshar sedang beristirahat di depan rumah. Kemudian ada seorang kaum Yahudi yang datang sambil tergopoh-gopoh.
‘Apakah ia sudah datang?’ Tanya beberapa penduduk. ‘Iya, Muhammad SAW sudah datang’ jawabnya.
Penduduk langsung keluar dan berderet di sepanjang jalan untuk melihat Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk di atas punggung untanya. ‘Ya Rasulullah, singgahlah di rumah kami’ ujar seorang penduduk Madinah sembari menghampiri Rasulullah SAW. Sebagai jawaban, Rasulullah SAW hanya memberikan senyuman, sedangkan untanya masih terus berjalan tanpa mau berhenti.
Begitu seterusnya, banyak yang menawari Rasulullah SAW untuk singgah kala itu tapi, untanya belum mau berhenti. ‘Izinkan kami menjamu engkau’ – ‘Kami sudah menyediakan jamuan untukmu’. Begitulah tawaran-tawaran yang disampaikan oleh mereka.
Lalu Rasulullah turun dari Al-Qashwa, membiarkan untanya berjalan seorang diri. Akhirnya, unta Rasulullah SAW berhenti di depan tanah milik Bani Al Najjar, Abu Ayyun dimana tempat itu sering dijadikan tempat untuk menambatkan hewan tunggangan. Rupanya, hewan itu tidak mau bangkit lagi. Rasulullah dan Abu Bakar akhirnya singgah di kediaman Abu Ayyub selama beberapa waktu”
Stella mengangguk mengerti, dia merasa seperti menjadi anak kecil yang sedang didongengi oleh ayahnya.
Mereka kembali sembari membawa susu hasil peras tadi, lalu menuju bus untuk menuju tempat selanjutnya, rencananya mereka akan pergi ke perpustakaan Makkah Al-Mukarramah.
Konon, perpustakaan tersebut adalah rumah dari Nabi Muhammad SAW. Perpustakaan ini tidak jauh dari Masjidil Haram. Bentuknya sangat sederhana, tanpa pilar-pilar yang menjulang tinggi sebagai bangunan lain yang berada di sekitar sana.
Warnanya coklat muda, dipermanis dengan jendelanya yang berwarna coklat tua. Stella terdiam sebentar melihat bangunan tersebut, Di depannya terdapat tulisan ‘Maktabah Makkah Al-Mukarramah’. Di sisi kiri banguanan terdapat maklumat yang ditulis dengan enam bahasa yaitu, Arab, Inggris, Turki, India, Urdu, dan Arab Afrika.
‘Kepada saudara muslim, tidak disyariatkan ziarah di tempat ini dengan tujuan pengkultusan ibadah, disebabkan tidak ada dalil yang menjelaskan tentang itu’
Begitulah maklumat itu dituliskan. Perpustakaan itu terlihat sepi dan pintunya ditutup rapat.
“Kenapa sepi sekali?” Tanya Stella.
“Ini selalu ditutup begini apalagi ketika musim haji datang. Takut jika nanti orang-orang malah meng-kultus tempat ini sebagai tempat ibadah karena katanya tempat ini adalah tempat kelahiran nabi Muhammad SAW” Jawab Azam.
“Lalu kenapa mengajakku kemari?” Tanya Stella, bingung dengan suaminya yang malah mengajaknya datang ke tempat yang tidak boleh dikunjungi?
“Jika sekedar untuk berfoto-foto tidak apa-apa, sayang. Selama tujuanmu bukan untuk ziarah disini” Sahut Azam, mengajak Stella untuk mengabadikan moment bersama mereka.
Karena memang sudah dekat dengan hotel, Azam akhirnya mengajak istrinya untuk singgah di slaah satu gerai makanan yang bisa di takeaway untuk mengisi perut sebagai makan siang mereka.
Gerai kuliner itu terdapat di bawah Zamzam Tower dan Hilton Tower. Food center ini terletak di areal depan masjidil haram.
“Posisi pertama menara tertinggi ini dimana ya?” Gumam Stella seorang diri.
Tanpa ia sadari, ternyata saat itu Azam mendengarnya.
“Burj Khalifa, Dubai dan yang ke-dua adalah Shanghai Tower. Jika kau mengikutinya, Burj Khalifa pernah menampilkan wajah Kim Taehyung di tahun 2021 kemarin. Itu adalah project yang dibuat fans untuknya”
“Ternyata kau juga mengikuti dunia K-popers?” Sahut Stella, merasa lucu jika suaminya itu membawah perihal dunia K-pop. Menurutnya tidak sesuai dengan penampilan yang ditonjolkan oleh lelaki itu.
“Hei, aku tetap saja mengikuti perkembangan zama. Kim Taehyung dan grupnya itu membawa karya yang menginspirasi banyak anak muda, terlepas dari bagaimana keyakinan dan perihal yang sejenis” Jawab Azam, santai.
Lelaki itu memang terkesan sangat santai meskipun bisa dibilang agamanya cukup kuat.
“Mau setelag sholat dzuhur atau nanti sore sampai malam lagi jalan-jalan? Di dalam sana ada Zam-zam tower mall, ada juga zam-zam tower museum” Tanya Azam.
Dengan semangat, Stella menjawab, “kalau begitu setelah dzuhur saja. Nanti malam kita hanya perlu beristirahat untuk besok” sahutnya.
Akhirnya Azam pun hanya mengangguk. Setelah pesanan mereka selesai di proses, Azam mengajak Stella untuk kembali ke hotel sejenak untuk bersih diri lalu melakukan sholat berjamaah di masjidil haram.
Setelah itu, sesuai dengan janjinya, Azam benar-benar membawa Stella ke dalam Zamzam tower mall dulu.
Stella semangat sekali menatap souvenir-souvenir yang berada disana.
“Aku sangat ingun memborong semuanya” Gumam Stella.
Disana ada souvenir-souvenir seperti gelas, piring, melamin, mainan anak, boneka, dan masih banyak lagi. Selain itu, disana juga dijual produk fashion anak hingga dewasa, misalnya saja sepatu dan juga tas.
Setelah puas berbelanja, mereka belok ke Zamzam tower museum. Disana menyediakan berbagai informasi perihal model alam semesta yang seperti galaksi.
Stella tercengang dengan keindahan yang tersaji di hadapannya.
“Aku tidak mau pulang, aku mau disini saja” Ucap Stella, dia begitu kerasan di Mekkah. Meskipun cuacanya cukup terik, itu sama sekali tidak menyebabkan Stella undur diri dari kota suci itu.
“Iya, nanti jika ada rezeki lagi, kita berangkat bertiga dengan baby. Semoga Allah SWT selalu memberikan kita rezeki yang cukup untuk bisa kembali kemari” Ucap Azam sembari mengelus perut sang istri.
Selalu, ketika Azam mengelus perut Stella, dia akan selalu melafalkan doa sedikit lebih lama.
“Ya Allah SWT, jagalah anakku selama ia berada di dalam perut istriku, sehatkan ia karena sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Menyehatkan. Bentuk ia dalam rupa yang baik di dalam perut istriku, tetapkanlah keimanan pada-Mu dan Rasul-Mu di dalam perut istriku. Ya Allah SWT keluarkan dia dari perut istriku dengan mudah dan selamat.
Ya Allah SWT, jadikanlah ia utuh, sempurna, berakal, cerdas, berilmu dan beramal. Panjangkanlah umurnya, sehatkan jasadnya, baguskan rupanya, dan fasihkan lisannya dalam membaca hadist dan Al-Qur’an, dengan berkah dari Muhammad SAW, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan dari seluruh keberadaan”
Stella selalu suka dengan cara Azam membisikkan doa itu dengan lantunan ayat suci dari lisan suaminya sendiri, begitu teguh ia merasakannya.
Di dalam museum tersebut, ada tiga lantai. Dimana lantai pertama pengunjung akan disambut dengan miniatur alam semesta hingga galaksi dengan menggunakan ilustrasi audio video.
Sedangkan di lantai dua, dikhususkan untuk menggambarkan proses bulan, bumi dan matahari berputar. Dan di lantai tiga, adalah untuk mempelajari metode menentukan waktu dan panorama kota Mekkah.
“Subhanallah, tabarakallah” Ucap Stella sembari melihat sekelilingnya.
“Sayang, sudah mau memasuki waktu ashar. Disini, biasanya aktivitas akan dihentikan karena memang tempatnya juga digunakan untuk sholat berjamaah” Ucap Azam.
Stella mengerti jadi, dia memilih untuk menghentikan aktivitasnya, mengambil wudhu dan akhirnya melakukan sholat Ashar berjamaah masjidil haram bersama dengan Azam dan jamaah yang lain.