Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Malam Panas Pasutri


Ceklek


Terlihat Stella baru keluar dari kamar mandi, menggunakan bathrobe dan juga sebuah handuk melilit di kepalanya.


“Gantian, mas” Ucap Stella pada suaminya. Lelaki itu sedang bersandar pada kepala ranjang. Melihat istrinya rambutnya sudah di lilit dengan handuk membuatnya diam-diam tersenyum.


“Sudah keramas?” Tanya Azam.


Stella mengangguk polos sambil menatap Azam.


“Berarti sudah suci ya?” Tanya Azam lagi.


Sekali lagi, Stella hanya mengangguk. Dia tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya itu menuju ke arah mana.


Azam mendekati Stella, “Terus sebentar lagi mau apa?” Tanyanya.


“Ya, sholat maghrib terus siapin makan malem buat kamu” Jawab Stella.


Azam mengangguk, “Kalau begitu tunggu sampai habis isya. Aku menunggumu datang, sayang” ucapnya, meniup pelan telinga istrinya.


Saat itu juga, Stella mengerti kemana arah pembicaraan Azam. Dia membelalakkan matanya, menatap suaminya yang sudah melenggang memasuki pintu kamar mandi.


Wanita itu diam-diam menelan salivanya kasar. Bingung, harus bagaimana. Padahal dulu dirinya begitu lihai menggoda tapi, sekarang? Kemana perginya ‘keliahaian’-nya itu? Kemana hilangnya Stella yang nakal dulu?


Stella memasuki walk in closet, menyiapkan baju untuk suaminya sekaligus melihat beberapa baju dinas yang ia simpan di laci paling bawah, dia mengunci dan menyimpan kunci tempat itu agar Azam tidak melihatnya, akan sangat memalukan jika lelaki itu melihat baju dinas yang masih baru-baru tersimpan di lemari mereka.


“Apa sudah saatnya?” Gumam Stella, memandang lingerie berwarna merah yang begitu menggoda.


Ceklek


Buru-buru Stella menutup laci itu dan berdiri, membawa baju pilihannya ke kamar mereka lalu meletakkannya di kasur.


Setelah itu mereka mengerjakan sholat maghrib bersama, dilanjut dengan mengaji hingga isya menyapa.


Begitu keseharian mereka berdua selama di rumah. Biasanya setelah sholat isya, Stella akan menyiapkan makan malam untuknya dan untuk suami. Mereka sengaja tidak menyewa asisten rumah tangga. Stella bilang, dia bisa mengatasi semua. Apalagi ketika Azam berangkat bekerja, akan sangat membosankan jika hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun.


Malam itu, Azam memilih memanjakan istrinya dengan memesan makanan kesukaan Stella, setelah makan malam berakhir, Azam duduk di balkon kamar mereka ditemani dengan laptop yang menunjukkan deretan tulisan perihal pekerjaan.


“Maas, katanya mau aku. Kok masih bekerja hm?” Bisik Stella tepat di telinga kanan Azam. Tangannya merangkul bahu sang suami dengan lembut.


Sontak darah Azam berdesir, dia menatap sang istri yang begitu cantik. Rambutnya yang biasa lurus kini dibuat bergelombang, menggantung di ujung rambut. Bahkan Stella sepertinya juga berdandan maksimal malam itu. Belum lagi setelan lingerie merah yang tadi di pegang Stella, kini sudah terpasang sempurna di tubuhnya.


“Sayang, is this you? Look so pretty” Ucap Azam. Dia segera menutup laptopnya, membawana masuk bersama dengan pandangan mata yang tidak lepas dari sang istri.


Dengan cepat pintu balkon di kunci oleh Azam. Lelaki itu berjalan perlahan menuju sang istri hingga Stella terjatuh terlentang di atas ranjang mereka.


“Apa boleh?” Tanya Azam, dia mengelus pelan bibir mungil Stella.


Dengan memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan sang suami untuknya, Stella mengangguk.


Azam segera mel*mat pelan bibir pink Stella, terasa begitu manis untuknya. Lalu menjalar hingga sampai leher, memberi tanda kepemilikan disana.


Dengan memejamkan mata, Stella mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya. Dia sadar, bahwa yang dulu ia lakukan semuanya salah, bukan dengan mahramnya saja sudah salah, menyalahi aturan juga.


Azam dan Stella kembali saling memag*t setelahnya.


“It’s show time, baby. Tunjukkan yang terbaik dari dirimu hm” Bisik Azam lagi lalu kembali menyecap rasa manis dari kulit Stella.


“Huuh” Stella hanya bisa menggelinjang ketika Azam memberinya kenikmatan yan belum pernah ia rasakan sensasi yang sebegitu dahsyatnya.


Meskipun dulu dirinya sering melayani lelaki hidung belang di luar sana tapi, dia tidak melakukannya dengan cinta, hanya demi kepuasan dan kebebasan semata.


Kali ini, bersama dengan Azam yang berstatus menjadi suaminya juga dengan cinta dan kasih sayang yang tumbuh di antara keduanya, untuk Stella sensasinya benar-benar berbeda.


“I like your smell, honey” Bisik Azam dengan suara yang berat dan rendah, menambah erotisme kegiatan mereka malam itu.


“Oh, yes daddy. I like your move” Sahut Stella.


Hal itu jelas membuat Azam langsung meninggi birah*nya, terpacu dengan suara Stella yang terdengar begitu sexy di telinganya.


Tak lama, udara malam yang tadinya terasa dingin menusuk kulit, kini berganti menjadi panas yang penuh gair*h.


“Sayang, kamu ikhlas kan? Aku tidak mau melakukan ini dengan terpaksa” Ucap Azam ketika Stella sedang memainkan si Azam junior.


“Karena kamu suamiku dan kamu akan menjadi yang terakhir untukku, aku ikhlas mas” Jawab Stella lembut.


Tanpa banyak bicara lagi, Azam menekan Stella untuk melanjutkan aksinya.


“Gila, sentuhannya luar biasa nikmat” Kira-kira begitu batin Stella ketika Azam memainkan dirinya bukan hanya dengan sentuhan-sentuhan kecil, bahkan mungkin seluruh tubuhnya sudah dipenuhi dengan kecupan dari Azam.


Diam-diam Stella berpikir, bukankah suaminya adalah anak pondok? Apakah suaminya sudah pernah melakukannya? Kenapa seperti begitu lihai lelaki itu mempermainkan dirinya.


Huh


Huh


Suara deru nafas keduanya terdengar jelas dalam ruangan tersebut. Menghabiskan malam itu tidak cukup hanya dengan satu kali permainan.


Azam memeluk istrinya, tubuh mereka di tutup selimut hingga sampai ke dada.


“Terimakasih” Ucap Azam sembari mengecup kening Stella lebih lama.


Stella memejamkan mata sambil mengangguk, tersenyum dengan hembusan napasnya yang masih terasa berat.


Azam menyurai pelan rambut istrinya, “Aku mencintaimu” ucapnya, lagi-lagi mencium kening istrinya penuh sayang.


Stella yang mendengar hal itu untuk pertama kali dari suaminya langsung berdebar kencang jantungnya. Bibirnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia memeluk Azam erat.


“Love you too, hubby” Jawab Stella, menyembunyikan rona pipinya pada dada bidang Azam.