Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Pelajaran Hari Ini


Stella sudah mengabari Viona kapan hari dan wanita itu mau memenuhi syarat dari Azam. Dia datang ke kediaman Stella dan Azam membawa kopernya.


“Vionaaa” Ucap Stella, dia setengah berlari menemui teman baiknya itu. Stella pun segera memeluk wanita itu dengan begitu erat.


“Aku sangat merindukanmu” Ucap Stella.


“Aku juga” Sahut Viona sembari tersenyum.


“Kau cantik sekali dengan hijab seperti ini. Aku hampir tidak mengenalimu tadi” Ucap Stella, memuji Viona yang saat itu menggunakan celana hitam (sedikit ketat) dengan tunik panjang warna maroon dipadukan dengan hijab segiempat berwarna hitam. Meskipun hijabnya memang masih menunjukkan bagian dadanya tapi, itu sudah cukup baik di mata Stella.


“Bukankah kau lebih cantik dengan gamis ini?” Ucap Viona, merendahkan dirinya.


“Ah tidak juga. Semoga kau cepat mendapat hidayah ya, kan seru jika kita bisa belajar agama bersama ketika sedang mengisi waktu luang” Sahut Stella dengan wajahnya yang begitu sumringah.


Mereka akhirnya berbincang sebentar, sembari Stella menjelaskan tugas-tugas Viona di rumah itu.


Azam sedang bekerja, dia tidak tau bahwa Viona datang hari ini tapi, Stella sudah mengatakan bahwa Viona akan datang secepatnya.


“Dimana suamimu?” Tanya Viona, celingukan melihat ke sekitarnya tetapi tidak menemukan Azam dimana-mana.


“Dia sedang bekerja” Jawab Stella, dia merasa tidak cemburu, toh Viona belum pernah bertemu dengan Azam sebelumnya.


“Oh, sudah waktunya makan siang ya? Aku mau memasak dulu ya, kasian jika mas Azam menunggu nanti” Ucap Stella pada Viona. Dia langsung menunjukkan kamar milik Viona yang berada di dekat dapur.


Sebenarnya, jika kemauan Stella tentu saja ingin agar teman baiknya itu tinggal di ruang tamu saja tapi, Azam tidak mengizinkannya. Takut akan menjadi fitnah, begitu katanya.


Setelag itu, Stella pergi ke dapur untuk menata makanan sebagai makan siang Azam. Kebiasaan lelaki itu masih sama, dia masih begitu suka makan siang di rumah. Sekalipun sedang bekerja, entah Azam yang pulang atau Stella yang mengantar makanannya dengan ojek atau bersama dirinya sendiri. Hal-hal kecil seperti itu malah menambah kerharmonisan mereka.


“Mas, aku ke kantor ya hari ini?” Tanya Stella, dia sedang melakukan panggilan video dengan Azam sembari menyiapkan makan siang suaminya.


“Jangan, antar pakai ojek aja ya seperti biasa. Hari ini aku sibuk sekali, tidak sempat istirahat meskipun sejenak” Ucap Azam.


Sebenarnya, lelaki itu suka sekali jika sang istri mau datang ke kantor, hanya saja dia takut jika Stella akan merasa lelah dan bosan nantinya.


“Mas yakin? Nanti bisa-bisa tidak dimakan ini makan siangnya” Jawab Stella sembari merengut.


Azam terkekeh, gemas sekali dengan istrinya yang sedang merajuk itu.


“Aku tidak mau kau lelah, sayang. Menungguku bekerja akan membuatmu bosan” Sahut Azam.


Stella terdiam sejenak, fokus dengan masakannya.


Diam-diam dari kamar, ketika ingin menutup pintunya yang tidak tertutup sempurna, Viona melihat kehangatan keluarga kecil teman baiknya.


“Dia sangat beruntung” Gumam Viona sebelum akhirnya menutup pintu kamarnya.


“Pokoknya hari ini aku mau kesana. Tidak peduli apapun alasannya” Ucap Stella, mutlak.


Itu adalah ultimatum yang tidak bisa dibantah oleh Azam. Memang ada kalanya Azam membiarkan Stella mengelurkan pendapat, juga melakukan sesuatu yang ia suka dan ia inginkan. Selama itu tidak membahayakan sang istri, Azam akan selalu mengangguk.


Karena sejatinya hubungan suami istri itu antara dua orang dan dua arah. Bukan hanya istri yang harus patuh dan memahami suami tapi, suami juga harus mengerti permintaan sang istri.


“Baiklah, telfon mbak Deden dulu ya. Hati-hati di jalan” Ucap Azam.


Setelah selesai dengan kesibukannya, Stella segera bersiap.


Tok


Tok


Tok


Stella mengetuk pintu kamar Viona, di depan pintu itu Stella berdiri sembari menenteng rantang makanan.


Ceklek


“Aku tinggal dulu ya, tolong jaga rumah dengan baik, aku akan pulang sedikit sore” Ucap Stella. Ternyata dia ingin berpamitan dengan teman baiknya itu.


“Iya, hati-hati ya” Jawab Viona, tersenyum.


Hari itu entah kenapa suasana hati Stella merasa begitu senang. Entah karena dia akhirnya memiliki teman di rumah, atau memang suasana hati bawaan ibu hamil saja.


Intinya dengan senyum merekah di wajahnya, Stella memasuki ruangan Azam dengan sumringah.


“Assalamu’alaikum” Ucap Stella.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Masuk, sayang” Ucap Azam.


Lelaki itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Padahal, seluruh karyawan sudah berhamburan kesana kemari untuk menghabiskan waktu istirahat mereka.


Memang Azam tidak pernah berubah, meskipun sedang bekerja, lelaki itu masih saja bersikap manis pada sang istri, terbukti sekarang dia malah menghampiri Stella sembari mengecup kening Stella pelan. Dia juga memeluk istrinya sedikit lebih lama, meluapkan rasa lelahnya.


“Sudah?” Tanya Stella setelah Azam melepaskan pelukannya.


Azam pun hanya mengangguk pelan. Terlihat sekali lelaki itu akhir-akhir ini kurang tidur. Selain terjaga karena pekerjaannya yang tidak kunjung usai, dan mengharuskannya melakukan lembur pribadi di rumah, Stella juga sedikit rewel jika malam hari menyapa.


Seperti beberapa waktu lalu, tiba-tiba Stella terbangun dari tidurnya dan muntah-muntah, katanya tidak tahan dengan bau seprei yang digunakan, padahal seprei itu baru diganti sekitar dua hari sebelumnya.


Akhirnya, Azam pun harus bangun dan mengganti sepreinya dengan yang baru agar Stella dapat tidur dengan nyaman. Tapi, walaupun seperti itu Azam sama sekali tidak protes, dia dengan sabar dan telaten membantu sang istri dan menuruti kemauan wanita itu.


“Aku makan nanti saja ya, sayang. Pekerjaanku sedikit menumpuk, kau bisa lihat itu” Azam menunjuk meja kerjanya yang begitu berantakan dengan berkas-berkas berserakan disana, “Aku akan ada meeting setelah jam makan siang jadi, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu” ucapnya.


Stella diam, menatap Azam dan meja kerja suaminya secara bergantian.


“Baiklah, kau bisa bekerja dan aku akan menyuapimu. Ide itu terdengar tidak buruk bukan?” Tanya Stella, menaik turunkan alisnya.


Azam pun tersenyum, jika istri yang lain apa mungkin mereka akan sepengertian itu? atau apa mereka akan memiliki inisiatif seperti itu? pikir Azam sambil melihat Stella penuh sayang.


“Baiklah, kau tidak keberatan kan?” Tanya Azam.


Stella menggeleng, “Aku sama sekali tidak keberatan, suamiku bekerja juga untukku. Lagipula ketika meeting dengan perut kosong memangnya enak? Bukankah itu malah akan membuat fokusmu terpecah? Jadi, makanlah dengan baik agar kau bisa beraktivitas dengan baik pula” Sahut Stella.


“Iya sayang” Jawab Azam, mengecup bibir Stella singkat lalu berjalan menuju mejanya, duduk disana melanjutkan pekerjaan sambil menunggu Stella menyiapkan makan siangnya.


Dengan telaten, Stella menyuapi Azam yang sedang berkutat dengan laptopnya. Siapapun pasti iri melihat kemesraan pasangan muda itu.


“Tadi Viona sudah datang, mas” Ucap Stella pada Azam, sembari menyuapi sang suami.


“Lalu?” Tanya Azam.


Sebenarnya itu bukanlah masalah yang penting untuknya.


“Masyaallah, dia cantik sekali menggunakan hijab. Aku pangling melihatnya” Sahut Stella, memuji Viona di hadapan sang suami.


“Lalu?” Tanya Azam lagi.


Sebenarnya, bagi Azam sahutan itu adalah sekedar formalitas. Dia sama sekali tidak tertarik dengan pembahasan tentang Viona.


“Ih mas Azam kok responnya hanya begitu?” Ucap Stella, merajuk dengan tanggapan sang suami.


Azam hanya tersenyum dengan respon istrinya yang seperti itu. Pelan dia menuntun istrinya mendekat ke arahnya, Azam juga meletakkan rantang yang dibawa Stella ke meja lalu, membuat wanita itu duduk di pangkuannya.


“Dengarkan aku baik-baik sayang. Sejujurnya, aku sama sekali tidak tertarik dengan cerita perihal Viona, sekalipun itu adalah kau, wanita teristimewa yang bercerita. Menceritakan wanita lain kepada suami itu tidak diperkenankan sayang. Itu memiliki mudharat yang besar, dimana itu bisa saja mengganggu keharmonisan kita.


Rasulullah SAW, bersabda ‘Janganlah seorang istri menceritakan seorang perempuan lain lalu menyifati wanita itu kepada sang suami seakan-akan suaminya melihat hal itu’. Sampai disini sudah mengerti, sayang?” Ucap Azam sembari mengecup pundak sang istri yang tertutup hijab itu pelan.


Stella pun mengangguk sebagai jawaban, “Maafkan aku mas” ucapnya.


“Tidak apa-apa, kita belajar bersama-sama dalam mengarungi rumah tangga ya. Jangan sungka, ketika aku salah maka tegurlah aku, begitu pula sebaliknya” Jawab Azam.