Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Rencana Umroh


Hari demi hari berlalu, perlahan-lahan semua kembali seperti semula. Kabar waktu itu, seolah telah hilang bersama angin yang membawanya.


Kini, Stella dan Azam sudah kembali ke rumah pribadi mereka. Maryam berada di pondok untuk mengurus skripsinya.


Menikah setelah lulus SMA lalu menjadi ibu rumah tangga, membuatnya tidak bisa mengenyam pendidikan. Wanita itu akhirnya terlambat mengenyam pendidikan S1-nya karena perceraian yang terjadi antara dirinya dengan sang suami.


“Sayang, aku mau bicara” Ucap Azam.


Dia duduk di samping istrinya yang sedang membaca kitab yang diberikan oleh Maryam dulu. Wanita itu rupanya sedang menunggu suaminya bekerja. Weekend tidak membuat Azam lepas dari pekerjaannya begitu saja.


Stella menutup bukunya lalu menatap Azam, “Ada apa, mas?” Tanya Stella.


“Mau bulan madu?” Tanya Azam, dia mengambil tangan Stella lalu mengelusnya perlahan. Seperti biasa, sikap lembut itu mengantar Stella pada kenyamanan.


Stella terdiam sesaat, tidak bisa berkata-kata lagi. Apalagi itu menyangkut perihal bulan madu. Jangankan mau bulan madu, mereka melakukan hubungan suami istri saja masih belum.


“Kenapa tiba-tiba jadi membicarakan bulan madu?” Tanya Stella.


Azam tersenyum, “Tidak ada, hanya ingin mengajak saja. Barangkali kau ingin pergi ke suatu tempat seperti pengantin baru pada umumnya?” tanyanya.


“Aku terserah saja, tidak menuntut apapun darimu. Bersamamu seperti ini saja sudah senangnya luar biasa” Jawab Stella, cukup membuat Azam jadi tersenyum senang.


“Aku sudah memesan tiket umroh untuk minggu depan, kita berangkat ya sekalian liburan” Ucap Azam lagi mendapati Stella tidak kunjung menjawab.


“Apa aku tidak salah dengar? Apa aku pantas kesana? Apa tidak masalah jika aku menginjakkan kaki disana?” Ucap Stella, matanya berbinar menunjukkan kebahagiaannya.


Azam memeluk Stella, dia gemas sekali dengan istrinya itu.


“Tentu saja boleh, sayang. Ada tiga jenis panggilan dari Allah SWT. Kau tau apa saja itu?” Azam bertanya dengan mengelus pelan puncak kepala sang istri.


Sebagai jawaban Stella menggeleng perlahan lalu menatap Azam, meminta jawaban.


“Yang pertama panggilan sholat lima waktu, adzan yang biasa kita dengar itu adalah panggilan dari-Nya agar kita segera menghadap pada-Nya. Yang kedua Umroh dan haji, itu juga adalah panggilan dari Allah SWT, perjalan ibadah kita di tanah suci, Mekkah. Dan yang terakhir, kematian.


Umroh dan haji itu bukan tentang materi, sayang. Ada berbagai macam cara Allah SWT memanggil hamba-Nya pergi ke tanah suci. Yang tidak punya uang tiba-tiba mendapat rezeki dan memiliki banyak uang untuk pergi ke tanah suci, ada juga yang tidak pernah membayangkan pergi tiba-tiba pergi entah dengan perantara dari mana yang di datangkan Allah SWT untuknya. Itu adalah salah satu bentuk kecintaan Allah SWT kepada kita, hamba-hambaNya”


Stella mendengarkan suaminya dengan seksama, merekam setiap perkataan yang disampaikan lelaki itu untuk dirinya.


Sama sekali masih belum pernah terbayang di pikiran Stella, bahwa dia akan menikah dengan lelaki yang tutur katanya selembut Azam, pun kesabarannya setulus Azam.


Azam, lelaki itu mampu membuat Stella jatuh dan jatuh dengan setiap pesona yang dimilikinya setiap waktu.


“Terimakasih. Aku sangat bersyukur bisa memilikimu, meski awalnya aku yang begitu buta dengan pendidikan agama tapi, kau mampu mengajariku dengan sabar” Sahut Stella, mengeratkan pelukannya pada sang suami.


“Sudah menjadi tugasku, sayang” Jawab Azam.


“Minggu depan begitu cepat, mas. Aku masih tidak bisa apa-apa mas” Sahut Stella.


“Satu minggu, aku rasa kau cukup cerdas untuk belajar dalam waktu selama itu. Kak Maryam sudah mengatakan, kau cerdas dalam menyerap suatu materi” Jawab Azam.


Stella pun tersenyum dan mengangguk.


“Aku sering kali melihat banyak orang yang ingin sekali pergi ke tanah suci. Kira-kira alasan utama mereka apa ya, mas?” Tanya Stella.


“Yang paling utama, mungkin ibadah. Lagipula ada banyak sekali keutamaan umroh dan haji, sayang. Salah satunya juga, jika kita meminta susatu kepada Allah SWT, insyaallah akan dikabulkan segala doanya. Apa ya kalau kita namakan, emm” Azam menghentikan sebentar kalimatnya, memikirkan kata yang tepat untuk mendeskripsikannya, “Oh ya, previlese”


Azam menggunakan bahasa yang terkesan santai untuk mengimbangi istrinya.


“Dalam suatu hadist Ibnu Majah juga juga menyebutkan Rasulullah SAW bersabda, orang yang mengerjakan umroh adalah tamu Allah SWT. Maka, jika kita memohon pada-Nya pasti dikabulkan doa-doaNya dan jika kita memohon ampus pasti diampuni-Nya. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan keduanya.


Selain dari itu, banyak sekali orang yang ingin sekali melakukan sholat berjamaah di masjid Quba. Dimana kita akan mendapatkan pahala yang berlipat jika melakukan ibadah disana”


Stella lagi-lagi hanya bisa mengangguk mengerti, kagum dengan keyakinan yang semakin ia dalami, semakin cinta pula dengan Allah SWT.


“Sepertinya bulan madu di Madinah akan menyenangkan, mas. Ibadahnya bisa berlipat-lipat” Ucap Stella asal.


Membayangkan menjalankan ibadah sunnah sekaligus ibadah suami istri disana terdengar begitu menyenangkan sepertinya.


“Sudah sore, aku mau mandi dulu. Mas dulu atau aku dulu?” Ucap Stella.


Hari memang sudah mulai petang, matahari hampir tenggelam di sebelah barat sana, sudah waktunya bersih diri.


“Kau duluan saja, aku akan mengerjakan beberapa hal dulu lalu menunggu di kamar” Ucap Azam, dia mengelus pelan puncak kepala Stella dan menciumnya sedikit lama.


“Baiklah, jangan terlalu lama bekerjanya, tidak baik mandi terlalu malam” Ucap Stella lalu pergi menuju sebuah pintu yang menghubungkan ruang kerja itu dengan kamar mereka.