Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Seputar Kehamilan


Beberapa bulan telah berlalu, sore itu setelah Azam pulang dan bersiap, Azam dan Stella pergi ke dokter kandungan yang direkomendasikan oleh Zaidan sebelumnya.


“Aku tinggal ke rumah sakit ya, Viona. Jaga dirimu baik-baik” Ucap Stella, pamit kepada Viona yang saat itu sedang menyirami tanaman.


“Iya, hati-hati” Jawab Viona.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” Ucap Stella dan Azam bersamaan.


“Wa’alaikumsalam” Jawab Viona.


Dia mulai bisa terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di dalam rumah Stella dan Azam. Bahkan sekarang dia juga sudah belajar sholat dan belajar ilmu agama bersama dengan Stella. Kadang, mereka akan pergi ke pengajian bersama. Membuat beberapa orang bertanya-tanya perihal keberadaan Viona disana.


Pernah suatu ketika, mereka sedang berjalan pulang dari jalan-jalan sore di sekeliling komplek itu.


“Neng, ini siapa? Kok saya sering lihat ada di rumah neng Stella sekarang” Ucap salah seorang ibu-ibu.


“Oh, ini teman saya dari kota sebelah. Kebetulan memang berada di rumah untuk membantu saya, bu” Jawab Stella, ramah.


“Oh saya kira ini istri kedua mas Azam atau saudaranya mbak Stella soalnya sama-sama cantik” Jawab ibu-ibu itu lagi.


Deg


Sontak hal itu jelas membuat jantung Stella berhenti berdetak. Istri kedua katanya?


“Insyaallah mas Azam adalah lelaki setia dan amanah dengan janjinya, bu. Mas Azam juga selalu menjaga jarak dengan wanita lain, termasuk dengan Viona. Lagipula, saya tidak pernah keluar rumah jadi, ketika mas Azam di rumah saya juga ada di rumah, tidak pernah berduaan dengan lawan jenisnya” Jawab Stella ramah.


Ya, Stella memang sudah se-percaya itu dengan suaminya. Tidak terbesit sedikitpun perasaan Stella meragukan suaminya.


“Aduh neng, hati-hati ya. Apalagi mas Azam kan orangnya berkarisma sekali ya, kalau bisa jangan tinggal satu atap dengan seseorang yang bukan mahram, takut jadi fitnah” Ucap ibu itu sebelum akhirnya pergi dan berlalu setelah mengucap salam.


Saat itu Stella terdiam sejenak, memikirkan perkataan ibu tadi. Tapi, segala pikiran buruknya segera ia tepis, “Maafkan ibu tadi ya, dia tidak bermaksud menyakiti hatimu. Dia mengatakan hal yang benar hanya saja dia kan tidak tau bagaimana aku dan mas Azam sudah mempertimbangkan keputusan kami sebelumnya” ucap Stella.


Viona hanya tersenyum dan mengangguk.


“Aku adalah istri sah mas Azam dan tidak akan aku biarkan wanita manapun merebut hak milikku” Gumam Stella lagi dengan senyum merekah si wajahnya.


Mulai hari itu, memang Stella mengantisipasi hal-hal yang mungkin saja terjadi. Dimulai dari jam kerja Viona yang dilakukan saat Azam sudah berangkat bekerja saja.


Dilanjut dengan sarapan dan makan malam yang tidak satu meja (Jika yang ini adalah permintaan Azam, dia merasa tidak nyaman satu meja makan dengan orang lain, jika berada di luar rumah mungkin masih bisa ditoleransi tapi, ini adalah rumah, dimana seharusnya Azam bebas) sampai juga jika waktu Azam datang, hendaknya Viona memang menggunakan cadar untuk menghindari Azam melihat wajah Viona.


Itu jelas bukan peraturan yang dibuat sepihak. Peraturan-peraturan seperti itu memang sudah ditetapkan setelah mendapat persetujuan dan ketidak keberatanan dari Viona sendiri. Bukan bermaksud mengekang atau tidak percaya dengan teman sendiri tapi, Stella lebih memilih untuk berhati-hati. Apalagi, dirinya lah yang sudah memohon-mohon pada Azam untuk memasukkan Viona ke dalam rumah mereka.


“Bagaimana, dokter?” Tanya Azam pada dokter kandungan itu.


“Alhamdulillah janinnya tumbuh dengan sehat ya. Ibu dan bayinya sehat” Ucap dokter itu sambil menuliskan resep untuk Stella.


“Dok, apa saya boleh tanya? Tapi, ini mungkin sedikit intim, apa tidak masalah?” Tanya Stella.


“Tentu saja boleh, tanyakan apa saja perihal kehamilan bu Stella, pasti saya akan menjawab seusai dengan pengetahuan yang saya miliki” Jawab dokter itu.


Stella menarik napasnya perlahan, sebenarnya dia sangat malu, “Apa kami diperbolehkan untuk berhubungan ketika di masa hamil muda begini?” tanyanya.


Doker muda itu tersenyum dengan wajah Stella yang memerah setelah mengeluarkan pertanyaan itu. terlihat sekali jika Stella sedang menahan malu setengah mati.


“Selama ibu hamil dalam keadaan sehat dan tidak memiliki riwayat gangguan kehamilan sebelumnya, jelas diperbolehkan. Hanya saja memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Apa saja itu?


Yang pertama, menciptakan suasana yang nyaman. Lalu, pilih posisi yang aman. Jika dalam hal ini, ada beberapa posisi yang mungkin bisa dilakukan, seperti berbaring menyamping dan woman on top. Hindari posisi yang dapat menekan perut ibu hamil, seperti posisi terlentang atau misionaris.


Yang ketiga, rileks saja saat melakukan penetrasi. Jangan memaksa jika sedang tidak dalam suasana hati yang baik”


Azam menelan salivanya, dia juga malu sebenarnya. Bahkan dokter itu dengan mudahnya meluncurkan perkataan se-vulgar itu.


“Beberapa hari yang lalu sudah tapi, kenapa rasanya sakit ya dok?” Tanya Stella.


“Itu mungkin dipicu oleh perubahan tubuh. Sensitivitasnya juga meningkat, nah disinilah seharusnya mengatur posisi yang tepat dan nyaman. Selanjutnya bisa jadi karena v*gina jadi lebih kering, perubahan hormon bisa menyebabkan hal ini terjadi, jika memungkinkan, gunakan alat bantu pel*mas. Intinya, cari posisi yang nyaman. Jika, terjadi hal-hal yang mungkin tidak diinginkan, sebaiknya periksakan lagi secara berkala” Ucap sang dokter.


Stella dan Azam pun hanya mengangguk mengerti, “Baiklah, kalau begitu terimakasih ya dok” Ucap Stella.


Wanita itu berdiri untuk bersalaman dengan dokternya yang sudah menemani dari awal kehamilan hingga sekarang menginjak usia 4 bulan.


“Saya permisi dulu, assalamu’alaikum” Ucap Azam, lalu membawa istrinya keluar untuk mengambil obat.


Setelah sampai di mobil, Stella langsung menghadap ke arah sang suami.


“Mas, memangnya dalam islam boleh menggunakan pel*mas saat sedang berhubungan?” Tanua Stella.


Azam mengecup bibir istrinya pelan, gemas sekali sejak tadi melihat wajah merah Stella yang menahan malu “Boleh sayang. Islam mengatur segala urusan dunia secara menyeluruh, termasuk dalam hal berhubungan suami istri atau biasa kita sebut jimak.


Dari Syabakah Islamiyah asuhan dari Syaikh Abdullah Al-Faqih ini menjelaskan bahwa boleh menggunkaan minyak untuk mel*masi kem*luan agar mempermudah jimak. Bahkan terkadang disarankan agar salah satu tidak merasakan sakit” Jawab Azam lalu menarik seatbelt untuk istrinya, lalu miliknya sendiri.


“Mas, selama ini kan aku tidak pernah menolak ajakan mas Azam untuk itu ya. Bagaimana jika suatu saat nanti aku menolak, memangnya boleh?” Tanya Stella lagi, rupanya rasa penasaran wanita itu begitu besar.


“Dalam hadist riwayat bukhari dan muslim menjelaskan ‘Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjang dan lantas istrinya enggan memenuhi, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh tiba’. Bisa menarik kesimpulan dari hadist itu, sayang?” Tanya Azam.


Stella mengangguk, dia jelas tau bahwa menolak ajakan suami adalah hal yang tidak perkenankan. Itu adalah salah satu kewajiban istri untuk melayani suaminya dengan baik.


“Hmm, bagaimana jika ternyata suatu saat nanti aku yang sedang ingin tapi, akhirnya mas Azam yang menolak karena lelah atau karena bosan? Bukankah kita tidak pernah mendengar dalil tentang itu?” Tanya Stella lagi.


Bukankah memang benar, tidak ada dalil yang menjelaskan bagaimana jika suami yang menolak ajakan istri saat berhubungan?


“Itu adalah hak nafkah batin istri, bukankah jika aku menolaknya maka itu termasuk kedalam aku menelantarkan hakmu? Bukankah itu termasuk juga aku berdosa dan mendzalimi dirimu?


Allah SWT memerintahkan kami, para suami untuk menggauli istrinya dengan baik. Allah SWT berfirman, ‘Wanita punya hak yang harus ditunaikan suaminya, sebagaimana dia juga punya kewajiban yang harus ditunaikan untuk suaminya’. Itu terletak dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 228”