
Pagi-pagi sekali Stella sudah bersiap, rencananya ingin bertemu dengan Viona, mereka sudah membuat janji semalam.
Diantar oleh Azam yang akan berangkat ke kantor cabang bersama Zaidan dan Maryam.
“Hati-hati, kabari aku kalau sudah selesai. Aku akan menjemputmu” Ucap Azam kepada Stella saat wanita itu sudah turun di sebuah café.
“Iyaa” Jawab Stella sembari mencium punggung tangan suaminya, “aku masuk dulu mas, assalamu’alaikum” Stella pamit meninggalkan suami dan saudara-saudara iparnya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab ketiga saudara itu bersamaan.
Stella memasuki ruang private disana, disediakan untuk orang-orang VIP. Karena memang biasanya café itu juga ditempati oleh beberapa pekerja untuk berdiskusi atau anak-anak sekolah untuk mengerjakan tugas.
“Assalamu’alaikum” Gumam Stella sembari membuka pintu.
Di dalam sana sudah ada Viona, teman satu-satunya yang berada di kota ini.
Maklum, menjadi seseorang yang angkuh selama ini, tidak membuat Stella memiliki banyak teman. Hanya Viona, itu pun bertemu pada kejadian yang menurutnya tidak begitu baik.
Tidak ada teman kuliah, tidak ada teman SMA apalagi teman SMP seperti yang lainnya. Setiap ada acara reuni, Stella adalah salah satu yang tak dianggap meskipun dirinya memiliki segalanya.
“Stella” Sapa Viona, wanita itu berlari kecil menyambut temannya itu, memelukk Stella sebentar lalu mengajaknya ke meja makan.
“Kau terlihat sangat berbeda dari terakhir kali kita bertemu” Ucap Viona, dia lagi-lagi hanya bisa memandang Stella dari atas sampai bawah.
Melihat bagaimana Stella mengenakan pakaiannya sekarang, tetap modis meskipun menutup semua auratnya.
“Ini berkat suamiku” Ucap Stella.
“Kau sudah menikah? Dengan siapa? Apa yang bersamamu di supermarket semalam?” Tanya Viona, lebih terkejut karena tiba-tiba saja Stella membawa kabar bahwa dirinya sudah menikah.
Stella mengangguk, menyetujui pernyataan Viona, “Iya, dia suamiku. Namanya mas Azam. Kami bertemu secara tidak sengaja, dia banyak menolongku. Awalnya dia menolongku ketika kejadian malam itu dengan Demian. Selanjutnya, dia yang menyelamatkanku dari begal yang merenggut nyawa orang tuaku”
“Dan sebagai imbalannya, kau menikah dengannya?” Tanya Viona, menebak-nebak apa yang selanjutnya terjadi.
Stella menggeleng, tersenyum sebentar saat mengingat bagaimana dulu ia begitu menolak Azam. Bahkan dengan lantang berbicara tidak sopan, “Papa memberinya amanat untuk menjagaku tapi, akhirnya malah dia mau menikahiku untuk memenuhi amanat itu” jawabnya.
Stella banyak bercerita, bagaimana kehidupannya setelah menikah. Juga bagaimana Azam mampu menjadi guru yang baik untuknya.
“Insyaallah, dia adalah lelaki yang tepat pilihan papaku” Ucap Stella mengakhiri ceritanya.
“Kau beruntung sekali ya Stella. Sedangkan aku? Masih terjerat dengan mami El sampai sekarang, hutangku seperti sama sekali tidak berkurang, aku jadi merasa begitu tertekan disana lama-lama. Sejak kau tidak ada, mami El selalu marah-marah dan kadang memberikan kami klien yang sama sekali tidak baik, memperlakukan kami dengan kasar atau malah membayar kami hanya setengah.
Rasanya begitu melelahkan hidup seperti ini, ingin mati saja jika terus begini. Tapi, aku masih memikirkan nasib keluargaku jika begini” Sahut Viona, terpancar gurat kesedihan di wajahnya, bahkan air matanya sudah menggenang, siap untuk melucur kapan saja.
“Apa kau tidak ingin mencari pekerjaan lain? Yang lebih baik?” Tanya Stella.
“Tentu saja aku ingin tapi, kau tau sendiri kan? Mami El tidak akan membiarkan kami keluar dari lubang kehancuran itu, dia akan menggunakan berbagai cara dan ancaman agar kami tetap berada disana” Jawab Viona.
Stella menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Viona. Watak itu yang memang dimiliki oleh mami El. Seseorang yang dulu menurutnya baik, ternyata adalah seekor ular berbisa, siap meracuni siapa saja yang mengganggunya.
“Emmm, jika kau mau mungkin kau bisa ikut kami ke tempat suamiku? Aku akan tanyakan dulu padanya nanti ya, aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri, dia harus memberiku izin” Sahut Stella.
Viona mengangguk, dia tersenyum sekaligus menangis. Bagaimana bisa wanita penghibur kelas atas seperti Stella, kini berubah menjadi seorang wanita anggun dengan tutur kata lembut dan sopan di setiap waktu.
“Stella, kau harus segera pergi dari kota ini. Semalam, mami El mengatakan jika dia seperti bertemu denganmu tapi, dia tidak yakin karena penampilanmu yang berubah 180º dari sebelumnya” Ucap Viona, mengingatkan Stella akan bahaya yang mungkin saja sedang berada di depan mata.
Stella mengangguk, memegang tangan Viona untuk menguatkan wanita itu, “nanti siang rencananya aku akan pulang bersama suami dan kakak iparku. Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku. Jaga dirimu baik-baik disini.
Bertaubatlah selagi Tuhan masih memberimu nafas. Suamiku selalu mengatakan, jika sudah meninggal nanti, yang kita bawa hanya amal dan perbuatan selama kita masih ada di dunia ini. Semua kesenangan ini hanya tipu daya semata, Viona” ucapnya, memberikan saran untuk wanita itu sebelum terlalu jauh turun ke jurang neraka yang juga sempat ia geluti dulu.
“Tapi, apa seorang pendosa sepertiku masih memiliki pintu untuk itu?” Ucap Viona.
Stella terkekeh, dia seperti melihat diri sendiri untuk beberapa waktu lalu. Ketika dirinya baru saja menyadari kesalahannya, ketika dia merasa begitu tidak pantas dan malu menghadap Allah SWT dalam sholatnya.
“Aku pun sama sepertimu, Viona. Aku selalu menangis setiap hari, merasa begitu hina saat menemui Allah SWT dalam setiap ibadah yang aku lakukan.
Tapi, Allah SWT adalah sang maha pengampun. Beliau tidak pernah menutup pintu maaf untuk umat-Nya yang ingin kembali padanya. Beliau akan senantiasa memeluk hamba-Nya yang bertaubat dan mengakui kesalahannya” Ucap Stella, memberikan jawaban seperti yang dulu diucapkan oleh Azam.
Viona menangis, entah karena menyadari kesalahannya atau hanya karena ucapan Stella yang menyentuh relung terdalam dari perasaannya.
“Aku akan berada di sampingmu apapun yang terjadi. Memang tidak mudah tapi, percayalah ini begitu menenangkan, rasanya seperti dirimu tidak lagi ada beban. Semua yang terjadi benar-benar mengalir apa adanya, tidak lagi berpikir nefatif dan selalu merasa puas dengan apa yang kita miliki” Stella mengelus pelan punggung Viona.
“Terimakasih, Stella. Aku sebisa mungkin akan keluar dari lingkungan ini. Aku akan berusaha mencari jalan terbaik dari semua ini. Terimakasih” Ucap Viona dengan sesenggukan, menumpahkan air matanya di depan Stella.
Beruntung itu adalah ruang privat yang terbagi menjadi beberapa ruangan, jika tidak mungkin Stella akan di anggap melakukan sesuatu kepada Viona karena suara isak tangis wanita itu benar-benar memilukan.
“Aku harus kembali. Suamiku sudah menunggu di depan, rupanya urusannya sudah selesai. Kau bisa bawa mobil sendiri?” Tanya Stella.
Viona mengangguk, “Aku akan disini sebentar untuk menenangkan diri. Kau kembalilah, kasian suamimu jika menunggu terlalu lama karenaku” ucapnya.
“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Assalamu’alaikum” Pamit Stella, suaranya ketika mengucap salam sedikit lirih.
Rupanya tidak percaya diri karena tadi tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan dari Viona.