Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Stella dan Santriwati di Malam Takbiran


“Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Laa ilaa ha ilallaahu Allahu akbar. Allahuakbar walilla hilkham”


Suara takbir terus berkumandang malam itu, Azam juga Stella sudah menikmati suasana pondok menemani umi Fatimah bersama dengan Zaidan. Sedangkan Maryam akan datang satu hari setelahnya. Mengingat, Maryam sudah tinggal bersama mertua di luar kota dan tidak memungkinkan bagi mereka untuk datang di hari lebaran itu juga, pasti bandara pun juga tutup untuk sementara waktu.


Malam itu umi Fatimah menatap fotonya bersama dengan sang suami, ada rasa sedih juga sepi yang hinggap dalam dirinya.


Azam melihat hal itu, dia langsung menghampiri umi Fatimah dan memeluk wanita paruh baya itu, “Abi sudah tenang di alam sana, umi” gumamnya.


Umi Fatimah pun mengangguk, mengusap air matanya lalu tersenyum kepada putranya, “Iya, umi hanya masih belum terbiasa” sahutnya.


Hanya begitu, lalu keduanya saling menatap potret abi Daud sambil merapalkan doa di dalam hati mereka masing-masing, berharap abi Daud memiliki tempat terindah di sisi-Nya.


Stella bersama dengan beberapa santriwati yang tidak pulang sedang sibuk menyiapkan ketupat untuk menyambut hari raya idul fitri esok hari.


“Kalian memang setiap tahun tidak pernah pulang begini?” Tanya Stella pada mereka.


Mereka semua mengangguk, menyetujui pertanyaan Stella dengan tatapan yang sendu.


Ah, Stella tau itu pasti sulit untuk mereka hadapi. Pasti mereka juga merindukan suasana rumah di hari yang fitrah ini.


“Kami hanya anak-anak yang dibuang kemari, mbak. Biasanya kami malah akan berdiam diri di dalam kamar saat malam takbiran begini, sambil bercerita dan menghabiskan waktu bersama, saling menguatkan diri satu sama lain” Ucap salah satu dari mereka.


Stella merasa iba, tentu saja.


“Ayah dan ibuku sangat membenciku, membawaku kemari bukan karena mereka ingin aku menjadi seseorang yang sukses dalam pendidikan agama dan yang lainnya. Mereka hanya tidak ingin merawatku di rumah” Gumam seseorang yang lain.


Meskipun tidak semua tapi, Stella jelas tau bahwa apa yang dihadapi oleh anak-anak di depannya ini bukanlah yang mudah. Di usia yang masih begitu muda, harus kehilangan kasih sayang keluarga yang sesungguhnya begitu mereka impikan. Bersyukur, mereka mampu bertahan dengan keadaan dan belajar di pondok itu dengan tekun.


Bisa kita ketahui bersama bukan, dimasa yang sudah renta dan tua ini, beberapa dari anak-anak muda akan memilih merusak masa depan mereka dengan melakukan hal-hal negatif demi mengundang perhatian orang lain kepada mereka.


Stella bersyukur, sangat bersyukur dirinya masih diselamatkan dari kerasnya dunia.


“Sudahlah, kalian tidak perlu sedih lagi ya. Hidup ini memang banyak ujian tapi, Allah SWT tidak akan menguji kita melebihi batas kemampuan yang kita miliki. Tetap semangat dan semoga kalian akan menjadi orang-orang sukses di kemudian hari dan membuktikan kepada dunia bahwa kalian mampu meraup mimpi kalian masing-masing.


Mulai sekarang, kalau ada event-event besar dan kalian tidak bisa pulang, sedangkan aku berada disini, kita bisa melakukan banyak hal bersama, seperti sekarang ini” Ucap Stella sambil tersenyum, memberi semangat kepada mereka.


Mereka semua tersenyum sambil mengelap air mata yang mulai mengering, “Terimakasih ya, mbak Stella. Semoga mbak Stella dan keluarga sehat-sehat selalu” ucap salah satu dari mereka.


“Amiin. Aku juga berterimakasih karena kalian sudah memberiku pelajaran berharga hari ini” Sahut Stella.


Diam-diam Azam melihatnya dari kejauhan, menatap sang istri yang mudah sekali bergabung dengan santriwati disana. Lelaki itu bahkan mendengar percakapan mereka dari tempatnya berdiri.


“Ehm” Azam berdehem, memberi intrupsi pada mereka semua bahwa dirinya datang. Sontak saja semua santriwati langsung berdiri dan menunduk akan kedatangan anak dari pemilik pondok pesantren itu.


“Tidak perlu kaku begitu. Kalian bisa santai ketika berbicara kepada istriku tapi, bertindak sekaku ini denganku” Ucap Azam.


“Mas, ada apa? Ada sesuatu yang bisa aku bantu?” Tanya Stella pada suaminya.


Azam menggeleng, dia memberikan senyum terbaiknya kepada sang istri, “Tidak, aku hanya ingin melihat apakah kau sudah selesai?” tanyanya.


“Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu di dalam. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya, maaf sudah mengganggu” Ucap Azam lalu pergi meninggalkan mereka setelah megucapkan salam, “Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab mereka bersamaan.


Stella melihat wajah-wajah tegang santriwati tiba-tiba berubah menjadi lebih tenang setelah Azam meninggalkan mereka.


“Apa kalian setakut itu dengannya?” Tanya Stella.


“Tidak mbak, kami hanya begitu sungkan dengan gus Azam” Jawab salah satu dari mereka.


Stella hanya tersenyum dan mengangguk sembari membenahi kayu bakar yang membara di dalam tungku itu, membuat ketupat di dalamnya bergejolak bersama dengan uapan air yang mendidih.


“Apa kalian tau apa arti dari ketupat? Kenapa mereka selalu ada di hari lebaran?” Gumam Stella random, bertanya pada para santriwati disana.


Nihil, ternyata mereka menggeleng perlahan. Stella kira mereka akan menjawab seperti yang dikatakan suaminya beberapa hari lalu.


“Kata suamiku, ketupat ini adalah gabungan dari dua makna yaitu ‘ngaku lepat’ dan juga ‘ngaku papat’ dimana ngaku lepat berarti ‘mengakui kesalahan’ sedangkan ngaku papat ini berarti ‘empat tindakan’. Ada yang tau empat tindakan itu apa saja?” Tanya Stella pada mereka.


Salah satu dari mereka ada yang angkat tangan, “Aku tau, mbak” ucapnya dengan semangat.


“Apa itu?” Tanya Stella.


“Luberan, leburan, lebaran dan laburan” Jawabnya dengan cepat.


“Betul sekali, ada yang bisa menjelaskannya?” Tanya Stella pada yang lain. Dia merasa sedang mengajar di alam terbuka saja rasanya sekarang ini.


“ ‘Luberan’ artinya melimpah, jika ‘leburan’ artinya adalah meleburkan dosa, lalu ‘lebaran’ itu berarti pintu ampunan yang terbuka lebar, dan yang terakhir adalah ‘laburan’ yang memiliki arti menyucikan diri” Jawab seseorang yang lain.


Stella mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum lebar, “Itu kalian tau, apa tadi kalian berbohong ya?” tanyanya dengan mata yang memicing, menggoda santriwati-santriwati di hadapannya.


“Tidak kok mbak, kami hanya lupa. Setelah mbak Stella menjelaskannya di awal, kami jadi teringat” Ucap seseorang yang tadi menjawab empat tindakan yang dipertanyakan Stella.


Stella tertawa geli melihat wajah panik di hadapannya, “Iya tidak apa-apa, aku percaya dengan kalian. Lalu bagaimana dengan beras dan juga janur kuning yang digunakan dalam ketupat?” Tanya Stella lagi.


“Janur itu adalah singkatan dari ‘jatining nur’, yang mana itu berarti cahaya sejati atau hati nurani, sedangkan isi beras itu sendiri melambangkan hawa nafsu kita sebagai manusia. nah, jika digabungkan itu akan menjadi sebuah arti manusia yang harus menahan nafsu menggunakan hati nurani” Ucap salah satu yang lain.


Stella mengangguk, pondok pesantren itu sama sekali tidak gagal dalam mendidik murid-murid yang berada di dalamnya. Mereka diajari dengan baik oleh guru-guru kompeten yang mengajar disana.


Wanita itu tersenyum ketika mendapati senyum di wajah gadis-gadis di hadapannya. Sedangkan, di sisi yang lain, Azam tersenyum melihat interaksi istrinya dengan para santriwati.


Ya, lelaki itu mana mungkin meninggalkan istrinya sendirian di alam terbuka dengan kondisi hamil? Lelaki itu hanya sedikit menjauh, menciptakan kenyamanan bagi istrinya juga para santriwati untuk mengobrol.


Bagaimana dengan santriwan yang tetap tinggal di pondok?


Mereka sedang bersama dengan Zaidan di masjid untuk mengumandangkan takbir malam itu.