Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Kematian Abi Daud


Keesokan harinya, beberapa orang berlarian menuju rumah utama, rumah abi Daud dan umi Fatimah. Begitu pula dengan anak-anak mereka yang panik.


Abi Daud dikabarkan tiba-tiba jatuh sakit setelah mengalami batuk berdarah semalaman.


“Umi, abi kenapa?” Tanya Zaidan. Semalam memang dia sudah memeriksa ayahnya dan menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit saja, melakukan rontgen dan beberapa pemeriksaan medis dasar.


Karena sang ayah tidak mau, Zaidan mencoba untuk menunggui sang ayah hingga pagi menyapa dan ternyata di pagi hari, ayahnya ditemukan dalam keadaan tak berdaya di atas ranjang.


“Abi-mu sesak napas terus pingsan, nak. Tolong dia” Suara umi Fatimah terdengar bergetar. Air matanya sudah meleleh di pipi, tidak kuasa membendung rasa takutnya akan keadaan sang suami yang terlihat mengkhawatirkan.


“Kita bawa ke rumah sakit sekarang” Ucap Zaidan lalu yang lain sibuk menyiapkan mobil dan keperluan lainnya.


Kurang dari 30 menit, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Itu adalah cabang dari rumah sakit milik keluarga Stella.


Semua orang jelas tau bahwa Zaidan adalah kepala rumah sakit yang baru, Zaidan segera diberikan penanganan dan masuk je ruang VIP untuk memeriksa pasien yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.


“Abi harus bertahan” Gumam Zaidan sembari membawa ranjang pasien itu.


Keluarga yang lain hanya bisa menunggu, Stella dan juga Maryam sudah menangis sesenggukan, apalagi umi Fatimah yang tidak bisa lagi berkata-kata.


Tentu saja ini menjadi moment yang sangat tidak biasa, mengingat kondisi abi Daud memang sudah menurun ketika pernikahan Maryam berlangsung dan sampai hari ini mereka tidak tau sama sekali perihal sakit apa yang diderita oleh abi Daud, bahkan Zaidan.


“Apa abi tidak pernah mengatakan apapun, kak?” Tanya Azam pada Maryam, dimana dulu Maryam lah yang selalu bersama abi Daud selain umi Fatimah. Jika sekarang menanyai umi Fatimah, itu akan sia-sia, kondisi uminya tidak memungkinkan.


Di lorong rumah sakit itu, Stella duduk menemani umi Fatimah yang sudah begitu lemas, sedangkan Erlangga segera mengurus administrasi dan Azam hanya bisa berdiri tanpa mengeluarkan air mata, berkutat sendiri dengan perasaannya juga bersama pikirannya.


“Abi hiks, abi hanya mengatakan jika usianya mungkin sudah tua jadi, hal yang wajar jika beliau sakit-sakitan di masa-masa yang sudah rentan” Jawab Maryam, menjawab pertanyaan adiknya dengan tangisan.


“Jangan menangis kak, alih-alih menangis ada baiknya kita berdoa bersama untuk kesembuhan abi. Percayalah bahwa takdir hidup yang sedang kita jalani hari ini adalah ketetapan Allah SWT” Ucap Azam.


Tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya lelaki itu juga merasa khawatir dengan keselamatan ayahnya. Menunggu di luar ruangan itu membuat Azam dan keluarga yang lain ketar-ketir sendiri.


Ceklek


Zaidan keluar dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


“Bagaimana keadaan abi?” Tanya Azam, dia menghampiri adiknya itu dengan sigap dan cepat.


Sedangkan wajah lesu Zaidan sebenarnya sudah menggambarkan jawaban apa yang akan ia sampaikan. Pasti itu adalah kabar buruk, batin Azam.


“Abi terserang kanker paru-paru, dimana sel-sel di dalam saluran pernapasan tumbuh secara tidak normal, sehingga fungsi organnya terganggu. Penyebabnya adalah karena abi adalah perokok yang aktif, dimana di usia ini maka beliau akan rentan dengan penyakit ini.


Rokok atau asap rokok mengandung 60 zat beracun yang berbahaya, racun itulah yang bisa memicu pertumbuhan kanker.


Kanker paru-paru sendiri memiliki dua jenis. Yang pertama, NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer), biasanya ini terjadi pada perokok pasif. Sedangkan yang kedua, adalah SCLC (Small Cell Lung Cancer), dimana ini termasuk ke dalam kanker ganas, sel-sel ganasnya terbentuk di jaringan paru-paru.


Abi harus segera di operasi, tanda tangani surat ini” Ucap Zaidan lalu memberikan surat persetujuan kepada Azam.


“Siapa dokternya? Apa kau sendiri yang akan menangani abi?” Tanya Azam, membaca isi dari surat persetujuan itu.


“Menurutmu siapa yang tertera disana?” Jawab Zaidan.


Azam melihat tanda tangan dokter di bawah sendiri dengan nama belakang yang sama dengannya, ‘Zaidan Wijaya’.


Zaidan meneteskan air mata, dirinya merasa tidak percaya diri melakukan ini untuk ayahnya sendiri.


“Kau takut?” Tanya Azam pada Zaidan, wajah adiknya itu memang terlihat pucat pasi, menunjukkan kegugupan yang meradang dalam dirinya.


“Tidak ada dokter lain, hanya aku yang tersisa. Aku akan melakukan yang terbaik untuk abi. Panjatkan segala doa, usia abi sudah cukup berumur dan ini adalah operasi besar, umumnya ini harus di lakukan selama enam jam, semoga aku bisa mempersingkat waktunya” Ucap Zaidan, dia menundukkan kepala, tidak percaya dengan dirinya sendiri.


“Nak, selamatkan abi-mu ya. Umi belum siap ditinggalkan abi” Ucap umi Fatimah. Untuk pertama kalinya, wanita paruh baya itu menangis dan memohon di hadapan Zaidan sebagai seseorang yang akan melakukan pembedahan demi keselamatan suaminya.


“Umi, Zaidan hanya mencoba mengangkat penyakit yang ada di dalam tubuh abi tapi, jika Allah SWT sudah mengatakan ‘kun fayakun’, Zaidan tidak bisa melakukan apapun. Doakan saja semua berjalan dengan baik” Ucapnya lalu masuk kembali ke ruangannya sambil membawa surat persetujuan dari Azam.


Tangan Zaidan bergetar menatap namanya dan nama kakaknya, Azam bersanding dengan status yang berbeda.


“Ya Allah, kuatkan hamba” Gumam Zaidan, dia mengganti bajunya dengan seragam operasi yang sudah disediakan di rumah sakit tersebut.


Dia memasuki ruang operasi dengan perasaan berdebar, melihat ayahnya berbaring lemah di meja operasi membuat Zaidan harus terus bersholawat di dalam hatinya.


“Bismillahirrahmanirrahim” Gumam Zaidan sebelum membedah dada sang ayah.


Saat ini, Zaidan melakukan pembedahan pneumonectomy, dimana ini adalah termasuk operasi besar yang mengangkat seluruh bagian paru-paru. Karena kanker yang dialami abi Daud terletak di dekat pusat dada.


Semuanya menunggu dengan kecemasan di luar ruang operasi, segala doa dipanjatkan oleh mereka, berharap hasil yang terbaik untuk abi Daud.


Beberapa jam berlalu, akhirnya ruang operasi dibuka. Tidak ada tanda Zaidan keluar dari ruangan itu, hanya beberapa perawat yang keluar dengan wajah lesu.


“Abi” Gumam Azam, perasaannya jelas tidak enak dengan apa yang sudah ia lihat dari wajah-wajah kecewa para perawat. Lelaki itu berdiri mematung dengan air matanya yang jatuh dan bibirnya yang mengatup rapat.


Dengan jelas Azam melihat Zaidan berdiri dengan wajahnya yang sudah tidak karu-karuan, air mata dokter muda itu tidak lagi bisa dibendung.


“Innalillahi wa innailahi raji’un” Gumam Azam.


Seluruh keluarga langsung menatap Azam tidak percaya, “Jangan mengatakan hal buruk tentang abimu, Azam. Pasti abi-mu selamat, adikmu pasti melakukan pekerjaaannya tanpa cacat sedikitpun” ucap umi Fatimah.


Dengan sedikit keberanian, akhirnya Zaidan keluar, menatap wajah sendu keluarganya yang berharap banyak pada dirinya.


“Maafkan Zaidan, Zaidan gagal” Ucapnya lalu bersujud di kaki umi Fatimah dengan tangisnya yang masih terus mengalir.


Tentu saja hal itu membuat dunia mereka semua runtuh. Abi Daud, seseorang yang selalu mereka banggakan dan mereka jadikan panutan, kini sudah pulang ke rahmatullah di meja operasi yang dilakukan oleh anaknya sendiri.


“Umi, bukankah aku adalah seorang pembunuh?” Tanya Zaidan di tengah isak tangisnya.


“Berdiri, Zaidan. Bawa kami melihat abi” Ucap Azam, lelaki itu menarik lengan Zaidan agar dokter muda yang sekaligus adiknya itu berdiri dari sujudnya pada sang ibu.


Zaidan pun berdiri, dia membawa keluarganya menuju abi Daud.


Tak ayal, tangis mereka pecah ketika melihat wajah pucat abi Daud, juga keadaan tubuhnya yang akan dimandikan.


“Di sucikan di pondok saja, urus keperluannya dan berikan kabar pada orang-orang pondok agar mereka menyiapkan pemakaman untuk abi” Ucap Erlangga pada Azam, lelaki itu sedang bersedih tapi, apa boleh buat? Jika bukan dirinya dan Azam yang menguatkan diri, lalu siapa yang akan menenangkan yang lain?


Sesampainya di pondok, abi Daud segera dimandikan dan disholati. Proses pemakaman pun dilakukan dengan khidmat, suara tangis umi Fatimah, Maryam, Stella, juga santriwan santriwati mengiringi kepergian abi Daud.


Azam yang turun untuk mengadzani abinya, juga memimpin doa setelah jasad sang ayah di tutup dengan tanah.


“Ayo pulang” Ucap Azam mengajak istri dan keluarganya yang lain untuk kembali karena waktu dzuhur sudah hampir habis.


“Seorang mayit akan diadzab karena tangisan keluarganya, dalam suatu riwayat Rasulullah SAW bersabda, ‘Dari Mughirah ia berkata, ‘aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘barang siapa yang kematiannya diratapi maka, dia disiksa karena ratapan yang ditujukan padanya’’’.


Tangisan dari keluarga itu boleh, hanya sebagai ungkapan kesedihan dan menahan hal itu adalah hal yang berada di luar kendali kita sebagai manusia. Rasulullah SAW juga pernah menangisi anak kandungnya, Ibrahim yang meninggal dunia. Namun, tangisan itu hanya sebagai ungkapan kesedihan saja.


Jadi, jangan begitu larut dengan kesedihan, apalagi tangisan kalian menandakan kalian meratapi kepergian abi, itu seperti kalian tidak terima dengan kematian abi yang merupakan takdir Allah SWT.


Terutama kau, Zaidan. Jangan lupakan ucapan abi tentang surat Al-Bayyinah ayat 5, ‘Katakanlah sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam’. Kau sudah melakukan yang terbaik, Allah SWT hanya lebih sayang abi, dan ingin memeluk abi di surga-Nya lebih cepat” Ucap Azam.


Jelas saja Azam khawatir dengan kondisi Zaidan nantinya, terlebih lelaki itu terus menyalahkan diri sendiri sejak tadi.