Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Kehangatan Besan


Keluarga umi Fatimah beramai-ramai datang ke makam abi Daud saat sore menyapa, kira-kira setelah mereka melaksanakan sholat ashar. Tapi, Tama, adik dari Erlangga tidak ikut serta. Lelaki itu memilih untuk tidur, daripada ikut keluarganya ke tempat peristirahatan terakhir abi Daud, katanya dia masih ingin tidur.


“Assalamu’alaikum, ya ahlal quburi yaghfirullahu lanna wa lakum antum salafunaa wa nahnu bil atsari” Gumam Azam, Maryam, Stella juga umi Fatimah.


Mereka bersama-sama langsung menuju makam abi Daud. Satu menit, semuanya masih terdiam, melihat tumpukan tanah yang sudah menutupi tubuh abi Daud beberapa waktu lalu.


Rasanya masih terlalu jelas untuk anak, menantu abi Daud, bagaimana lelaki paruh baya itu selalu mendukung keputusan mereka selama hidupnya.


“Assalamu’alaikum, abi. Umi datang dengan besan, juga dengan anak dan menantu kita. Abi baik-baik disana? Abi, pondok akan segera diurus Erlangga juga Maryam. Umi ingin istirahat dari segala hal yang menyangkut perihal duniawi, umi mau fokus mengejar surganya Allah SWT. Semoga kita semua nanti bisa berkumpul di surga ya, abi” Ucap umi Fatimah, suaranya terdengar bergetar, menahan tangis.


Wanita paruh baya itu memegang batu nisan yang masih jelas sekali tulisannya, menandakan bahwa makam itu adalah makam baru.


“Abi tenang saja ya, umi sudah dijaga oleh kami semua. Semoga abi tenang disana ya, Azam minta maaf jika Azam dan Stella ada salah dengan abi, baik itu secara lisan maupun perbuatan. Selamat hari raya idul fitri, abi. Semoga abi diberikan tempat paling bercahaya di sisi-Nya”


Diam-diam, Stella juga Maryam menangis, sedih karena mereka harus kehilangan sosok abi Daud di saat yang bahagia ini, juga sedih melihat bagaimana umi Fatimah memandang tanah kubur itu dengan tatapan yang begitu sendu.


Tidak banyak kata yang bisa diucapkan oleh Maryam sebagai anak sulung keluarga Wijaya, dia hanya banyak menangis di pelukan sang suami. Bahkan Zaidan pun meneteskan air mata, masih merasa bersalah atas kematian sang ayah. Dia terus merasa, bagaimana mungkin dirinya tidak bisa menyelamatkan sang ayah sedang dia banyak menyelamatkan pasien-pasiennya.


“Kematian itu berada di tangan Allah SWT, Zaidan. Jangan terus menyalahkan dirimu, itu hanya akan membuat abi tidak tenang jika kau tidak mengikhlaskannya. Abi tiada bukan karena kau yang mengurusnya ketika sakit, mau sehebat apapun gelarmu sebagai seorang dokter tapi, kematian dan keselamatan seseorang ada di luar kuasamu” Ucap Azam, menepuk pundak adiknya. Hingga ziarah hari itu, ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Azam.


...***...


Sepulang dari makam abi Daud, mereka bersantai sejenak di ruang tamu. Sesekali memang banyak tamu yang datang, mengingat banyak sekali kenalan juga teman-teman baik itu dari umi Fatimah, abi Daud atau dari anak-anaknya.


“Suasana lebaran disini sangat ramai ya, menyenangkan sekali. Kira-kira bagaimana mereka menganggap idul fitri atau lebaran disini ya, bu? Kekeluargaannya masih terjaga sekali” Sahut Delia, ibu Erlangga.


Yang keempat yaitu lebur-an, dalam bahasa jawa diartikan sebagai menyatukan. Diharapkan ketika usai ramadhan, kita mampu meleburkan diri kepada Allah SWT; yang terakhir yakni liburan. Bukankah lebaran juga termasuk ke dalam plesetan dari liburan?”


Umi Fatimah terkekeh dengan akhir kalimatnya. Benar sekali memang, lebaran adalah salah satu jembatan menuju liburan, baik untuk anak sekolah maupun pekerja.


“Tapi, tidak seperti lebaran yang dibungkus dalam pengaruh budaya. Idul fitri memaknainya lebih kepada kembalinya kita sebagai umat muslim dalam keadaan suci, keterbebasan dari segala kejelekan, kesalahan, keburukan yang biasa kita sebut fitrah atau kesucian”


Begitu umi Fatimah menjelaskan dengan antusias kepada besannya, bagaimana warga sekitar memaknai idul fitri.


“MasyaAllah, benar-benar masih bersih. Jadi ingat masa-masa dulu ya, bu? Kalau di kota, halal bihalal seperti ini ramainya hanya sehari dua hari”


“Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat hari raya menyapa sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW. Ketika idul fitri tiba, Rasullullah SAW akan datang mengunjungi rumah sahabat-sahabatnya, begitu pula sebaliknya. Mereka akan saling mendoakan kebaikan satu sama lain. Hal itu pun masih dilakukan hingga saat ini, baik di desa maupun di kota. Perbedaannya hanya pada kesibukan masing-masing.


Terkadang, tuntutan pekerjaan membuat kita dan saudara-saudara yang lain memilih untuk mempersingkat waktu halal bihalal mereka untuk beristirahat sebelum akhirnya masuk kembali bekerja. Lagipula, jaman sudah mulai berubah, ponsel saja sekarang bisa digunakan untuk video call.


Anak-anak saya pun kalau ada hari besar begini, kadang pulang hanya dua hari, paling lama hanya tiga hari. Itu semua karena kesibukan mereka masing-masing. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengerti dan mendoakan yang terbaik untuk mereka dari rumah”


Begitu penjelasan yang disampaikan umi Fatimah, sedikit bercerita juga. Ibu-ibu memang suka begitu kalau bertemu.


“Biasanya, abinya anak-anak selalu begini jika idul fitri menyapa, dirumah dulu sampai hari ke-2, baru setelah itu kami yang keluar untuk bersilaturahmi” Ucap umi Fatimah.


“Assalamu’alaikum” Salam itu terdengar halus, masuk ke dalam pendengaran setiap orang yang berada di dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab mereka bersama, sembari melihat ke arah pintu, tempat sumber suara itu berada.