
Siang itu, Stella dan juga Azam sedang bersiap-siap menuju suatu tempat, entah kemana mereka mau pergi dengan pakaian yang terlihat santai itu.
“Umi, Azam dan Stella berangkat dulu ya” Pamit Azam pada umi Fatimah, sembari mencium punggung tangan sang umi, begitu pula Stella.
Ya, sudah beberapa minggu ini umi Fatimah sudah diboyong Azam menuju rumahnya, seperti apa yang memang sudah disepakati sebelumnya ketika mereka berada di pondok pesantren waktu idul fitri menyapa kemarin.
“Iya, kalian hati-hati dijalan” Jawab umi Fatimah.
“Tentu umi, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab umi Fatimah, tetap berdiri di teras sebelum akhirnya mobil Azam menghilang dari pandangannya.
“Nah, hari ini kita sudah memasuki materi ke-tiga ya bunda-bunda sekalian. Setelah kemarin kita sudah membahas perihal cara memandikan bayi dan memahami arti tangisan bayi, hari ini kita akan mengulas panduan skin to skin untuk bayi yang baru lahir,…” Begitu ucapan yang disampaikan oleh mentor di dalam ruangan itu.
Ternyata Stella juga Azam sedang berada di tempat kursus, dimana tempat itu menyediakan kursus parenting untuk ibu hamil sampai dengan anak usia balita.
Stella masuk seorang diri bersama dengan beberapa ibu hamil yang lain, sedangkan Azam hanya menunggu di luar ruangan sambil melihat beberapa pekerjaannya di kantor, juga memantau jadwal dakwahnya yang sudah mulai dikurangi guna memperbanyak waktu bersama sang istri yang sebentar lagi akan melakukan persalinan.
Bukan tidak mau ikut ke dalam tapi, di dalam sana hanya ada ibu-ibu pun dirinya hanya lelaki sendiri disana, suami dari ibu-ibu itu langsung pergi setelah mengantar sang istri, tentu saja Azam merasa sangat sungkan jika harus ikut masuk.
Ceklek
Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya pintu itu terbuka. Menyajikan Stella yang pertama kali keluar dari ruangan itu.
“Sudah sayang?” Tanya Azam pada istrinya.
Stella mengangguk sambil tersenyum, “Sudah mas” jawabnya.
“Jadi ke ruangan sebelah?” Tanya Azam.
Sekali lagi Stella mengangguk, “Tentu saja, itu kan untuk memperlancar persalinan nantinya”, jawabnya.
“Jangan ganti pakaian yang terlalu ketat ya, meskipun di dalam sana semuanya wanita tapi, aku tetap tida mau berbagi lekuk tubuhmu dengan siapapun” Ucap Azam.
Stella merasa gemas sekali dengan suaminya itu, “Iya mas, mas Azam tenang saja, aku tidak akan menggunakan pakaian yang terlalu ketat meskipun sedang berolahraga, kan mas sendiri yang memilihkan baju gantinya” sahutnya sembari merapatkan rangkulannya di pergelangan tangan sang suami.
Hal itu tentu membuat banyak ibu-ibu jingkrak-jingkrak sendiri karena iri juga gemas dengan pasangan suami istri itu.
“Menggemaskan sekali”
“Kapan suamiku seperti itu, ya?”
“Suamiku bahkan tida menungguiku seperti itu”
Begitulah orang-orang yang berbisik di belakang mereka, tida jarang pula ketika di tengah-tengah perjalanan ada yang menghentikan mereka untuk berfoto karena merasa senang dengan konten-konten dakwah yang disampaikan oleh Azam. Tentu saja Azam mengajak istrinya juga saat foto bersama.
Setelah itu, Stella memasuki sebuah ruangan dimana itu adalah tempat olahraga khusus ibu hamil dan lagi-lagi ditunggui oleh Azam dari luar.
“Mbak Stella, sudah berapa bulan ini?” Ucap coach yang biasa memandu Stella secara private disana.
“Sudah memasuki 9 bulan, mbak” Jawab Stella.
“Wah, sudah mendekati persalinan ya. Harus banyak minum air putih loh ya nanti, ayo pemanasan dulu” Ucap coach itu.
Pertama-tama Stella melakukan prenatal yoga guna melenturkan sendi dan menjaga fleksibelitas. Dilanjutkan dengan deep squat guna merileks-kan otot yang berada di dasar panggung, dan diakhiri dengan senam kegel.
Tidak banyak olahraga yang dilakukan Stella mengingat usia kandungannya yang semakin tua dan semakin dekat dengan persalinan.
“Sering-sering berjalan ya, bund. Pagi sama sore, masing-masing minimal 15 menit, biar persalinannya nanti lancar. Mau caesar atau normal saja?” Tanya sang coach pada Stella.
“Kalau saya inginnya normal, mbak” Jawab Stella ramah.
“Tida mau operasi caesar saja? Kan lebih enak dan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, cuma memang penyembuhannya sedikit lama daripada melahirkan secara normal. Prosesnya juga tidak lama, tetap menjaga **** * kita tetap seperti sebelumnya”
Lagi-lagi Stella tersenyum dengan pendapat yang disampaikan oleh seseorang yang telah menjadi pembimbingnya selama olahraga selama masa kehamilan.
15 menit berlalu, Stella menemui suaminya yang sedang asik dengan ponselnya, mempertontonkan pesan-pesan e-mail yang satu persatu dibuka olehnya, sesekali juga membuka aplikasi ‘note’ untuk mencatat hal-hal yang ia butuhkan nanti.
“Mas, aku sudah selesai” Ucap Stella, membuat Azam segera mengalihkan fokusnya paa suara halus yang selalu menemani hari-harinya setelah menikah.
“Sudah? Ayo langsung ke dokter setelah itu kita pulang” Ucap Azam sambil menggandeng tangan istrinya ketika berjalan menuju parkiran.
...***...
“Bagaimana hari ini? Keduanya berjalan cukup baik, ya?” Tanya Azam setelah mereka sudah berada di dalam kamar, Azam sudah memeluk Stella yang tidurnya sudah mulai susah, mencari-cari tempat ternyamannya.
Sejak beberapa minggu terakhir, Azam bahkan selalu mengelus pinggang belakang istrinya agar wanita itu merasa lebih lega saat sebelum maupun ketika tidur.
“Alhamdulillah, mas. Tapi, tadi pembimbingku sempat seperti meragukan pilihanku untuk melakukan persalinan secara normal. Apa mas Azam keberatan jika aku tida memilih operasi caesar yang menurut orang-orang lebih simpel?” Tanya Stella.
Azam mengelus puncak kepala istrinya, lalu mengecupkan beberapa kali, “Kau menjadi sangat pemikir akhir-akhir ini, sayang”
“Dengarkan aku ya, Allah SWT berfirman, ‘Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada ayah-ibunya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula,…’, Itu ada dalam potongan surat Al-Ahqaf. Kau tau kenapa demikian?” Tanya Azam, menatap sang istri.
Stella hanya menggelengkan kepala sambil menatap suaminya.
“Itu karena berat dan sakitnya perjuangan seorang ibu dalam mengandung serta melahirkan anak-anaknya, baik itu dengan operasi maupun normal”
Tepat sekali, jawaban yang disampaikan oleh Azam sangat mirip dengan apa yang disampaikan oleh Stella tadi.
“Apa mas Azam tidak keberatan jika setelah melahirkan nanti badanku sudah tidak seperti dulu lagi? Bagaimana jika aku semakin gemuk? Bagaimana jika nanti aku sudah tidak cantik? Apa mas Azam tidak akan masalah dengan hal itu?” Cerocos Stella.
“Tidak, aku sama sekali tidak akan mempermasalahkan hal itu. Aku tidak menikahimu karena bentuk tubuhmu atau karena kecantikanmu, sayang. Aku menikahimu dengan niat ibadah, lillahita’ala karena Allah SWT juga kewajibanku memenuhi amanat orang tuamu.
Kau berharga, penghargaan terbesar untukmu karena mau mengandung juga melahirkan anak-anakku. Bagaimanapun kamu setelah melahirkan, kau tetap terlihat cantik di mataku, bahkan nanti jika wajahmu menjadi keriput atau rambutmu mulai memutih, aku tidak peduli, kau tetap wanita tercantik bagiku” Sahut Azam, menyadarkan istrinya bahwa fisik bukanlah segalanya.
“Mas,…” Stella tidak bisa berkata apa-apa, dia terpaku dengan jawaban yang disampaikan Azam. Dia juga tidak menyangka jika dirinya akan dicintai dengan hebat oleh lelaki hebat juga.
“Terimakasih ya, maaf selalu mengganggumu dengan sikap juga pertanyaan-pertanyaan konyolku” Ucap Stella sembari memeluk suaminya.
“Tidak apa-apa sayang, ibu Siti Hawa memang diciptakan ketika nabi Adam sedang tidur” Sahut Azam, menarik istrinya untuk dipeluk lebih dekat.
“Hah? Bagaimana maksudnya, mas?”
Stella merasa bingung dengan apa yang disampaikan suaminya.
“Tidak ada, sayang. Ayo tidur, ini sudah larut” Ucap Azam.
Saat sedang bergelut dengan isi pikirannya tiba-tiba, “Eh?”
“Kenapa? Ada yang sakit?” Tanya Azam pada istrinya.
“Dia menendang-nendang” Jawab Stella mengelus perutnya.
“Benarkah?” Azam lalu mengalihkan tangannya ke perut Stella, berharap merasakan hal yang sama, “Apa kau sedang menggoda bundamu, hm? Atau sedang menyapa ayah? Ayah lupa ya tidak berpamitan dulu denganmu, apa kau marah?”, tanya Azam, mendekatkan kepalanya menuju perut Stella.
Memang kebiasaan Azam sebelum tidur biasanya akan mengajak bicara dulu calon bayinya lalu mencium perut Stella sebelum akhirnya terlelap.
Perut itu kembali bergerak-gerak, menandakan sang bayi sedang merespon di dalam sana.
“Ayah sayang sekali denganmu dan bunda, kalau kau juga sayang ayah bunda, bisa tendang sekali lagi, nak?” Ucap Azam, mencoba mengobrol dengan calon buah hatinya.
“Aw” Lagi-lagi Stella mengaduh karena pergerakan di dalam perutnya. Tentu saja itu menjadi moment paling baik untuk mereka.
Azam tersenyum gemas lalu mengecup perut buncit istrinya beberapa kali, “Selamat beristirahat sayang, jangan nakal-nakal ya, kasian bunda, sebentar lagi kita bertemu. I love you, assalamu’alaikum anak ayah” Ucap Azam.
“Wa’alaikumsalam, ayah” Jawab Stella dengan suara yang di imut-imutkan.