Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Azam Wijaya


Pagi itu, suasana di pondok pesantren Lailatut Qadar terlihat begitu damai dan asri. Meskipun tempatnya masih berada di tepi perkotaan tapi, sama sekali tidak meninggalkan suasana kota yang padat.


Di aula pondok, terlihat Gus Azam sedang memberikan materi kepada santriwan dan santriwati selepas sholat Duha bersama.


Anak dari Kyai Daud itu begitu betah berada di pondok pesantren, meskipun sudah menjadi CEO dari Wijaya Group, perusahaan yang ia bangun sejak lulus kuliah itu berhasil berkembang pesat seiring dengan usaha dan doa yang ia lakukan. Sama sekali tidak ada niatan untuknya pindah dari rumah masa kecilnya.


“Bagaimana jika jodoh kita ternyata tidak sekufu, Gus?” Tanya salah seorang santriwati pada Gus Azam.


“Boleh aku tau, apa sekufu menurut pandanganmu?” Tanyanya.


“Perkawinan dengan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam tingkat sosial, kedudukan, akhlak dan kekayaan” Jawab santri tersebut.


Lelaki itu, Gus Azam. Dia hanya tersenyum dengan jawaban santriwati tersebut.


“Kau tidak salah, hanya saja jika menurutmu kufu itu tentang kekayaan lalu bagaimana dengan kisah Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq dengan Zubair bin Awwam? Ia menerima Zubair bin Awwam dengan penuh ke-ikhlasan tanpa menuntut apa-apa. Padahal saat itu Zubair bin Awwam hanya memiliki seekor kuda sebagai hartanya, tapi keluarga mereka menjadi keluarga yang penuh dengan keberkahan”


Semuanya santriwan dan santriwati terdiam, mendengarkan setiap kisah sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.


“Lalu jika menurutmu kufu itu tentang kesederajatan sosial, bagaimana dengan kisah Ibnu Rawahah yang menikah dengan budaknya sendiri? Dari kisah itu, Allah SWT lalu menurunkan firman Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu - QS Al-Baqarah ayat 221


Dan bagaimana dengan kisah Ummi Ayman yang menikah dengan Zaid bin Haritsah yang merupakan mantan budak?”


“Bagaimana jika usianya terpaut jauh?” Tanya seorang santriwan.


“Tidak semua yang tampan akan berjodoh dengan yang cantik, tidak pula yang kaya akan berjodoh dengan kaya, bukan juga yang bujang akan berjodoh dengan gadis, begitupula yang duda berjodoh dengan janda. Jika salah satu kriteria dari pasangam suami istri ada yang tidak terpenuhi, tetapi keduanya saling melengkapi dalam kriteria yang ada, maka itu bisa di anggap sederajat”


Setelah kurang lebih 30 menit menghabiskan waktu di depan para santri, Azam segera meluncur ke luar kota untuk mentutaskan meeting perusahaannya.


“Berapa lama disana?” Tanya Kyai Daud pada putranya.


“Kurang lebih satu minggu, Abi” Jawab Azam.


“Jaga dirimu baik-baik. Ingat, kau akan menikah dalam waktu dekat, jangan terlalu lelah” Sahut uminya.


“Pasti, Umi. Azam berangkat dulu” Pamit Azam sambil mencium punggung tangan orang tuanya.


“Hati-hati, nak” Sahut Umi Azam.


“Assalamu’alaikum” Ucap Azam sebelum meninggalkan ruangan abi dan uminya.


“Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh” Sahut kedua orang tua Azam.


Lelaki itu memasuki mobil yang akan mengantarnya ke bandara, melihat pondok pesantrennya, ini bukan pertama kalinya meninggalkan rumah masa kecilnya itu untuk urusan pekerjaan, tapi entah kenapa kali ini terasa begitu sendu.