
Stella dan Azam tiba di pondok pesantren menjelang sore hari tadi, Abi Daud menghubungi Azam selepas makan siang. Ternyata disana sudah ada Maryam, Erlangga dan juga mantan suami Maryam yang sedang menunggu.
“Assalamu’alaikum” Ucap Azam dan Stella bersamaan ketika memasuki rumah utama di pondok pesantren itu.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab mereka serentak.
Sebagai tanda kehormatan bagi yang lebih tua, tentu saja Azam dan Stella mencium punggung tangan abi dan umi terlebih dahulu.
“Duduk dulu” Ucap abi Daud pada Azam dan Stella.
“Ada apa?” Tanya Azam.
Stella duduk di samping Azam, jujur saja dia tidak tau apa-apa, suasananya terasa begitu aneh untuknya, lebih ke tidak sehangat biasanya.
Beruntung dia menggunakan cadar, entah lelaki itu menyadari atau tidak tapi, Stella merasa begitu tidak nyaman dengan tatapannya.
“Kau tau, jika menatap seseorang yang bukan mahrammu itu adalah dosa. Apalagi dia adalah istri dari mantan adik iparmu” Ucap Erlangga memecahkan keheningan.
Rupanya dia selalu mengawasi gerak-gerik mantan suami dari Maryam itu.
“Tau apa kau soal agama?” Jawabnya, meremehkan Erlangga. Memang terlihat gaya yang ditunjukkan oleh lelaki itu mencerminkan seseorang yang angkuh dan egois. Apalagi dia juga menggunakan beberapa aksesoris seperti cincin dan juga gelang yang berjejer dengan jam tangannya yang mahal.
“Setidaknya aku tidak kurang ajar kepada wanita” Sahut Erlangga.
Cih
Terdengar lelaki itu berdecih, “Azam sudah berada disini, bukan? Biar aku katakan bahwa aku meminta hak tanahku kembali” ucapnya pada Azam.
Azam menatap mantan kakak iparnya itu, tidak senang dengan pernyataan yang disampaikan.
“Kau meminta mahar yang telah diberikan kepada kakakku? Untuk apa?” Jawab Azam.
“Aku mau menjualnya, itu masih atas namaku dan aku ingin itu kembali. Lagipula aku dan kakakmu itu sudah bercerai, dia pasti juga cukup tau diri untuk tidak memakan hak milik orang lain” Ucapnya.
Saat itu, Azam langsung terkekeh pelan. Terdengar tidak ramah dan mengerikan untuk Stella. Dia tidak pernah melihat sisi itu dari suaminya.
“Berselingkuh dari kakakku lalu kau pergi tanpa berpamitan serta tiba-tiba melayangkan gugatan cerai. Sekarang apa? meminta mahar yang orang tuamu berikan itu kembali?” Azam berucap dengan nada tenang seperti biasa, hanya saja sudah tidak seramah biasanya.
“Maafkan aku mas Husain, apakah kau lupa jika orang tuamu sendirilah yang memberikan tanah itu sebagai mahar untuk kak Maryam, apa kau juga lupa jika aku yang mengurus surat-suratnya bahkan masih aku yang menyimpannya?” Azam menatap lelaki itu dengan tidak bersahabat sama sekali.
Terlihat lelaki itu mengepalkan tangannya, “Tapi, aku meminta itu kembali. Aku tidak memberikan itu kepadanya, kenapa juga harus aku yang mengalah sedangkan aku adalah ahli waris orang tuaku satu-satunya” Jawabnya.
“Kau mengatakan pak Erlangga adalah seseorang yang tidak mengerti agama tadi, bukan? Lalu apa kau tau bahwa ketika suami sudah terlanjur melakukan jima’ dengan istrinya maka, suami harus membayar 100% mahar yang ia janjikan?
Ada beberapa kemungkinan untukmu bisa mengambilnya dari kakakku.
Pertama, saat kau mengucapkan akad kepada kakakku tapi, tidak menyebutkan berapa nilai mahar yang kau berikan dan tidak sempat melakukan jima’ lalu kau menceraikannya, nah ketika itu kau tidak wajib membayar maharmu. Jika tidak percaya, kau bisa meresapi surat Al-Baqarah ayat 236, ‘maka tidak wajib bagimu membayar mahar jika kau menceraikan istrimu sebelum kau bercampur dan belum menentukan maharnya’.
Kedua, jika kau sudah menyebutkan nominal maharnya ketika akad tapi, kau belum sempat melakukan jima lalu kau menceraikannya. Maka, kau hanya membayar setengah dari nominal yang kau sebutkan tadi. Itu juga di tafsir jelas pada surat Al-Baqarah ayat 237.
Apa kau memiliki satu dari tiga kriteria itu?” Ucap Azam, bertana pada lelaki di hadapannya.
Lelaki itu terdiam, tidak mampu menjawab apapun, dia mati kutu dihadapan Azam.
“Kakakku bahkan sudah pernah hamil anakmu jadi, tidak mungkin kau tidak pernah melakukannya. Jika terjadi perceraian antara pasangan suami istri maka, mahar yang diberikan oleh sang suami kepada istrinya itu hukumnya tidak boleh diminta kembali, mau itu jumlahnya besar ataupun kecil tapi, itu adalah hak seorang istri. Sekalipun kalian bercerai, itu tidak akan mengubah aturan tersebut.
Pada surat An-Nisa ayat 20 Allah SWT sudah menegaskan bahwa mengambil kembali mahar yang telah diberikan kepada istri itu adalah sebuah dosa yang nyata. Dalam kitab Al-Muhalla pun sudah dijelaskan bahwa mahar adalah hak penuh seorang istri, tidak boleh ada satupun yang mengambilnya.
Katakan, bagaimana dengan aturan-aturan dari agama itu tidak juga menggoyahkan keinginanmu?” Tanya Azam lagi. Dia rupanya memang sengaja memojokkan lelaki itu.
“Intinya aku menginginkan tanah itu kembali. Aku tidak peduli dengan ocehan yang kalian berikan untukku. Sungguh, itu tidak akan berarti membuatku goyah” Ucapnya.
Matanya bahkan dengan lantang menatap Maryam lalu berkata, “Itu terlalu indah jika harus diberikan kepada Maryam. Bukankah ketika aku menikahimu kau sudah tidak gadis lagi, Maryam? Terlihat dari bagaimana dia tidak mengeluarkan darah ketika pertama kali aku melakukannya”
Bug
Bug
Bug
Itu adalah suara pukulan dari Erlangga, dia terpancing emosi dengan perkataan tidak sen*noh itu dari mulut lelaki itu.
“Si*lan kau. Berani-beraninya mengatakan hal buruk seperti itu di hadapan pak kyai ha? Apa kau sudah gila?” Ucap Erlangga sembari terus menghajar lelaki itu.
Sontak saja, suasana tiba-tiba menjadi keos. Huru hara itu bahkan sampai terdengar hingga ke luar ruangan. Sedangkan, Maryam sudah menangis di pelukan umi dan Stella. Ternyata begitu menyakitkan ketika mantan suaminya mengatakan hal yang rendah seperti itu.
“Pak Erlangga, hentikan!!!” Ucap Azam mengintrupsikan.
“Apa anda tau bahwa tingkat ke-elastisitan dari selaput darah setiap wanita itu berbeda? Bisa jadi itu karena selaput darahnya yang tebal sehingga tidak mudah robek. Ini menjelaskan bahwa ilmu yang anda miliki sangat minim. Sudah minim ilmu sosial, minim agama, minim akhlak juga” Ucap Stella, dia pun ikut tersulut emosi, tidak bisa lagi menahan hinaan yang diberikan kepada kakak iparnya.
Lelaki itu menyeringai pelan, “Dasar pelac*r!!! Jangan ikut campur urusanku. Sungguh aku tidak peduli, aku hanya ingin tanah itu kembali” Ucapnya.
Stella membelalakkan matanya terkejut, apa lelaki itu sedang mengatai dirinya barusan?
“Aku sudah tidak tahan melihat wajah jelekmu itu. Aku akan membayarnya, berapa kau akan menjual tanah itu?” Sahut Erlangga, dia masih emosi sebenarnya tapi, dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan saja. Pasti saat ini Azam juga sedang tersulut emosi karena istrinya dihina di hadapan matanya, terlihat dari bagaimana Azam menatap mantan kakak iparnya dengan mata memerah menahan amarah.
“80 juta” Jawab lelaki itu. dari tatapannya bahkan sangat terlihat meremehkan Erlangga.
Erlangga mengangguk, mengeluarkan ponselnya, “Ketik nomor rekeningmu disana” Ucap Erlangga memberikan ponselnya.
Dengan cepat lelaki itu mengambil ponsel Erlangga dan mengetikkan nomor rekeningnya, seperti yang diminta oleh seseorang yang sudah menghajarnya barusan.
“Aku bahkan bisa membeli harga dirimu yang rendah itu dengan uangku” gumam Erlangga sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Dia memberikan bukti transfer sebagai bukti pengiriman. Dia juga menunjukkannya kepada Maryam, abi dan umi sebagai saksi.
“Kau sudah tidak memiliki urusan apapun lagi disini. Pergi dan kalau perlu lenyaplah dari muka bumi” Ucap Erlangga dengan penuh penekanan.