
Hari ke-dua di Madinah. Stella dan Azam keluar untuk sarapan pukul 06.00, mereka bertemu dengan jamaah lain, mereka saling sapa dan saling menegur satu sama lain.
“Mas, ini kita nyata ya berada disini?” Ucap Stella.
“Jika kau tidak berhenti bertanya perihal itu, apa boleh aku menci*m bibirmu sekarang juga?” Tanya Azam, dia merasa begitu gemas dengan sang istri yang terus bertanya perihal itu padanya.
Stella pun terkekeh, suka sekali dengan tatapan kesal dari sang suami, “Maafkan aku maas” ucapnya diakhiri dengan kekehan pelan.
Azam dan Stella memilih berjalan-jalan di sekitar hotel untuk menikmati pemandangan pagi kota Madinah sembari menunggu para jamaah yang lain berkumpul. Pasalnya, mereka sudah harus berada di lobi hotel kurang lebih saat jam sudah menunjukkan pukul 08.00 waktu sekitar.
“Mas, agenda kita sebentar lagi apa?” Tanya Stella. Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Siapapun mungkin pasti tau, bahwa mereka adalah pengantin baru.
“Kita akan berziarah ke makam yang sudah ada sejak zaman jahiliyah dulu, disana-lah beberapa putra dan putri Rasulullah SAW dimakamkan. Ada Ibrahim bin Muhammad, Fatimah Az-Zahra, Zainab binti Muhammad, Ummu Kulsum serta Ruqayyah binti Muhammad. Letaknya berada di samping masjid Nabawi.
Nanti setelah sholat isya, kita juga akan berziarah ke makam Rasulullah SAW yang berdampingan dengan Raudhah. Dimana Raudhah adalah suatu tempat yang letaknya ada di antara kamar Rasulullah SAW dan juga mimbar masjid Nabawi. Apa kau ingat saat aku memberitahumu satu minggu yang lalu, aku mengatakan ini adalah salah satu yang diburu oleh jamaah umroh. Kenapa seperti itu? ya karena Raudhah adalah salah setu tempat yang mustajabah”
Stella mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda bahwa dia mengerti dengan apa yang disampaikan oleh suaminya.
“By the way, sudah pukul 07.15, mas. Ayo kembali ke hotel” Ajak Stella.
Mereka akhirnya kembali ke hotel, naik ke kamar mereka sebentar lalu bersiap. Tepat pukul 07.50, Azam dan Stella sudah tiba di lobi.
Saat itu, Stella melihat seorang ibu-ibu yang berseragam sama dengannya sedang kesusahan beranjak dari kursi ruang tunggu menuju kursi roda.
“Mas, duluan saja ya. Aku mau pergi sebentar, ada sesuatu” Ucap Stella pada suaminya.
“Mau kemana, sayang? Biar aku temani ya” Jawab Azam. Lelaki itu takut jika Stella kesasar atau bagaimana, atau lagi bagaimana jika dia terlalu lama hingga ditinggal rombongan dan berakhir dengan Azam yang berangkat sendiri?
“Tidak mas, aku hanya sebentar. Kesana itu” Ucap Stella sambil menunjuk ibu-ibu yang dilihat tadi.
Azam pun akhirnya mengangguk, “Jangan lama-lama” jawabnya.
Nyatanya, ketika Stella melangkahkan kakinya menuju ibu-ibu tadi, Azam tidak langsung pergi berkumpul ke rombongan, lelaki itu memilih diam ditempat untuk melihat dulu apa yang akan dilakukan istrinya setelah ini.
“Mari saya bantu, bu” Ucap Stella, mengulurkan tangannya kepada wanita tua itu, membantunya untuk berdiri dan duduk di kursi rodanya.
“Ibu sendirian?” Tanya Stella setelah wanita itu mendaratkan bok*ngnya di kursi roda.
“Tidak nak, menantuku ikut bersama tapi, aku tidak tau dia kemana. Tadi katanya mau pergi sebentar tapi, tidak kunjung kembali. Terimakasih ya sudah membantu. Panggil aku Sri, namaku bu Sri. Namamu siapa, nak?” Ucapnya sembari memperkenalkan diri.
Kala itu Stella sudah mendorong wanita itu ikut bersamanya menuju rombongan, “Namaku Stella, bu. Aku datang bersama dengan suami, dia sudah aku minta berkumpul dulu tadi” Jawabnya ramah.
Azam yang melihat hal itu, hatinya menghangat. Dia langsung beranjak dari tempatnya tadi, menyusul di belakang sang istri yang sama sekali tidak melihatnya.
“Kalian pasti keluarga yang sangat harmonis. Apa sudah memiliki momongan?” Tanya bu Sri.
“Iya nak, semoga kalian segera diberi momongan ya. Ibu pun sebenarnya ingin sekali memiliki cucu tapi, apa daya menantu ibu masih belum siap hamil, dia takut kariernya yang sedang tinggi-tingginya jadi merosot” Ucap bu Sri, wanita paruh baya itu sedikit lesu. Rupanya dia kecewa dengan keputusan menantunya untuk menunda memiliki momongan.
“Terimakasih doa-nya bu, semoga menantu bu Sri juga segera diberi hidayah”
“Kodrat perempuan itu hanya ada tiga, nak. Menstruasi, melahirkan dan menyusui. Selebihnya tidak ada. Wanita tidak harus bisa memasak, itu bisa dilakukan bersama dengan suami. Sedangkan berdandan, itu hanya untuk menyenangkan hati suami ketika berada di rumah. Jika kau bekerja, sampingkan ego-mu nak. Apalagi jika suamimu sudah menginginkan momongan maka, sebisa mungkin jangan menundanya. Daripada suamimu mencari wanita lain untuk bisa memenuhi keinginannya”
Bu Sri mengatakan hal itu dengan sendu dan parau. Suaranya bergetar menahan tangis, seolah itu adalah kisah nyata.
“Insyaallah Stella tidak akan menundanya, bu. Sudah menjadi kewajiban bagi Stella untuk memenuhi kewajiban Stella sebagai seorang istri” Jawab Stella.
Dalam perjalanan itu, Azam terus mendengar percakapan dua wanita beda generasi di depannya.
Ada rasa senang tersendiri untuk Agam saat mendengar penuturan itu dari Stella. Secara tidak langsung, wanita itu sudah menerimanya sebagai suami secara utuh.
“Tidak hanya baik di dunia, semoga kau kelak juga mendapatkan kebaikan akhirat, sayang. Kemarin-kemarin kau hanya salah jalan, insyaallah aku akan amanah menjadi suami yang bisa mengajari dan mengingatkanmu perihal dunia dan akhirat” Gumam Azam dalam hatinya.
Setelah sampai dan berkumpul dengan rombongan, ternyata mereka bertemu dengan menantu bu Sri disana.
“Kenapa meninggalkan mertuamu sendirian, mbak?” Tanya Stella pada menantu bu Sri.
“Kau tidak usah ikut campur masalahku. Aku hanya lupa dan lelah jika harus mendorongnya kemana-mana” Ucap menantu bu Sri ketus.
“Astaghfirullah hal’adziim. Maafkan aku sebelumnya, bukan maksud mengguruimu tapi, seandainya jika kau menyayangi suamimu maka, wajib bagimu menyayangi orang tuanya juga. Ketaatan yang sempurna adalah ketika kau mampu berbuat baik dan berbakti kepada orang tua, begitu pula dengan orang tua yang telah melahirkan belahan jiwanya.
Dalam kitab Ash-Shahih pun sudah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda ‘Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? yaitu. Yang menyekutukan Allah SWT dan mendurhakai orang tua,…’. Jika kau dzalim kepada mertuamu, bukan hanya dirimu tapi, suamimu juga akan menjadi durhaka karena tidak bisa mencegahmu. Istighfar, mbak. Tidak baik kau bersikap begini dengan orang tua” Ucap Stella.
Stella tidak tahan dengan sikap menantu bu Sri yang seperti itu. Pasalnya, Stella sudah merasakan tidak memiliki orang tua, dia hanya memiliki mertuanya sekarang.
“Jangan menceramahiku seolah kau adalah wanita yang paling suci. Jika kau merasa begitu maka, bawa saja ibu mertuaku ini bersamamu” Jawab menantu bu Sri.
Azam melihat itu semua, ada rasa bangga dalam dirinya dengan setiap tutur kata yang keluar dari bibir sang istri. “Tidak sia-sia dia belajar setiap hari” gumamnya. Tapi, disisi lain Azam pun tidak mungkin baginya untuk diam saja ketika istrinya diperlakukan tidak baik.
“Sayang, aku mencarimu. Ayo pergi” Ajak Azam.
“Tapi, maas…” Stella menggantung ucapannya saat melihat wajah Azam yang begitu serius, tidak sehangat biasanya.
“Baiklah. Jaga bu Sri dengan baik, aku pergi. Assalamu’alaikum” Pamit Stella.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab bu Sri, wanita paruh baya itu tersenyum dengan tatapan sendunya. Jujur saja, dalam hati Stella seperti ingin membawa bu Sri bersamanya saja.
“Cukup dengan kebaikanmu, sayang. Jangan terlalu ikut campur dalam masalah orang, apalagi kita tidak mengenalnya. Alih-alih berterimkasih, aku tidak suka wanita itu merendahkan istriku yang sudah mengingatkannya sebagai sesama muslim” Ucap Azam, memecahkan keheningan diantara jalannya mereka.