Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Masalah


Beberapa hari kemudian, seisi kota sudah dipenuhi dengan gosip tidak menyenangkan dari media sosial.


Foto Stella zaman dulu tersebar luas dengan hastag kurang menyenangkan juga. Dia menjadi trending topik pagi itu, tentu saja karena dia sudah menyandang status sebagai istri CEO perusahaan ternama yang juga seorang ‘gus’, putra pemilik pondok pesantren lailatuh qadar.


“Maas, bagaimana ini?” Gumam Stella pada suaminya, dia tidak mau keluar dari kamar. Malu dan takut bertemu dengan orang luar.


Terlebih lagi saat melihat komentar-komentar netizen yang memojokkan dirinya dan juga suami.


Bagaimana dia bisa menjadi istri dari gus Azam? Pasti wanita ular ini menjebaknya.


Kasihan gus Azam harus menerima istrinya yang sudah disentuh banyak tangan


Cih, lihat wanita itu! Gayanya seperti seorang yang tidak memiliki dosa


Ceraikan saja, bukankah tidak adil untuk gus Azam?


Kira-kira seperti itu komentar yang sempat dibaca Stella tadi, sebelum akhirnya Azam merebut ponsel Stella.


“Tidak perlu ada yang ditakutkan Stella, aku sudah memerintahkan Zaidan mengurus hal ini. Dan mereka yang menyebar luaskan foto itu akan di tuntut sesuai dengan hukum yang berlaku” Ucap Azam.


Sebenarnya, lelaki itu cukup terkejut saat mengetahui kabar itu tadi pagi. Pasalnya, baru semalam Zaidan mengatakan sudah tidak ada yang tersisa tapi, kenapa pagi ini ada akun gosip yang beredar di media sosial, memposting foto Stella saat berada di bar dulu.


Caption yang tertulis kira-kira seperti ini : CEO dari Wijaya Group sekaligus pendakwah, Azam Wijaya dikabarkan telah menikah beberapa waktu lalu. Kemarin, ia mempublikasikan hubungannya dengan seorang wanita yang ia bangga-banggakan di hadapan para pendengar ceramahnya di luar kota.


Namun kebahagiaan itu tidaklah lama karena dini hari tadi, beredar foto wanita yang diduga adalah potret Stella, istri gus Azam sebelum menikah. Menurut informasi, wanita itu sering kali terlihat di bar luar kota, dia merupakan model majalah dewasa dan kabarnya dia juga adalah salah satu wanita penghibur di bar tersebut.


Benarkah itu adalah Stella, istri dari gus Azam?


Detik itu juga, Azam menghubungi Zaidan untuk mengurusnya disana, lelaki itu sendiri akan berangkat ke luar kota secepatnya untuk mengurus kasus ini.


Sedangkan di luar kamar, tedengar suara ketukan pintu yang tidak henti-hentinya


“Azam, buka pintunya!”


Itu adalah suara Maryam. Wanita yang tidak pernah meninggikan suaranya itu, untuk pertama kali menggedor kamar dan memanggil adiknya dengan penuh penekanan.


Azam membuka pintu tersebut dengan tenang, “Aku akan keluar sebentar lagi, tunggulah di ruang tamu dengan abi” jawabnya lalu kembali menutup pintu.


Mendengar hal tersebut, Maryam kembali dengan wajahnya yang sangat tidak bersahabat. Berkumpul dengan abi dan uminya.


“Sayang, kita tidak bisa lari dari masalah. Ayo temui abi dan umi, kita bicarakan dengan mereka” Ucap Azam pada istrinya.


“Aku takut, bagaimana jika mereka benar-benar menyuruhmu menceraikanku seperti yang dikatakan orang tadi?” Ucap Stella, mengingat bagaimana komentar buruk netizen seolah menyerang mentalnya.


Hal yang paling dia takutkan akhirnya terjadi. Bagai bom yang meledakkan kehidupannya semalam, hancur sudah semuanya. Stella seolah tidak bisa berkata-kata lagi, dia menangis. Takut dan cemas bercampur menjadi satu.


Apa yang harus ia katakan kepada mertua dan kakak iparnya nanti?


“Tidak. Percayalah denganku, kita akan melewati ini bersama” Ucap Azam, memberikan keyakinan pada istrinya.


Setelah beberapa waktu membujuk Stella, akhirnya wanita itu mau keluar dari kamar. Wajahnya pucat, menunjukkan ketakutan yang luar biasa.


“Assalamu’alaikum” Ucap Azam dan Stella bebarengan.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab mereka yang berada disana.


“Duduklah” Ucap Abi Daud, memerintahkan pasangan suami istri itu duduk di hadapannya.


Abi Daud menyeruput kopinya pelan, menatap Azam dan Stella bergantian.


“Coba jelaskan apa yang sedang terjadi? Apa benar yang beredar itu adalah Stella?” Tanya abi Daud, membuka suara di antara keheningan pagi itu.


“Abi, Azam sudah mencoba mencegah hal ini beredar di masyarakat. Percayalah dengan Azam, setelah menikah, Stella adalah wanita yang baik dan tidak neko-neko” Ucap Azam, dia tidak menjelaskan secara gamblang perihal itu.


Maryam dan umi Fatimah membelalakkan mata, mengerti jika Azam memang benar-benar menikahi seseorang dengan masa lalu kelam seperti Stella.


“Jadi benar jika dia adalah wanita penghibur?” Ucap Maryam dengan nada sedikit meninggi.


“Jangan meninggikan suaramu di hadapan abi dan umi, kak. Aku akan menutup mata akan hal itu, itu adalah urusannya dengan Allah SWT dan masalah ini adalah urusanku dengan Stella, tidak sepatutnya kak Maryam ikut campur” Sahut Azam menjawab pertanyaan kakaknya.


“Tapi, menikahi seorang pelac*r haram hukumnya, Azam!!” Maryam menyahuti adiknya dengan keras.


Entah setan apa yang sedang merasuk ke dalam dirinya, hingga amarah menguasainya.


“Ya, hukumnya haram dan tidak sah jika dia tidak bertaubat pada Allah SWT. Tapi, apa kak Maryam tau bahwa umi adalah saksi dari bertaubatnya Stella ketika aku membawanya kemari?” Ucap Azam.


“Meninggalkan maksiat akan lebih berat jika dia pernah melakukannya. Karena dia pernah mencicipi kenikmatan bermaksiat, hawa nafsunya akan rindu dengan kenikmatan maksiat itu lagi.


Inilah yang dimaksud dawuhnya Rasulullah SAW, Surga diliputi perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa sedangkan neraka diliputi oleh perkara-perkara yang disukai syahwat. Apa kau menjamin dia tidak akan melakukannya lagi?” Jawab Maryam.


Wanita itu dengan berani mendebat adiknya, bahkan di depan Stella. Stella tidak bisa berkata-kata lagi, ini semua memang salahnya dan dia adalah penyebab dari hal ini terjadi.


“Aku adalah suaminya, imamnya. Insyallah aku tidak akan membiarkan istriku terjerumus dalam kemaksiatan. Islam tidak melihat bagaimana masa lalu seseorang, kak. Bagaimana Stella sekarang, di depan mataku ini ya ini, begitu yang Islam ajarkan pada kita. Ketika dia kemari dan bertaubat lalu aku mengucapkan ijab qabul untuknya, saat itu juga masa lalunya tertutup.


Kita tidak bisa menghakiminya, kau tau itu. Yang terpenting adalah bagaimana dia yang bersama kita hari ini, kau yang mengingatkan perihal agama padanya, apa dia terlihat hina? Apa dia terlihat tidak memiliki kesempatan untuk memohon ampun kepada Allah SWT?”


Azam menjawab kakaknya dengan begitu tenang, tekadnya sama sekali tidak bergetar ketika membela istrinya di hadapan orang tua dan kakaknya.


Sedangkan, Maryam pun terdiam dengan jawaban Azam.


“Nak, Stella” Panggil umi Fatimah dengan suara paraunya.


Stella mengangkat wajahnya, menatap ibu mertuanya yang mulai mengeluarkan air mata.


“Umi” Gumam Stella.


“Kemari, nak” Ucap umi Fatimah, dia memberikan ruang untuk Stella di tengah-tengah antara dirinya dengan Maryam.


Dengan langkah ragu sembari menundukkan kepala karena malu, dia mendekat pada umi Fatimah, duduk di samping wanita paruh baya itu dengan jantung berdegup begitu kencang.


Umi Fatimah memeluk Stella, “Azam sudah memilihmu menjadi istrinya, insyallah menjadi teman dunia akhiratnya. Umi tidak mempermasalahkan bagaimana kamu dulu, nak. Umi hanya minta padamu, sebagai seorang ibu untukmu, jaga kehormatanmu dan suamimu kelak.


Kuatkan imanmu dan jadilah istri yang taat untuk Azam karena sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang sholehah. Sungguh, Allah SWT telah menjanjikan surga dan pahala yang begitu besar kepada istri-istri sholehah. Jadikan ini sebagai pembelajaran untuk kedepannya ya, nak” ucapnya sembari mengelus-elus punggung Stella.


Stella hanya mampu menangis tersedu di pelukan ibu mertuanya. Begitu bersyukur mendapati ibu mertua yang sabar dan penyayang seperti umi Fatimah.


“Maryam, tidak baik meluapkan emosi yang berapi-api. Dia adik iparmu, pilihan adimu, abi dan umi pun meridhoi mereka. Doakan kebahagiaan untuk mereka” Ucap umi Fatimah pada putri satu-satunya, Maryam.


“Abi” Panggil Maryam, mencari pembelaan pada abinya.


“Abi dan umi tidak pernah mengajarkan padamu untuk menjadi seseorang dengan lidah yang tidak santun seperti tadi. Kuasai dirimu, sesungguhnya amarah adalah perbuatan tidak terpuji yang bisa merugikan orang lain.


Orang-orang yang kuat bukanlah mereka yang jago gulat atau mereka yang jago berdebat. Orang-orang hebat adalah ketika dia bisa menjaga dirinya ketika sedang marah, itu yang diasampaikan hadist riwayat bukhari muslim, apa kau lupa?” Sahut abi Daud.


Maryam menunduk, “Astaghfirullah hal’adzim” berulang kali dia mengucap kalimat tersebut lalu, menatap Stella dan uminya.


“Maafkan aku, Stella. Ayo kita mulai semuanya dengan baik” Ucap Maryam lalu memeluk Stella yang sedang memeluk uminya.


Hari itu, masalah tersebut akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Meskipun di luar sana, sudah banyak wartawan yang berjejer di gerbang pondok pesantren untuk mencari kebenaran perihal isu dari pedakwah muda itu.