Pelacur Itu Istri Gus Azam

Pelacur Itu Istri Gus Azam
Ramadhan Tiba


Beberapa hari berlalu, setelah kejadian sang abi, Zaidan langsung membangun rumah sakit di sekitar pondok pesantren dengan izin dari Erlangga. Dia tidak ingin jika nanti ada orang-orang yang sakit dan tidak mendapatkan penanganan secepatnya seperti abinya. Bahkan para warga di sekitar pondok pesantren juga diizinkan berobat di rumah sakit tersebut, meskipun dengan biaya dicicil sekalipun. Zaidan memanggil dokter-dokter berkualitas untuk ditempatkan disana.


Bagaimana dengan klinik kesehatan yang berada di dalam pondok? Klinik tersebut masih ada, untuk para santri dengan sakit ringan yang tidak perlu dirawat.


Ini adalah malam kebahagiaan juga malam kesedihan. Dimana malam ini orang-orang akan berbondong-bondong pergi ke masjid dan mushollah untuk melakukan tarawih.


Besok umat Muslim akan dihadapkan dengan bulan suci Ramadhan, dimana untuk pertama kalinya, keluarga pondok pesantren Lailatul Qadar termasuk keluarga Wijaya menjalankan bulan ramadhan tanpa abi Daud. Suasana sendu benar-benar terasa, ingatan tentang abi Daud masih membekas dalam benak setiap orang disana. Bahkan makam abi Daud rupanya masih segar dengan bunga-bunga dari pe-ziarah yang hadir silih berganti.


Stella dan Azam berangkat ke masjid pondok bersama-sama, hari ini Azam lah yang akan menjadi imam disana.


“Biasanya kita disini melakukan 8 rakaat dan 3 rakaat witir” Ucap Azam di tengah perjalanannya bersama Stella.


“Apa bedanya?” Tanya Stella.


“Tidak ada bedanya sayang, dua-duanya adalah amalan di bulan suci ramadhan. Ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah, istri Rasulullah SAW, ‘Beliau tidak menambah di luar bulan ramadhan maupun di luar bulan ramadhan dari 11 rakaat. Beliau sholat empat rakaat, maka janganlah engkau bertanya tentang keindahan dan panjangnya. Kemudian beliau sholat empat rakaat, maka janganlah engkau bertanya tentang keindahan dan panjangnya. Kemudian beliau sholat tiga rakaat’, dari hadist riwayat Bukhari nomor 1147.


Sedangkan berikutnya dalam hadist Baihaqi, mengatakan di zaman Umar bin Khattab, beliau melaksanakan sholat tarawih sebanyak 20 rakaat dan ditutup dengan witir dengan jumlah 3 rakaat.


Dari dua riwayat hadist itu bisa kita simpulkan bahwa kaum muslimin yang melaksanakan sholat tarawih sebanyak 8 rakaat, mereka adalah golongan yang mengikuti sebagaimana yang telah disampaikan oleh Aisyah.


Sedangkan sholat tarawih 20 rakaat itu adalah mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab. Ada beberapa alasan kenapa Umar bin Khattab melakukan hal ini yang pertama, karena Rasulullah SAW memerintahkan kita para umat muslim untuk memperbanyak amalan di bulan ramadhan. Kedua, Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengikuti dua khalifah setelahnya, termasuk Umar bin Khattab”


Stella mengangguk mengerti, ada banyak ilmu dan ada banyak hal baru yang ia pelajari setiap hari dari suaminya. Meskipun imannya masih setipis tisu, menurutnya tapi, memiliki suami seperti Azam adalah salah satu sarana untuk dia lebih bersemangat menyetarai dan memperdalam ilmu agama seperti sang suami.


Ternyata rasanya sangat canggung berada di antara santriwati yang bisa dibilang ‘mungkin’ ilmunya lebih tinggi dari Stella. Saat itu, Stella berada di samping Maryam dan santriwati disana saling menyapa dan ‘salaman’ kepada mereka berdua.


“Kak, apa mereka selalu seperti ini?” Bisik Stella. Dia tidak pernah diperlakukan bak pemilik pondok pesantren begitu. Kapan hari ketika sedang berjalan keliling dengan Azam, para santri sedang ada kajian setelah sholat ashar jadi, suasananya tidak begitu ramai.


“Dalam tradisi pesantren, ini sudah biasa terjadi, Stella. Tidak usah kaget dan canggung, bersalaman bagi sesama muslim hukumnya adalah sunnah” Jawab Maryam dengan tersenyum. Toh, itu adalah bentuk rasa hormat para santriwati kepada mereka, juga santriwati itu tidak mencium tangan mereka seperti yang dilakukan kepada abi Daud dan umi Fatimah biasanya.


“Oh begitu ya. Aku tidak terbiasa dengan ini” Ucap Stella sembari tersenyum canggung.


Tidak lama, suara adzan isya berkumandang. Itu adalah suara Erlangga, pemimpin baru pondok pesantren Lailatul Qadar.


Mungkin malam itu adalah malam dimana abi Daud sedang mempersiapkan diri berpulang ke pangkuan Allah SWT, beliau mencari penerus bagi pondok pesantren yang di dirikan keluarga secara turun temurun dan sekarang berakhir di Erlangga dan juga Maryam.


Mereka melaksanakan sholat tarawih bersama dan diakhiri dengan rutinitas santri melaksanakan tadarus bersama.


Stella dan Azam pulang bersama Maryam juga Erlangga. Bukan tidak ingin tadarus bersama dengan yang lain, hanya saja Stella dan Azam sudah memiliki target pribadi dengan perjanjian, jika bisa hatam Al-Qur’an dalam satu bulan ramadhan itu maka, mereka akan pergi umroh lagi sebagai imbalan dari usaha mereka di bulan ramadhan.


Jika untuk Azam, mungkin dia sudah terbiasa tapi, dia hanya sedang mendidik istrinya agar semangat menghadapi ramadhan pertamanya.


“Mas, memangnya boleh kalau kita melakukan tadarus secara pribadi begini? Karena aku biasanya melihat tadarus selalu dilakukan secara berjamaah”


“Tidak masalah sayang, membaca Al-Qur’an adalah sebuah kewajiban baik di bulan ramadhan maupun tidak, itu kewajiban mutlak umat Muslim. Hanya saja jika membaca Al-Qur’annya di bulan ramadhan, ada beberapa keutamaan yang bisa jadi kita dapatkan.


Pertama, pahala yang kita dapatkan akan dilipat gandakan dengan 10 kebaikan, itu akan dihitung di setiap huruf yang kita baca. Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang membaca satu huruf Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikannya akan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku mengatakan alif lam mim, satu huruf akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf’, hadist riwayat Tirmidzi.


Islam kita begitu indah bukan? Setiap kebaikan kecil yang kita lakukan akan mendapatkan ganjaran dan pahala yang tidak ternilai harganya” Ucap Azam.


Stella mengangguk, dia berkali-kali mengucap syukur dengan keyakinan yang ia peluk kini.


“Lalu apa yang kedua dan selanjutnya?” Tanya Stella, penasaran dengan ‘beberapa keutamaan’ yang disampaikan suaminya tadi, bukankah baru saja Azam hanya mengatakan satu keutamaan?


“Yang kedua, selain dari mendekatkan diri dengan Allah SWT, itu juga akan mendekatkan diri kepada Islam. Apa kau tau bagaimana cara mengetahui bahwa kita mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya?” Tanya Azam pada Stella, saat itu mereka memang masih berjalan menuju rumah utama, sedangkan Maryam dan Erlangga sudah berjalan dengan cepat di depan mereka.


“Maka, perhatikan cara dia mencitai Al-Qur’an. Jika sudah begitu maka, sesungguhnya dia mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya” Jawab Stella.


Azam tersenyum dan mengelus kepala Stella yang terbalut dengan mukena itu pelan, “Pintar, darimana kau mengetahuinya?” tanyanya.


“Atsar Shahih yang diriwayatkan dalam kitab Syu’ab Al Iman yang merupakan karya milik Al Baihaqi” Sahut Stella.


Azam mengangguk, mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan Stella itu tepat.


“Dan keutamaan yang ketiga adalah hati dan jiwa kita menjadi lebih tenang. Melakukan tadarus itu memberi jiwa, akal dan jasad kita dengan kehidupan” Ucap Azam.


Tepat ketika Azam menyelesaikan kalimatnya, mereka sudah sampai di teras rumah. Dengan segera, Azam dan Stella mencuci kaki lebih dulu pada kran di dekat sana lalu masuk ke rumah dan melanjutkan ibadah ramadhan mereka, tadarus.